CEO GILA : Mencintai Istri Orang

CEO GILA : Mencintai Istri Orang
BAB 33 (Sedang Mumet Otak)


__ADS_3

Waktu kembali bergulir.


Setelah hari minggu kemarin hati Andre menghangat karena pertemuannya dengan Naysila Utami, kini ia kembali pada rutinitas realitanya yang sibuk.


Berkutat dengan buku-buku jurnal dan juga layar komputer adalah kesehariannya.


Dinginnya air conditioner ruang kantor membuat wajah Andre semakin kaku.


Shiit! Otak ini mulai oleng. Aku butuh rehat sejenak dari jajahan pekerjaan ini.


"Bi! Aku mau ke pabrik!" tukasnya pada Bianca.


"Aku ikut?"


"Ga usah! Cuma sebentar. Mau cek barang baru. Kira-kira bagus ga itu pres-annya!?!"


"Aku mau ikut! Lagipula kalau mau lihat hasil perdana, khan bisa Pak Gobin yang antar contoh jadinya!"


"Kau tetap di sini! Aku hanya memastikan produk baru kita berhasil dan hasilnya memuaskan sebelum dicetak di pabrik. Paling cuma satu jam di sana!"


Bianca sang sekretaris pribadi hanya bisa mendesis sebal. Boss-nya memang sering mengubah planning tanpa konfirmasi dirinya terlebih dahulu.


"Kau ni kebiasaan! Ga pernah terorganisir dalam setiap langkah!" ujar Bianca pada Andre.


"Hehehe...! Kau lebih tahu diriku dari pada orang lain. So',... beginilah aku."


"Ish! Egois! Selalu mau menang sendiri!"


"Hehehe...! Oiya, jangan lupa pesananku hape baru keluaran Samsung!" sela Andre sebelum pergi.


"Hadiah buat cewek mana lagi ini?"


"Buat adik iparku!"


Bianca hanya termangu. Jawaban Andre yang samar membuatnya berfikir keras. CEO GILA itu memang akrab dengannya. Tapi untuk urusan cerita pribadi, ia tak pernah sekalipun membukanya pada siapapun termasuk Bianca.


....


"Selamat siang, Pak!"


Andre menoleh pada suara pria yang menegurnya.


Rendra berdiri di sampingnya dengan wajah menunduk ke bawah.


"Bagaimana pekerjaanmu di sini? Baikkah kinerjanya? Betah, jauh dari kekasih gelap?"


Rendra hanya tersenyum kecut. Tetapi dengan wajah masih tertunduk.


"Saya sudah gak lagi sama Widuri, Pak!"


"Ck ck ck...! Cuma sekedar teman bersenang-senang, ya?!?" sindir Andre, nyinyirnya kumat.


Tak salah Bianca menyebutnya seperti nenek-nenek menopouse yang datang bulan. Ia selalu ingin ngegas dan berkomentar sesuatu hal yang tidak pada tempatnya.


Lupa pada diri sendiri yang justru juga sukanya bermain-main tanpa memikirkan keseriusan dalam berhubungan.

__ADS_1


Rendra mengikuti langkah Andre.


Kini pria itu bekerja di pabrik yang letaknya berada di pinggiran kota.


"Apa kau pulang ke rumah setiap hari?" tanya Andre sepanjang perjalanan ia mengontrol pabrik.


"Saya pulang jum'at malam. Sabtu-Minggu libur, jadi bisa luangkan waktu untuk keluarga."


"Baguslah kalau begitu! Apa istrimu gak tanya, kenapa kau dimutasi ke pabrik?"


Rendra menggeleng.


"Berarti antara istrimu itu istri yang baik, atau dia tidak peduli padamu, Rendra!"


"Hehehe... kemungkinan seperti itu, Pak Boss!"


"Seperti itu yang mana?" tanya Andre. Ambigu pada jawaban rancu sang karyawan.


"Istri saya sangat cantik dan pintar. Pastilah, saya ini terlihat samar dimatanya!"


"Ow ow ow...! Terdengar seperti pria menyedihkan!"


"Begitulah adanya, Pak Boss!"


Andre tak merespon ucapan Rendra. Ia fokus pada keramik model baru yang perusahaannya keluarkan minggu ini. Setidaknya konsumen tidak akan bosan dan selalu ada inovasi model dan warna varian keramik di pabriknya.


"Berapa lama kalian menikah?"


Andre kembali bertanya pada Rendra, yang setia mengikuti inspeksinya.


"Hm...! Mulai ada titik kejenuhan sepertinya!"


"Jujur bukannya saya jenuh!"


"Lalu?"


"Hhh... Istri saya terlalu sempurna untuk saya. Dan saya minder sampai-sampai inginkan dia untuk diam terus dirumah saja!"


Andre terperangah mendengar cerita Rendra. Sungguh aneh ceritanya. Mungkin ini yang disebut cinta posessif. Tapi justru anehnya kenapa dia malah melirik wanita lain kalau istrinya sempurna.


"Tapi kau malah menyelingkuhinya! Ck! Bullshiiit!"


"Bapak tidak bisa mengerti perasaan saya!"


"Untuk apa juga mengerti perasaanmu? Kau bilang istrimu terlalu sempurna. Cantik luar biasa, tidak punya kekurangan apapun pastinya sampai kau bilang terlalu sempurna. Tapi..., kau ada main dengan Widuri! Hahaha... Akal bulusmu sudah terbaca, Bray!"


Rendra tersipu. Malu juga ia, karena salah bicara.


"Ya. Hampir semua laki-laki inginkan eksistensinya diakui. Iya khan?"


"Yap, betul pak Boss!"


"Jiwa main-main pasti akan selalu ada. Apalagi kalau ada kesempatan. Ya,... semua itu hanyalah sekedar intermezo khan! Tapi, sebelum kau bertindak...ada baiknya kau berfikir masak-masak. Bagaimana kalau istri cantikmu itu tahu, lalu minta cerai. Apa keputusanmu?! Apa kau enjoy karena Widuri dalam genggamanmu? Jadi tak masalah kalau istri sahmu itu pergi tinggalkan dirimu yang produk gagal dalam hal kesetiaan?"


"Pak Boss,... sepertinya sangat faham masalah pernikahan!"

__ADS_1


"Njriit! Aku ini sudah khatam urusan tipu menipu para pelaku pernikahan! Jadi, alasan ini itu hanya sekedar ucapan saja. Manis di bibir tapi lain di hati."


"Hehehe... Cobalah untuk mengalaminya sendiri. Rasanya,..."


"Rasanya seperti Anda menjadi ironman! Bangk*e! Hahaha..."


Entah mengapa, Andre merasa ia dan Rendra bisa enjoy mengobrol hal yang prinsipil itu.


Padahal Andre agak sulit untuk mencari lawan bicara yang seimbang. Mungkin karena Rendra adalah bawahannya. Jadi terkesan membiarkan apapun ucapan Andre tanpa disela apalagi dipatahkan.


"Hei! Kerja yang benar! Kalau aku mendengar berita kau malas bekerja, malah buat onar dengan memacari karyawan bagian produksi,... siap-siap kau kupecat!"


"Siap, Boss! Saya akan berusaha mengingat nasehat Pak Boss, dan terus bekerja dengan baik!"


"Aku tidak perlu kau jilat! Karena aku tahu, mana karyawan yang loyal tulus padaku. Dan mana yang hanya pura-pura seperti itu!"


"Iya. Terima kasih Pak, atas bimbingannya!"


.....


Pukul tiga, Andre sudah kembali ke kantor pusat. Bertemu lagi dengan Bianca yang telah membelikan barang pesanannya tadi, di jam makan siang.


"Thanks, Bi!"


Bianca hanya tersenyum.


Hari demi hari bertemu Andre, tidak juga membuatnya jenuh serta bosan. Malah semakin ingin terus dan terus bersama sang CEO Gila yang menjadi atasannya itu.


"Boss! Mau ga kau temani aku nonton malam ini?" Bianca coba-coba mengajak Andre.


"Suamimu kemana?"


"Sedang ada di negara lain!"


"Hm...! Kenapa kau tak ambil cuti, lalu ikut terbang bareng Mas Tio Syailendra?"


"Pekerjaanku khan banyak. Dan lagi, kamu nanti siapa yang urus schedul nya kalau aku ambil cuti panjang!"


"Asalkan kau ajukan cuti tiga hari sebelum hari H, pasti aku ACC, Bi! Aku bisa memberi karyawan lain kesempatan menggantikanmu sementara!"


"Ga! Terima kasih! Selain dia tidak mengajakku, aku juga ogah jalan bareng dia!"


"Duu dudu duduu...! Hahaha..., ada yang ngambek gak diajak bareng rupanya!"


"Dahlah! Capek aku ngomong sama atasan yang sok iye ledek-ledek, padahal hatinya juga sama mirisnya. Jomblo akut!"


"Haish! Aku ini, pria jomblo berkualitas! Semakin aku matang, semakin banyak wanita-wanita yang menginginkanku, Bi!"


"Ya ya ya...! Terserah kau sajalah, Boss!"


Andre tertawa. Bianca memang sudah biasa jadi bahan candaannya. Hubungan sekretaris dan CEO yang tidak biasa.


Memang.


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2