
"Puas kau mempermalukan aku di depan umum?"
Keributan antara Naysila dan Rendra berlanjut meski mereka telah sampai di rumah.
Kini Naysila hanya diam. Tak melawan seperti ketika di restoran siap saji tadi. Karena akan fatal baginya jika harus menjawab ocehan sang suami yang seperti sengaja memancing keributan lebih besar lagi.
"Kalian dari mana? Bisa-bisanya ninggalin anak tanpa kabar berita!"
Ibu Rendra keluar dari kamar Nay dan Rendra dengan tangan menggendong Bilqis Khumaira.
"Nih! Sudahlah dari siang aku mengasuh anak kalian, malam juga masih harus mengurus. Dasar ya kalian ini!" gerutunya sembari memberikan Bilqis pada Naysila.
Sontak saja rembes airmata Naysila.
Maaf ya, Qis! Bunda bukan orangtua yang baik untuk Qiqis!
Terdengar isak tangis yang ditahan dari bibir wanita itu.
"Ada apa? Kenapa kalian? Hah? Ribut? Cari tempat buat berantem? Kenapa harus tinggalin anak?"
Naysila dan Rendra diam. Tak berani menjawab pertanyaan ibunya yang pedas dengan mata menusuk tajam.
"Kalian ini mau bikin kita ini cepat mati? Bukannya dikasih kebahagiaan dan kesejahteraan yang berlimpah, tapi kalian perbudak aku sama suamiku!"
"Ibu...! Kami, ingin pindah mengontrak. Boleh ya Bu?" Naysila mencoba mengajukan usulnya. Mumpung ada jalan, ada kesempatan.
"Ngontrak? Hei! Kau tinggal dirumahku saja masih berani diam-diam chat laki-laki lain selain suamimu! Apalagi kalau sampai ngontrak! Bisa-bisa kamu masukin laki-laki itu ke dalam kamarmu selagi suamimu gak di rumah!"
Rendra menoleh pada Naysila.
"Jadi,... sebenarnya kau sedang cari alasan dengan maksud mencoba menyelidikiku, mencari-cari alasan supaya kamu bisa mendapatkan kelemahanku, Nay?"
"Apa maksud, Mas?"
"Kau... tadi menuduhku dengan Widuri melakukan hal-hal bodoh sebenarnya untuk menutupi tamengmu sendiri! Iya khan??? Hohoho..., aku baru faham sekarang! Ck ck ck..."
"Apa, Mas? Bisa-bisanya sekarang kamu menyerangku setelah ketahuan kalau kamu yang mencurangiku!"
"Hei Naysila! Apa maksud ocehanmu pada putraku?!?"
__ADS_1
"Ibu, Mas Didi sudah selingkuh dibelakangku! Sudah berjalan lebih dari tiga bulan ia berhubungan dengan janda itu!"
Plak
"Kau yang mulai main hati, tapi sekarang berani-beraninya menuduh anakku!"
"Ibu!"
Nyaris saja Naysila jatuh dan oleng. Ia segera menguatkan tumpuan dua kakinya dan dua tangan memeluk erat tubuh Bilqis yang terkejut lalu menangis kaget.
Neneknya memukul wajah Bundanya tepat dihadapan bayi berusia sembilan bulan itu.
"Ibu, ada anakku itu!" pekik Rendra pada sang Ibu.
"Bisa saja anakmu itu ada saham dari lelaki lain! Aku sekarang jadi makin curiga sama perempuan ini! Sedari awal aku sudah tidak suka kamu menikah dengan dia! Tidak membawa keberuntungan, justru semakin membuat dirimu susah sejak kalian menikah!"
"Ya Allah, Ibu!" Naysila tak percaya, ibu mertuanya bisa berucap seperti itu.
Lagi-lagi ia hanya bisa menahan derita batinnya lewat tangisan hati dan lelehan air mata.
"Memang benar khan? Anakku itu anak pintar dan baik. Tapi, kerjanya tak pernah naik jabatan selain jadi OB terus selama empat tahun kerja. Kayak seret bener rezekinya! Padahal waktu sekolah, Didi murid berprestasi! Sedangkan kau cuma lulusan SMP tapi bisa menarik perhatian anakku yang SMA Percontohan, dengan wajah dan tubuhmu! Anakku gak berkembang menikah denganmu yang bibit, bebet, bobotnya gak jelas. Ga ada kemajuan, justru kemunduran dari hari ke hari tahun ke tahun! Rumah tangga tujuh tahun gak punya apapun!"
Plak plak
Dua tamparan Rendra, mengenai pipi kanan dan kiri Naysila. Rendra juga mengambil Bilqis dari tangan istrinya yang nyaris terjatuh.
"Bisa-bisanya kau berkata seperti itu pada ibuku!"
Naysila meraung kencang sambil berlari masuk ke dalam rumahnya.
Pertengkaran ini adalah yang terhebat setelah tujuh tahun menikah. Dan ini adalah pertama kalinya Rendra melakukan kekerasan pada dirinya secara langsung. Membuat Naysila merasa sangat hancur berkeping-keping.
Rasanya dunia ini teramat gelap, tiada setitik pun cahaya.
Teringat Rendra Mahardika yang dahulu menembaknya dengan untaian kalimat yang indah dan sangat meluluhlantahkan keangkuhannya mendapatkan perhatian bertubi-tubi.
Dulu... dia adalah karyawan pabrik roti di pabrik industri rumahan yang sederhana.
Kala itu umur Naysila baru 19 tahun dan kembali ke ibukota setelah dua tahun tinggal di kampung halaman almarhum ayahnya.
__ADS_1
Nay yang diajak kakak sepupu yang dua tahun lebih tua darinya bekerja di pabrik roti yang masih kerabat.
Disitulah ia mengenal Rendra Mahardika.
Pemuda 20 tahun itu tamatan SMA dan suka sekali nongkrong di rumah Abizar, anak pemilik pabrik roti yang adalah teman SMA nya.
Mereka sering kumpul setiap hari. Nongkrong, ngopi... nyanyi genjrang-genjreng setiap hari sambil makan roti buatan dari pabrik rumahan Ibu Tiara.
Dari pertemuan itu, Rendra yang setiap hari diam-diam memperhatikan Naysila mulai melancarkan aksinya. Rendra mengatakan jatuh cinta pada Naysila sejak pandangan pertama.
Awalnya Nay sama sekali tidak tertarik pada pemuda pemalasan seperti Rendra yang kerjaannya hanyalah nongkrong ketawa-ketiwi sesuka hati.
Bahkan Naysila seringkali cuek tak peduli meskipun Rendra berusaha menarik perhatiannya.
Sebenarnya Abizar putra pemilik pabrik jauh lebih menarik dimata Naysila, namun... Abizar sudah punya kekasih di kampusnya.
Suatu ketika, Naysila mendapatkan kecelakaan kerja. Oven tempat memanggang roti tiba-tiba jatuh dan roboh menimpa tubuhnya.
Disitulah Rendra seperti superman yang menolong Naysila.
Bahkan Rendra membantu mengurus Nay setiap hari di rumah kontrakan kakak sepupunya sampai sembuh.
Sebelah paha dan tangan kanan Naysila terkena luka bakar dan Rendra pula lah yang sering membantunya mengolesi krim salep. Hingga, orang-orang sekitar rumah kontrakan berfikir sebaiknya mereka dinikahkan segera demi menghindari fitnah.
Begitulah. Setelah tiga bulan perkenalan yang singkat, Rendra benar-benar melamar Naysila menjadi istrinya diusia 21 tahun dan Naysila tepat menginjak 20 tahun.
Naysila yang merasa hidup sebatang kara, dan selalu menyusahkan paman serta bibinya, akhirnya menerima pinangan Rendra.
"Aku akan selalu menjadi bagian hidupmu, Nay! Aku akan selalu menjadi pelindungmu! Walaupun mungkin untuk saat ini aku belum bisa membahagiakanmu, tapi suatu hari nanti... Aku akan membuatmu tersenyum bahagia karena telah memilihku sebagai suamimu!"
Dunia begitu indah kala itu.
Kata-kata sederhana yang Rendra ucapkan melambungkan angan dan cita-citanya untuk hidup berumah tangga, bahagia sejahtera.
Naysila tak peduli, meskipun hidup mereka dalam keadaan pas-pasan... tapi Rendra akan selalu bersamanya menjadi pelindung serta pelengkap hidupnya.
Sungguh hidup tenteram yang selalu ia idamkan. Memiliki suami yang cinta dan sayang, mengurus rumah tangga perlahan karena ia masih harus banyak belajar. Begitu harapan indahnya.
...BERSAMBUNG...
__ADS_1