
Melihat wajah gugup Widuri di depan pintu rumahnya, tak membuat Naysila urungkan niat untuk bersilaturahim.
"Ini..., rumahnya Mbak Wi?" tanya Naysila dengan mata mengedar ke sekeliling teras rumah yang mungil tapi asri.
"I_iya! Peninggalan suami saya, Mbak!"
"Pantas, Mbak ternyata punya aset berharga!"
"Ru-rumah kecil. Cuma dua kamar saja!" ujar Widuri merendah.
"Saya, tidak punya apa-apa. Dan juga tak bisa bekerja seperti Mbak Widuri juga. Karena selain ijazah saya yang cuma tamatan SMP, saya memang perempuan yang kurang cekatan mengurus rumah tangga!"
Widuri menunduk dalam.
Ia lalu mempersilakan istri dari pria yang dicintainya itu masuk kedalam rumah.
"Anak-anak sekolah?" tanya Nay setelah melihat ruang tengah rumah yang tampak sepi.
Widuri mengangguk.
"Apa Mas Didi menjanjikan pernikahan dengan Mbak Wi?" Kini pertanyaan Naysila lebih berani sebelum ia mendudukkan pant*tnya ke sofa ruang tamu rumah Widuri.
Widuri duduk. Masih dengan wajah tertunduk.
"Maafkan saya, Mbak!"
"Apa Mbak Wi tidak takut kalau Mas Didi hanya sedang mempermainkan hati dan cinta Mbak?"
"Saya,... saya bingung! Hik hiks..."
"Jangan menangis! Jangan tunjukkan airmata Mbak dihadapan saya! Mari kita bicarakan semuanya dengan jelas. Dan saya mengerti perasaan Mbak karena kita sesama perempuan. Peka' perasaannya!"
__ADS_1
Widuri berusaha menekap mulutnya. Ia berusaha menahan tangis meski lelehan air matanya masih turun sebutir demi sebutir.
Naysila mendengus dengan bibir menyeringai.
"Mbak! Meskipun sudah menjanda dua tahun, jangan sampai kebaikan Mbak dalam mengurus suami hingga tutup usia jadi hangus karena kesalahan Mbak memilih langkah! Maaf...! Bukan maksud saya memberi nasehat pada Mbak! Kalau saya ada diposisi Mbak, saya juga belum tentu bisa lepas dari jerat laki-laki yang berkata manis didepan tapi pahit dibelakang seperti mas Didi!"
"Saya..., saya... ti_tidak tahu, saya ini memang perempuan bodoh yang jahat! Hik hiks...! Saya sempat menginginkan perpisahan karena hubungan yang sesat ini! Tapi,... setiap kali mendengar Rendra bilang, dia... mencintai saya tulus dari hati yang terdalam..., saya..."
"Intinya kalian itu sudah sama-sama saling cinta. Begitu khan?"
Naysila dibuat naik darah.
Pengakuan Widuri membuatnya semakin membenci Rendra.
Tujuh tahun menikah, belum bisa memberi Naysila bahagia...tapi Rendra justru memupuk hubungan baru dengan berani mengucapkan kata cinta yang tulus dari hatinya yang terdalam.
Sungguh menyesakkan dadanya.
"Sa_saya tidak meminta apa-apa. Kami hanya saling memberi cinta dan perhatian saja. Bahkan untuk makan pun, kami bayar masing-masing. Ma_maaf, Mbak...! Gaji Rendra hanya cukup untuk keluarganya saja. Bahkan katanya, ia seperti mesin yang diperah. Dan tak boleh sakit apalagi libur kerja!"
Sakit sekali hati Nay. Rendra benar-benar membuatnya muak dan ingin muntah.
Alih-alih mengatakan hal seperti itu, padahal keluarganya sendiri yang memeras.
"Saya, datang kesini tidak ingin mencabik-cabik muka Mbak seperti yang saya lakukan pada Rendra-nya Mbak kemarin! Saya kesini hanya ingin mengatakan, saya ingin mbak memberitahukan pujaan hati Mbak itu untuk segera mengurus perceraian dengan saya!"
"Mbak Nay..."
"Saya tetap memilih perceraian! Dan kalian bebas berbuat sesuka hati. Bahkan kalaupun sampai menikah, saya ucapkan selamat dari hati saya yang terdalam! Dan satu lagi,... jangan pernah menggantung hidup saya juga Bilqis! Karena jika tidak, saya tidak akan segan untuk menyeret kalian berdua kepenjara karena perselingkuhan!"
Naysila berdiri dari duduknya. Ia menatap tajam Widuri.
__ADS_1
"Andaikan Mbak lebih bisa menjaga harga diri Mbak lebih baik lagi, saya pasti akan sangat kagum pada Mbak Widuri. Sayang,... Mbak menghancurkan diri Mbak sendiri dengan berani mengambil sikap berhubungan dengan suami orang. Harusnya Mbak bisa menahan diri karena ada hati dan perasaan istri pria itu yang tersakiti. Saya... tidak jadi mengidolakan Mbak! Permisi!"
Widuri menangis tersedu-sedu. Sementara Naysila keluar dari rumahnya dengan perasaan hancur berkeping-keping.
Dulu ia begitu optimis, Rendra sang suami tak mungkin bisa pindah ke lain hati.
Ia selalu dipuja Rendra. Katanya Nay cantik. Sangat cantik dan terlalu cantik.
Ditahun-tahun pertama mereka menikah, Rendra selalu menyanjungnya. Mengatakan kalau ia tak kan pernah bisa mendapatkan wanita lain yang lebih cantik darinya.
Ternyata omongan itu kini menjadi nyata.
Cantik saja ternyata tak cukup membuat Rendra selalu menatapnya saja.
Padahal, selama ini Naysila selalu berusaha menjaga perasaan dan juga sikapnya pada suami serta mertua.
Karena ia juga tahu, kalau suaminya itu sudah berjuang keras mencari nafkah demi anak istri serta kedua orangtuanya.
Setiap kali Nay kesal dengan kelemahan Rendra pada kemauan keras ibu bapaknya, setiap kali itu pula Nay lebih menekankan rasa ibanya karena Rendra-lah yang pastinya lebih tertekan.
Ibu Bapak Rendra selalu meminta ini-itu tanpa memikirkan kemampuan putranya sendiri. Hanya memikirkan diri sendiri, tapi tak peduli apakah putranya akan sanggup mengabulkan keinginan itu...
Teringat dua setengah tahun yang lalu. Ibunya Rendra ingin hajatan besar-besaran ketika Nania adiknya menikah. Padahal uang seserahan dari calon suami Nania saat itu hanyalah sepuluh juta saja. Dan Rendra masih memiliki cicilan motor delapan ratus ribu setiap bulan pada dealer.
Ayahnya sendiri sudah lama tidak bekerja. Jadi untuk urusan makan sehari-hari pun Rendra juga yang membiayainya.
Naysila akhirnya ikut mencari pinjaman lima juta rupiah pada bunda Nabila. Dan berhasil lunas setelah setahun ia bekerja sebagai tukang payet baju pengantin. Itu demi meringankan pinjaman Rendra yang uangnya untuk biaya hajatan Nania.
Bahkan sampai saat ini pun, jasanya itu seolah lenyap dari ingatan kedua orang tua Rendra juga Nania dan suami.
Justru kini mereka sekongkol ingin menghancurkan Naysila dengan memutar balikkan fakta, bahwa dia-lah yanhg bermain api. Seolah Naysila memiliki hubungan istimewa dengan Andre Wiguna Dharma.
__ADS_1
...BERSAMBUNG...