CEO GILA : Mencintai Istri Orang

CEO GILA : Mencintai Istri Orang
BAB 52 (POV RENDRA MAHARDIKA)


__ADS_3

Hari ini adalah hari ke-50 kerjaku di pabrik setelah dimutasi oleh atasanku dari kantor pusat.


Awalnya aku senang. Beban dosaku sedikit berkurang karena bisa menghindar dari Widuri, janda dua anak yang beberapa bulan terakhir jadi TTM an ku selama di kantor.


Widuri pulalah yang menyebabkan aku dimutasi, pindah ke pinggiran ibukota.


Sehari dua hari, aku masih betah menahan untuk tidak menchat Widuri. Tapi setelah lewat dari lima hari, aku tak tahan juga. Kangen suara lembutnya dalam menasehatiku yang dua tahun lebih muda usianya dari Widuri.


Hhh...


Entahlah, aku merasa nyaman berhubungan dengan Widuri. Padahal dari segi fisik, Naysila jauh lebih cantik dan lebih menggoda.


Widuri, wajahnya pun biasa saja. Cuma punya senyum manis dengan lesung pipit saja keindahannya. Dan... tutur bahasanya yang lemah lembut terdengar merdu merayu.


Haish! Yang pasti aku selalu ingin berduaan dengannya. Bercanda dan bercerita apapun itu.


Kini kami kerja berjauhan. Tak lagi seperti dulu yang satu kantor, setiap saat selalu bersama.


Sebenarnya jauh dari Widuri intensitasku menghubunginya jauh lebih banyak waktunya meskipun hanya lewat hape saja.


Setiap malam kami bersenda gurau lewat dunia maya dan telepon seluler.


Semakin intim dengan saling mengirim foto diri masing-masing. Bahkan... dengan santainya mengirim PAP tanpa harus menjaga privasi dari istri.


Setiap subuh alarmku adalah Widuri.


Begitu juga chattan kami, dengan bebas berlanjut sampai tengah malam. Semakin membuat rasa cinta dihati ini makin berkembang.


Berbeda ketika masih bekerja ditempat yang sama, hanya fisik kami bertemu setiap saat. Namun untuk chat atau berhubungan via telepon, aku harus hati-hati ketika sudah sampai di rumah.


Kularang Widuri untuk menghubungiku. Khawatir Naysila membaca chattan kami.

__ADS_1


Sekarang, tinggal di mess pabrik dan pulang seminggu sekali. Kami bebas berchat ria mau bicara apapun itu. Bahkan menyerempet ke hal-hal yang nyeleneh dan luar biasa sekalipun.


Widuri juga tak sungkan lagi menelponku memanggilku sayang. Chattan kami sudah selayaknya pasangan suami istri.


Berbeda dengan Naysila, yang sangat jarang menchatku apalagi berkata-kata mesra mengatakan kerinduannya.


Widuri jauh lebih dewasa dan sangat mengerti kebutuhan psikisku yang membutuhkan belaian kasih sayang.


Jujur saja, dalam hati kecilku selalu gundah. Aku tak mau Naysila mengetahui hubungan kami ini. Tapi aku juga tak ingin berpisah dengan Widuri.


Beberapa kali hubungan terlarang ini sempat goyang. Bahkan nyaris menjadi omongan orang ketika ketahuan sedang berciuman di sudut ruang ganti pantry oleh CEO GILA kantor perusahaan tempat kami bekerja.


Untungnya, ternyata CEO GILA itu bukan orang yang suka mengumbar aib orang. Meskipun akhirnya kerja kami dipisahkan, tapi berkat dia pula, aku dan Widuri semakin mesra. Walau hanya via sambungan telepon saja.


Setelah sebulan setengah kami tak berjumpa, aku dan Widuri mengatur janjian pertemuan.


Gerak-gerikku yang kangen ketemu Widuri rupanya terbaca Naysila.


Widuri ingin makan mie ayam dulu dan kami ketemuan di resto kecil itu.


Sangat mengejutkan, Naysila membuntuti langkahku.


Widuri sangat ketakutan dan aku pun tak bisa berbuat apa-apa selain berusaha kuat menyembunyikan hubungan gelap ini.


Meski sempat menegangkan, syukurlah Naysila masih berusaha menjaga harga dirinya dalam melabrak Widuri.


Sampai-sampai aku berbohong kalau anaknya Widuri dirawat di puskesmas. Maaf Wi, demi hubungan kita! Awalnya Naysila kekeuh minta menengok ke sana. Akhirnya Widuri ikut menenangkan Naysila dan mengatakan kalau anaknya sudah pulang ke rumah.


Hhh... Berbohong itu melelahkan, gaes!


Kubawa pulang segera Naysila, memberinya banyak penjelasan sampai ke rumah.

__ADS_1


Ternyata, semua makin merembet menjadi keributan yang berkobar. Bahkan sampai ibuku ikut campur, serta telapak tangan ini mendarat di pipi Naysila.


Aku kesal, sekaligus marah.


Rupanya bukan hanya aku yang berselingkuh. Naysila juga sedang dekat dengan teman masa sekolahnya dahulu.


Hhh... Api cemburuku berkobar membesar. Seiring Ibu yang juga ikut campur dan Naysila yang semakin kurang ajar.


Nay berani melawan ucapan Ibu dan juga aku.


Seharusnya dia diam tak usah menjawab. Biasanya pun begitu responnya, ketika aku mendiktenya. Tapi kali ini, Naysila bahkan berani melawan perkataan Ibuku. Itu yang membuatku gelap mata menamparnya.


Aku sayang dan cinta Naysila.


Tapi apakah ia sayang dan cinta aku juga, sedangkan aku bisa melihat tahun-tahun belakangan ini ia nampak tersiksa dan berpenampilan buruk dihadapanku.


Wajah cantiknya tak lagi berseka ketika aku dirumah.


Pakaiannya pun hanya dasteran saja.


Jangankan berias, memberiku senyuman manis legitnya pun teramat jarang.


Naysila hanya tersenyum cantik untuk Bilqis Khumaira saja. Tapi dingin tatapannya padaku. Bagaimana bisa aku memberinya banyak cinta jika responnya sekejam itu padaku.


Naysila juga selalu menuntutku untuk pindah mengontrak saja.


Bagaimana mungkin kutinggalkan kedua orangtuaku? Itu sama dengan membuat mereka sakit.


Aku ini anak sulung dari dua bersaudara. Aku juga anak lelaki satu-satunya. Adikku sudah menikah dan ikut suaminya. Otomatis, hanya aku seorang anak mereka yang wajib mengurus.


Ibu dan Ayah bahkan berkata, kalau nanti mereka tiada maka warisan rumah ini akan jatuh padaku. Dan Nania sudah menikah juga sudah memiliki rumah. Sehingga akulah yang akan menjadi tulang punggung Ayah Ibu sampai akhir dengan jaminan sertifikat rumah untuk masa tuaku kelak.

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2