Change Destiny Of Worst And Cursed World

Change Destiny Of Worst And Cursed World
20.Awal Dari Cerita


__ADS_3

...-( Pov Author )-...


Amura menggendong tubuh Yuki yang telah kehilangan jiwanya dan berkata.


"Yuki...."


"Aku akan selalu bersama mu..." ucapnya dengan senyuman hampa.


...[ Kakak..... ]...


Amu terdiam seribu kata dan tidak tau harus berkata apa saat melihat keadaan kakaknya yang telah berubah total ini.


*Tak...


*Tak..


*Tak...


Belasan suara larian manusia terdengar sampai ke telinga Amura dan terlihat belasan orang yang mendatangi nya.


"Apa... Yang terjadi... " ucap seorang Gadis yang mana gadis itu merupakan Akane Hiroshi.


Beberapa orang dibelakang Hiroshi adalah para murid kelas S, mereka semua berlari kearah Amura dengan ekspresi kaget.


"A-apa... apaan ini?" ucap Crownel dengan ekspresi terkejut.


Semua orang yang berlarian ke arah Amura itu menghentikan langkah kakinya dan melihat keadaan yang sangat mengerikan.


Kawasan hutan dalam radius 120 Meter membeku dan semua daerah es itu tertutupi oleh genangan darah berwarna merah segar.


Setiap sisi dari tempat itu terlapisi oleh darah dan beberapa mayat monster....


Tapi yang lebih mengerikan daripada itu adalah...


Ratusan Monster tertumpuk menjadi sebuah gunung dan terlihat seseorang pria yang sedang menggendong seorang wanita.


Pria itu memiliki rambut berwarna hitam pekat dan menggunakan baju berwarna putih, Rambut hitam pria itu tertutupi darah dan terlihat bercak berwarna merah di rambutnya.


Baju pria itu sobek hampir di setiap sisinya, dan baju pria itu diselimuti oleh warna merah darah.


Tidak ada yang tau darah itu punya siapa, entah itu punya monster atau punya pria itu.


Pria itu berjalan dengan tatapan kosong seakan-akan telah kehilangan emosinya.


"Itu... jangan bilang..."


Ucap seorang gadis dengan rambut berwarna ungu yang mana gadis itu adalah Reina.


"Yuki...."


Teriak Reina saat mengetahui bahwa gadis yang digendong pria itu adalah Yuki.


Reina berlari kearah Amura tanpa mempedulikan apapun... di pikiran Reina saat ini cuma ada Yuki, Yuki, dan Yuki...


Bagaimana keadaan Yuki?


Apakah Yuki baik-baik saja?


Kenapa Daerah ini bisa beku?


Kenapa banyak mayat Monster?


Semua itu adalah hal yang ada dipikirkan Reina.


"Yu-...."


Belum sempat menyelesaikan kata-kata miliknya Reina terdiam saat berada didepan Amura.


Tubuh Yuki yang digendong Amura kini terlihat seperti sebuah mayat yang tidak memiliki kehidupan.... atau bisa disebut telah Mati.


Kulit Yuki menjadi putih pucat, bibirnya berubah menjadi biru pucat...


"...."


Tatapan mata Reina tiba-tiba menjadi gelap, tidak ada ekspresi dalam wajahnya...


Kenapa keadaan Yuki bisa seperti itu?


Apakah karena para Monster ini?


Lantas kenapa Yuki seperti orang yang telah mati?


.....


Tidak mungkin kan? Yuki tidak mungkin mati kan?....


Ini pasti mimpi...


Reina menyangkal semua hal negatif yang ada dipikirkan nya, tapi semua itu sia sia karena hal ini bukanlah Mimpi atau apapun.


Ini adalah kenyataan, sesungguhnya sebuah kenyataan memang lebih pahit dari pada yang kita pikirkan.


"...Yuk...ki?..." ucap Reina dengan tatapan kosong.


Reina mendekati Amura dan menyentuh pipi Yuki.


Pipi Yuki yang hangat telah sirna dan terganti oleh pipi dingin, sedingin es.


"Ahaha... ini pasti mimpi..."


"Tidak mungkin kan Yuki...."


Reina menyangkal semua kenyataan yang ada didepannya itu dengan ketakutan.


*Tes..


Air mata mengalir dari mata Reina dan membasahi pipinya serta terjatuh ke tanah yang telah beku itu.


Reina mengelus pipi Yuki dengan lembut, seakan-akan tidak percaya akan hal yang terjadi pada sahabatnya.


Mata gelap Reina menjadi berkaca-kaca dan air mata deras mengalir dari matanya.


"Yuki....Kumohon..."


"Hiks...Hiks... Bangunlah... jangan bercanda.."


"Aku tau... Hiks... kau masih hidup... kau selalu bercanda seperti ini... saat kita masih Smp dulu...Hiks.."


Yuki tidak menjawab perkataan Reina dan tetap tertidur dengan ekspresi tenang.


Tangisan Reina semakin menjadi-jadi dan ekspresi Reina berubah menjadi sedih...


Reina memeluk Yuki yang berada di pelukan tangan Amura dan menangis lebih keras lagi.


Amura yang melihat hal tersebut cuma diam dengan ekspresi hampa dan tatapan tanpa cahaya.


".....Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Hiroshi yang mendekati mereka.


"Kenapa keadaan hutan bisa seperti ini? dan juga mayat Monster itu.... apakah kau yang melakukannya" tanya Hiroshi kepada Amura.


Amura mengacuhkan pertanyaan Hiroshi, dan ekspresi Amura tidak berubah saa sekali.


'Amu...apakah Yuki masih bisa hidup?..' Pikir Amura.


...[ ... ]...


...[ Maaf, saya tidak bisa menjawabnya ]...


...[ Saya tidak ingin memberikan harapan palsu kepada kakak ]...


'...'


'Apakah aku bisa menyelamatkan Yuki?'


...[ Bisa ]...


...[ Kakak bisa membeli sebuah item dishop ]...


...[ Item itu bisa menstabilkan mana seseorang dan item itu akan menjadi penyembuh untuk Kak Yuna ]...


'Benarkah...'


...[ Iya ]...


Kini tatapan hampa Amura terganti oleh tatapan dengan sedikit cahaya dimatanya.


Amura menatap wajah Reina dan berkata kepadanya.


"Kiara...Yuna masih hidup" ucap Amura.


"Eh...."


Reina yang mendengar perkataan Amura cuma bisa terkejut dan bingung akan perkataan nya.


".. Apa yang... kau maksud... Yuki masih hidup?..." ucap Reina dengan tatapan penuh Harapan.


"Yah... aku berjanji.." lanjut Amura dengan ekspresi dingin.


"Aku akan menyelamatkan nya..."


"Menyelamatkan?.."


"Alasan Keadaan tubuh Yuna bisa seperti ini adalah karena ia menggunakan skill yang ia miliki dan membuat area sekitar menjadi beku..."


"Walaupun terdengar konyol.... tapi akan ku katakan"


"Yuki masih hidup, ia belum mati... asalkan dia mendapatkan perawatan yang benar.. pasti ia akan kembali pulih" ucap Amura sambil menatap wajah Reina.


"Benarkah....apakah Yuki masih bisa selamat" Ucap Reina.


"Iya, karena itu tenang lah" balas Amura.


"Karena itu..." kini Amura menatap wajah Hiroshi dengan tatapan dingin.


"Bawa aku kepada Healer Slayer" ucap Amura.


"!!!"


Tubuh Hiroshi sedikit bergetar karena tatapan Amura.


"Ba-baiklah... untuk nanti harus kau jelaskan tentang apa yang terjadi disini" jawab Hiroshi.


"Tidak perlu kau antar, katakan saja dimana tempat Slayer itu" lanjut Amura.


"I-itu, ada satu Healer Slayer di ruang kesehatan Sekolah" jawab Hiroshi.


"Wanita itu yah"


Kini Amura berjalan menuju kearah sekolah sambil mengendong Yuki.


"Mau kemana kau" tanya Hiroshi.


"Ke ruang kesehatan"


Amura dengan ekspresi dingin membalas pertanyaan Hiroshi.


"Yuna... tunggu lah sebentar saja..."


Kini Amura dalam posisi untuk melesat menjauh dari tempat itu.


*Domm...


*Whuss..


Tanah pijakan Amura hancur dan Amura melesat kearah Sekolah yang berjarak sekitar 6 Kilometer dengan sangat cepat.


"Masih terlalu lambat..."


"Amu, apakah aku bisa melesat secepat suara seperti saat melawan Gluttony"


...[ Tidak, Jangan melakukan itu ]...


...[ Kalau kakak melakukannya tubuh kakak akan hancur karena tidak bisa menahan tekanan udaranya ]...


"Aura Kegelapan" Mengabaikan perkataan Amu, Amura menyelimuti tubuhnya dengan kegelapan dan ia menambah kecepatan yang ia miliki.

__ADS_1


*Whuss...


Amura bergerak dengan kecepatan 90 meter/detik dan ia melesat pergi dari hutan itu.


...[ Kakak ada 3 Monster terdeteksi didepan ]...


"Kalau begitu, saatnya mencoba skill baru"


"Manipulasi Bayangan" Dalam sekejab bayangan Amura membentuk sebuah peluru dengan jumlah ribuan dan melesat ke arah para monster itu.


*Dor..


*Dor..


*Dor...


Peluru bayangan itu melesat seperti tembakan senjata api dan membunuh 3 Monster yang menghalangi nya.


"Gluttony"


Bayangan ketiga Monster itu terserap oleh Amura.


Amura tidak mempedulikannya dan tetap lanjut menuju keluar hutan.


Beberapa menit kemudian..


Amura telah keluar dari hutan dan ia melompat dari atap ke atap bangunan sekolah untuk menuju ke Ruang kesehatan.


*Brak...


Pintu Bangunan yang merupakan ruang kesehatan itu didobrak oleh Amura dan Amura memasuki bangunan itu.


"Oy, jangan ngehancurin pintu" teriak Wanita yang dulu pernah ditemui Amura.


"Tunggu, kau? Pria kemarin... dan juga kenapa Gadis itu..." lanjutnya.


"Aku tidak bisa menjelaskan nya, untuk sekarang bantulah aku" ucap Amura.


"...Ikuti aku"


Wanita itu menuntun Amura ke arah ruangan pasien dan Amura membaringkan Yuki di kasur.


"Analisis Tubuh" Ucap wanita itu sambil menyentuh Jidat Yuki.


Wanita itu menggunakan salah satu skill miliknya untuk memeriksa keadaan Yuki.


"I-ini...." ucap Wanita itu dengan kaget.


"Ada apa?" tanya Amura.


"Kenapa keadaan Yuna bisa sampai seperti ini" lanjut Amura


"Mana yang ia miliki sangat tidak stabil dan tubuhnya perlahan tertelan oleh Mana miliknya" Ucap Wanita itu dengan ekspresi terkejut.


"Hah~, kalau seperti ini sepertinya aku akan kehabisan mana" lanjutnya.


"Apa maksudnya?" tanya Amura.


"Sudahlah lebih baik lihat sendiri"


"Mana Recovery" Cahaya berwarna biru terang menyelimuti tubuh Wanita itu dan cahaya biru itu memasuki tubuh Yuki.


*Tes...


Keringat bercucuran membasahi tubuh Wanita itu dan keadaan Yuki menjadi lebih baik.


Kulit pucat Yuki kembali menjadi putih cerah dan bibir biru pucat miliknya kembali ke merah muda.


"Ugh..."


Wanita itu hampir terjatuh tapi sebelum menyentuh lantai Amura menangkap Wanita itu.


"Ha~, Ha~, Ha~... Sudah berapa lama aku kelelahan saat menyembuhkan seseorang" ucapnya dengan nafas patah-patah.


"Tubuhnya cuma kehabisan Mana, dan masalah itu telah terselesaikan"


"Tapi kalau dia bangun, ia tidak akan bisa melakukan kegiatan dengan normal"


"Untuk saat ini...lebih baik kau pindahkan aku ke kasur dulu... aku lelah" ucap Wanita itu.


"Apakah benar Yuna saat ini sudah baik-baik saja?" tanya Amura.


"Entahlah.... tapi untuk sekarang keadaan tubuhnya lebih baik dari pada tadi" jawab Wanita itu dengan mata sayu dan lemas.


"...."


Amura berdiri dan mengendong Wanita itu ke kasur yang tidak jauh di samping kasur Yuki.


Wanita itu tertidur lelap setelah dipindahkan Amura kekasurnya.


Amura berjalan ke arah Yuki dan menyentuh pipi Yuki.


"Hangat...." ucapnya.


Amura tidak menyadari nya tapi saat ini ia tersenyum lega dan tatapan matanya kembali normal.


...[ Syukurlah Kakak ]...


...[ Keadaan Kak Yuna saat ini sudah lebih baik ]...


...[ Walaupun begitu, kesadaran kak Yuna masih belum kembali ]...


'"Iya... tinggal menunggu ia bangun saja"


Kini Amura duduk disamping Yuki dan memegang tangannya.


"Bangunlah...kau tadi berkata kan... bahwa kau ingin bersamaku, Jadi karena itu bangunlah"


"Aku akan bersama mu dan menjagamu disisiku... aku berjanji" ucap Amura dengan senyuman lembut diwajahnya.


Amura lega akan keadaan Yuki yang lebih membaik, tapi ia tidak mengetahui bahwa itu cuma tubuh kosong tanpa Jiwa.


Ia bahagia karena hal yang belum pasti dan kebahagiaan itu pasti tidak akan bertahan lama...


...-( Pov Author to Risa )-...


"Ugh... dimana ini?"


Risa terbangun di sebuah tempat yang tampak kacau dan hancur...


Banyak sekali bangunan yang hancur dan jalanan di tempat itu juga hampir hancur semua.


Tapi jejak kehancuran itu terlihat sudah lama, dan tempat itu sangat sunyi... tidak ada suara apapun, tidak terasa ada kehidupan apapun.


"Dimana ini? dan juga kenapa aku ada disini?" tanya Risa dengan bingung.


"Ugh..."


Risa serentak memegang kepalanya yang terasa sakit dan ia mengingat suatu hal.


"Yuki....Yuki, Yuki... bagaimana keadaan Yuki, kenapa Aku ada disini, Dimana Yuki"


Risa cuma bisa panik karena hal yang menimpa Yuki.


"Kenapa... Kenapa... Yuki...."


*Tes..


Tanpa Risa sadari, air mata mengalir dari matanya dan ia merasakan perasaan sedih untuk pertama kalinya.


"Hiks...Yuki... Yuki... Yukiii... Hwaa..." Risa menangis sejadi-jadinya dengan perasaan penuh luka.


Risa telah menganggap Yuki sebagai adiknya sendiri, tapi tidak dengan Yuki...


Yuki memang menganggap Risa sebagai kakak tapi itu cuma sampai saat ia berumur 13 tahun tepatnya setelah kejadian itu...


Walaupun Yuki terlihat ceria dan murah senyum, tapi itu telah menjadi masa lalu.


Sebenarnya Yuki adalah orang yang dingin, ia memiliki pemikiran...asalkan Masa depan bisa terselamatkan ia tidak peduli untuk mengorbankan nyawanya atau nyawa orang lain.


Itu adalah perubahan sifat yang dimiliki Yuki disaat ia berumur 13 tahun.


Tapi disaat terakhir sebelum kematiannya.


"Sistem" Mengubah Yuki dengan memperlihatkan ingatan tentang masa depan yang suram.


Ingatan yang diberikan sistem adalah ingatan tentang para manusia dimasa depan yang sangat berantakan.


Hal tersebut membuat semua pemikiran Yuki untuk menyelamatkan dunia terkacaukan dan ia menjadi ling lung.


Apakah dia masih harus menyelamatkan manusia?


Apakah dia harus berkorban untuk manusia yang seperti itu?


Kenapa? Apakah karena ia adalah seorang yang memiliki pandangan tentang masa depan?...


Ia sangat bingung untuk pertama kalinya atas keputusan yang ia miliki.


Pemikiran negatifnya membuat ia terkendali oleh emosi dan kebencian.


Tapi hal itu langsung hilang saat Amura menenangkan Yuki... disaat Yuki sangat Rapuh, Amura lah yang memenangkan Yuki.


Dan untuk pertama kalinya Yuki merasakan perasaan aneh dihatinya...Perasaan apa itu?


Yah itu adalah sesuatu yang disebut sebagai Cinta... walaupun begitu perasaan itu tidak bertahan lama dan Yuki mati sebelum bisa mengungkapkan perasaan miliknya.


"Yuki...."


Kini tatapan Risa menjadi kosong dan ia berjalan entah kemana.


"Yuki..."


"Yuki......"


Disaat ia berjalan Risa cuma menyebutkan nama Yuki dengan ekspresi kosong.


Entah berapa lama sejak Risa berjalan, risa terus terusan bergumam menyebut nama Yuki berkali-kali.


"Berisik sekali kau ini"


Terdengar suara seorang gadis yang terdengar ditelinga Risa.


"Ha~, kenapa bisa ada orang yang masuk kesini sih.." ucap Suara gadis itu.


"Siapa?...." tanya Risa dengan ekspresi bingung.


"Kemarilah" ucap Gadis itu.


Risa berjalan menuju ke tempat yang tidak diketahui.


"Tubuhku bergerak sendiri..." ucap Risa dengan ekspresi kaget.


Risa berjalan sendiri tanpa kehendaknya.


Risa berjalan terus-terusan menuju ke sebuah bangunan yang sangat besar, bangunan itu tampak seperti sebuah kastil besar yang hancur sebagian.


"Kastil?... kenapa ada Kastil disini.." tanya Risa kepada dirinya sendiri.


Risa memasuki Kastil itu dan menuju ke sebuah ruangan.


Di ruangan itu terlihat sesosok gadis dengan wajah yang sangat cantik dan memiliki sayap di punggung nya.


Kecantikan miliknya sudah tidak bisa disangkal lagi, kecantikan ini berada diatas kecantikan Yuki.


Gadis itu memiliki rambut berwarna coklat keemasan dan rambut miliknya dihiasi tiara hitam serta bunga berwarna ungu.


Gadis itu duduk di bidak catur yang cukup besar dan ia memandang Risa dengan tatapan matanya.


Walaupun ditatap dengan tatapan biasa tapi Risa bergetar ketakutan karena keberadaan yang ada didepannya ini.



"Hm, kukira siapa ternyata kau yah" ucap Gadis itu.


"Entah ini pertemuan keberapa dan kau selalu saja datang dengan wujud yang berbeda-beda"

__ADS_1


"Sepertinya itu adalah wujud dari reinkarnasi ke entahlah keberapa itu..."


"Pokoknya selamat datang kembali... Altair" lanjut Gadis itu.


"Al..tair? siapa itu?" ucap Risa dengan ekspresi bingung.


"Hah~, selalu saja entah reinkarnasi keberapa pun selalu saja melupakan namanya sendiri" balas Gadis itu sambil menghela nafas.


"Jadi siapa namamu saat ini?" tanya Gadis itu.


"Nama... nama saya Risa..."


"Hah, kenapa kau berbohong..." lanjut gadis itu dengan ekspresi bingung.


"Bohong?" jawab Risa...


"Jangan berbohong kepadaku Yuki Yuna"


"Yuki... dimana..." teriak Risa dengan terkejut.


"Eh...kok..." ucap Gadis itu dengan heran.


"Apa ada yang salah dengan otakmu? Aku sedang berbicara dengan mu.."


"Eh... Sa-saya?" jawab Risa dengan bingung.


Kini Gadis itu turun dari bidak catur itu dan mendekati Risa.


"Aneh, kenapa kau berbohong atas namamu kepadaku" ucapnya.


"Akan kulihat semua ingatan milikmu di kehidupan ini.."


Kini Gadis itu menyentuh kepala Risa dan mengunakan kekuatan miliknya untuk melihat ingatan Risa.


"Apa yang anda lakukan" ucap Risa dengan ekspresi ketakutan.


Gadis itu cuma bisa melebarkan matanya karena ingatan Risa.


"Oh~, jadi begitu yah... ingatan milikmu disegel.."


"Hahaha, dewa bodoh itu... kalau ingatan Altair kembali, dia pasti akan dimutilasi" ucap Gadis itu disertai tawa.


"Baiklah Risa, saat ini dirimu adalah Yuki Yuna" lanjut Gadis itu..


"Saya adalah Yuki? apa yang anda katakan?"


"Creation" Sebuah cermin yang keluar dari ketiadaan dalam sekejap dan memperlihatkan wujud Risa.


"Yuki...." ucap Risa dengan panik.


"Kenapa Yuki ada didalam cermin ini" lanjut Risa sambil memandang Gadis itu.


"Apa kau bodoh, itu adalah wujud mu saat ini" ucapnya.


"Eh..."


Risa mengecek cermin itu kembali dan terlihat bahwa dirinya saat ini memiliki wujud yang sama seperti Yuki.


"Kena-"


Belum sempat mengucapkan satu kata, ucapan Risa langsung dipotong oleh Gadis itu.


"Aku malas menjelaskan dengan rinci"


"Singkatnya, jiwa Yuki hancur dan kau saat ini menempati tubuhnya sebagai pengganti"


"...."


Risa cuma terdiam mendengar perkataan gadis didepannya itu.


"Pengganti? kenapa bisa seperti ini?" ucap Risa dengan ekspresi sedih.


"...."


"Akan kukatakan, tubuh itu adalah milikmu dan kau bebas memilih takdir milikmu"


"Kau ingin melanjutkan tekad gadis itu atau hidup sesuai keinginanmu" ucap Gadis itu.


"Aku..." ucap Risa dengan ekspresi bingung.


"Pilihlah sendiri, Yuki Yuna telah mati dan tergantikan olehmu Risa... hiduplah sebagai Yuki Yuna dan pilihlah takdirmu sendiri"


"Yah cuma itu yang bisa kukatakan kepadamu"


Gadis itu tersenyum dan memandang wajah sedih Risa.


"Teruslah hidup dan gantikan lah Yuki, itu adalah keinginan terakhir yang ia miliki" ucapnya.


"Keinginan... terakhir?"


Kini gadis itu tersenyum lembut dan tulus lalu berkata.


"Iya, itu adalah keinginan Yuki, jadi hiduplah sesukamu dengan tubuh Yuki..."


"Semua pilihan ada ditangan mu"


*Tes...


Air mata menetes dari mata Risa dan Risa berkata kepada sesosok gadis didepannya.


"Baiklah, saya akan berusaha" ucap Risa dengan tangisan di matanya.


"Bagus.."


Kini Risa menyeka air mata diwajahnya dan menunggu perkataan selanjutnya dari gadis didepan nya itu.


"Ah~, ini kuberikan sedikit hadiah karena sudah kesini" ucap Gadis itu.


"Hadiah apa itu" tanya Risa sambil memiringkan kepalanya.


Gadis itu menyentuh dahi Risa dan muncul tanda di dahi miliknya.


"Apa ini?" tanya Risa dengan bingung.


"Hm~, saat kau sadar nanti pasti tau sendiri" jawab Gadis itu dengan senyuman lembut.


"Baiklah, Terima kasih... telah membantu saya" ucap Risa.


Gadis itu cuma bisa melebarkan mulutnya karena tidak percaya dengan apa yang ia lihat.


"O-owh, sepertinya dari semua reinkarnasi Altair... kau yang paling sopan yah"


"Ya-yah, akan ku berikan sedikit hadiah lagi"


"Ulurkan tanganmu..." ucap Gadis itu sambil mengulurkan tangan miliknya.


"Um..." Risa mengikuti perintah Gadis itu dan mengulurkan tangan miliknya.


Tangan Risa disentuh oleh gadis itu dan muncul kembali sebuah tanda.


"Creation" ucap Gadis itu.


Sebuah aura pedang yang sangat kuat menggelegar di kastil itu dan menciptakan sebuah pilar cahaya yang membentang ke langit.


*Whuss...


Awan diatas kastil itu berlubang seketika dan menyapu langit dalam radius 100 kilometer.


...[ Menciptakan Pedang ]...


...[ Pedang Tercipta ]...


...[ Unbreakable Sword (S) ]...


Sebuah pedang dengan bilah berwarna merah darah keluar dari tangan Risa.



"Yosh, kuberikan pedang ini"


"Pedang ini tidak akan pernah hancur, kecuali di serang dengan serangan penghancur planet" lanjut nya.


"Eh, bukankah ini terlalu berlebihan" ucap Risa dengan kaget.


"Berlebihan? pedang ini cuma sampah kok"


"Aku bisa membuat pedang seperti ini dengan jumlah yang tidak terbatas sesuka hatiku" ucapnya dengan enteng.


"O-oh, be-begitu yah..."


Risa cuma bisa terkejut dengan apa yang ia dengar.


"Kalau kau sudah menjadi lebih kuat, kau pasti akan bisa menggunakan pedang ini" ucap Gadis itu.


"Dan sepertinya cuma sampai sini saja percakapan kita"


"Tubuhmu telah diberi pasokan mana lagi dan saatnya untuk sadar"


Tubuh Risa memudar perlahan dari kaki.


"Ah"


"Selamat tinggal" ucap Gadis itu.


"Tu-tunggu, biarkan saya mengetahui nama anda" tanya Risa.


"Hm~, Namaku adalah.... siapa yah?"


"Eee-etto, siapa namaku yah... saking lamanya aku tidak mengucapkan nama itu aku malah melupakannya"


"Um~... Ah, akhirnya aku ingat"


"Dewi Ketiadaan, Iris" ucap Gadis bernama Iris itu.


"Bye-bye, Risa... tidak Yuki Yuna" ucap Iris sambil melambaikan tangan.


"Iya, selamat tinggal Iris-chan" balas Yuki dengan tersenyum.


Kini tubuh Yuki telah lenyap dari dunia itu dan menyisakan partikel cahaya dari tubuhnya.


Kini Iris tersenyum lembut dan berkata.


"Kita pasti akan bertemu lagi Sahabat ku, Dewi Kiamat Altair" ucap Iris dengan senyuman lembut.


"Kuharap kau bisa bahagia, dan juga takdirmu selalu saja bersama orang itu yah...fufufu" lanjut nya yang kini ia tertawa ringan.


....


...


..


.


Yuki terbangun dan melihat Amura yang sedang duduk disamping nya.


"Amu..Ra...Kun" ucap Risa yang telah mengantikan Yuki.


"Yuki, kau sudah sadar" ucap Amura dengan menggenggam tangan Yuki.


"I..ya.." jawab Yuki dengan singkat.


Amura tersenyum lembut karena melihat keadaan Yuki yang telah membaik.


Yuki terkejut karena senyuman itu.


'Ahaha...jadi, seperti ini yah daya tarik dari Amura' pikir Yuki dengan tawa canggung dipikirkan nya.


'Sepertinya aku benar-benar menjadi Yuki....Terimakasih Iris-chan' pikir Yuki sambil tersenyum.


......................


...( Yah Gitu aja coy Thx dah Baca )...


...( Jan lupa Like😑👍 )...

__ADS_1


__ADS_2