CEO GILA : Mencintai Istri Orang

CEO GILA : Mencintai Istri Orang
BAB 54 (Puas Atau Kepuasan?)


__ADS_3

Andre terkejut, matanya membelalak kaget. Sosok pria yang ia kenal berdiri sekitar dua puluh meter di aula room lobi hotel tempatnya tinggal.


Ya. Rendra Mahardika.


Terlihat sedang berjalan tergesa-gesa menemui seorang wanita. Dialah Widuri. Keduanya adalah pasangan mes*m yang pernah ia pergoki tempo hari ketika dirinya masih menjadi CEO. Dan Rendra adalah suami Naysila.


Rendra terlihat memeluk Widuri dengan erat. Lalu keduanya langsung ke meja resepsionis.


Sedang apa cecunguk-cecunguk itu? Apa mereka tidak pergi kerja?


Andre hanya bergumam dalam hati. Ia waswas dan marah mengingat kelakuan Rendra yang kembali menyelingkuhi Naysila.


Nay! Cepat ke hotel Ambarawa sebrang Mall Violetta. Sekarang! Please! Kau akan lihat sendiri dengan mata kepalamu sendiri!


Chat sudah terkirim pada Naysila.


Berharap segera dibaca dan direspon sang penerimanya.


Andre mencoba me-misscall beberapa kali agar kesempatan memergoki kelakuan buruk Rendra terlihat sendiri oleh Naysila.


Andre tak peduli, akan bencikah Nay mendapati dirinya yang terkesan menginginkan kehancuran rumah tangga wanita impiannya itu.


Nay cukup sigap merespon chat dan panggilan Andre.


Rasa penasarannya semakin membludak pada Rendra.


Ia bergegas keluar rumah dengan membawa serta putri imutnya.


"Mau kemana kamu?" tanya ibu mertuanya.


"Ada perlu sebentar, Bu!"


Hanya jawaban singkat saja karena Nay tak ingin kehilangan kesempatan.


Jantungnya berdebar sepanjang jalan. Fikirannya kacau sampai lupa botol susu Bilqis tak sempat dibawa.


Hari ini seperti akan ada kejadian yang tak enak. Dan memang fikirannya tak tenang dari kemarin malam.

__ADS_1


Andre menunggu Naysila datang dipintu utama hotel. Sedangkan Rendra dan Widuri rupanya sudah masuk kamar hotel pesanan mereka tanpa sadar kalau Andre sedang mengintai.


Andre melihat Nay yang jalan tergesa-gesa memangku Bilqis.


Segera diambilnya Bilqis dari gendongan Naysila. Anehnya gadis mungil itu tersenyum dan langsung menerima uluran tangannya.


"Bilqis aku yang gendong, Nay!"


Nay tak menjawab. Wajahnya pucat pias. Ia hanya mengekor langkah Andre yang berjalan cepat ke arah resepsionis.


Setelah bernegosiasi dengan mbak-mbak operator hotel, akhirnya Andre mendapat anak kunci serep dari kamar yang disewa Rendra dan Widuri dari pihak asisten manager hotel.


Naysila semakin gugup.


Telapak tangannya basah. Hatinya pun telah pasrah. Ia akan melihat hal-hal yang tak ingin ia ketahui lebih detil sebenarnya.


Pelayan hotel memandunya tanpa suara menuju kamar hotel yang sedang diboking Rendra dan Widuri.


Mau apa mereka sampai janjian di hotel? Mau berbuat apa sampai harus ke hotel?


Mana kata-katamu yang dulu, Mas...katamu akulah satu-satunya perempuan dihatimu. Lalu ini apa? Kenapa kamu jadi seperti ini, Mas? Ada perempuan lain yang kau inginkan juga dalam hidupmu?


Ceklik


Pintu kamar terbuka. Naysila menguatkan perasaan dan jiwanya untuk dapat menyaksikan pemandangan didepan matanya nanti.


Kini Nay maju paling depan. Diikuti Andre yang menggendong Bilqis dan juga pelayan hotel.


Andre mundur beberapa langkah. Ia tak ingin Bilqis melihat Ayahnya sedang bersama perempuan lain di dalam kamar. Jadi ia menahan diri untuk tidak ikut merangsek masuk.


"Mas Didi?!?"


Pucat pias wajah Naysila.


Menyaksikan suaminya sedang bertelanj*ang dada dengan tubuh telungkup sedangkan perempuan lain duduk disampingnya mengelus-elus punggung sang suami.


"Na_Naysila???"

__ADS_1


Sontak kedua pasangan yang bukan muhrimnya itu melonjak kaget.


"Kalian sedang apa?" tanya Naysila dengan suara lirih.


"Ka_kamu..., kamu salah faham, Nay!"


"Berdua-duaan di dalam kamar hotel? Bertelanj*ng dada dan sedang dipijat seorang perempuan? Apa aku terlalu cepat masuk sampai kembali mengganggu kegiatan kalian?"


"Nay..."


"Mas! Aku..., aku tidak tahu lagi...aku harus apa! Dan kau mbak, yang kukira kau ini wanita santun dan wanita baik-baik...nyatanya,"


Widuri menjatuhkan tubuhnya bersimpuh di kaki Naysila. Ia menangis sesegukan.


"Aku tidak akan membiarkan tanganku ini untuk menjambak rambutmu! Tapi,..."


Nay menerjang Rendra dan mencakar puas ke wajah dan dada suaminya dengan teriakan histeris.


"Laki-laki setan!!! Laki-laki jahanam!!! Bangs*t kau, lakn*t!!! Hiyaaa!!! Aku minta cerai! Aku minta ceraaai!!!"


Naysila seperti kesetanan melampiaskan amarahnya pada Rendra.


Keadaan benar-benar memanas seperti suhu oven 180 derajat celcius.


Andre yang pada akhirnya ikut masuk serta ke dalam kamar setelah mendengar teriakan Naysila. Ia khawatir, kalau Rendra sampai menganiaya Naysila


"Boss Andre???"


"Kau..., kalian ini! Ck ck ck..."


"Ini tidak seperti yang terlihat, Pak Boss! Saya hanya minta dikerokin sama Widuri!"


Rendra berusaha memberi pengertian dengan wajah dan dada berdarah-darah.


"Ck ck ck... Kerok bulu j*mb*t!!! Rendra, Rendra! Bodohnya kau ini!"


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2