
"Ini untukmu!"
"Apa ini, Kak?"
"Kalau si kunyuk itu buat ulah, telepon aku segera. Sekarang kamu bisa langsung laporkan padaku kalau ada apa-apa!"
Maharani tersedu. Haru menyeruak karena memiliki kakak ipar yang baik hati.
Ingin rasanya ia berlari kedalam pelukan Andre, kakak dari suami bocahnya.
Hape Maharani yang dulu memang disita sang Ayah. Bahkan ia pergi meninggalkan rumah hanya dengan membawa beberapa potong gamis serta pakaian dalam saja.
Ayah terlalu membenci hingga mengeluarkannya tanpa basa-basi.
Semua memang karena kesalahan fatalnya.
Dan kini seolah menjadi balasan atas perbuatannya bersama Daniel. Ia hidup dengan batin tersiksa. Ternyata suami yang dikiranya bucin dan sayang sekali padanya hanya bersandiwara.
Daniel kini cuek pada Maharani, dan hanya asyik dengan kesibukannya bermain-main. Lelaki muda itu sering keluar rumah dan pulang kembali di malam menjelang pagi.
Untungnya Andre sudah mendapatkan asisten rumah tangga dari yayasan yang kini suka menemaninya jika Daniel pergi keluar.
Urusan biaya makan dan keperluan rumah tangga, Andre yang menghandle semua. Daniel, hanyalah menggerutu dan mengeluarkan emosi dengan kasar kalau keinginannya mabar mendapat tentangan.
Maharani mulai muak dengan kehidupan rumah tangganya yang baru setengah bulan dijalani.
"Kemana si Daniel?"
"Keluar, Kak! Katanya ada temannya yang mengajak kerjasama buka usaha?"
"Usaha apa? Usaha foya-foya?"
"Kak...! Boleh Rani minta tolong?"
"Iya?"
"Bisakah Kakak untuk tidak selalu merendahkan Kak Daniel?"
__ADS_1
Terkesima Andre mendengar permintaan Maharani yang polos.
"Kamu..., masih membelanya?"
"Biar bagaimanapun Kak Daniel adalah suami Rani, Kak! Calon Ayah dari bayi yang sekarang Rani kandung. Rani ingin kak Daniel berubah lebih baik. Karena, dalam waktu tujuh bulan kedepan bayi ini akan lahir. Rani..., ingin semuanya berjalan baik!"
Rembes air mata Rani. Bibirnya bergetar mengutarakan keinginannya.
Maunya hanyalah sederhana. Daniel menjadi orang yang bisa ia andalkan. Karena pada siapa lagi ia harus gantungkan hidup, jika bukan pada suaminya.
Andre luluh lantah hatinya. Kekerasan hatinya menjadi rapuh karena ketulusan Maharani dalam mencintai adik tirinya.
Andai...! Andaikan Naysila dulu..., sepertimu Rani! Andai... Seandainya...
Ia hanya bisa menghela nafas panjang berandai-andai untuk dirinya sendiri.
Dia melihat lagi ke arah Maharani yang masih terisak dengan tangan memegangi kotak handphone yang didapat darinya.
Ck ck ck...! Daniel! Harusnya kau bersyukur, Tuhan mengirim gadis ini untuk setia mendampingimu.
"Jangan menangis! Aku akan coba bicarakan dengan Daniel. Kamu juga coba lunakkan hatinya. Supaya dia mau bekerja dengan baik. Dan aku akan tempatkan Daniel untuk belajar di kantor pusat!"
Maharani mencium punggung lengan Andre. Ia mengucapkan terima kasih lagi dan lagi.
Anak ini begitu polos. Benar-benar membuatku luluh dari segala amarah. Kata hati Andre.
.....
"Besok, datanglah ke kantor!"
"Apa jabatanku?"
"Hadeh! Baru kau kukasih hati, sudah minta jantung pula!"
"Hehehe... maaf, Kak! Kak Daniel hanya bercanda. Iya khan, Kak?"
Daniel hanya diam tak bersuara. Dibiarkannya Maharani meralat padahal hatinya memang menginginkan sesuatu yang lebih dari sang Kakak.
__ADS_1
Ia tak ingin pergi bekerja di kantor warisan Papanya jika hanya sebagai karyawan biasa.
Daniel ingin menjadi wakil CEO. Itu jabatan incarannya.
Setelah Andre pergi, Maharani berusaha mendekati Daniel dengan kelemahlembutannya.
"Kak!"
"Hm?"
Daniel yang kerjanya rebahan dan main hape seperti tak peduli pada Maharani.
"Kak Daniel!"
"Apa sih?"
"Hik hik hiks..." Perempuan muda itu hanya bisa terisak, karena sang suami yang membentak.
"Berisik! Kerjamu cuma menangis dan menangis! Berilah suamimu ini kebebasan, jangan dilarang ini itu. Doakan jadi pria hebat yang sukses! Bukan dengan nasehat harus begini begitu! Khan Ayahmu sendiri sering bilang, Tuhan Yang Maha Pengatur. Jadi, kau jangan jadi pengatur seperti kak Andre kesayanganmu itu! Senang kau dibelikan hape baru, ya khan?'
"Kak! Hik hiks...! Kak Andre itu baik. Dia selalu mengurus kita. Bisakah Kakak lebih menghormatinya?"
"Untuk apa menghormatinya? Untuk apa, Rani? Toh dari dulu pun dia tidak pernah melihatku! Aku ini seperti makhluk tak kasat mata dimatanya!"
"Ga gitu! Kak Andre baik. Hanya memang pembawaannya seperti itu! Tapi Rani bisa merasakan kalau dia itu orang baik. Sama seperti kakak Daniel yang dulu!"
"Aku yang dulu baik? Berarti aku yang sekarang, ga baik gitu?"
"Bukan! Tapi..., kakak sekarang banyak berubah. Kakak ga seperti Kakak yang dulu. Yang selalu menyayangiku setulus hati. Selalu ada untukku setiap saat. Sekarang, Kakak sering keluar malam. Pulang tengah malam. Kakak juga tak lagi suka ibadah!"
"Apa si Andre itu suka ibadah? Apa dia itu taat pada agama? Engga'! Kalau aku harus seperti dia, ya aku juga bisa ibadah sesuka hatimu macam dia!"
Susah sekali bagi Maharani kini memberi masukan pada Daniel. Suaminya itu sangat keras kepala dan makin sulit diatur.
Dia cuma bisa mendengkur mendengar Maharani mencoba mengajaknya bicara.
__ADS_1
...BERSAMBUNG...