
Andre mencoba menjelaskan pada Tio, kalau ia hanyalah sedang mengobrol biasa dengan Bianca istrinya. Bukan sedang bermesraan seperti yang Tio tuduhkan.
Tetapi pria itu tak bergeming untuk tetap menceraikan Bianca.
Apa mau dikata, Andre hanya bisa mencoba menjelaskan kalau diantara mereka tidak ada hubungan apa-apa. Murni pertemanan biasa. Bahkan hanya pekerjaan saja yang mendekatkan mereka.
Bianca pun seperti cuek dengan keputusan yang diambil sang suami. Ia tetap melanjutkan pekerjaan seperti biasa. Meskipun agak pendiam tak ceria selayaknya hari-hari lalu.
Andre mencoba memberi nasehat pada Bianca untuk mengambil hati Tio dan memberikan pengertian padanya.
Tapi... Bianca hanya menjawab pasrah pada keinginan Tio.
Tinggal Andre yang pusing tujuh keliling, memikirkan temannya itu yang sama-sama keras kepala.
"Terserah kalian berdua sajalah! Aku gak ikut campur!" katanya, dengan kalimat menyerah.
Sore hari ia pulang ke rumah lama. Menengok Maharani untuk menanyai apakah Daniel mengurusnya dengan benar.
Seperti dugaannya. Daniel yang pulang dari kantor lebih dulu ternyata belum juga sampai rumah.
Mampir kemana dulu itu bocah?
Entah mengapa, ia begitu khawatir pada keadaan Maharani. Karena tahu akan tingkah polah Daniel yang menyebalkan.
"Apa Daniel sudah membawamu ke dokter?" tanyanya pada Rani.
Rani menggeleng pelan.
Selama tinggal di kota, tak pernah sekalipun Daniel membawanya keluar rumah. Entah itu untuk sekedar keliling kompleks, apalagi mengenalkannya pada teman-teman mainnya.
Tapi kini Maharani telah memahaminya. Sepertinya Daniel malu membawanya karena ia cupu. Rani memang tahu diri, ia terlihat norak.
Diawal pertemuan pun, Daniel kurang begitu tertarik padanya. Hanya Rani saja yang mencoba mendekati Daniel. Hingga akhirnya Daniel sering mengajaknya ketemuan diluar lingkungan sekolah dan pesantren.
Rani sebenarnya cantik. Tapi kurang percaya diri. Rani juga baik dan penurut. Hanya karena dandanannya yang selalu bergamis dan kerudung panjang, membuat Daniel pernah menyebutnya seperti ibu-ibu.
Rani dibesarkan oleh orangtua yang taat agama. Sedari kecil akrab dengan lingkungan pesantren sehingga sudah terbiasa berpakaian tertutup.
Sebenarnya ia ingin sekali memakai niqabnya lagi. Tapi..., dosa membuatnya malu. Ia, hamil diluar nikah karena rayuan Daniel yang luar biasa.
Daniel bilang, ia akan bertanggung jawab pada apapun yang terjadi. Daniel kata, ia juga akan datang dan melamar Rani langsung pada kedua orangtuanya.
__ADS_1
Ternyata, mulut manis Daniel seperti mulut buaya yang selalu siap menerkam mangsa yang lemah.
Dirinya baru mengenal cinta. Matanya baru tahu indahnya dunia. Rani tak bisa menyeimbangkan antara rayuan dengan kenyataan.
Hubungannya yang terlalu intim dengan Daniel membuahkan hasil yang justru memporakporandakan diri serta masa depannya.
Kini ia sangat menyesal dan hanya bisa menangis di setiap sujudnya pada Tuhan. Meminta ampunan atas setiap dosa-dosa yang ia lakukan.
Rani menyesal, mengikuti rayuan setan lewat mulut manis Daniel yang mengajaknya untuk berhubungan badan sebelum menikah.
Rani menyesal, melupakan nasehat-nasehat Umi dan Abi-nya. Lupa ceramah ustazah guru-gurunya tentang keimanan dan keteguhan hati.
Rani menyesal, semua kini telah menjadi bubur.
Dan yang paling Rani sesali, ia adalah hamba Tuhan yang pembangkang. Tak mengikuti perintah Tuhannya dan menjauhi larangan-Nya.
Daniel tidak menepati janji. Meskipun pada akhirnya mereka dinikahkan secara paksa. Karena pada awalnya Daniel menolak bertanggung jawab dengan alasan hanya satu kali berhubungan dan itupun dalam keadaan terburu-buru.
Yang membuat Maharani makin menyesal, Daniel justru menyuruhnya menggugurkan kandungan. Ia ingin Rani membunuh janin yang ada dirahimnya itu.
Sungguh biadab. Bahkan Daniel sama sekali tidak punya perasaan pada calon buah hati mereka yang kini bersemayam di rahim Rani.
Satu yang bisa Rani syukuri, kakak iparnya ternyata pria yang baik hati. Andre meskipun terlihat cuek, tetapi selalu memantaunya. Memberinya uang, handphone dan makanan untuknya bertahan hidup.
"Ayo, ganti pakaianmu! Aku akan membawamu ke dokter kandungan!"
Kata-kata Andre membuat Rani kembali berurai air mata.
"Nanti kak Daniel bagaimana, Kak?" tanya Rani bingung.
"Telepon dia! Tanya, masih ada dimana?" perintah sang CEO yang tak lain adalah kakak iparnya.
Rani menurut. Telepon berkali-kali, tetapi Daniel tak mengangkatnya.
"See? Lihatkan kelakuan busuk suamimu? Ayo! Biarkan saja dia bermain-main di perosotan anak TK! Yang penting calon anak yang kamu kandung itu dalam keadaan sehat dan terpantau dokter!"
Rani akhirnya mau juga mengikuti ajakan Andre. Demi sang buah hati yang sedang dikandungnya.
Mereka pergi ke klinik dokter kandungan.
Beberapa pasien lain yang menunggu giliran masuk ruang periksa tampak memperhatikan Andre dan Rani. Mungkin keheranan, atau entah mungkin juga dipandangan mereka Andre itu seperti sugar daddy. Karena penampilannya yang rapi, lengkap dengan blazer kantor membuat mereka takjub tak berkedip.
__ADS_1
Sedangkan perempuan yang dibawanya terlihat begitu imut dan santun dengan pakaian gamis dan kerudung syar'i.
Sangat jomplang. Apalagi ada anting-anting dikiri kanan telinga Andre. Sehingga dirinya menjadi pusat perhatian.
Tak lama kemudian, tiba-tiba datang pasien perempuan yang tergopoh-gopoh dengan tangan memangku bayi yang menangis dengan wajah berlumuran darah.
"Naysila?"
Andre kaget, ternyata perempuan itu adalah Naysila.
"Kenapa Bilqis?!?" tanyanya lagi.
"Jatuh tadi di taman! Hik hik hiks..." jawab Naysila gugup dan gemetar.
"Suster! Prioritaskan dulu bayi ini!" teriak Andre membuat suasana seketika heboh.
Suster membawa masuk Bilqis yang digendong Naysila ke dalam ruang periksa. Andre juga ikut menerobos masuk.
"Maaf, Pak?" cegat suster penjaga.
"Saya keluarga pasien!" katanya dengan suara keras membuat sang suster segera membukakan pintu, mempersilakan Andre masuk.
Tinggal Rani yang duduk sendiri dengan wajah bingung. Ia hanya bisa melihat kiri dan kanan sekitar ruang tunggu, yang cukup banyak pasien lain yang juga antri menunggu giliran diperiksa dokter.
"Adik, itu... suaminya?" tanya seorang ibu hamil yang duduk di sebelahnya.
Rani tersenyum sambil menggeleng.
"Kak Andre itu kakak ipar saya!" jawabnya singkat.
"Oh, kakak ipar toh! Yang barusan itu istrinya mungkin ya?!"
Pertanyaan itu hanya dijawab Rani dengan senyuman. Sejujurnya dia sendiri bingung mau menjawab apa. Selain tidak tahu kehidupan Andre, Rani juga tidak tahu status kakak iparnya itu. Apa masih single atau sudah berkeluarga.
Tapi melihat wajahnya yang tadi ikut pucat pias setelah melihat seorang wanita berhijab datang dan panik karena anaknya berlumuran darah dibagian wajah, Rani tahu... wanita tadi sepertinya bukan hanya teman biasa saja. Atau, mungkin pacar atau istrinya. Mungkin. Itu tebakan Rani.
...BERSAMBUNG...
__ADS_1