Change Destiny Of Worst And Cursed World

Change Destiny Of Worst And Cursed World
9.Ujian Kedua


__ADS_3

...


Beberapa saat berlalu dan kini ujian pertama telah selesai.


Harus menunggu 15 menit sebelum ujian ke 2 dimulai jadi untuk saat ini kami memutuskan pergi ke tempat pelaksanaan ujian kedua.


Kini kami bertiga dalam perjalanan untuk menuju ke tempatnya.


'Seperti yang diharapkan dari Yuu' pikirku.


Ia memang sangat hebat dan kuat, yah....walaupun tanpa motivasi ia memang orang yang berbakat.


"Bukankah laki-laki tadi sangat hebat ia mempunyai 10 skill" ucap Hisagi dengan ekspresi datar.


'Entah kenapa Hisagi terlihat keren dengan ekspresi seperti itu' batinku.


"Sepertinya banyak sekali orang berbakat disini yah" ucap Cronew dengan ekspresi wajah membara.


"Bukankah kau terlalu semangat Sirius" lanjut Hisagi.


"Bagaimana tidak, sepertinya aku mendapatkan saingan yang berat" lanjut Cronew dengan senyuman diwajahnya.


"Cronew, apakah kau juga menganggap ku saingan" tanyaku.


"Eh.. tidak, bukan begitu.. aku cuma menganggap orang yang kuat saja sebagai saingan ku" lanjutnya.


"Jadi aku tidak kuat yah..." ucapku dengan ekspresi kecewa sambil menundukkan wajahku.


"Eh.. t-tidak bukan begitu memang skill mu banyak, tapi mana mungkin aku menganggap wanita sebagai saingan ku" lanjutnya dengan panik.


"Pft....ahahaa" lanjutku sambil tertawa karena melihat Cronew yang panik.


"Eh.... jangan bilang kau mengerjai ku" tanya Cronew dengan ekspresi bingung.


"Fufufu, Siapa yang suruh, ini adalah pembalasan untuk yang tadi pagi" lanjutku dengan senyuman lembut dan tawa kecil.


"Ho... aku tidak menyangka ternyata Yuna orangnya pendendam yah" ucap Hisagi.


"Eh.. b-bukan begitu, bukan berarti aku pendendam atau orang yang usil yah" lanjut ku dengan panik.


"He..." lanjutnya dengan senyuman penuh makna.


"Ah.... Hisagi, kau mengerjai ku yah" ucapku dengan ekspresi sedikit kesal.


"Hemm... apa kau marah" tanyanya dengan senyuman yang ia miliki.


"Eh... t-tidak, a-aku tidak marah" lanjut ku dengan wajah memerah.


Kini Hisagi diam dan memperhatikan wajahku yang memerah.


'Ia sungguh imut saat ku jahili' batin Hisagi dengan senyuman diwajahnya.


'Ahh.... senyuman itu benar-benar kelemahanku' batinku.


"Kalian mesra sekali yah" ucap Cronew yang dari tadi melihat tingkah kami.


"Eh" ucapku dan Hisagi bersamaan.


Aku yang dari tadi memandang Hisagi mengalihkan pandanganku darinya.


Wajah yang kumiliki kini tambah panas dan memerah...... 'Ekspresi Hisagi saat ini bagaimana yah, aku penasaran'.


Kini aku memandang wajahnya dan...... 'senyuman itu lagi, aku cukup kesal... saat diriku begini tertekan, ia malah tersenyum cerah seperti itu'.


"Moo... jangan menjahili ku lagi yah" ucapku dengan ekspresi yang masih merah.


"Baiklah-baiklah aku tau" lanjut Cronew.


'Sepertinya aku tidak bisa untuk tidak menjahili nya' pikir Hisagi.


....


Kini kami telah sampai ditempat ujian kedua, tempat itu seperti sebuah Colosseum yang sangat besar.


Kini kami memasuki Colosseum yang besar itu, tapi sebelum masuk kami disuruh memberikan kertas sihir di ujian pertama tadi kepada penjaga yang ada disana dan menukarkan nya dengan Sebuah bola nomor.


Nomor dibola itu belum terlihat saat ini dan nomor dibola itu akan terlihat saat ujian kedua dimula


...



Di dalam Colosseum ini sangat besar dan mungkin bisa menampung Puluhan ribu orang.


Kami bertiga pun duduk di kursi paling depan Colosseum itu.


Beberapa saat kemudian.


Kini semua pendaftar telah duduk di tempat pilihannya masing-masing.


Di tengah arena tiba-tiba muncul 20 guru yang membawa bola seperti punya kami.


Kini ke 20 guru itu mengangkat bolanya keatas dan keluar nomer 1-20 dari setiap guru.


Begitu pula bola kami mengeluarkan cahaya dan muncul berbagai nomer.


'Nomor 6' itu adalah nomerku.


"Yuna, kau dapat nomer berapa?" tanya Hisagi.


"Aku dapat nomer 6,kalau Hisagi?" lanjut ku.


"Sama sepertimu" jawabnya sambil memperlihatkan bola yang iya miliki.


"Kalau Cronew?" tanyaku ke Cronew.


"Aku dapat 7" jawabnya.


"Sepertinya kita ada di tim yang berbeda" lanjut Hisagi.


"Yah, sepertinya begitu" jawab Cronew.


"Sepertinya nomer di bola kalian sudah terlihat" ucap seorang guru yang berada di arena.


"Ujian kedua cukup simpel, kalian akan menghadapi guru yang nomernya sama seperti yang ada dibola kalian"


"Kalau kalian dapat nomer satu, maka kalian akan melawan guru yang ber nomer satu, begitu juga seterusnya"


"Pertama-tama kalian akan dipindahkan ke sebuah tempat, yang mana di tempat itu kalian akan dikumpulkan menjadi 3 orang dalam satu tim dengan nomer yang sama secara acak"


"Dan Kalian harus melawan para guru yang menjadi musuh kalian, tidak perlu mengalahkan guru tersebut untuk lulus"


"Yang kami nilai adalah Skill dan kemampuan kalian untuk lulus atau tidaknya"


"Mengunakan skill untuk mengalahkan guru diperbolehkan dan kalian akan dipinjami senjata untuk digunakan"


"Tanpa basa basi pergilah keruangan yang bernomer seperti di bola kalian"


...


Kini para peserta pun menuju keruangan sesuai nomer yang mereka miliki masing masing.


"Kalau begitu aku pergi dulu yah" ucap Cronew.


"Baiklah, kami juga akan pergi" ucapku.


"Yah, kita akan bertemu lagi di ujian ke 3 nanti" lanjutnya.


"Baik, kami menantikannya" lanjut ku.


Kini Cronew meninggalkan kami berdua.


"Ayo, kita pergi juga Hisagi-kun" ajakku ke Hisagi.


"Baiklah" jawabnya.


Kini kami berjalan menuju keruangan 6.


...


Kami masuk keruangan itu dan terdapat beberapa senjata mulai dari berbagai macam pedang, Panah, tombak, dan tongkat.


Dan juga ujian kedua ini berbeda dengan ujian ditahun lalu yang mana ujianya adalah sparing dengan senjata tumpul dan tanpa skill..


Kini kami berjalan ke tempat untuk mengambil pedang dan memilihnya.


"Yuna, kau ingin mengambil pedang seperti apa" tanya Hisagi.


"Um... mungkin pedang yang ringan dan tajam" jawabku.


"Kalau begitu bagaimana dengan pedang ini" lanjut Hisagi dengan mengambil sebuah pedang dan memberiknnya kepadaku.


"Pedang ini... baiklah aku memilih pedang ini" ucapku sambil tersenyum.


Kini Hisagi membalas senyumanku dan mengambil pedang untuk dirinya sendiri.

__ADS_1


Pedang yang diberikan Hisagi kepadaku adalah pedang 1 sisi seperti katana tapi ini lebih ringan.


Sedangkan pedang yang diambil Hisagi adalah pedang panjang 2 sisi yang seperti pedang biasa.


"Baiklah, ayo kita kembali" lanjut Hisagi.


"Umu" jawabku.


Kini kami kembali keluar ruangan itu dan menuju ke lapangan/area di tengah Colosseum itu.


Kami pun menuju ke tempat guru wanita yang memiliki bola nomor 6.


....


Beberapa saat berlalu dan kini sudah semua orang yang mendapat nomor 6 telah berkumpul, kurang lebih ada sekitar 150 orang yang sekarang berkumpul.


"Sepertinya kalian semua telah selesai mengambil senjata masing-masing" ucap guru itu.


"Baiklah kalian akan di teleportasi kan ke sebuah hutan, yang mana kalian akan mencariku dan melawanku"


"Siapa yang menemukanku duluan akan kuberikan poin tambahan, dan yang bisa mengalahkanku akan mendapat rekomendasi untuk masuk ke kelas S"


"Yah, walaupun aku yakin tidak ada yang bisa mengalahkanku" lanjutnya dengan nada menghina dan sombong.


"Tanpa basa basi kalian pergilah ke lingkaran didepanku ini"


"Dan ingat kalian akan dibagi menjadi beberapa tim yang mana setiap tim berisikan 3 anggota dan tim itu akan dipilih secara acak"


...


Kini kami semua berjalan menuju lingkaran itu.


"Sepertinya kita tidak akan ada kesempatan untuk bersama yah Hisagi-kun" ucapku.


"Iya, sepertinya begitu" jawabnya.


"Tapi bukan berarti tidak ada kesempatan, mungkin saja kita bisa terbagi sebagai tim secara kebetulan" lanjut ku.


"Semoga saja" lanjutnya sambil tersenyum.


Lingkaran sihir yang ada dibawah kaki kami bersinar dan kamipun berpindah tempat.


Kini aku perlahan membuka mataku dan melihat pemandangan yang jauh berbeda dari apa yang kulihat tadi.


Kini yang kulihat adalah sebuah hutan dengan banyak sekali pohon-pohon besar dan juga kecil.


"Jadi, siapa tim yang kumiliki? " tanyaku.


"Yuna" "Hisagi" ucap kami berdua secara bersamaan.


"Sepertinya kita beruntung yah, karena tidak terpisah" ucap Hisagi.


"Iya, sepertinya begitu" jawabku.


"Jadi siapa yang satunya lagi?" lanjutnya.


"Entah" jawabku.


Kini kami melihat sekitar dan tidak menyadari keberadaan satu orang tersebut.


"Sepertinya aku satu tim dengan kalian" ucap seorang pria berambut hitam dan berkata biru itu.


'Mu-mustahil Y-Yuu'


'Apakah ini keberuntunganku atau mungkin kesialanku'


Aku menatap Yuu dengan terkejut sedangkan Hisagi menatapnya dengan tatapan tajam.


"Ah, kamu orang yang memiliki 10 skill itu yah" tanyaku dengan senyuman lembut.


"Yah, begitulah" balasnya.


"Oh iya, perkenalkan dulu namaku Yuki Yuna, pangil saja Yuna" ucapku yang masih mempertahankan senyuman itu.


Yuu tidak mengeluarkan ekspresi apapun dan membalas perkataanku dengan ekspresi datar.


"Yuu Hinamura, pangil saja Amura" ucapnya.


"Baiklah Amura-kun" balasku.


"...."


"Anuu... Hisagi-kun" ucapku.


"Hm, ada apa" ucap Hisagi.


"Baiklah" lanjut Amura dengan ekspresi datar.


"...."


"..."


".."


'Ugh... suasana ini sangat canggung'


"Bukankah lebih baik untuk menemukan guru itu terlebih dahulu sebelum orang lain" ucapku yang memecah keheningan itu.


"Baiklah" ucap mereka berdua.


"Hisagi-kun apakah kau bisa memanjat pohon" tanyaku.


"Baiklah" jawabnya dengan peka.


'Baiklah Mulu dari tadi' pikirku


Kini ia pergi ke pohon tinggi yang berada beberapa meter didepan kami.


Hisagi mengeluarkan salah satu skill nya dan kedua kaki miliknya bercahaya dan meledak, ia terhempas karena ledakan itu dan mendarat di ranting pohon tinggi itu.


Walaupun begitu ia tidak terluka dan tidak terkena dampak apa apa dari ledakan tadi.


-(Hisagi Pov)-


Sejauh mataku memandang aku cuma melihat pohon dan tidak ada apapun yang spesial... tidak aku tarik kembali perkataan ku, aku melihat sebuah tempat yang ditutupi sihir ilusi.


Kini aku turun dari pohon itu memberitahu Yuna dan Amura tentang apa yang kulihat.


"Sepertinya ada seseorang yang memasang sihir ilusi untuk menutupi sesuatu" ucapku.


"Sihir ilusi, bukankah sihir ilusi itu beratribut Cahaya, kalau begitu itu pasti guru pelatih kita" jawab Yuna.


"Sepertinya tujuan kita sudah ditemukan" lanjut ku.


"Aku tidak ingin berlama-lama jadi langsung saja kita menuju kesana" ucap Amura.


"Baiklah" jawab Yuna.


Kini mereka berlari mengikutiku menuju tempat ilusi tersebut.


....


Kini kami telah sampai didepan area ilusi tersebut.


Kami mempersiapkan Senjata kami dan juga beberapa hal yang diperlukan seperti Mana Potion atau HP potion.


"Sistem" ucapku.


......[ Sistem ]......


-Nama : Aru Hisagi


-Class : SwordMagic(Fire)


-Gender : Male


>Status


>Skill


>Inventori


>Mail


"Inventori" lanjut ku.


...-Inventori-...


-HP Potion [E] 5×


-Mana Potion [E] 3×


-Long Sword [E]


"Keluarkan Long Sword"

__ADS_1


Kini pedang yang kuambil dari ruangan ke6 tersebut muncul didepan ku.


"Apakah kalian sudah selesai" tanyaku.


"Iya" jawab Yuna.


Sedangakan Amura cuma mengelengkan kepala.


Sebelum memasuki ilusi tersebut kami memutuskan untuk membuat rencana terlebih dahulu.


Kini kami memasuki ruangan ilusi tersebut dan disambut seorang wanita dengan membawa panah ditangannya.


"Hoo... jadi kalian yang akan menjadi musuh pertamaku" ucap wanita yang merupakan guru ke 6.


Kami mempersiapkan kuda-kuda dan bersiap untuk menyerang wanita itu.


'Status,Skill' batinku.


...-[Status]-...


-Level : 3


-Hp : 1200/1200


-Mana : 500/500


..._____________________...


...-Skill-...


...-Bola Api[D-].Aktif Skill....


...-Pedang Api[D+].Aktif Skill....


...-Tebasan Api[D+].Aktif Skill....


...-Lompatan Api[D].Aktif Skill....


...-Stamina Tambahan[E+].Pasif Skill....


...-Kecepatan Tambahan[E+].Pasif Skill....


...-Memperkuat Api[D].Pasif Skill....


...-Ketahanan Tambahan[E+].Pasif Skill....


...____________________...


Dengan menggunakan lompatan api, aku melesat kearah wanita itu dan dengan pedang api aku menebas wanita itu.


*Dumm...


*sringkk..


...[Mana 500>350]...


Wanita itu mengeluarkan perisai cahaya untuk menahan serangan ku.


"Cih"


Kini aku memutar badanku kebelakang dan melompat kedepan lagi.


"Panah Cahaya" ucap Wanita itu sambil menarik busur yang ia bawa.


Panah cahaya melesat kearahku dengan sangat cepat.


Aku menghindari panah itu dan menyerangnya mengunakan tebasan api ditambah pedang api.


...[Mana 300>50]...


*Crakk..


Perisai cahaya yang ia miliki kini retak dan kegelapan muncul didepan ku, yah ia adalah Amura.


"Teleportasi Bayangan" ucapnya.


Ia ber teleportasi ke depanku menggunakan skill bayangan yang ia miliki dan aku meminum 2 mana potion yang kumiliki.


...[Mana 50>450]...


"Kegelapan tak terbendung" ucap Amura.


"Ugh.. aghhh" teriak wanita itu sambil menutup matanya.


"Sekarang Hisagi" ucap Amura.


Akupun mengunakan Lompatan api untuk menambah kecepatan ku dan melesat ke arah wanita tersebut.


...[Pedang Api digunakan 2× lipat]...


...[Mana berkurang]...


...[450>150]...


*Crinkk..


Pedang ku beradu dengan perisai cahaya itu dan dengan cepat Amura juga membantuku mengunakan Skill yang ia miliki.


"Pedang Kegelapan" "Aura Kegelapan" ucap Amura dengan pedang dan tubuh yang diselimuti kegelapan.


Kini ia menebas perisai itu disisi lain. Amura juga meretakkan perisai transparan itu dengan serangannya.


"Mana mungkin aku membiarkanya" teriak wanita itu dengan mata tertutup.


Ia mengarahkan panahnya ke langit dan berkata.


"Hujan Panah Cahaya"


"Sial"


Aku dan Amura pun menjauh dari jangkauan hujan panah itu.


Udara dingin melewati ku dan juga menebas beberapa panah cahaya yang melesat kearahnya.


"Yuna" ucapku dengan ekspresi kaget.


Kini yuna tersenyum dan mengeluarkan panah es yang cukup besar mungkin sebesar tangan ku.


Panah es itu melesat dengan cepat dan menghancurkan perisai cahaya tersebut.


*Pyarr...


Perisai transparan yang mengelilingi wanita itu hancur bagaikan kaca yang dilempar batu.


Tapi wanita itu malah tersenyum dan berteriak.


"Meledak lah"


Area dibawah kakinya bersinar dan mengeluarkan cahaya redup.


"Bola Api"


Aku mengeluarkan 3 bola api yang mengkonsumsi 150 mana yang kumiliki.


...[Mana 0]...


Bola api itu melesat ke arah wanita itu, dan Amura menyelamatkan yuna dengan skill yang ia miliki.


... Yuna pun tersenyum dan mengeluarkan Udara dingin yang menuju ke wanita itu dan Yuna berkata.


"Hawa Dingin"


"Manipulasi Es"


Kini udara dingin tersebut berubah menjadi pecahan es kecil dan pecahan itu mendarat di setiap bagian tubuh wanita itu.


"Pembekuan"


*Ssttt....


Dalam sekejap tubuh wanita itu membeku secara total dan beberapa meter dari jangkauan wanita tersebut juga ikut beku.


Aku cuma bisa terkejut melihat hal itu.


Kini Amura kembali sambil mengendong Yuna dengan gaya *bridal style carry (cari di google).


"Apakah sudah selesai" ucapku dengan melihat wanita yang beku tadi.


"Sepertinya sudah" balas Amura yang juga melihat wanita itu.


"Aku tidak menyangka kau sehebat itu Yuna" lanjut Amura.


"Yuna?..." Kini Amura melihat gadis yang ia gendong sedang tidak sadarkan diri.


"Yuna.." teriaku yang panik.

__ADS_1


Amura yang melihat keadaan Yuna juga ikut panik.


......................


__ADS_2