CEO GILA : Mencintai Istri Orang

CEO GILA : Mencintai Istri Orang
BAB 43 (Kesalahfahaman Yang Semrawut)


__ADS_3

"Mau kuantar pulang, Nay?"


"Ga usah, Ndre! Terima kasih. Aku izin pergi sejam sama suamiku. Sebenarnya kami niat mencari rumah kontrakan. Kami ingin mandiri, pisah dari rumah orangtua suami. Untungnya Mas Didi memahami keinginanku yang sudah lama ingin pindah dari rumah orangtuanya!"


"Hhh...! Rumit ya, tinggal bersama mertua! Jadi, kamu ada niat kontrak di rumah yang dulu?"


"Tadinya sih begitu, ternyata ada yang huni. Terpaksa harus cari rumah kontrakan lain!"


"Kenapa tidak pergi dengan suami?"


"Mas Didi dipindahkan ke pinggir kota. Jadi,... waktunya tak sebanyak dulu."


"Oh iya, suamimu Didi Raharja khan? Dia masih ada di divisi Personalia di kantor! Masih bekerja di kantor pusat. Tadi aku sudah mencoba mencari tahu!"


"Nama suamiku Rendra Mahardika, bukan Didi Raharja."


"Rendra Mahardika? Rendra? Suamimu namanya Rendra? Yang OB mes*m itu?"


Andre benar-benar kaget. Ia shock ketika Naysila mengatakan kalau Rendra itu adalah suaminya.


"Kamu kenal suamiku?" Naysila balik tanya.


"Bukan kenal lagi!"


Pucat pias wajah Andre. Antara terkejut dan juga kesal, setelah mengetahui kalau Rendra adalah suami dari Naysila.


"Bisa-bisanya dia mendapatkanmu! Dan bisa-bisanya dia menyelingkuhimu!"


"Apa maksudmu, Ndre?"


"Hhh... Haruskah aku beritahukanmu tentang kebobrokan suamimu itu?"


"Apa ini? Aku gak ngerti sama sekali!"


"Dia,... berselingkuh sesama karyawan bagian cleaning service. Itu sebabnya Rendra kupindahkan ke pabrik!"


"Mas Didi itu, apakah bawahanmu?"


Andre mengangguk.


"Apa kau sedang bermain peran di sini, Ndre?"


Naysila menatap Andre dengan tatapan marah.


Seketika Andre tahu, Naysila sedang dalam keadaan salah tafsir.


"Nay,"


"Cukup, Ndre! Kukira niatmu baik padaku. Ternyata..."


"Aku memang berniat baik padamu, Nay! Aku tidak bohong, apalagi fitnah. Suamimu itu sudah main gila!"


"Kau tega membuat rencana jahat untuk suamiku, Ndre!"


"A-apa maksudnya, Nay?"


"Kau memang sudah mengintaiku sejak lama rupanya. Kau sengaja memindahkan mas Didi dari Ibukota dan kerja di pabrik supaya dia bisa pulang seminggu sekali. Iya khan? Lalu kau..., dengan sangat santainya perlahan menarik hatiku. Untuk mendekat dan semakin rapat denganmu! Iya khan?'


"Nay!?!"

__ADS_1


"Suamiku sangat mencintaiku! Tidak mungkin dia berselingkuh dengan wanita lain. Suamiku begitu takut kehilanganku hingga sangat protektif menjaga aku agar selalu tetap di rumah dan bersama dia! Mas Didi itu bukan kamu, Andre Wiguna Dharma!"


Andre merasa tertohok.


Naysila marah besar padanya.


Naysila bahkan sampai tersenyum sinis sembari menunjuk pada Andre.


"Nay, dengar dulu perkataanku!"


"Tak perlu kau berkata-kata! Diantara kita memang jauh berbeda. Ibarat langit dan bumi, kita jelas sangat berbeda! Dari dulu pun, aku sudah tahu siapa kamu! Kamu adalah player cap buaya yang suka mempermainkan hati wanita! Bahkan sampai sekarang pun, kau tetap tak berubah. Masih Andre si playboy sejati yang dingin dan tak berperasaan!"


"Nay..."


"Terima kasih untuk cintamu yang agung padaku, Ndre! Terima kasih untuk kebaikanmu yang meskipun semu, tapi aku terbantu sekali olehmu! Aku permisi!"


"Nay, tunggu Nay! Kau salah faham padaku, Nay!"


Naysila pergi meninggalkan Andre. Sebuah taksi melintas membawa Naysila pergi jauh.


Kini hanya Andre sendirian dengan wajah kebingungan.


Semuanya berubah dalam sekejap.


Senyuman Naysila yang tadinya indah tiba-tiba lenyap.


Wanita itu salah faham padanya.


Andre hanya bisa duduk melamun dibelakang kemudinya. Bingung semakin membelenggunya.


Sementara itu Naysila, pulang ke rumahnya dengan mata basah dan dada berdegub cepat.


Rendra Mahardika, katanya telah bermain api dengan sesama karyawan PT Keramik Asia Tile tempatnya bekerja.


Jujur Nay sudah mengetahui itu.


Sebenarnya yang bermain peran itu saat ini adalah dirinya, bukan Andre Wiguna Dharma.


Naysila menangis sesegukan.


Dua bulan yang lalu ia memang sudah mencium gelagat aneh dari Rendra Mahardika yang lebih sering dipanggil Didi itu.


Didi terlihat sering melamun sembari sibuk tak lepas hape di tangan.


Semula ia cuek saja, tak mau menuduh macam-macam. Dan berfikir mungkin itu kesibukannya di pekerjaan sampai terbawa di rumah.


Didi juga sangat rajin bekerja. Pergi pagi pulang malam. Begitu terus tiap malam.


Semula Naysila mengira Didi sering mengambil lemburan untuk mendapat tambahan penghasilan.


Sejak awal mereka menikah, keuangan memang dipegang penuh oleh ibunya.


Didi punya satu adik perempuan, sudah menikah dan ikut suaminya pindah ke luar kota.


Hanya Didi seorang yang bekerja di rumah mereka. Ayahnya sudah pensiun dan tidak bekerja. Jadi, Didi adalah tulang punggung keluarga.


Itu sebabnya Naysila ingin sekali bisa membantu perekonomian keluarga kecil mereka.


Naysila bertemu dengan orang baik bernama Bunda Nabila. Seorang sosialita yang memiliki usaha Event Organizer. Naysila bergabung dengannya sejak ia belum memiliki Bilqis.

__ADS_1


Rendra tak suka ia bekerja. Suaminya itu lebih menyukai agar Naysila diam dirumah saja. Mengurus rumah dan juga orangtuanya yang mulai tua.


Tetapi tinggal bersama mertua, tidaklah mudah.


Selain Ibu Rendra yang terlalu bawel dan pengatur, ternyata Bapaknya juga seorang perfectionis yang selalu terbuka mengatakan ini dan itu.


Naysila merasa sangat terbebani selama ia menikah dengan Rendra. Tujuh tahun bukanlah waktu yang singkat untuk menilai seseorang dalam tali pernikahan.


Janji-janji manis Rendra selama empat bulan mereka berpacaran, hanya khayalan dan tak jua ia realisasikan.


Dua bulan lalu, Naysila memergoki Rendra tengah menelpon seseorang dengan suara dilembut-lembutkan. Samar-samar Nay mendengar percakapan rahasia itu.


"Wi, jangan gegabah seperti itu. Aku gak mau hubungan kita berakhir hanya karena aku sudah menikah. Cintaku ini tulus, suci murni untukmu. Jangan bilang, kita harus putus ditengah jalan. Aku..., aku mencintaimu, Wi! Sudah, sudah. Jangan menangis, besok kita diskusikan lagi! Oke?"


Jantung Naysila berdenyut lebih cepat. Rasa nyeri diulu hati, membuatnya sesak sulit bernafas.


Rupanya Rendra memiliki kekasih selain istri. Naysila benar-benar sakit hati menyaksikan sendiri betapa suaminya itu pandai menyembunyikan sesuatu.


Rendra...menyelingkuhinya. Entah dengan wanita mana, dan statusnya apa. Naysila hanya duduk melamun di bibir ranjang.


Tujuh tahun, Rendra memenjarakan hati dan jiwanya. Mendokrinnya untuk selalu menjadi wanita beretika. Bahwa seorang istri itu tugas utamanya melayani suami. Mengikuti kata suami, tak boleh sekalipun menolak apalagi melawan.


Lima tahun rumah tangga mereka dijaga agar tidak segera punya momongan. Karena pada saat itu Rendra dituntut Ayah Ibunya untuk membiayai adik perempuan satu-satunya sampai lulus sekolah. Dan bahkan sampai menikah.


Makanya Naysila dan Rendra komitmen menunda kehamilan sampai tahun kelima.


Reni adiknya menikah, baru Naysila lepas KB dan bisa hamil. Bilqis lahir, Naysila fikir semua beban Rendra akan berakhir.


Mereka masih menetap di rumah orangtuanya. Alasannya, Ayahnya tak bekerja dan tak ada yang menghidupi mereka. Jadi anggap saja kalau uang untuk kontrak rumah diberikan kepada Ayah Ibu sebagai biaya hidup.


Naysila menghapus air matanya.


Taksi yang membawanya telah berhenti di depan gang rumah Rendra. Ia tak ingin terlihat sembab karena habis menangis.


"Darimana saja kamu? Dasar menantu gak tahu diri! Ngaku pergi sejam, tapi pulang setelah satu jam setengah!"


"Maaf, Ayah! Jalanan macet parah!"


"Alasan!"


"Tuh, anakmu! Dari tadi jajan terus! Habis uangku dua puluh ribu buat jajan si Bilqis! Ganti! Aku mau beli rokok!"


Naysila mengambil uang dalam tas kecilnya. Lalu menyodorkan selembar dua puluh ribu pada sang ayah mertua.


"Bilqis mana, Ayah?"


"Tidur, dikamar!"


Naysila masuk ke kamarnya setelah mengangguk pada sang mertua.


Dilihatnya Bilqis sedang tertidur pulas.


Sepertinya Qiqis habis nangis!


Naysila menyeka sisa butiran airmata dipipi sang putri cantiknya itu.


Maafkan Ibu, ya Bilqis! Ibu... meninggalkanmu demi untuk masa depan kita! Kata hatinya dengan perasaan sedih.


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2