CEO GILA : Mencintai Istri Orang

CEO GILA : Mencintai Istri Orang
BAB 15 (Hari Buruk Bagi Andre)


__ADS_3

Melihat kesedihan Naysila didepan mata, turut serta membuat sesak hati Andre.


Naysila kini menjadi anak yatim. Ayahnya telah berpulang ke pangkuan Tuhan Yang Maha Esa.


Andre juga seorang anak piatu. Ia tidak memiliki ibu sejak masih bayi. Tetapi melihat jeritan Naysila yang pilu membuat lemas seluruh jiwa raganya.


Ia ingin sekali merangkul tubuh gadis yang terlihat rapuh dan ringkih itu.


Ingin memeluknya memberi kekuatan.


Ingin memberinya kata penghiburan, agar Naysila bisa kuat dan tegar.


Takdir sudah Tuhan tentukan. Sekeras apapun kita menolak, semua sudah jadi Kehendak-Nya.


Andre sangat ingin berdiri disamping Nay. Menjadi orang yang paling bisa diandalkan.


Khayalan kesedihan itu hingga terbawa dalam mimpi tidur disiang bolong.


Gubrak


Antara sakit, kaget dan sangat malu, Andre tersadar kalau ia masih ada dikursi panjang pemancingan.


Ia tertidur sampai dua jam. Dan hari rupanya telah menjelang sore.


"Mimpi apa, lo, Tong?" ledek seorang bapak-bapak pemancing sambil mengangkat joran ikannya. Umpannya sudah termakan dan terlihat ikan berukuran setengah kiloan telah berhasil ia dapatkan.


Andre mengusap-usap pant*tnya yang kesakitan.


Ia segera bangun dan bergegas pergi.


Tujuannya adalah pulang ke rumah. Lalu niat kembali ke rumah Naysila di malam hari. Untuk mengikuti ta'ziah tahlilan almarhum ayahnya Naysila.


Andre membuka ponselnya.


Banyak chat masuk kedalam aplikasi What'Appnya.


Ada pesan dari Wirda juga Bianca.


Dan Andre sedang tidak bernafsu melayani obrolan nakal bersama dua gadis cantik itu.


Ojek online membawa Andre pulang pukul lima sore.


Warti nampak tergopoh-gopoh membukakan pintu untuknya.


"Den Andre mau makan sekarang?" tanyanya sopan.


"Iya, Bi!" jawab Andre.


"Baik, Warti siapkan!"


Remaja itu mengedarkan pandangannya ke seisi rumah. Terlihat sepi, padahal Papanya baru pulang dari dinas luar kota.


"Semuanya sedang pergi, Den!"


Warti seperti mengetahui isi hati anak tuannya itu.


Andre hanya menghela nafas pendeknya, lalu mencucutkan bibir sensualnya dengan tatapan sinis.


Enaknya, mereka pasti sedang senang-senang tanpa ingat padaku! Ck ck ck...

__ADS_1


Makanan telah siap di meja. Andre nampak puas dengan masakan asisten rumah tangganya yang selalu enak itu.


"Makasih, Bi! Masakannya enak!" pujinya membuat Warti tersenyum malu.


Andre naik ke lantai atas. Ia masuk kamarnya dan menghempaskan tubuhnya jatuh dipembaringan.


Lalu kembali bangun dan bergegas membuka lemari jatinya.


Mencari-cari baju koko dan kopeahnya, untuk dikenakan nanti malam setelah Maghrib pergi ke rumah Naysila.


Andre juga meningat motornya yang baru selesai diservis tukang kebun rumahnya.


Dia segera berlari ke garasi belakang. Tempat motor Ninja 250 nya terparkir dengan gagah. Tapi... Tiba-tiba ia teringat sesuatu.


Akan terkesan angkuh jika aku pergi ke rumah Naysila naik motor ini! gumamnya seraya menepuk-nepuk jok motor kesayangannya.


Alhasil ia melangkah ke arah kanan sedikit. Menuju motor bebek sederhana yang biasa Warti dan Dasri, tukang kebunnya bawa ke pasar atau minimarket.


"Bi, Biii!"


"Iya, Den?"


"Kunci motor legenda mana?"


"Motor itu, Den?" tanya Warti agak kaget mendengar Andre menanyakan kunci motor butut itu.


"Iya!"


Warti memberikan kunci motor bebek yang mulai sering mogok karena termakan usia tua.


"Ini masih bisa dipakai khan ya?"


"Servis sekarang, bilang Mang Dasri!"


"Sekarang?"


"Iya. Mau aku bawa ntar abis maghrib!"


"Oh...iya, Den! Warti cari Mang Dasri dulu!"


"Ini, ini uangnya, Bi!"


Andre memberikan uang seratus ribuan tiga lembar. Ia ingin pergi ke rumah Naysila dengan motor itu saja.


Dia tak mau terlihat mencolok dan membuat Naysila kurang respek. Ditambah posisi rumah Nay juga didaerah padat penduduk serta minim lahan parkiran. Sehingga ia agak ragu jika motor kesayangannya nanti tergores atau sampai hilang diambil orang.


Andre juga belum mengetahui sikap dan sifat Naysila, karena mereka belum saling kenal.


Untuk itu Andre ingin melihat dulu karakter serta tabiat gadis cantik yang menarik hatinya itu sejak jumpa pada pandangan pertama.


...........


Perlahan waktu bergerak terasa lambat bagi Andre.


Adzan Maghrib berkumandang, bukannya pergi ibadah tetapi ia berdandan maksimal. Dengan koko putih buatan desaigner kondang Itang Yunaz dipadupadankan dengan kain sarung BHS Songket Gunung Lampung.


Tak lupa jam tangan cozy serta kopiah warna hitam berhias renda emas dipinggirnya.


Sendal gunungnya yang berjejer di tempatnya kini satu persatu Andre jajal. Hingga terpilih satu yang terbaik untuk ia kenakan malam itu.

__ADS_1


Motor telah servis, bahkan Mang Dasri juga membawanya ke tempat cuci steam sehingga terlihat kinclong.


Andre segera meluncur dengan kepercayaan diri tingkat tinggi.


Lho? Kenapa suasana rumahnya justru sepi sekali? Apa ga ada tahlilan, ini?


Andre menerka-nerka dalam hati.


"Permisi, Pak, numpang tanya! Mmm... Tadi pagi Ayahnya Naysila meninggal dunia. Apa, dimakamkan dimana ya? Dan kira-kira apa ada tahlilannya, Pak?"


"Oh, pak Surya! Iya, beliau dibawa kerabatnya ke Cilamaya. Jadi pemakamannya dikampung kelahirannya. Sampai sekarang belum tahu kapan pulang dan kapan tahlilnya. Rumah kontrakannya dikunci juga tuh, Dek!"


"Rumah kontrakan?"


"Iya! Pak Surya dan Naysila memang mengontrak di rumah ini. Sudah ada setahunan lebih, mungkin!"


"Oh gitu! Terima kasih ya, Pak!"


"Adek ini emangnya siapanya Naysila?"


"Saya, teman sekolahnya! Tadi pagi lihat Naysila berduka. Jadi, saya sengaja mau ikut tahlilan Ayahnya sekarang."


"Kayaknya tahlilnya dikampung, Nak! Soalnya Naysila juga bawa banyak tas deh! Sepertinya anak itu libur dulu sekolahnya. Kasihan emang anak itu! Ibunya pergi tiga tahun lalu karena kesal penyakit pak Surya yang gak sembuh-sembuh. Dan sampai sekarang gak pernah pulang kabarnya. Jadi mereka cuma tinggal berdua saja!"


Andre termangu.


Miris sekali mendengar kisah hidup Naysila yang menyedihkan. Bahkan benar-benar lebih sedih dari kisah hidup Andre.


Ia pamit pulang setelah berterima kasih pada bapak yang rumahnya tepat disebelah rumah kontrakan Naysila.


Nay... ternyata kamu jauh lebih susah hidupnya dibanding aku. Tapi kamu juga memiliki otak yang cerdas, sama seperti aku. Semoga kamu bisa kuat menerima cobaan hidup ini. Aku, pasti akan mendukungmu, Nay! Aku mau berbagi kesedihan dan penderitaan denganmu! Mari kita bersama. Supaya bisa mengubah dunia kita menjadi indah!


Andre hanya bisa merenung sepanjang perjalanan sampai tiba-tiba...


Cekiiiit...


Motor bebeknya nyaris terjungkal kena serempet dari mobil Yaris warna merah metalik.


Dan seseorang dari dalam mobil itu membuka kaca jendelanya dan berteriak dengan angkuh, memakinya. Wajah cantik, dewasa, dengan kedua bola mata terbingkai kaca mata hitam menyembul dari balik kaca mobil.


"Hei, kalo bawa motor itu jangan bengong! Lu kira ini jalanan nenek moyang lu!?!"


Andre hanya bisa mengelus dada. Untung saja ia sedang dalam mode on sabar. Sehingga bisa menahan emosinya yang biasanya meletup-letup.


"Ssst...sudah! Anak santri tuh kayaknya!"


"Halah, mau santri kek, mau santo kek...gue gak peduli!"


"Eh, koq...itu mirip anaknya jeng Shernita lho!"


Nah lho!?! Sial*n... Ketemu emak-emak sosialita yang sok cantik dan menolak tua! Hadeeh...!!!


Andre hanya diam, ia kembali menyalakan mesin motor bebek legendanya. Tapi ternyata membuatnya kesulitan karena motor tua itu ngadat rupanya.


Dan..., seseorang menarik tungkai lengannya.


"Tinggalkan motor butut itu, ayo naik bareng kita!"


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2