CEO GILA : Mencintai Istri Orang

CEO GILA : Mencintai Istri Orang
BAB 41 (Salah Sasaran)


__ADS_3

"Kamu dan Tio beneran bakalan cerai?"


"Mana ada cerai bohong-bohongan!"


Andre menelan salivanya. Tak mengerti pada jalan pemikiran Bianca dan Mas Tio. Pernikahan yang telah ia bangun selama empat tahun itu terancam kandas. Tapi, baik Bianca maupun Tio sama-sama egois dan kekeuh pada pendirian.


"Kamu harus bisa menahan Tio untuk tidak menceraikanmu, Bi!"


"Untuk apa? Toh dia sudah tak butuh aku! Dia sendiri yang menceraikan aku karena salah faham pada kedekatan kita!"


"Haish! Inilah mengapa aku sangat tidak percaya pada pernikahan! B*llsh*it jika mengatakan cinta sejati, cinta abadi, cinta sampai mati! T*i kucing, semua cinta!"


"Ck ck ck..., jangan apatis memandang cinta dan pernikahan, Ndre!"


"Kau ni gila ya? Ketok palu perceraianmu di depan mata, tapi masih tetap percaya cinta dan pernikahan? Lalu apa gunanya kau menikah bila akhirnya memilih bercerai?"


"Justru kau harus lebih semangat mencari cinta yang tepat!" kata Bianca sengit.


"Eh? Jadi kemarin kau menikah dengan Tio karena cintaku tidak tepat? Begitu?"


"Khan aku sudah pernah bilang, cintaku pada Tio sudah dirancang sejak aku masih SMA. Jadi, itu bukan cinta yang tepat. Apalagi cinta sejati.


"Ck ck ck...!"


Andre tak habis fikir. Mudahnya Bianca berkata seperti itu. Padahal pernikahannya gagal dan sedang proses perceraian. Tapi dia sangat santai juga tidak menjadikan statusnya nanti sebagai beban.


Andre sendiri sampai saat ini seolah tarik ulur perasaannya untuk mencari perempuan yang bisa diajaknya bernegosiasi naik kepelaminan.


Ia sangat takut pada kegagalan. Apalagi untuk hubungan serius bernama pernikahan.


Untuk menjalin hubungan percintaan saja tak pernah terbersit difikirannya. Karena banyak hal yang harus ia pertimbangkan termasuk takut sakit hati dan susah move on seperti saat dulu Naysila meninggalkannya.


Naysila...


Mengingat Naysila, seketika Andre merenungkan nasib pujaan hatinya itu.


Salah memang dirinya jika masih memendam rasa pada Naysila. Tidak benar kelakuannya yang terus-menerus memikirkan Naysila.


Karena perempuan itu sudah jadi milik orang.


Kalau hanya masih pacaran, bisa saja ia menikung. Tapi ini..., Naysila berstatus sebagai istri sah dari pria lain. Yang...yang, eh...


Naysila istrinya Didi yang bekerja di perusahaan Keramik Asia Tile?


Andre langsung teringat perkataan Bapak tetangga Nay yang ia tanyai alamat waktu itu.


"Bianca!"


"Hm?"


"Benar kamu pernah melihat Naysila mendatangi lobi kantor kita ini?" tanya Andre membuat Bianca langsung berfikir.


"Naysila? Siapa? Yang mana?"

__ADS_1


"Haish, Bi! Fokus, Bi...fokus! Naysila yang fotonya pernah kamu lihat di galeri ponselku!"


"Oh, yang itu. Iya. Kenapa? Cewek yang lagi kamu taksir ya?"


Bianca berubah seketika raut wajahnya.


"Dia, sudah punya suami!"


"Apa??? Yang benar?"


Wajah Bianca berubah kembali.


"Eh, carikan aku identitas karyawan OB bernama Didi! Coba minta ke pak Teguh, Personalia. Siang ini kalau bisa, cepat!"


"Didi? Jadi, si Naysila itu istrinya Didi OB kantor kita ini?"


"Hm!"


"Beneran? Pfffs..."


"Jangan pura-pura nahan ketawa! Biasanya juga langsung ngakak!"


"Upss hahaha...! Maaf, Boss!"


Andre pura-pura cuek dengan tingkah Bianca yang tertawa senang.


Naysila memang benar sudah menikah. Bahkan kini Andre harus bisa menahan diri, untuk tidak lagi chattan dan berdekatan dengan Naysila.


Mertuanya marah. Mereka tak suka hubungan pertemanan Andre dan Naysila.


Kini ia harus tahu siapa suaminya Naysila.


Pria yang seperti apa yang berhasil mempersuntingnya. Sungguh pria yang sangat beruntung.


Andre hanya bisa berdecak kesal mengingat itu.


Kepalanya pusing. Migrainnya kembali kambuh.


Ia belum makan sejak semalam. Perutnya pun tak terasa lapar. N*fsu makannya yang akhir-akhir ini membaik, kini kembali ambruk.


Sepertinya Andre harus kembali konsultasi ke dokter langganannya dan minta resep obat lambung serta migrainnya seperti biasa.


"Boss!"


"Ya?"


"Ini, biodata Didi Raharja, office boy di lantai satu di divisi keuangan dan personalia."


Bianca menyerahkan tugasnya pada Andre.


"Thanks, Bi!"


"Sama-sama!"

__ADS_1


Dada Andre berdebar-debar.


Lembaran biodata via print-an dari bagian Personalia, kini ada ditangannya.


Matanya menatap fokus pada pas foto yang di print Bianca.


Biasa aja! Tidak tampan, juga terlihat agak dewasa, malah!


Tertulis,


Nama : DIDI RAHARJA


Usia : 34 tahun


"Hm...! Beda usianya tujuh tahun!"


Treeet treeet ... treeet


Maharani is calling


Adik iparnya menelpon.


"Ya Hallo? Rani? Ada apa?"


...[Kakak! Hik hiks..., kak Andre pulang dalam kondisi babak belur dan pingsan! Tolong, Kak! Hik hiks...]...


"Apa???"


Saat itu juga Andre langsung menarik jas kantornya yang tergantung di capstock seraya berkata,


"Bianca! Tolong rubah jadwalku hari ini. Aku harus pulang, si biang kerok bikin masalah!"


"Baik!"


Andre tak melihat tulisan lanjutan dari identitas karyawan yang bernama Didi Raharja. Di bawah keterangan usia, ada alamat rumah serta status serta nama istri dan anak.


Andre segera bergegas mengambil jasnya yang tergantung di capstock.


Dasar si Daniel! Baru seminggu kerja, kukira dia akan bisa jadi dewasa. Ternyata...


Dikebutnya kemudi kendaraan roda empatnya.


Jalanan ibukota cukup lancar sehingga Andre terbantu dengan cepat sampai ke rumah lamanya.


Daniel pingsan di teras rumah. Tubuhnya penuh luka benda tumpul dan wajahnya lebam bengkak babak belur.


Disampingnya Maharani menangis terisak.


Andre segera menarik tungkai tangan bocah nakal itu. Ia membopong tubuh tinggi kurus sang adik.


"Ayo, Rani!"


Beban ini seperti sudah selayaknya harus ia tanggung. Meskipun batinnya kesal, jiwanya lelah, tapi Daniel adalah adiknya. Andre tak bisa lepas tangan begitu saja.

__ADS_1


Mereka pergi ke rumah sakit membawa tubuh Daniel yang ringkih.


...BERSAMBUNG...


__ADS_2