Change Destiny Of Worst And Cursed World

Change Destiny Of Worst And Cursed World
19.Bagaimana keadaan dimasa depan?


__ADS_3

...-( Pov Author )-...


(Info Slurrr.... Kalau gw pake tanda ini < > berarti itu pemberitahuan sistem, dan kalau gw pakai tanda [ ] berarti itu ucapan Risa atau Amu)


......................


Tubuh Agus kini telah lenyap dan menyisakan genangan darah begitu juga gumpalan daging dari tubuh Agus.


Yuki tidak bisa berfikir apa-apa karena pemandangan yang ia lihat ini.


Bahkan Yuki juga belum bisa berfikir dengan tenang, walaupun begitu Yuki kalau dilihat dari luar akan terlihat seperti biasa saja.


Tapi kalau kalian mengintip pikiran Yuki maka akan terlihat emosi Yuki yang berantakan dan pikiran yang tidak tenang.


"Yuki..." gumam Amura setelah melihat keadaan Yuki.


Amura melihat Yuki yang tidak berekspresi apapun tapi Amura tau bahwa Yuki saat ini tidak baik-baik saja.


Berbeda dengan Yuki, Amura bahkan tidak memikirkan Agus yang ia bunuh secara tidak langsung dan ia malah lebih memikirkan keadaan Yuki.


"Yuki apa kau tidak apa-apa?"


Amura bertanya kepada Yuki sambil menyentuh pundak Yuki.


"....."


"Yah....aku baik-baik saja..."


Yuki cuma menjawab apa adanya tapi jawaban yang ia miliki tidak seperti apa yang ada dihatinya.


Yuki saat ini tertekan tapi ia tau bahwa dimasa depan akan terjadi hal yang lebih mengerikan dari pada ini.


Memikirkan apa yang terjadi dimasa depan Yuki semakin tertekan dan ia berkata.


"Apakah dimasa depan aku juga harus membunuh manusia?" ucap Yuki dengan ekspresi tenang.


Amura yang mendengar perkataan Yuki berfikir sebentar dan menjawab ucapan Yuki.


"Kenapa kau berfikir begitu?"


Amura bertanya dengan ekspresi tenang agar Yuki tidak terlalu tertekan akan perkataan miliknya.


"Amura-kun, kalau aku berkata bahwa dimasa depan dunia akan hancur apakah kau akan percaya?"


Yuki bertanya kepada Amura dengan ekspresi serius sambil mengepalkan tangan miliknya.


"....."


"Aku percaya, tapi soal kehancuran yang ada dimasa depan pasti bervariasi"


"Kehancuran seperti apa yang kau maskut?" tanya Amura dengan menatap mata Yuki.


Mata berwarna Biru keunguan Yuki sedikit bergetar karena ungkapan Amura.


Yuki tidak mengetahui apa yang dipikirkan Amura saat ini dan ia lebih memilih untuk jujur tentang pendapat miliknya.


"Bagaimana kalau dunia hancur karena Iblis menginvasi dunia?"


Setelah mengungkapkan hal tersebut ekspresi Yuki langsung berubah dan tatapan yang ia miliki jadi lebih dingin.


Yuki tidak memandang Amura tapi ia melihat puluhan monster yang sedang memakan daging manusia itu.


'Aku tidak peduli dengan manusia tadi, tapi saat melihat kejadian ini... aku malah mengenang hal mengerikan dimasa depan' pikir Yuki dengan ekspresi dingin dan tatapan Gelap.


Dimasa depan keberadaan yang mengerikan bukan cuma Iblis saja tapi Manusia juga sama mengerikan nya dengan Iblis.


Ada saat diingatan Yuu, ia melihat seorang gadis kecil berusia 11 tahun harus memuaskan nafsu para bedebeh yang berkata bahwa dirinya adalah manusia.


Tidak cuma itu, dimasa depan yang telah hancur tidak ada sesuatu yang disebut sebagai aturan, Penculikan, Pemerk*saan, Kanibalisme, Pembunuhan.


Semua hal-hal terlarang telah menjadi bebas, para manusia lebih memilih untuk memuaskan nafsu mereka terlebih dahulu, dari pada harus mati tanpa melakukan apa-apa.


Bukannya berjuang melawan iblis, para manusia malah memutuskan untuk memuaskan hasrat pribadi mereka dan memilih mati tanpa guna.


'Buat apa melindungi manusia seperti mereka kalau mereka saja tidak menghargai kami para Slayer yang sedang melindungi mereka dari iblis'


Disaat para Slayer melawan iblis, para manusia bahkan Slayer tidak terkecuali, lebih memilih untuk melampiaskan hasrat mereka.


'Sama seperti orang yang telah menjadi makanan monster itu, Para manusia dimasa depan tidak ada yang bisa diselamatkan'


'Aku lebih setuju dengan Amura yang membantai semua mahluk yang ada didunia' Pikir Yuki.


Yuki tidak menyadari bahwa saat ini ia mengeluarkan aura membunuh yang sangat pekat bahkan Amura sedikit kaget saat merasakannya.


'Rasa haus darah ini....Yuki?"


Amura memandang wajah Yuki yang kini wajahnya sangat suram.


Ekspresi ceria Yuki kini hilang dan ditutupi oleh ekspresi dingin disertai tatapan gelap seakan akan tatapan mata itu memiliki kebencian yang luar biasa akan sesuatu.


...< Energi Kehancuran Meningkat 1% >...


...[ Sistem sialan ini, Yuki sadarlah ]...


...< Energi Kehancuran Meningkat 2% >...


...[ Oy, Yuki sadarlah... jangan termakan emosi mu ]...


Risa mencegah amarah Yuki karena alasan yang tidak diketahui tapi itu percuma kini Yuki tidak lagi bisa memikirkan apa-apa yang ia pikirkan hanyalah kehampaan.


Aura membunuh Yuki semakin menumpuk dan Amura langsung bereaksi terhadap hal itu.


Amura serentak memeluk Yuki dan mencoba untuk menenangkannya.


"Yuki, tenanglah" ucap Amura yang kini memeluk Yuki.


"Eh...."


Yuki tersadar akan pelukan Amura dan Amura salah paham akan sesuatu.


"Ugh...." Yuki merasakan kesakitan karena jantung miliknya berdetak kencang dan nafas miliknya terasa berat.


"Ha, Ha, Ha, Ha"


Yuki bernafas tergesa-gesa seakan akan ia baru saja memutari lapangan sepak bola seratus kali tanpa istirahat.


"Bernafaslah pelan-pelan, aku tau ini menyakitkan tapi tahan saja" ucap Amura yang kini ia memeluk Yuki lebih erat.


"Huf...Hah.. Huf.. Hah..."


Yuki mengikuti arahan Amura dan kini keadaan nya semakin membaik.


"Sudah lebih baik?" tanya Amura dengan ekspresi khawatir.


Walaupun Amura selalu tidak mempedulikan sesuatu, tapi saat ini berbeda.


Amura juga pernah mengalami hal yang sama seperti Yuki, Hal itu disebut Kebencian Berlebih.


Saat seseorang membenci sesuatu bahkan sampai disaat mereka dikendalikan oleh emosi mereka dan melupakan keadaan diri mereka sendiri.


Yuki yang saat ini sangat membenci perilaku manusia dimasa depan dan ingin membunuh semua manusia yang memiliki sifat seperti itu.


Saking bencinya ia dengan hal itu, ia bahkan dikendalikan oleh amarah dan hasrat membunuh.


Sampai-sampai ia lupa untuk bernafas dan amarah yang ia keluarkan membuat darahnya mendidih dan membuat jantung miliknya berdetak kencang melebihi batas normal.


Kalau Amura tidak menghentikan atau menenangkan Yuki, Yuki akan pingsan dan fatalnya Yuki bisa koma berhari-hari atau bahkan berminggu-minggi.


"...Iya, aku sudah merasa lebih baik.." jawab Yuki dengan keringat membasahi wajah dan tubuhnya.


"Apa kau membenciku?" tanya Amura.


"...."


Yuki saat ini sangat bingung dengan apa yang dikatakan Amura, Ia tidak membencinya dan tidak akan pernah bisa membencinya.


Tapi apa hal yang membuat Amura berfikir seperti itu? Itu adalah pemikirannya, Amura berfikir bahwa Yuki marah karena telah membunuh seseorang dan itu adalah kesalah pahaman yang ia miliki.


"Kanapa kamu bisa berfikir seperti itu?" tanya Yuki dengan ekspresi bingung.


"Karena aku membuatmu terlibat akan pembunuhan" jawab Amura dengan singkat tapi perkataan yang ia miliki mempunyai makna ya dalam.


"Aku membuatmu membunuh seseorang secara tidak langsung"


"Dan aku memperlihatkan pemandangan mengerikan seperti ini kepadamu"


Amura berkata dengan ekspresi dingin seakan akan ia menerima semua kebencian Yuki yang akan diarahkan kepadanya.


"Aku tidak membencimu... dan kalau saja ia dibiarkan pasti akan ada korban selanjutnya" Jawab Yuki dengan ekspresi serius.


"Aku mendukung kamu, karena lebih memilih membunuh dia dari pada membiarkannya"


Amura yang mendengar hal itu cuma bisa terdiam dan ia sendiri bingung 'Kenapa Gadis sepertinya bisa memiliki ekspresi dan aura seperti itu?'.


"Benarkah? dan emosi yang kau miliki tadi terarah kesiapa?" tanya Amura.


"....Saya tidak akan bersikap sok suci karena saya sudah ternoda" ucap Yuki dengan ekspresi tegar.


"..Saya telah menodai tangan saya dengan nyawa manusia dan itu adalah hal yang tidak akan pernah bisa diubah" lanjutnya sambil memandang tangan miliknya.


"Slayer tadi adalah nyawa manusia pertama yang saya ambil dan itu akan terus bertambah untuk kedepannya"


Yuki kini memandang tangan miliknya dan tatapan Yuki kini kembali gelap.


"...."


Amura yang mendengar itu tidak bisa berkata apa-apa karena tekat yang dimiliki Yuki.


Walaupun tujuan Yuki rada ngak bener, tapi itu tidak bisa dipungkiri karena ia akan menjadi Slayer.


Tugas Slayer bukan cuma memburu Iblis atau monster tapi juga memburu manusia.


Kini Amura menyentuh pipi Yuki dengan lembut dan berkata.


"Kau adalah perempuan, jangan terlalu memikirkan hal seperti itu"


"Melakukan hal seperti itu adalah tugas seorang laki-laki, karena laki-laki lebih kuat dari pada perempuan" ucap Amura sambil mengelus pipi Yuki.


Yuki yang mendengar itu langsung memandang Amura dengan tatapan penuh harapan.


Yuki ingat, ia tidak sendirian... ia tidak perlu menanggung beban besar seperti melindungi dunia di pundaknya.


Ia bukanlah pahlawan dan tidak akan pernah bisa menjadi pahlawan.


Hati seorang perempuan sangat rapuh dan karena itulah banyak perempuan yang menjadi target para pria dimasa depan.


Dimasa depan para pria selalu saja membuat wanita yang ia miliki sebagai pemuas hasrat saja dan kalau mereka sudah puas mereka akan membuangnya.


Seorang wanita yang ingin hidup tentram dimasa depan yang suram harus mengikuti seorang yang kuat dan menjadi budak mereka.


Entah itu untuk pemuas hasrat s*ksual atau bahkan untuk pelampiasan emosi.


Itu adalah hal yang wajar dimasa depan.

__ADS_1


Tidak apa pejuang wanita, yang ada hanyalah budak wanita.... Tapi apakah Yuki ingin menjadi seperti itu?... jawabannya tidak.


Yuki ingin bergantung dengan Amura tapi cuma sebatas untuk meringankan beban yang ia miliki dan bukan untuk menjadi pemuas hasrat Amura.... Walaupun itu tidak akan pernah terjadi sih.


"Apakah bisa begitu, apakah aku bisa bergantung kepada mu?" ucap Yuki dengan ekspresi bahagia dan hatinya sedikit tersentuh oleh perkataan Amura.


"Apakah... aku bisa menjadi seseorang yang selalu bersama Amura-kun?"


"Eh..."


Amura cuma terkejut dengan apa yang dikatakan Yuki.


Amura cuma berharap untuk menenangkan Yuki dan tidak lebih dari itu.... Tapi Yuki saat ini malah ingin menjadi Pasangan?.


'Aku tidak berharap bisa membuat Yuna berbicara seperti itu' pikir Amura.


...[ Kakak, aku memang sedikit kesal karena sesuatu yang tidak ku ketahui ]...


...[ Tapi, lebih baik Kakak menerima permintaan Kak Yuna ]...


'Baiklah... lagipula karenaku juga ia menjadi seperti ini'


"Aku tidak pernah mengerti tentang hal seperti itu, tapi apakah kau masih ingin bersamaku? ( Partner )" ucap Amura.


"Aku tidak peduli, lagipula aku juga tidak pernah memiliki hubungan seperti itu dengan seseorang ( Kekasih )" jawab Yuki.


".... Jangan menyesalinya loh.." lanjut Amura dengan sedikit jeda.


"Tidak Akan"


Yuki langsung menjawab perkataan Amura dengan sekejab seakan-akan Yuki telah menunggu perkataan berikutnya.


"Walaupun aku akan membunuh banyak manusia?" ucap Amura dengan ekspresi dingin.


"Sudah saya bilang, diri saya sudah tidak suci dan hal itu tidak akan pernah bisa menghilang"


"Dan walaupun anda membunuh seseorang, saya tidak akan pernah melarangnya... kecuali kalau anda ingin membunuh saya" ucap Yuki.


".....Entah kenapa aku merasa bahwa aku adalah orang yang jahat"


Amura mengatakan itu dengan menatap wajah Yuki dan senyuman muncul diwajahnya.


"Ahaha, entah kenapa aku merasa lucu karena kita berdialog seakan-akan kita adalah organisasi jahat" ucap Amura yah walaupun dimasa depan beneran kejadian sih😙.


Yuki yang melihat senyuman Amura cuma bisa terpesona dan ia sedikit merasa malu serta merona karena senyuman itu.


*Dum...


Pohon yang mereka naiki kini terguncang dan mereka menatap kebawah yang mana banyak sekali monster yang mengelilingi mereka.


"Sepertinya percakapan ini cuma bisa sampai sini.." ucap Amura.


"... Benar-benar menganggu percakapan" gumam Yuki dengan kesal.


Yuki sangat kesal karena untuk pertama kalinya ia bisa berbincang dengan Amura dan melihat senyuman Amura, tapi semua itu malah berakhir karena diganggu monster tanpa akal.


...[ Kakak, anda bisa membunuh puluhan monster rank C ini dengan memasuki mode Gluttony ]...


'Tidak, Yuna masih ada disini'


...[ Baiklah, tapi sepertinya akan sedikit berbahaya kalau tidak menggunakan Mode Gluttony ]...


"Hawa Dingin" hawa dingin keluar dari tubuh Yuki dan dalam sekejap hawa dingin yang ia keluarkan menyelimuti puluhan monster yang menyerang pohon itu.


"Manipulasi Es" hawa dingin berubah menjadi pecahan es kecil dan pecahan es itu menyelimuti daerah sekitar mereka.


Terasa seperti diterjang badai salju, ribuan atau bahkan puluhan ribu pecahan es mengelilingi para monster.


'Risa, gunakan pembekuan dititik maksimal dan sisakan saja 100 Mana untukku' pikir Yuki.


...[ ... ]...


Risa tidak bisa merespon ucapan Yuki dan Risa juga merasa resah karena keadaan Yuki.


...[ Apakah kau yakin ]...


'Aku tau, karena kau selalu saja mengingat kan ku agar tidak pernah menggunakan kekuatanku secara berlebihan'


...[ Aku memang mempermasalahkan itu ]...


...[ Tapi ]...


...< Main Quest didapatkan >...


...< Korbankan Kehidupanmu untuk Menyelamatkan Yuu Hinamura. Hadiah 1.000.000 P. Gagal : Kematian >...


...[ YUKI ]...


'....'


Risa berteriak kepada Yuki untuk pertama kalinya dan Yuki sangat terkejut akan hal itu.


...[ INGATLAH KEADAAN TUBUHMU ]...


...[ KAMU MEMILIKI BATASAN MANA DAN MANA MILIKMU AKAN MELEDAK KALAU KAU MENGGUNAKAN SKILL MILIKMU SECARA BERLEBIHAN ]...


'Tidak masalah, keberadaan ku cuma sekedar pelengkap dan Amura lah yang memiliki takdir untuk menyelamatkan dunia'


'Kalau dia mati disini... siapa yang akan menyelamatkan dunia?'


'Kematian ku adalah hal yang simpel, asalkan itu bisa.... menyelamatkan duni-'


...[ Jangan Berbohong.... Aku tau, kau takut mati... ]...


...[ Hiduplah sesukamu, kau bisa mengabaikan Quest konyol yang kau Terima ]...


...[ Aku akan membantumu dengan otoritas yang Kumiliki ]...


'Walaupun begitu, apa yang kuharapkan dari dunia seperti ini? kalau aku masih hidup bisa bertahan lama kedamaian itu? tidak sampai setengah tahun'


'Setelah setengah tahun dunia akan mengalami kiamat karena bangsa Iblis dan ujung-ujungnya aku akan mati karena luapan mana ditubuhku...'


'Dari awal aku tidak ditakdirkan untuk memiliki hidup yang damai... walaupun begitu aku sudah sangat bahagia karena bisa memiliki Keluarga dan Sahabat yang baik'


...[ I-itu.... ]...


Risa terdiam karena tidak tau lagi apa yang harus ia gunakan untuk membujuk Yuki.


Dipandangan Yuki, Risa cuma sebatas sistem yang akan membantunya untuk berkembang, tidak lebih dan tidak kurang.


Dari awal takdir yang dimiliki Yuki memang berat.


Ia cuma anak berusia 5 tahun yang mendapatkan ingatan seorang pejuang dari masa depan.


Dan sebagai seorang manusia yang memiliki pengetahuan tentang masa depan. Apakah Yuki akan mengabaikan hal itu?


Jawabannya tidak, ia waktu itu masih kecil dan belum tau seberapa berat takdir yang akan ia tanggung tersebut.


Ia cuma sebatas bocah dengan ingatan tentang masa depan yang tidak terlalu jelas, dan ia berfikir bisa menjadi pahlawan untuk melindungi dunia.


Tapi semua itu berubah saat ia berusia 13 tahun, tepatnya waktu kelas satu SMP.


Yuki untuk pertama kalinya berhadapan dengan monster tapi ia malah ketakutan dan merinding karena melihat monster itu membunuh manusia dengan sangat mudah.


Yuki mencoba untuk melawannya tapi apa yang terjadi? ia malah muntah darah karena terlalu berlebihan menggunakan mana miliknya.


Ujung-ujungnya ia hampir mati saat melawan monster itu tapi untung saja ada seseorang yang menyelamatkan nya.


Sesaat setelah itu Yuki jadi mengerti seberapa menakutkan nya kematian dan ia jadi paham bahwa ia sangat dirugikan dengan adanya batasan mana ditubuhnya.


'Ri-Sistem... lakukan saja apa yang ku perintah...dan juga korbankan HP yang kumiliki untuk menambah dampak serangannya' pikir Yuki dengan ekspresi dingin.


...< Baiklah, Mengaktifkan Skill Pembekuan dan akan menyisahkan 100 Mana dan Akan mengambil ****Hp pengguna**** >...


...[ BERHENTI, Yuki kumohon.. ]...


Risa berteriak dengan nada sedih seperti ingin menangis.


Walaupun Yuki cuma menganggap Risa sebagai sistem semata, tapi Risa menganggap Yuki spesial...


Waktu seakan-akan berhenti, kini suara berisik para monster telah berhenti.


Dan sejauh mata memandang hanya terlihat sebagian kawasan hutan yang telah membeku dan para monster tadi juga ikut membeku begitu pula dengan pohon yang mereka naiki saat ini.


Amura cuma bisa terkejut akan hal itu, dia berfikir kekuatan Yuki sangatlah lemah dan tidak terlalu hebat... tapi semua itu berubah saat ia melihat pemandangan ini.


"Yu-" belum sempat menyelesaikan perkataannya Amura langsung terdiam saat melihat keadaan Yuki yang ada di pelukannya.


Tubuh Yuki sebagian membeku dan mata berwarna biru keunguan yang dimiliki Yuki kini tidak memancarkan cahaya apapun.


"Yuki...."


Amura cuma bisa berteriak terkejut, karena melihat keadaan Yuki....


Amura menyentuh pipi Yuki yang tadinya hangat kini menjadi Dingin dan tidak ada kehangatan sama sekali dalam pipi ataupun tubuh Yuki.


Tubuh Yuki tidak kaku ataupun membeku parah, tapi saat ini Yuki cuma terlihat seperti Bongkahan Es yang memiliki bentuk manusia.


Kecantikan Yuki hampir menghilang karena wajahnya jadi pucat dan ada bercak beku di bagian wajahnya.


Bibir merah muda Yuki kini berubah menjadi Biru pucat dan tatapan mata Yuki terasa Hampa tanpa kehidupan.


"Amu, apakah kau tau keadaan Yuki saat ini..."


Amura berteriak kepada Amu dengan panik


...[ .... ]...


...[ Maaf Kak... Tapi Perempuan ini, sudah diujung tanduk ]...


"...."


...[ Saat ini ia berada dalam fase hidup dan mati ]...


...[ Bisa dibilang Mati Suri ]...


".... Apakah ada cara untuk menyelamatkan nya?"


...[ .... ]...


...[ Amu tidak tau ]...


Amura tidak bisa berfikir dengan tenang dan ia merasa bahwa dirinya saat ini sangat khawatir.


"Kenapa aku sepeduli ini dengan nyawa seseorang..."


"Bukankah aku cuma menganggap kehidupan sebagai kepalsuan? Dan kenapa juga aku seresah ini kepada kematian seseorang..."


Amura mengucapkan hal tersebut sambil memeluk tubuh Yuki yang telah mati itu.


Amura menanyai dirinya sendiri apakah dia pernah bahagia?


Tidak... tidak pernah, sekalipun tidak pernah.

__ADS_1


Ia pernah berfikir, Untuk apa kebahagiaan itu? apakah kebahagiaan bisa membuat seseorang menjadi kuat?.


Hal itu selalu menjadi pertanyaan di hati Amura, Apakah ia bisa bahagia? Kalau bisa bagaimana caranya? Apakah kebahagiaan bisa didapatkan dengan kekerasan?.


Pertanyaan itu tidak pernah bisa terjawab dan untuk pertama kalinya ia merasa perasaan aneh dan perasaan itu disebut sebagai kebahagiaan.... Dimanakah ia merasakan kebahagiaan itu?


Jawabannya saat ia bertemu Yuki, untuk pertama kalinya ia tertarik kepada seseorang dan ingin mendapatkan seseorang itu.


Tapi bagaimana sekarang? apakah ia bahagia?....


Tidak sama sekali, ia saat ini sangat marah dan kesal.... keberadaan yang bisa membuat nya tersenyum tanpa beban mati dihadapan ya sendiri.


...< Gluttony Aktif >...


Bayangan para Monster yang telah beku kini memasuki bayangan Amura dan mata Amura kini berubah menjadi warna Merah darah.


...[ Level up!! ]...


...[ Level up!! ]...


...[ Level up!! ]...


...< Anda telah mencapai level 15 >...


...[ HP : 30.000/30.000 ]...


...[ Mana : 25.000/25.000 ]...


Amura menaruh tubuh Yuki secara berlahan di tempat yang lebih baik dan aman.


Amura kini berjalan menuju kearah Bercak darah yang telah membeku itu dan mengambil peluit yang tergeletak ditanah dalam keadaan setengah membeku.


*Pritttt....


Peluit itu ditiup oleh Amura dengan sangat keras dan bahkan hampir seisi hutan yang jaraknya sampai 15 kilometer mendengar bunyi peluit itu.


Beberapa saat menunggu dan Amura didatangi Ratusan Monster tier C-B.


"Mode Gluttony" ucap Amura dengan nada dingin dan ekspresi dingin serta mata gelap tanpa cahaya.


...< Mode Gluttony Aktif >...


...< Masa Waktu 15 Menit >...


Rambut Amura kini berubah menjadi berwarna Putih pekat dan aura Amura jadi lebih mengerikan.


"Pedang Kegelapan 5×" katana Amura diselimuti aura gelap yang sangat pekat membara seakan akan kegelapan itu adalah Api.


*Whuss...


Amura melesat dengan kecepatan 50 m/detik dan menebas 3 monster didalam jangkauannya.


*Crakk...


Ketiga monster itu terbelah menjadi beberapa bagian dan kini Amura terus terusan membunuh para Monster yang mendekati nya tanpa Ampun.


...[ Level up!! ]...


...[ Level up!! ]...


'Kenapa Aku semarah ini?'


*Swing...


*Crakk...


'Kemana diriku yang dingin itu? kenapa aku melakukan ini kepada seseorang yang baru kutemui tidak sampai 3 hari?'


Walaupun berfikir seperti itu Amura terus-terusan menebas para Monster yang mendekatinya.


*Jlebb...


Salah satu anak panah dari monster peringkat B mengenai pundak Amura dan menembus pundak miliknya.


Peduli setan dengan berteriak kesakitan, Amura malah tidak merasakan rasa sakit apapun dan melanjutkan serangan miliknya terus-terusan.


...[ Level up!! ]...


...[ Level up!! ]...


"Hyaa~... MON-MONSTER..." teriak salah satu monster yang melawan Amura dengan ekspresi ketakutan.


*Swingg...


*Crackk..


Tubuh monster itu terbelah menjadi dua dan Amura menatap dingin rombongan monster yang mendekati nya.


"He~... Bahkan aku disebut monster oleh seorang Monster" ucap Amura dengan ekspresi dingin.


Kini Amura lanjut menyerang ratusan Monster yang sedang berhadapan dengannya sendirian tanpa bantuan apapun.


Bahkan Slayer rank A saja tidak akan bisa melakukan hal ini.


...< Durasi Dari Mode Gluttony telah Berakhir >...


...[ Level up!! ]...


...[ Level up!! ]...


Kini Hamparan Es itu tertutup cairan berwarna merah yang merupakan darah dari para Monster.


Amura berdiri ditumpukan mayat monster yang menggunung sambil memegang katana berwarna merah darah dan terlihat tatapan kehampaan dimatanya.


...[ Level up!! ]...


...[ Level up!! ]...


...< Anda Telah Mencapai Level 23 >...


"Gluttony" dengan cepat seluruh bayangan Monster disana terhisap kedalam bayangan miliknya.


Amura menyerap Ratusan Monster dengan Rank C dan puluhan Monster rank B.


...[ Level up!! ]...


...[ Level up!! ]...


...[ Level up!! ]...


...< Anda Telah Mencapai Level 26 >...


...[ HP : 93.000/93.000 ]...


...[ Mana : 120.000/120.000 ]...


...[ Mendapatkan 340.000 Poin ]...


...[ Medapatkan Skill ]...


...[ Manipulasi Bayangan (C+) Aktif ]...


...[ Ekstraksi Bayangan (B-) Aktif ]...


...[ Skill Meningkat ]...


...[ Pedang Kegelapan (B--) ]...


Amura cuma terdiam dan mengabaikan semua pemberitahuan itu.


Ia cuma bisa berjalan kearah Yuki yang saat ini dalam keadaan yang sangat parah.


Kulit putih cerah Yuki berubah menjadi Putih pucat dan Kini Yuki telah Menutup Matanya.


"....Yuki...." ucap Amura dengan ekspresi sedih.


Amura menggenggam tangan Yuki yang dingin itu dan berkata.


"...Kumohon, bangunlah.. tersenyumlah kembali kepadaku.... kumohon" ucap Amura.


Hati Amura benar-benar hancur untuk pertama kalinya.


Kenapa Ia bisa merasakan kesedihan seperti ini kepada seseorang yang bahkan tidak terlalu ia kenali? Kenapa? Kenapa??....


Tubuh Yuki tidak merespon apapun dan cuma terdiam seperti orang yang telah....


Amura cuma bisa merasakan satu hal dihatiya..... Hampa? Yah itulah perasaan yang dirasakan Amura saat ini.


Dia sudah tidak lagi sedih.


Dia sudah tidak lagi marah.


Dia saat ini cuma merasakan kehampaan yang sangat dalam di hatinya.


...[ .... ]...


Amu yang melihat hal itu tidak bisa berkata apa apa.... pada akhirnya, amura benar-benar kehilangan sifat kemanusiaan yang ia miliki dan kini ia cuma keberadaan yang sama seperti Iblis.


Amura menggendong tubuh Yuki yang telah berhenti hidup itu dan berkata.


"Yuki...."


"Aku akan selalu bersama mu..." ucapnya dengan senyuman hampa.


...( End )...


......................


......................


......................


......................


......................


......................


......................


......................


......................


......................


......................


...(🗿)...


...( Jeng-jeng, gimana cuy.. B aja kan😢 )...


...( Jan lupa Like🗿 )...

__ADS_1


...( Santai wae, bakalan lanjut kok.... Mungkin🗿 )...


__ADS_2