
"Kau kutempatkan di divisi Human Resource Department sebagai staf. Jika dalam sebulan ini kinerjamu bagus, aku akan menaikkan jabatanmu!"
Daniel membelalakkan mata.
"Staf HRD? Cuma sebagai staf? Segitu kasar Kakak padaku!"
"Sekali kau komplein dan mencak-mencak padaku, siap-siap sekuriti menarikmu keluar dari gedung perkantoran ini!"
"Kak! Masa' Kakak setega itu padaku? Minimal jadikan aku managernya, Kak!" rengek Daniel. Benar-benar seperti bocah.
"Ck! Buktikan dulu kinerjamu disitu! Satu bulan ke depan, baru kau bisa duduki kursi manager!"
"Janji?"
"Asalkan kerjamu gak serampangan dan bisa dipertanggungjawabkan! Sebelum kau mendapatkan jabatan, ketahui dulu seluk beluk bidang usaha yang kau geluti!"
"Iya. Akan kubuktikan padamu, kalau aku ini mampu!"
"Bagus! Tunjukkan kualitasmu padaku! Aku akan tepati janji, pastinya!"
Bianca seolah tak percaya, Andre benar-benar membawa adiknya bekerja di gedung perkantoran perusahaannya.
Selama ini pria dewasa yang super egois itu selalu menyuruh Daniel segera angkat kaki jika menyambanginya bekerja. Pemuda itu selalu dihardiknya dengan makian kasar dan umpatan keras.
Kini, justru Andre sendiri yang mengantarkan Daniel ke lantai dua. Ke divisi HRD tempatnya mulai bekerja.
"Kau,... ga lagi mabuk khan?" tanya Bianca setelah sang CEO kembali ke ruangannya.
"Engga'!"
"Tumben-tumbenan kamu nerima adikmu masuk gedung ini. Malah langsung kamu masukkan di divisi HRD. Hehehe..., mimpi didatangi orangtuamu ya?!?"
"Istrinya yang minta supaya aku baik sama anak itu!"
"Is_tri? Daniel udah punya istri?"
"Jangan lebay deh!"
"Beneran adikmu sudah punya istri?"
"Hape yang kemarin kamu beli itu untuk Rani, istrinya Daniel!"
"Ooo, I see! Rani namanya! Tapi kamu bukan lagi prank aku khan?"
"Maksudmu?"
"Rani itu istri Daniel atau istri kamu?"
Andre tertawa lebar.
Pertanyaan Bianca membuat Andre ingin menggodanya lebih lama.
"Cemburu ya? Nih, nih... sedikit bocoran! Kukasih lihat fotonya!"
__ADS_1
Bianca menatap ke arah layar ponsel Andre. Beralih ke wajah Andre, lalu kembali ke foto profil yang Andre sodorkan.
Jemari Bianca tanpa sadar menscroll aplikasi galeri foto hape Andre.
"Aih? Foto siapa pula ini? Ndre, seleramu sekarang geser ke ukhti-ukhti cantik begini? Ini beneran kamu save foto cewek-cewek berhijab?"
Andre mengambil ponselnya dari tangan Bianca sambil tertawa renyah.
"Ra-ha-sia! Hehehe..."
"Ish!"
Bianca dibuat sebal. Ia hendak mencubit tangan Andre tapi pria itu justru menghindar dengan memeletkan lidahnya.
Sangat berbeda dengan Andre yang biasanya. Wajah pria dewasa itu merona. Bahkan pipinya ngeblush seolah ada sesuatu difikirannya yang membuat malu hati.
"Hei! Ayo, jujur sama aku!"
"Hahaha...!"
"Eh, sebentar, sebentar! Aku... sepertinya pernah lihat cewek difoto terakhir itu deh!"
"Yang mana?"
"Itu, yang kelihatan lebih dewasa dan seumuran kita!"
"O rupanya namanya Naysila! Hm..."
"Hm..."
"Tapi beneran aku pernah lihat perempuan itu deh, kayak mengantarkan sesuatu deh ke gedung perkantoran kita!"
"Hah? Kapan?"
"Ya sekitar... dua bulanan lalu."
"Oh... gitu!"
"Serius! Aku gak bohong, Ndre!"
"Ya ya ya!"
"Kamu, gak percaya sama aku?" Bianca kembali merengut. Tentu saja Andre mengangguk sambil tertawa.
"Iya, percaya. Semoga saja Naysila hari ini akan kembali mendatangi gedung perkantoran kita lagi!"
"Ish! Mukanya nyebelin, ngeledek aku seolah aku sedang berbohong!"
"Engga' lah, Bi! Masa' aku tak percaya pada sekretaris pribadiku sendiri!?!"
__ADS_1
"Tapi tuh... kelihatan banget muka palsunya!"
"Kapan? Mana? Mana pernah, Bi!"
"Kalian sedekat ini? Kenapa ga sekalian jalin hubungan lebih intim?"
Andre dan Bianca menoleh berbarengan pada seseorang yang menegur mereka.
"Mas Tio???"
Sontak keduanya teriak berbarengan.
"Sampai kompak banget lagi! Huh!!!"
Tio Syaelandra. Pengusaha manufaktur ternama dibidangnya. Yang tak lain dan tak bukan adalah suami dari Bianca Aurelia, berdiri tegak dihadapan keduanya.
"Kaget ya, ke-gap bermesraan?"
Pria itu mencibir. Lalu mengeluarkan sebuah map coklat besar dan menggebrak meja kerja Andre Wiguna Dharma.
"Kontrak kerjasama batal!" katanya dengan nada suara tinggi.
"Sebentar, Mas! Ini salah faham!" ujar Andre. Ia langsung berdiri dan berusaha memegang tangan Tio. Tapi ditepis siempunya.
"Sudah terciduk tapi sok-sokan bela diri!"
"Tunggu, Mas! Aku bisa jelaskan, Mas! Mas Tio!" tukas Andre berusaha menenangkan Tio.
"Silakan urus istriku! Ambil! Aku talak dia, talak tiga!!!"
Bianca ternganga. Suaminya tidak pernah main-main sampai mengucapkan talak. Seketika air matanya tumpah.
"Mas! Ga' bisa begitu dong! Datang-datang kamu langsung menuduh yang bukan-bukan! Kau... mentalakku seenak hatimu! Apalagi karena sesuatu yang salah kau artikan!" teriak Bianca geram.
Tio tak pedulikan Bianca dan Andre.
Hatinya kadung sakit. Perasaannya terlanjur perih.
Bianca... terlihat begitu bahagia bercanda dengan Andre. Tio cemburu dalam kebutaannya mencinta sang istri.
"Mas!"
Bianca hanya melihat Tio bergegas pergi.
"Susul, Bi! Susul suamimu! Kejar dia! Pulang sana!" teriak Andre pada Bianca.
"Biar saja, kalau itu maunya! Toh gunung es itu sudah terlanjur menggunung! Aku... kini pasrah kalau dia memang ingin menceraikanku!"
"Jangan, Bianca! Cepat kejar suamimu, minta maaf padanya! Katakan kalau diantara kita itu tidak ada hubungan yang istimewa!"
"Sudahlah, Ndre!"
"Bi!!! Haish, aaarrrggh...! Kenapa masalah akhir-akhir ini begitu senang mengusik ketenanganku?" teriak Andre, kesal pada diri sendiri.
__ADS_1
Pria itu keluar. Berusaha menyusul Tio Syailendra, suami dari sekretaris pribadinya itu.
...BERSAMBUNG...