
Hari demi hari, kini Andre lewati dengan semangat yang bertambah.
Sudah tiga malam, ia dan Naysila lewatkan dengan saling chat. Alhasil, banyak obrolan santai yang semakin mendekatkan keduanya.
Hingga akhirnya, tepat di hari ke-empat Andre menchat Naysila di pukul delapan malam.
Jangan chat aku lagi ya Ndre
Andre merasakan dadanya sakit. Seolah ada sesuatu yang terjadi pada Naysila.
Ada apa Nay? Kamu baik-baik saja khan?
tanyanya lewat ketikan balasan.
Treeet treeet treeet...
"Hallo? Naysila?
...[Hallo? Ini siapa? Hei, kamu ini lelaki iseng yang ga punya malu ya? Naysila itu menantuku! Ga pantas kamu chat dia terus! Suaminya marah besar dan bisa ngamuk kalau tahu istrinya chattan dengan pria lain!]...
Deg.
Jantung Andre serasa dipukul palu. Mertuanya Naysila, ternyata! Jelas saja pucat pias wajahnya seketika.
"Maaf, Bu! Anda salah faham. Naysila itu teman yang sudah saya anggap sahabat dan saudara!" Andre berusaha tenang. Ia menetralisir rasa paniknya.
...[Aku tahu, modus laki-laki hidung belang! Dan menantuku juga perempuan yang tak tahu diri. Malah asyik-asyikan chattingan sama lelaki lain di saat suaminya sedang mencari uang!]...
"Maaf, Bu! Maafkan saya, terutama Naysila. Naysila tidak salah apa-apa, sayalah yang bersalah. Jadi tolong jangan marahi Naysila!"
...[Sudahi hubungan kalian! Aku tidak akan tinggal diam jika kalian masih terus saling berkirim chat!]...
Klik.
Seketika ibu mertua Naysila mematikan ponsel sang menantu.
Tinggallah Andre yang diam membatu.
Naysila! Naysila posisinya pasti sedang tertekan! Ibu mertuanya salah faham! Dan aku..., haruskah aku mendatangi rumah mereka untuk menjelaskan hal yang tidak sesuai dengan fikirannya? Tapi..., tapi sejujurnya ya memang aku salah. Aku menchatnya setiap malam selama tiga hari ini! Aku, aku hanya ingin kembali membuka hubungan pertemanan yang sempat putus! Aku,... aku harus apa? Bolehkah aku kesana untuk membantu Naysila?
Andre galau.
Ia bingung sampai tak sadar bolak-balik mondar-mandir memikirkan langkah yang harus diambilnya.
Seketika ia mencari setelan pakaian rapinya. Lalu berganti dengan cepat dan pergi ke lantai bawah apartemennya menuju parkiran basement.
Andre berniat meluruskan permasalahan Naysila dengan mertuanya.
__ADS_1
Andre takut, Naysila kena marah keluarga suaminya.
Jalanan ibukota padat merayap. Membuat Andre hanya bisa berdecak kesal sembari berkali-kali menekan klakson hingga menimbulkan keributan.
"Wooy, jalan cepet wooy!" makinya pada pengendara mobil yang ada di depan.
Setelah keadaan dirasa kondusif, Andre segera menyalip beberapa kendaraan dihadapannya. Hingga berhasil keluar dari kerumitan jalan raya yang padat merayap.
Parkir di depan gang dan menguncinya cepat. Lalu bergegas masuk ke dalam gang kompleks perumahan nasional menuju rumah mertua Naysila.
"Permisi, Pak, numpang tanya!"
"Iya?"
"Rumahnya Naysila Utami dimana ya?"
"Oh, istrinya si Didi yang OB di Keramik Asia Tyle ya?"
Keramik Asia Tyle? Itu khan, perusahaanku?
"Yang punya anak satu namanya Bilqis Khumaira, Pak!" tutur Andre lagi.
"Iya, Ibunya Qiqis! Itu yang cat biru muda itu rumahnya. Yang depannya pohon bunga bougenville itu!"
"Oh itu ya, Pak? Terima kasih banyak ya, Pak!"
"Sama-sama."
"Assalamualaikum! Permisi!"
Tok tok tok
Andre menarik nafas pendek. Saluran pernafasannya sedikit sesak. Ia khawatir kalau Naysila kenapa-napa.
Seorang pria paruh baya membukakan pintu dengan wajah agak termangu.
"Iya? Cari siapa?" tanya beliau pada Andre.
"Apa betul ini rumah suaminya Naysila Utami?" Andre balik bertanya.
"Iya, saya orangtuanya Didi suaminya Naysila!"
"Perkenalkan, saya Andre Wiguna Dharma, Pak! Saya...temannya Naysila!"
"Oh, jadi ini... teman lelakinya Naysila yang sering chat itu!" sindirnya pedas.
"Ada apa, Pak?" Tiba-tiba seorang Ibu keluar dari dalam kamar setelah mendengar suara sang suami yang agak meninggi.
__ADS_1
Tak lama Naysila juga keluar dari kamar yang berbeda.
"Andre? Ngapain kamu kesini?" tanya Naysila gugup. Andre melihat kedua mata Nay sembab. Seperti habis banyak menangis.
"Oh ini toh, selingkuhannya!" sela ibu mertua Naysila, salah faham.
"Ibu, kami tidak ada hubungan apapun!" Naysila dan Andre berbarengan menjawab.
"Tuh khan...! Sampai kompak menyangkal! Dasar, gak tahu diri!" maki sang ibu mertua membuat Naysila kembali menangis.
"Ibu salah faham. Nay gak pernah selingkuh dan Andre hanya teman yang baru bertemu Nay lagi. Sumpah demi Tuhan, Bu!"
"Jangan bawa-bawa Tuhan!" sentak Bapak Mertuanya juga.
Terdengar suara keras Bilqis menangis.
Naysila menoleh ke arah pintu kamarnya seraya berkata,
"Pergilah, Ndre! Kedatanganmu kerumah ini justru membuat keadaanku semakin terpojok!"
"Aku hanya ingin menjelaskan duduk perkaranya. Dan ingin meminta maaf pada ibu dan bapak mertuamu!"
"Hahaha... minta maaf karena sudah terciduk! Pintarnya ambil hati, setelah main hati!" sela ibu mertua Naysila.
Nay nampak kesal. Ia bergegas kembali masuk kamar, menemui Bilqis yang terbangun karena ada suara berisik diluar.
Tetangga kiri kanan mulai berdatangan. Membuat Andre jadi ikutan merasa tak nyaman.
"Saya datang kesini hanya ingin menjelaskan, kalau Naysila adalah istri dan ibu yang baik. Tidak pernah melakukan hal-hal yang kalian tuduhkan. Dan memang tiga hari ini saya menchat nya. Karena bertemu lagi setelah sepuluh tahun tak berjumpa. Itupun hanya pertanyaan normal saja. Bukan pertanyaan yang aneh-aneh kecuali candaan layaknya kami dimasa lalu!"
"Heleh! Sudah terciduk pun masih bisa pura-pura!"
"Saya hanya ingin minta maaf pada Nay, karena membuat keadaannya jadi seperti ini. Saya juga minta maaf pada Bapak Ibu karena menjadi tak nyaman dengan hubungan pertemanan saya dan Naysila! Tapi, kami tidak punya hubungan spesial selain murni pertemanan!"
"Iya, awal-awal chattan. Lama-lama ngajak ketemuan. Selanjutnya, pasti ng*m*ar!"
Andre hanya bisa menghela nafas. Ibu mertua Naysila benar-benar gahar. Membuatnya merasa semakin sulit untuk memberi pengertian.
"Naysila,... jika terjadi sesuatu! Hubungi Aku!" teriak Andre yang mulai emosi.
"Baiklah, Pak Bu... Saya pamit permisi. Saya hanya ingin menjelaskan dengan baik pada Bapak Ibu, tetapi ternyata kalian masih tetap tak percaya. Ya..., itu hak kalian! Tapi tolong, jangan menyalahkan Naysila terus-terusan! Naysila tidak bersalah, dan kalaupun saya harus mempertanggungjawabkan kesalahan saya, saya siap! Tapi kali ini saya pamit, karena suasana sedang panas dan percuma meski saya bicara baik-baikpun tak didengar. Saya permisi!"
"Silakan! Dan jangan ganggu rumah tangga anak saya lagi! Jangan ganggu istri orang lagi! Cari sana perempuan lain, jangan Naysila!"
Andre berjalan cepat keluar dari pemukiman padat itu.
Ternyata, ia salah langkah. Ibu Bapak Mertua Naysila sangat kasar. Sulit untuk diajak berkomunikasi.
__ADS_1
Pantas saja, Naysila menolakku untuk ikut mengantarnya sampai rumah. Ternyata ini alasannya. Mereka terlalu hyper protektif pada Naysila. Bahkan terkesan curiga dan memandang negatif pada apapun yang Naysila lakukan. Ck ck ck...
...BERSAMBUNG...