
Maharani mendapati Daniel tengah duduk di lantai teras rumah. Matanya merah, rambutnya pun acak-acakan.
Andre hanya menurunkan Rani sampai depan gerbang saja. Pria 27 tahun itu tidak ingin masuk rumah meskipun Rani menawarinya secangkir kopi.
Daniel dengan geram segera berdiri, dan menarik tangan Rani agak keras.
"Aduh!!"
"Teriak saja kau, biar semua tetangga tahu kalau aku ini suami yang sedang KDRT sama istrinya!" maki Daniel dengan suara lantang.
Maharani hanya menundukkan kepalanya ke bawah. Ia tak berani menatap wajah sang suami, apalagi untuk membantah dan melawan kata-katanya.
"Sudah kubilang, cepat pulang...malahan belanja seperti orang banyak uang!" umpat Daniel semakin berang. Dan...
Braak!!!
Pemuda 19 tahun itu mengambil totebag yang dijinjing istrinya. Dilempar hingga berhamburan seluruh isinya.
"Astaghfirullah, Kak!" pekik Rani. Ia segera berlari ke arah belanjaannya yang dibelikan Andri tadi di minimarket.
Susu formula untuk ibu hamil, minuman coklat kegemaran Daniel, juga Andre belikan. Termasuk buah-buahan dan juga sereal sarapan untuk mereka berdua.
"Terus saja kau begitu! Bangkang kata suami, kau bukan hanya tak dapat cium wangi syurga, tapi kau juga akan jadi kayu bakar di api neraka!"
"Kakak, melempar makanan juga dosa. Dan Rani bukannya bangkang, tapi dari klinik periksa kehamilan. Kak Andre yang bawa Rani!"
Rani terisak sembari memungut barang belanjaannya yang berserakan di lantai teras.
__ADS_1
"Memangnya suamimu itu kak Andre atau aku?"
"Ya, kak Daniel lah!"
"Atau kau memang sekarang lebih menuruti kata-kata orang itu? Hah? Supaya lepas dari aku, lalu kau bisa jerat hatinya? Iya khan?"
"Kakak, istighfar Kak! Itu bisa jadi fitnah! Kakak, hik hiks...! Kakaklah suami Rani. Justru Rani lebih senang jika kakak yang mau mengajak Rani ke dokter kandungan, bukannya Kak Andre!"
"Tapi buktinya kamu mau dibawa kak Andre. Malah pulang lama bahkan sampai mampir belanja!"
"Rani menunggu kakak! Hik hiks..."
"Bohong! Bilang saja kau pusing denganku dan mulai cari pria lain yang mau mengerti dirimu! Hapemu mana? Sinikan!"
Daniel mengambil tas milik Maharani. Membongkarnya dengan amarah tingkat tinggi. Ia menemukan handphone Rani yang dibelikan Andre tempo hari.
"Pakai dikunci segala! Pasword!!!"
Ada rasa senang menyeruak. Maharani ternyata memakai tanggal lahirnya sebagai pasword hapenya. Daniel tersenyum dalam hati. Tapi tetap berusaha cool dan menutupi dengan tingkah konyolnya.
Ia membuka kontak Rani, ternyata...tak banyak nomor yang disimpannya. Hanya ada nomor empat orang saja. Dirinya, Andre, Ayah Rani, terakhir nomor sahabat SMP nya.
Daniel juga memeriksa chattan Rani via SMS dan What'sApp nya. Ternyata hanya dengan dirinya seorang, Rani selalu chattan.
Daniel memberikan lagi handphone milik istrinya. Lalu ia memeluk Rani erat.
Pecah tangis Rani seketika. Bingung, marah, kesal... tapi tak tahu harus bagaimana.
__ADS_1
Ia cinta pada pemuda yang kini jadi suaminya itu.
Ia sangat sayang.
Bahkan sampai rela memberikan semua harta berharganya seperti keperawanan dan juga pengorbanan.
Tapi ia kesal dan sangat sedih. Daniel kurang bisa menghargai pengorbanan yang selama ini telah Rani berikan.
Daniel selalu bersikap semaunya. Kekanakkan dan juga kasar meskipun tidak pernah main tangan.
Bahasa verbal ucapan Daniel selalu menyakiti hati serta perasaan Rani. Juga tingkah laku dan sifatnya yang egois, mau menang sendiri. Membuat Rani hanya bisa menangis setelah hampir sebulan menjadi istri Daniel.
Ia sampai sangat ingin menelpon sang Ayah. Ingin kembali pulang ke rumah. Ingin bersujud dikaki beliau dan juga menangis dipelukan sang ibunda.
Rani merasakan ini adalah buah dari kedurhakaannya pada kedua orang tua. Rani benar-benar sangat menyesal.
Cinta yang dulu sangat besar pada Daniel, bahkan sampai nekad mengikuti semua keinginan dan kemauan pemuda itu. Kini perlahan mulai luruh. Berkurang sedikit demi sedikit. Apalagi setelah dirinya diboyong Daniel ke Ibukota, Rani lebih sengsara kehidupannya.
Selain Daniel yang makin cuek padanya. Ia juga seringkali ditinggal pergi hampir setiap malam karena Daniel lebih suka bertemu teman-temannya di luar dan tak pernah sekalipun memperkenalkan Rani.
"Rani...! Ayo, masuk! Aku kangen... pelayananmu!" bisik Daniel setelah memberikan shock terapi pada Rani.
Hubungan suami istri mereka terkesan seperti hubungan main-main. Lantaran keduanya masih sangat belia dan belum faham sepenuhnya arti bertanggung jawab.
Hanya senang dan kesenangan yang terlihat didepan mata. Tapi rapuh jika masalah datang menghadang mereka.
Tapi begitulah, konsekuensinya menikah muda. Rani dan Daniel, belum siap untuk menerima keadaan dan tekanan hidup yang belum seharusnya mereka dapatkan.
__ADS_1
Itulah hasil pilihan mereka yang menikah muda.
...BERSAMBUNG...