
Menangis sampai lupakan anak, membuat Naysila tersadar kalau kelakuannya ini tidaklah benar.
Ia mengusap airmatanya, berusaha menerima keadaan rumah tangga yang dicurigainya menggenggam bara.
Naysila bangkit dari rebahannya. Lalu berjalan perlahan keluar dari kamar.
Bilqis terlihat tidur dalam dekapan Rendra yang juga terlelap duduk di sofa ruang tamu.
"Mas..." sapanya lembut.
Hatinya melunak melihat Rendra yang tampak letih raut wajahnya.
Aku terlalu terburu-buru menuduh suamiku selingkuh. Padahal belum terbukti jelas karena pertemuan mereka hanya di resto junk food, tempat yang ramai dan mereka tidak sedang bercinta. Apakah aku terlalu takut dan cemburu buta mengira suamiku main gila? Dan... bahkan wanita yang kutuduhkan terlihat lebih sederhana dari aku penampilannya. Mungkinkah aku ini yang terlalu melebih-lebihkan? Tuhan..., tolong bantu aku Tuhan!
"Mas, sinikan Bilqis! Kamu pasti pegal, ya?!"
Rendra terbangun. Matanya menatap Naysila lekat.
Wanita cantik itu kini terlihat lebih tenang dan kembali seperti Naysila yang ia kenal.
"Kamu...masih marah sama aku?" tanya Rendra dengan suara agak cemas.
Naysila menunduk.
"Pindah yuk ke kamar! Kita tidak boleh begini terus dihadapan Bilqis!"
"Iya. Bilqis masih teramat kecil untuk mengetahui keributan diantara kita!"
Naysila mengangguk.
Rendra dan Naysila yang menggendong Bilqis pun masuk kamar dengan hati yang sedikit tenang.
Keduanya tidur dengan tubuh menghadap ke langit-langit kamar.
"Nay...! Apa kamu mencintaiku sepenuh hati?"
Naysila menghela nafas.
"Kenapa Mas bertanya seperti itu? Apa artinya pengorbananku selama ini hidup bersamamu?"
"Kamu tidak pernah mengatakan cinta padaku! Selalu aku yang bilang begitu sedari dulu!"
Naysila merasa tubuhnya kembali lelah. Pertanyaan yang meluncur dari bibir Rendra membuatnya penat. Semua pengorbanannya ini ternyata tak dipandang sama sekali oleh Rendra.
__ADS_1
"Bagimu aku ini apa, Mas?"
"Kau istriku, Nay!"
"Lalu kenapa pertanyaanmu seperti itu padaku?"
"Aku merasa, aku telah mengungkungmu dengan menikahimu! Aku merasa, hanya aku sajalah yang sedari awal jatuh cinta padamu, Nay!"
"Lalu apa artinya Bilqis bagimu? Dan apa artinya kesetiaanku mengikutimu sebagai imamku?"
"Kau seolah membangun tembok tebal yang tinggi padaku. Kau..., seperti memiliki dua kepribadian dimataku!"
Jantung Naysila berdegub kencang.
"Apa maksudmu, Mas?"
"Satu sisimu terlihat menuruti semua perintah dan keinginanku. Tapi satu sisinya lagi, kamu tampak membenci diriku, Nay!"
"Karena aku mengikutimu ketemuan dengan Mbak Widuri?"
"Bukan. Aku senang kamu cemburu! Aku bahagia, ternyata kamu memiliki cinta juga walau hanya seujung kuku!"
"Cintaku seujung kuku dimatamu, Mas?"
"Kenyataan yang mana?"
"Ini salah satunya. Keegoisanmu selalu mematahkan rasa kukuh dihatiku untuk mengatakan kalau kau cinta aku banyak!"
"Mas!... Lama-lama aku bisa mati berdiri karena kamu, tau?"
"Kamu selalu memintaku untuk hal-hal yang tak bisa kupenuhi, itu membuatku tidak yakin kalau kau mencintaiku dengan sangat banyak!"
"Permintaan apa? Permintaanku yang mana? Sedangkan sejak kita menikah aku sudah harus dituntut untuk terus dan terus mengikuti kemauanmu saja, Mas!"
"Yang mana, Naysila? Kemauanku yang mana?"
"Kita tinggal serumah dengan orangtuamu. Lalu uang gajimu harus setor pada ibumu. Alasanmu ini dan itu, itu semua kemauanmu dan aku selalu harus menerimanya bukan?"
"Itu karena memang beginilah aku Nay! Aku berbeda denganmu yang hidup sendiri, tak punya beban fikiran apapun keputusan yang kau ambil! Aku ini anak laki-laki satu-satunya bagi kedua orangtuaku. Aku wajib menjaga mereka sampai kapanpun! Aku sudah sepantasnya tinggal bersama Ayah Ibu dan masalah gaji kusetor pada Ibu, karena Ibu yang mengatur semua biaya hidup kita Nay! Harusnya kamu bersyukur, mertuamu mau membantu membatasi pengeluaranmu yang tak penting dan bisa mencukupi semuanya!"
"Iya, itu karena kamu lemah dan tak bisa tegas pada dirimu sendiri!"
"Kau menganggapku lemah karena aku lebih menomorsatukan kedua orang tuaku?"
__ADS_1
"Mas! Sudahlah... obrolan kita mulai memanas lagi!"
"Itu karena kau yang menggorengnya! Kau membuat permasalahan kecil jadi besar!"
"Aku hanya ingin rumah tangga kita murni fikiran kita berdua, Mas! Kita belajar mandiri dan berdikari dengan benar-benar tinggal bertiga saja!"
"Kau terlalu banyak menuntut Naysila!"
"Aku hanya ingin kehidupan kita berubah, Mas! Tujuh tahun rumah tangga kita, dan ibumu sendiri yang bilang kita tidak ada kemajuan!"
"Itu karena kau terlalu banyak membangkang, jadi ibuku tidak suka!"
"Bangkang apa, Mas?"
"Sudah kusuruh kau berhenti kerja, tapi tetap kau kerja dengan alasan lumayan buat tambahan. Tambahan yang mana, malah uang hasil kerjamu tak ada rupanya!"
"Aku ga kerja setiap hari. Bahkan seminggu sekalipun tidak, Mas! Itu hanya kerjaan sampingan saja di EO nya bunda Nabila! Dan hasilnya? Kamu tidak tahu, uang 500 ribu mana cukup sebulan, Mas! Aku belikan susu dan keperluan Bilqis saja sudah habis!"
"Bilqis khan minum ASI, tapi kau berlagak berikan susu formula juga. Dan itu bayi masih teramat kecil, untuk kau pakaikan cream, lotion, segala tet*k bengek yang menghabiskan banyak uang!"
"Ya Tuhan, untuk anak sendiri pun kau perhitungan sekali, Mas!"
"Bukan perhitungan, tapi memilah-milah mana yang wajib dan tak wajib. Biaya sekolah anak harus lebih diperhatikan!"
"Biaya sekolah anak? Anak siapa? Bilqis belum sekolah, Mas!"
"Fathia, anaknya Nania, itu lebih membutuhkan!"
"Nania adikmu? Ya khan ada suaminya yang lebih berhak memikirkan biaya sekolah anaknya, Mas! Dan Fathia khan juga masih balita, jadi sekolah apa anak dua tahun?"
"Haish! Kamu sama sekali tak punya perasaan pada adikku satu-satunya itu. Kamu benar-benar ga ingat atau ga mau ingat, Ferdy menganggur sudah dua bulan. Dan Fathia sudah masuk playgroup karena usianya sudah dua tahun. Nania khan masih kerja demi membiayai hidup mereka sehari-hari!"
"Fathia bisa berhenti sekolahnya yang tak terlalu penting juga!"
"Nay, sekolah itu penting, bodoh!"
"Tidak penting bagi bayi usia dua tahun, Mas!"
Lagi-lagi keduanya lanjut ribut.
Naysila sungguh tidak mengerti jalan fikiran suaminya yang memikirkan penuh keadaan keluarga besarnya tapi melupakan kewajibannya memenuhi kebutuhan hidup keluarga intinya.
Membuatnya benar-benar jengkel dan kesal setengah mati.
__ADS_1
...BERSAMBUNG...