
Naysila akhirnya bertekad mengikuti Rendra dari belakang.
Bilqis terpaksa ditinggalnya demi untuk mengetahui siapa yang suaminya akan temui itu.
Dengan diam-diam tanpa izin dari ibu bapak mertua, Naysila mengekor langkah Rendra yang pergi dengan alasan temannya butuh bantuan.
Dengan naik bajaj, mau tak mau Nay harus sering-sering menyuruh supir bajaj untuk menarik kendaraannya lebih cepat lagi mengejar motor matic milik Rendra.
Jalanan masih ramai di jam sembilan malam.
Jam-jam yang para pemakai menuju rumah setelah seharian menguras tenaga di tempat kerja. Sehingga semua terlihat semangat untuk berlomba pulang lebih cepat.
Hampir saja Naysila kehilangan jejak ketika mengejar suaminya.
Ternyata Rendra masuk ke sebuah kedai mie ayam yang ada dibilangan selatan ibukota. Dan...
Terlihat seorang wanita sedang berbincang dengan Rendra. Wanita yang cukup cantik bahkan cenderung sederhana. Lebih sederhana daripada Naysila. Membuat Nay bingung dan resah sendiri. Haruskah ia muncul lalu mencoba mendengar sendiri pengakuan keduanya yang terciduk janjian ketemuan.
Hingga...
Brak
"Ma_maaf!"
Naysila terkejut. Seorang pramusaji yang berjalan dibelakangnya tertabrak tanpa sengaja. Sehingga nampan berisi pesanan orang lain jatuh berhamburan di lantai.
"Akan saya ganti, Mbak! Maaf, maaf banget!"
Wajah sang pramusaji terlihat agak tenang setelah Naysila berkata demikian.
Rendra yang mendengar suara ribut lebih terkejut lagi karena Naysila terlihat berdiri di tengah dengan wajah pucat pias.
"Sini, Wi!"
Pria itu menarik tangan Widuri yang memunggunginya.
"Ada apa Ren?"
"Ada istriku!"
"Hah?!?"
Pucat pasi wajah keduanya. Serba salah dan kikuk jelas terpancar di wajah mereka.
"Hhh... Aku akan handle semuanya!" ucap Rendra sembari maju melangkah menuju Naysila yang sedang mengantri membayar kerugian pesanan orang yang tadi jatuh karena kelalaiannya.
"Naysila!"
"Mas Didi!"
"Kamu,... mengikutiku?"
__ADS_1
"Sebentar, Mas! Aku bayar dulu ini!"
...
Naysila duduk menghadap Rendra dan Widuri. Mereka berusaha tenang meskipun debaran jantung ketiganya berdetak kencang.
Masing-masing memiliki kekhawatiran sendiri.
"Nay, kenalin... ini Widuri!"
"Widuri, ini istriku Naysila!"
Naysila menyambut uluran tangan Widuri. Berusaha tenang dengan senyum tipis tersungging di bibir.
"Nay, Widuri ini teman kerjaku waktu di kantor! Kami satu pekerjaan di divisi yang sama."
"Mbak Widuri office girl ya?" tanya Naysila, berusaha mencairkan suasana sekaligus menyelidiki identitas wanita yang terlihat lebih matang itu.
"Iya, Mbak!" jawab Widuri singkat. Senyumnya tampak kaku meski dibuat senatural mungkin.
"Widuri ini janda sejak dua tahun lalu. Suaminya meninggal dunia dan anak mereka dua, perempuan semua!" cerita Rendra lagi. Kali ini ia lebih tenang. Sepertinya sudah mulai menguasai keadaan karena Nay sendiri terlihat santai, tak terlihat tegang dan marah wajahnya.
"Kenapa kalian bertemu malam-malam begini? Memangnya gak bisa ketemu di tempat kerja?" tanya Nay. Dadanya bergemuruh, namun ia berusaha tetap tenang.
"Kami sudah tidak satu kantor lagi. Rendra khan di pabrik!"
"O iya, saya lupa. Maaf!"
"Widuri anaknya sakit, sedang dirawat di puskesmas wilayah rumahnya. Dia butuh saran dariku, Nay!"
Naysila mulai terlihat agak meninggi intonasi suaranya.
"Anak saya yang kedua, umurnya lima tahun. Ada kakaknya yang jaga umur sepuluh tahun. Saya, titip dulu sebentar. Keluar cari makanan!"
"Oh begitu! Ya udah, Mas... Ayo kita tengok ke rumah sakit!"
"Jangan Nay! Gak usah!!! Ayo kita pulang. Urusanku dengan Widuri sudah selesai!"
"Sekalian, Mas! Aku senang koq, kalau Mas dan Mbak Widuri lebih terbuka padaku. Aku tidak punya fikiran buruk pada kalian. Mari kita sekalian ke rumah sakitnya! Kita jenguk, boleh ya Mbak?" desak Naysila kembali melemah suaranya.
"Se_sebenarnya anak saya sudah pulang ke rumah, Mbak!" tutur Widuri. Membuat Naysila kembali memicingkan mata.
"Tadi, kata mas Didi dirawat khan?"
"I_ya. Tapi sudah pulang koq sekarang!"
"Iya, ga papa nengoknya di rumahnya Mbak Widuri juga!"
"Nay! Nanti anak kita nangis karena terlalu lama ditinggal!"
"Sekalian kita keluar, Mas! Sesekali gak apa khan?"
__ADS_1
"Nay! Bisa ngga' kamu hormati aku sekali saja ketika aku sedang bersama temanku? Ayo kita pulang!"
"Jadi..., Mbak Widuri ini ternyata teman yang begitu menghormatimu rupanya ya Mas?"
"Nay!"
"Mas! Aku... merasakan firasat itu! Dan aku yakin Mas juga Mbak, punya rasa takut yang sama karena ter-gep olehku! Iya khan?"
"Mbak, maaf... maaf bukan seperti yang Mbak Naysila fikirkan!" Widuri berkata dengan terbata-bata.
"Memangnya apa yang saya fikirkan? Hm? Mbak bisa melihat jalan fikiran saya?"
"Nay, ini di tempat umum, Nay!" sela Rendra mulai gerah dengan ucapan-ucapan sang istri.
"Aku juga tidak ingin mempermalukan diriku sendiri di tempat umum, Mas! Tapi aku juga tidak ingin membahas ini di rumahmu! Ada kedua orangtuamu dan juga anak kita di sana! Jadi kumohon, kalian bisa terbuka cerita semuanya padaku. Daripada aku cari tahu sendiri dari mulut orang lain!"
"Mbak! Kami sekarang tidak sedekat dulu. Sumpah! Kami bukan rekan sekerjaan lagi, kini! Dan setelah sebulan lebih, ini pertemuan kami pertama kami sejak Rendra dipindahkan boss CEO!"
Naysila mendengus kecil. Mulai melihat gelagat aneh dari ucapan Widuri.
"Intinya kalian itu ada hubungan apa? Sampai harus ada pertemuan diluar jam kantor. Dan ini disebut pertemuan pertama setelah mas Didi dipindahkan ke pabrik? Apa kalian terciduk boss kalian sedang bermesraan, sampai salah satunya harus dimutasi supaya tidak terus menerus saling berhubungan!"
Merah padam wajah Rendra dan Widuri.
Kini Widuri tertunduk malu tak mampu berkata apa-apa lagi.
Rendra justru sebaliknya. Ia tersenyum menyeringai seraya berkata,
"Kamu ini! Punya fikiran gila macam apa itu sama suamimu sendiri! Jahatnya fikiranmu, Nay! Apa karena kau sudah mulai dekat dengan teman sekolahmu dulu lalu kau menuduhku sehina itu?"
"Aku tidak menuduh, Mas! Hanya menerka, karena kalian sama-sama bungkam dan tidak mau memberiku penjelasan!"
"Penjelasan apa? Jelas-jelas aku sekarang kerja di pabrik dan Widuri di kantor pusat. Mana ada waktu kita untuk berbuat aneh-aneh! Gila ya kamu nuduh aku macam-macam!"
"Lalu sekarang ini, kalian sedang apa? Sedang janjian khan? Kamu sampai pergi keluar rumah. Makan gak dilanjut, padahal baru pulang dengan wajah lelah! Dan Mas sampai segitunya demi mendengar curhatan Mbak Widuri!"
Rendra melotot pada Naysila.
"Lalu kau sendiri, curhat apa chattan dengan teman priamu dimasa sekolah dulu? Pasti mengenang masa lalu yang indah khan? Ketawa-ketiwi sambil terus saling balas chattan, itu apa, Nay!?"
Naysila mencibir. Bibirnya tersenyum menyeringai.
"Aku baru lima hari yang lalu mulai chattan dengan temanku. Tapi Mas, berhubungan dengan Mbak Widuri sudah sejak empat bulan yang lalu! Iya khan? Aku tahu itu! Aku mendengar sendiri ucapanmu di telepon! Dan sayangnya aku tidak merekam pembicaraan kalian itu via telepon. Tentang tak inginnya Mas Didi putus hubungan dari Mbak Widuri meskipun mas sudah mempunyai istri,"
"Ayo, pulang! Kau ini mau bikin aku jadi viral dengan ditonton banyak orang!"
Rendra menarik tangan sang istri dengan kasar. Meninggalkan Widuri sendirian dengan tangan dingin dan tubuh gemetar.
Widuri takut juga dengan keadaan sekitar. Mata orang-orang yang penjadi pelanggan restoran mulai melirik-lirik kearahnya karena sikap Nay yang mulai frontal.
Bersyukur ia karena Rendra berhasil membawa pergi sang istri.
__ADS_1
Widuri pun bangkit pergi keluar, lewat pintu dan berjalan ke arah yang berbeda dengan Rendra juga Naysila.
...BERSAMBUNG...