
"Pa! Bolehkah Andre minta tolong?"
Pukul setengah sembilan malam ia pulang dan langsung menemui Papanya.
"Apa lagi? Masalah uang?"
"Tolong, Pa! Dua puluh juta!"
"Apa? Dalam waktu beberapa jam kau malah menaikkan permintaanmu itu? Dua puluh juta? Kau pikir uang itu tinggal petik dari pohon? Hah?"
"Andre benar-benar butuh uang itu, Pa! Besok siang!"
"Kau ini main judi online ya???"
"Bukan, Pa! Tapi ada teman Andre yang butuh uang itu untuk membayar hutang Ayahnya yang baru saja meninggal dunia! Butuh uang cash tujuh puluh juta!"
"Kau pikir Papamu ini dermawan yang baik hati? Dan itu uang bukan permen yupi!!! Dasar!!!"
"Andre hanya minjam dua puluh juta, nanti Andre ganti, Pa!"
"Ga ada!"
Andre kesal. Papanya membuat jengkel hatinya.
Terlihat senyum licik tersungging dibibir merah ibu tirinya.
"Tolong, Ma! Aku butuh uang! Tolong pinjamkan!" kata Andre tiba-tiba seraya menunduk dihadapan Shernita. Tentu saja wanita itu kaget sekali.
"Apa sih? Mana ada aku uang segitu?" jawab Shernita dengan suara ketusnya.
Andre hanya bisa menatap wajah Shernita lemas. Ia tinggal butuh lima belas juta saja. Karena ditabungannya ada uang lima puluh lima juta. Tinggal sedikit lagi hingga bisa mencapai tujuh puluh juta.
Kini ia mencoba memutar otaknya. Setidaknya Andre bisa mendayung sekali tapi dua tiga pulau terlampaui. Berharap ia bisa mendapat uang, juga bisa mendepak Shernita dari rumahnya.
"Nyonya! Nyonya, boleh aku minta nomor telepon Nyonya Cecillia?"
Shernita terkejut. Andre mencegat langkahnya ketika ia akan memasuki pintu dapur.
"Apaan, sih?" tanyanya lagi.
"Aku butuh uang buat besok! Tolong! Lima belas juta juga ga papa!"
"Apa? Lima belas juta? Edun! Emang aku ini pohon uangmu? Cih!"
"Japri Cecillia! Aku mau jadi tumbal arisan berondongmu! Kalau kau gak respon permintaanku, aku akan bongkar perbuatan busukmu yang suka ikut arisan begituan!"
"Apa?!?!?"
Shernita kaget. Merah padam wajahnya.
Kini anak sambungnya itu terlihat serius dengan ancamannya.
Apa-apaan sih, ni bocah?
"Aku mau ketemu Nyonya itu malam ini juga!" bisik Andre sebelum kakinya melangkah menaiki anak tangga.
Ia harus memegang uang lima belas juta malam ini juga. Tentunya untuk menyelamatkan Naysila dari hutang piutang almarhum Ayahnya.
Shernita kini mulai resah.
Ia bolak-balik macam setrikaan panas, mencari jalan keluar memikirkan ancaman Andre Wiguna Dharma.
Akhirnya ia menelpon Cecillia.
"Sis, hhh... anak tiriku minta nomormu! Boleh gak kukasih?"
__ADS_1
...[Hah? Beneran? Ya udah, kasih aja! Hahaha... akhirnya khan, tu bocil butuh aku duluan!]...
"Oke, ya udah. Aku kasih ke dia ya?"
Klik.
Shernita mengambil kartu nama atas nama Cecillia dan menaruhnya di dalam kantung celana.
Suaminya masih asyik membaca majalah bisnis di ruang tengah dengan alunan musik jazz favoritnya.
Wanita itu menaiki anak tangga, menuju lantai atas.
Tok tok tok
Tok tok tok
Kreeek...
"Nih! Awas ya kalau kau macam-macam bawa nama aku segala!"
Shernita menyodorkan secarik kertas pada Andre. Ia sengaja memasang wajah masam.
"Terima kasih!"
Shernita hanya menahan nafas, ketika Andre mengucapkan terima kasih sambil mencium tangannya.
Wajahnya memanas.
Seketika ia membayangkan tubuh anak sambungnya jika tanpa pakaian.
Shiiiit!!! Kenapa fikiranku jadi kotor begini? Dan... mau ngapain itu bocil minta nomor si Cecil? Apa... dia mau dijadiin tumbal arisan minggu ini? Haish!!! Gila!!!
Shernita bergelut dengan fikirannya sendiri.
.......
Andre tak menyia-nyiakan waktu.
Ia segera menchat Cecillia untuk melakukan kerjasama bisnis.
Ia butuh uang sesegera mungkin. Untuk membantu perekonomian Naysila, hingga gadis itu tidak jadi pindah ke desa.
Kesepakatan telah di dapat. Andre senang, ia akan mendapat kucuran dana dari Cecillia malam ini juga. Sebesar lima belas juta. Imbalannya tentu saja adalah menemaninya semalam di atas ranjang nantinya.
Andre bukan pemuda bodoh. Ia juga bukan hanya memikirkan nafsu saja. Tetapi ia punya rencana yang lebih besar dalam membongkar kedok para wanita sosialita yang suka hura-hura itu.
Ia berencana memblow up arisan nyeleneh ini, agar para suami mereka mengetahui. Dan tiada lagi pria-pria bodoh yang dicipoa pasangannya dengan topeng cinta kepalsuan dan kemunafikan. Termasuk Papanya yang selalu ditipu Shernita Aurelia.
Pukul dua belas malam. Andre lega, mobile bankingnya memberi notice transferan di ponselnya.
Besok sepulang sekolah ia bisa mengambil semua tabungannya. Tujuh puluh juta akan diserahkan pada Naysila. Untuk menutupi seluruh hutang almarhum Ayah Naysila.
Sekolahnya tinggal setahun lagi. Andre yakin bisa menghidupi Nay dan juga biaya sekolahnya dengan uang saku serta pekerjaan gamer yang mengalir meski kecil setiap bulannya.
.....
Dengan wajah sumringah, pemuda itu meluncur menuju kontrakan Naysila dengan motor gedenya.
Tujuh puluh juta rupiah terbungkus rapi dalam kantong kertas coklat tersimpan di tas ranselnya.
Dua bungkus nasi Padang juga tak lupa Andre beli untuk makan siang bersama Naysila.
Setelah memarkirkan motor tepat di teras rumah kontrakan Nay yang masih berupa tanah, ia turun dengan kepercayaan diri tinggi.
Terbayang waktu yang menyenangkan semalam. Mereka bergembira bersama di pasar malam. Tertawa riang, tak pusingkan segala hal. Alangkah indahnya jika itu akan berlangsung terus, selamanya.
__ADS_1
Tok tok tok
"Nay! Naysila!!! Nay, aku datang, Nay!"
Sepi. Tak ada jawaban.
"Nay!!!"
Tok tok tok
Tok tok tok
Berkali-kali Andre mengetuk pintu. Tapi tak ada jawaban sama sekali dari dalam rumah. Hingga...
"Naysila sudah pindah kontrakan! Dia sudah tidak lagi tinggal di sini, Nak!"
Seorang ibu yang menjulurkan kepalanya dari balik pintu rumah samping kontrakan Naysila memberitahu Andre.
"Pindah? Sedari kapan? Pindah kemana, Bu?"
"Tadi pagi jam tujuh. Ada seorang bapak-bapak yang menjemputnya. Oiya, kamu namanya Andre, bukan?"
"Iya. Saya Andre, Bu!"
"Nay nitip ini buat Andre!"
Sepucuk surat dalam amplop tertutup rapat berwarna putih langsung Andre terima.
"Makasih, Bu!"
"Iya. Sama-sama!"
"Ibu tahu ga, alamat kampungnya Naysila?"
"Oh... kalo itu Ibu gak tau! Mereka baru tinggal di kontrakan ini tiga bulanan juga. Jadi kurang begitu kenal!"
"Hm... begitu ya?"
"Ya sudah, ibu masuk lagi ya! Lagi masak di dapur!"
"Iya. Silakan!"
Andre hanya bisa menelan salivanya. Lututnya lemas. Naysila ternyata telah pergi sejak pagi tadi.
Apa Nay gak percaya sama gue? Apa dia menyangka gue cuma omong doang soal uang tujuh puluh juta yang bakalan gue bawa buat bayar hutang piutang bokapnya?
Sret.
Andre membuka surat Naysila.
Andre..., maaf! Aku pergi tanpa pamit padamu. Maaf ya! Aku harus pergi sebelum masalahku semakin rumit. Oiya, terima kasih telah memberiku kenangan manis tentang indahnya naik wahana kincir angin. Juga terima kasih, mau menemaniku dalam keterpurukanku ditinggal pergi oleh Ayah. Kuharap kamu bisa hidup lebih baik. Bersyukurlah, karena kamu masih memiliki orangtua yang utuh. Tidak seperti aku! Anak yatim yang tak tahu dimana rimba ibuku!
Naysila Utami
Jatuh tubuh Andre seketika kebumi.
Sakit, nyeri... sesak, bercampur jadi satu.
Naysila telah pergi tanpa ia tahu, pergi kemana.
Hanya sepucuk surat yang jadi perantara ucapan perpisahannya pada Andre.
Hanya itu saja.
...BERSAMBUNG...
__ADS_1