CEO GILA : Mencintai Istri Orang

CEO GILA : Mencintai Istri Orang
BAB 63 (Antara Percaya Dan Tidak, Hidup Andre Bagaikan Mimpi)


__ADS_3

Mata Andre terbelalak lebar.


Antara percaya dan tidak, ternyata sel kanker ginjal yang katanya menjalar benar-benar hilang dari tubuhnya.


Ia sehat wal'afiat. Tak punya riwayat penyakit berbahaya dan hanya lambung saja karena jam makannya dulu selalu tak teratur.


Sejak pengembaraannya setahun belakangan ini, hidup Andre memang lebih tertata. Makan makanan sehat dan tidur teratur. Ia juga rajin jogging serta hiking.


Kadang sesekali mencoba pekerjaan baru yang belum pernah ia lakukan walau pekerjaan kasar sekalipun tetapi halal.


Tiba-tiba ia teringat Gus Miftah, pria berumur 42 tahun yang ia anggap sebagai guru besar itu. Gus Miftah tinggal di Jepara, pengusaha interior ukiran kayu jepara itu juga seorang ustad yang juga memiliki ilmu kebatinan. Sehingga banyak sekali orang yang minta bantuannya diluar urusan ukir mengukir kayu furnitur.


Malam itu juga Andre bergegas menuju rumah Bianca setelah urusan pemeriksaannya selesai dan pulang dari apartemen bersama Daniel serta Maharani.


"Mama...! Ma, bolehkah Andre membawa Naysila ke Jepara?"


Ibu Mirna dan Bianca menatapnya lekat.


"Jepara?"


"Iya. Saya ingat, ada Gus Miftah kenalan saya yang mungkin bisa bantu menyembuhkan Naysila!"


Ada perharapan besar di riak mata kedua ibu dan anak itu pada tatapannya.


Perut Naysila sedang mengempis. Dan kondisi lemahnya hanya membuat wanita cantik itu tergolek tak berdaya.


Andre mendekat ke arah Naysila. Jemarinya meraih tangan Nay yang putih pucat dan kurus kering.


"Nay...! Naysila! Maukah kamu ikut denganku?"


Mata Nay terbuka. Pandangan yang berbinar karena ada Andre dihadapannya.


"Andre! Andre...!!! Kaukah ini Andre?" katanya membuat Andre kembali terpuruk dan menangis terisak.


Begitulah Naysila. Terkadang ia bisa terlihat sehat, namun keesokan harinya kesehatannya ambruk dan memori ingatannya perlahan kabur.


"Nay, ini aku Andre Wiguna! Andre yang selalu menyayangimu! Hik hiks...! Kamu harus kuat. Kamu harus sembuh! Aku akan membawa kemana pun asal kau bisa pulih seperti dahulu!"


"Andre...! Andre! Dengarkan jawabanku dari pengakuan cintamu tahun lalu! Aku... aku cinta kamu Andre! Aku, ternyata juga mencintaimu! Aku sering sekali melakukan hubungan badan dengan suamiku dahulu, tetapi fikiran ini membayangi wajahmu! Hik hik hiks...! Aku adalah istri yang sangat buruk. Sudah sepantasnya mendapat hukuman seperti ini, Ndre! Hik hik hiks..."

__ADS_1


"Nay, hik hiks...! Aku cinta kamu. Aku cinta kamu, Nay! Ayo kita ke Jepara sekarang juga. Besok hari jum'at! Semoga Tuhan membuka jalan kebaikan untuk kita berdua, Nay!"


"Bawalah Ndre! Bawa Naysila berobat. Kami ikhlas, jika kamu bersedia membawanya!"


"Mas Tio! Ini kartu ATM ku, tolong sewakan sebuah van minibus untukku membawa Naysila pergi ke kota Jepara besok pagi pukul tujuh! Tolong dimodifikasi supaya Naysila bisa tiduran dengan nyaman di dalamnya nanti. Mama, Bianca... aku titip Bilqis Khumaira! Doakan kami segera pulang setelah Naysila sembuh!"


"Aamiin, aamiin aamiin...!"


Semua bergerak cepat. Sesuai permintaan Andre.


Tio sudah mencari van minibus pesanan Andre dengan biayanya sendiri.


Jum'at pagi, Andre sudah bersiap mendatangi kediaman keluarga Bianca.


Mobil pesanannya pun telah siap membawa Andre dan Naysila pergi pagi ini. Seorang supir akan menemani hingga Andre bisa berfokus merawat Naysila dalam perjalanan nanti.


"Bilqis...! Doakan Ibu sembuh ya, Nak? Om Andre akan bawa Ibu berobat. Kami pasti pulang. Kami pasti pulang, Bunda Bilqis akan sembuh. Percayalah pada kebaikan Allah Ta'ala! Doakan Bunda sehat ya, Qis?"


Andre meraup tubuh mungil Bilqis Khumaira.


Ada sebutir airmata jatuh dari sebelah kiri.


Ia berdoa dan berharap Tuhan mengabulkan permintaannya. Agar tidak membuat Bilqis menjadi insan yang tumbuh seperti dirinya. Tidak. Bilqis masih punya masa depan cerah karena Bundanya akan mengurusnya hingga dewasa dan menikah. Bukan tinggal dengan Ayah yang cuek tak peduli pada perasaan anak.


Andre menciumi pipi Bilqis kiri dan kanan.


Sungguh pintarnya batita itu.


Matanya hanya membulat menatap sang Ibu yang sudah berpindah tempat masuk kedalam mobil dengan digotong Tio dan Bianca.


"Sayang! Ibu pergi dulu ya? Ibu janji... Ibu akan pulang secepatnya!"


Suara Naysila yang lemah membuat Mama dan Bianca menangis kecil.


"Kembalilah Naysila! Kami ingin kamu pulang dalam keadaan sehat!"


Semua mendoakan kesehatan untuk Naysila. Andre pamit pada semua, dan perjalanan panjangnya kali ini bersama Naysila Utami. Tidak lagi seorang diri.


"Ndre!?"

__ADS_1


"Iya, Nay...! Ini aku! Tidurlah. Jangan khawatir, aku ada disampingmu!"


"Terima kasih!"


"Sssttt...! Aku yang harusnya berterima kasih. Kamu mau ikut dan percaya sepenuhnya padaku!"


"Aku, akan selalu ikut kemanapun kamu pergi, Ndre!"


Keduanya saling mencucurkan air mata. Saling menggenggam jemari dengan hati penuh harapan. Semoga Tuhan menyatukan mereka dalam kekuatan, cinta dan kasih sayang tulus abadi.


Perjalanan yang cukup panjang akhirnya menjadi permulaan cinta berkembang merekah dihati kedua insan Tuhan itu.


Tiga belas jam perjalanan dengan sesekali berhenti istirahat di tempat-tempat makan dan jajanan ternyata membuat aura wajah Naysila nampak jauh lebih bercahaya.


"Ndre...! Aku menyusahkan sekali ya?!" katanya dengan wajah malu karena selalu dilayani dan disuapi Andre setiap kali makan minum.


"Seharusnya kita menikah dulu, ya?!"


Jawaban Andre yang nyeleneh membuat Naysila tertawa kecil. Dua jarinya mencubit pelan lengan Andre.


"Ah, senangnya dicubit calon istri!"


"Apa bisa ya? Kita menikah dihadapan Gus nanti dengan wali hakim? Aku... ingin mengucapkan ijab kabul segera denganmu, Naysila Utami!"


"Hehehe...! Aku siap. Mama pasti setuju!"


Mata Andre berbinar terang. Senyumnya mengembang. Ucapannya bukanlah bohongan. Dia tidak sedang bergurau dengan Naysila kini.


Andre benar-benar siap untuk menikahi Naysila. Dan berjanji akan menjadi ayah yang baik bagi Bilqis nanti.


Aamiin...


Kini harapan utamanya, Naysila sembuh. Ia inginkan kesehatan Nay seperti dirinya kini.


Semua adalah Rahasia Illahi.


Umur, rezeki, juga jodoh... memang Tuhanlah yang Maha Penentu.


Andre sangat percaya itu.

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2