
Andre sedih, Naysila salah mengartikan kejujurannya tentang Rendra.
Niatnya hanya ingin membuka kedok suami Naysila, tapi dipandang lain oleh wanita pujaannya itu.
Sakit hati, tapi Andre mengerti.
Siapapun itu, pasti akan membela suami dibanding teman yang baru ditemui. Harus lebih percaya pada suami yang sudah bertahun-tahun menemani.
Tapi kalau suaminya itu modelnya seperti Rendra, apa harus tetap segitunya?
Andre hanya bisa merutuki dirinya yang terlalu dalam ikut campur urusan rumah tangga Naysila.
Andre mengakui julukan Bianca padanya itu benar. Dirinya seperti nenek-nenek menopouse yang sedang datang bulan.
Berkali-kali ditamparnya mulut pedasnya yang bak si pahit lidah.
Ia mengakui kebodohannya yang seringkali berkata tanpa fikir panjang. Niatnya baik, tapi justru membuatnya jadi si pendosa di mata Naysila.
Membuat Andre kesal pada dirinya sendiri.
"Aaaarrrggghhh!!! Bego kau Andre! Bego!!!"
Mobilnya meluncur kembali ke kantor di pukul tiga sore. Ia tak menjawab pertanyaan-pertanyaan Bianca yang menginterogasinya sampai panjang. Sampai Sang Sekretaris capek sendiri lalu diam seribu bahasa dan pergi meninggalkan Andre tanpa pamitan.
Jam kerja usai pukul empat sore. Para karyawan satu persatu pergi meninggalkan ruang kerja mereka kecuali yang masih banyak tugas dan dikejar deadline laporan.
Andre merasakan kepalanya pusing. Beberapa pil penghilang rasa nyeri kepala, suplemen vitamin menjadi antipasi pertolongan pertama.
Ia ingin sekali menghilang saat ini juga dari peredaran.
Dunia seolah tak mau menerimanya. Takdir pun tiada satu bersahabat. Hanya tuntutan pekerjaan dan pekerjaan yang menekannya membuat Andre ambruk jatuh pingsan.
Untungnya, seorang pegawai cleaning service melihat Andre yang terkapar di depan pintu ruangannya. Dan langsung meminta bantuan pertolongan pada aparat keamanan.
Mobil ambulan membawa Andre Wiguna Dharma ke rumah sakit terdekat.
Andre terpaksa harus mendapatkan perawatan intensif karena masih dalam tahap observasi para dokter spesialis.
Tiga hari terbaring lemah tak berdaya, membuat Bianca turut prihatin juga.
CEO GILA yang biasanya suka asal dalam berkata-kata, kini hanya diam tak mau bicara.
__ADS_1
Andre Wiguna Dharma dalam kondisi fisik serta kejiwaan down parah. Sehingga kesehatannya memburuk seiring penyakit lama menyerang tanpa ampun.
Ia divonis terserang kanker ginjal stadium satu oleh dokter yang menanganinya.
Shock pastinya. Tapi Andre berusaha menerima nasib dan takdirnya. Ia juga meminta dokter untuk merahasiakan penyakitnya pada orang-orang terdekat kecuali kuasa hukum yang akan menuliskan surat wasiatnya nanti.
"Ndre! Bicaralah, Ndre! Apa kamu sedang ada masalah? Katakanlah! Ceritakan saja kalau kamu sedang sedih ataupun terluka! Aku, akan selalu ada disampingmu!"
Bianca mencoba mendekati Andre dengan caranya.
"Pulanglah, Bi! Urus suamimu. Batalkan perceraian kalian! Aku akan sangat sedih kalau sampai rumah tanggamu dengan mas Tio hancur."
"Itu memang sudah terjadi, dan harus terjadi Ndre! Mas Tio punya WIL!"
Andre menghela nafasnya.
"Bi! Aku akan pergi jauh! Aku akan menjual seluruh sahamku di Keramik Asia Tile. Aku, sudah menghubungi pengacaraku. Aku... mulai sekarang bukan lagi atasanmu!"
"Ndre? Kenapa kamu sampai segegabah itu? Ada apa? Ada masalah apa?"
"Tidak Bi! Aku tidak punya masalah. Hidupku pun bahagia! Kau tidak perlu khawatirkan diriku. Khawatirkan saja dirimu sendiri!"
"Kalau kau pergi, aku ikut! Aku akan melayanimu dimanapun itu. Aku sudah bebas, tinggal menunggu waktu ketuk palu. Dan statusku tak akan lagi membelenggu!"
Ia membalikkan tubuhnya memunggungi Bianca. Hatinya kesal, wanita cantik itu terlalu keras kepala.
Waktu berjalan seperti biasa.
Hari berlalu tanpa terasa.
Andre pulang dari rumah sakit setelah seminggu dirawat di ruang intensif rumah sakit.
Pengacaranya sudah bergerak.
Rumah lamanya kini resmi dijual, sebelum bank mengambil alih karena masalah hutang piutang yang Daniel lakukan.
Adiknya itu pun sudah pindah ke apartemen milik Andre di bilangan pusat ibukota.
Daniel dan Maharani sebenarnya bingung pada apa yang tengah Andre perbuat.
Seminggu tak bertemu, bahkan sang pengacara pun tak mau memberitahu. Daniel dan Maharani seperti mendapat firasat buruk.
__ADS_1
Pasca kejadian dihajarnya Daniel oleh teman-temannya yang menginginkan Maharani juga jadi jaminan judinya, Daniel memang berubah.
Ia mulai sadar, langkahnya selama ini salah. Teman-teman yang semula dianggapnya adalah sahabat rasa saudara ternyata semua hanya memanipulasi keadaannya.
Mereka justru menipu Daniel dengan mengatasnamakan solidaritas pertemanan.
Ia baru tersadar, kalau teman-temannya itu adalah bajingan. Bahkan mereka menginginkan Maharani, istrinya untuk dibagi bersama pula. Membuat otak normal Daniel meradang. Apalagi setelah Daniel mendengar sendiri kongkalikong teman-temannya pada bandar judi tempat mereka main. Rupanya semua ini ada konspirasi besar teman-temannya sendiri.
Sampai sertifikat rumah almarhum Papanya berpindah tangan ke bank guna untuk mengikuti saran teman-teman dajjalnya.
Benar kata Andre selama ini.
Pertemanannya tidak sehat.
Pertemanannya penuh intrik dan juga tipu daya.
Dan baru kini Daniel tersadar kalau ucapan kakak tirinya itu semuanya benar.
Sejak saat itu Daniel berubah.
Ia bekerja dengan baik dan juga berkelakuan baik pada Maharani.
Apalagi hanya Maharani seorang yang selalu ada disampingnya, mendukungnya bahkan dari caci maki sang kakak juga.
Maharani membuatnya menjadi lebih baik.
Apalagi ada janin yang masih begitu muda yang telah ia tanamkan dirahim istri mudanya.
Rani, baru 16 tahun lebih umurnya. Tetapi pemikirannya jauh lebih dewasa dari dirinya.
Seketika Daniel merasakan Tuhan begitu menyayanginya. Meski berkali-kali kakinya salah dalam melangkah, tapi Tuhan Maha Baik padanya. Tuhan kirimkan Maharani yang lembut untuk membawanya ke arah kebaikan.
Rani bahagia, Tuhan mengijabah doa-doanya. Tangisan sepertiga malamnya selama sebulan ini menyadarkan fikiran Daniel.
Pemuda itu kini jauh lebih menghargainya dan makin menyayanginya.
Tiga hari perubahan itu, membawa dampak yang positif juga. Mereka diboyong asisten Andre menempati apartemen sang kakak yang tak kunjung pulang.
Daniel dan Rani mencoba menelpon nomor pribadi Andre, tetapi ponsel sang kakak dipegang pengacaranya. Katanya untuk satu minggu kedepan semua urusan di pegang Pak Dadan Ramdani SH.
Mereka tak berhasil berbicara langsung dengan kakak mereka.
__ADS_1
...BERSAMBUNG...