Change Destiny Of Worst And Cursed World

Change Destiny Of Worst And Cursed World
22.Risa Yuna


__ADS_3

...-( Author Pov )-...


"Jadi, siapa kau" tanya Benjamin ke arah Amura..


Tubuh Amura sedikit gemetar tapi gemetaran tubuhnya langsung hilang saat Amura menguatkan tekatnya.


'Apakah aku akan mati saat ini?' pikir Amura dengan keringat dingin diwajahnya.


"Kenapa cuma diam saja" lanjut Benjamin dengan tatapan dingin.


"Saya Amura, teman Yuna..." jawab Amura dengan tenang.


"...."


Benjamin cuma diam saat mendengar perkataan Amura.


"Maaf paman apakah aku boleh masuk untuk melihat keadaan Yuki?" tanya Reina.


"Masuklah...." balas Benjamin dengan singkat.


"Terimakasih" lanjut Reina dan kini ia memasuki Ruangan itu.


Amura masih diam di tempat dan ingin meminta izin untuk masuk juga.


"Kalau begitu saya ju-..."


Perkataan Amura dipotong oleh Benjamin.


"Kau disini saja dulu" lanjut Benjamin.


"Baiklah" jawab Amura dengan singkat.


Amura kini ikut berdiri di sisi lain pintu.


"...."


"..."


Tidak ada percakapan diantara mereka berdua dan suasana diantara mereka sangat canggung.


"Apa kau tau kenapa keadaan Yuki bisa begini" tanya Benjamin.


"Itu kesalahan saya..." jawab Amura.


"Maksudmu..."


"Kalau saja saya tidak ragu dalam menggunakan skill saya, keadaan Yuna pasti tidak akan seperti ini..." lanjut Amura.


"...."


Benjamin cuma diam saat mendengar perkataan Amura.


Kini suasana diantara mereka kembali menjadi sunyi dan canggung.


Keadaan diantara mereka sangat mencekam seakan-akan Benjamin ingin membunuh Amura dalam sekejap.


'....Aku ketakutan?' pikir Amura dengan keringat dingin diwajahnya.


Kini Reina memasuki ruangan Yuki dan terlihat seorang wanita berambut putih yang sedang menggenggam tangan Yuki.


"...Saki-san" ucap Reina dengan tatapan khawatir.


"Rei-chan...." balas Saki dengan tatapan sayu dan ekspresi sedih.


"....Bagaimana keadaan Yuki?..." tanya Reina dengan berat hati.


"....."


Saki cuma menggelengkan kepala untuk menjawab pertanyaan Reina.


"....Begitu yah..." lanjut Reina.


Kini Reina duduk di samping Saki.


Waktu duduk disamping Saki, Reina menyentuh dahi Yuki.


"Syukurlah...." ucap Reina dengan ekspresi sedikit lega.


"Hangat...." lanjutnya dengan mata berkaca-kaca.


Yuki yang merasakan dahinya disentuh langsung membuka matanya dengan perlahan.


"Yuki..." ucap Reina dengan kaget.


Saki yang mendengar perkataan Reina langsung menatap Wajah Yuki.


"Yuki... bagaimana keadaan mu?..." tanya Saki.


"...."


Yuki cuma menggelengkan kepala untuk menjawab pertanyaan Saki.


"Begitu yah...."


"Kenapa....keadaanmu bisa seperti ini..." lanjut Saki dengan ekspresi sedih.


"...."


Yuku cuma terdiam saat mendengar perkataan Saki.


'.....Maafkan aku..., Aku... cuma bisa memerankan peran Yuki...' pikir Yuki.


Yuki kini tersenyum lembut dan memegang tangan Saki dengan perlahan.


"Yuki...."


Kini Saki menggenggam erat telapak tangan Yuki.


"Maafkan Mama...." ucap Saki.


"....." Yuki cuma memiringkan kepala karena bingung akak perkataan Saki.


'Kenapa anda merasa bersalah?'


"Yuki... apakah kau marah kepada Mama?" tanya Saki.


"Hm?..."


'Marah? kenapa?'


"Apakah Mama berbuat salah? Dari tadi Yuki diam saja saat ditanya..." lanjut Saki dengan ekspresi khawatir.


Yuki yang mendengar itu cuma menggelengkan kepala kepada Saki.


"Jadi bukan? terus kenapa?"


"Jangan bilang...kau tidak bisa berbicara?"


"...."


Yuki mengangguk kan kepala dan tersenyum kepada Saki.


Saki melebarkan mata miliknya dan kini ia menatap Yuki dengan tatapan khawatir.


Begitu juga Reina, Reina sangat kaget akan perkataan Yuki dan merasa khawatir kepada Yuki.


Reina melihat kearah pintu sedangkan Saki masih berfokus ke arah Yuki, dan tidak mempedulikan orang yang memasuki ruangan itu.


Pintu Ruangan itu terbuka dan terlihat dua Pria yang memasuki ruangan itu.


Pria yang satu memiliki rambut berwarna hitam keunguan dan wajah yang sangat tampan, Pria itu adalah Benjamin.


Pria satunya memiliki Visual yang tidak kalah dari Benjamin, yah itu adalah Amura.


Benjamin memasuki ruangan itu duluan dan diikuti oleh Amura dibelakangnya.


"....Bagaimana keadaan Yuki" tanya Benjamin kepada Saki.


Saki cuma menggelengkan kepala untuk menjawab pertanyaan Benjamin.


"Begitu yah...."


Kini Benjamin menatap wajah Yuki, di wajah Yuki terpasang senyuman lembut yang tertuju kearahnya.


Benjamin mendekati Yuki dan kini ia duduk di samping Saki.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Benjamin kepada Yuki.


Ekspresi Benjamin tidak terlalu berubah, ekspresi miliknya datar seakan-akan tidak peduli kepada Yuki.


Tapi sebenarnya Benjamin sangat amat menghawatirkan Yuki.... Benjamin tidak tau ekspresi seperti apa yang harus ia keluarkan kepada Yuki.


Karena itu ia memasang ekspresi biasa yang ia miliki.


"...."


Yuki membalas pertanyaan itu dengan menggelengkan kepala.


"....."


Benjamin terdiam saat melihat jawaban Yuki.


Ia berfikir apakah Yuki membencinya? Marah kepadanya? atau apa? Ia bingung....


Yuki tidak menjawab pertanyaan Benjamin dengan ucapan tapi cuma dengan gelengan kepala.


Hal itulah yang membuat Benjamin was-was walaupun ekspresi yang ia miliki tidak berubah sama sekali.


"Yuki tidak bisa bebicara..." ucap Saki.


Benjamin yang mendengar hal itu terkejut dan mulai memandang wajah Saki.


"Tidak bisa bebicara?... Kenapa keadaannya bisa sampai seperti ini?" lanjut Benjamin.


Kini Benjamin menatap Amura dengan tatapan dingin.


"Bisakah kau menjelaskan masalah ini kepadaku bocah" lanjutnya.


"Bocah?" ucap Saki dengan ekspresi penasaran.


Saki menatap kearah yang dituju oleh Benjamin dan terlihat seorang Pria berambut Hitam dengan wajah yang sangat tampan.


Saki tidak terlalu mempedulikan wajah tampan Amura karena ia sudah memiliki suami tertampan didunia.


"Siapa Yah?..." tanya Saki kepada Amura.


"Teman Yuki" ucap Benjamin dengan singkat.


"....Nama?" lanjut Saki.


"Yuu Hinamura, anda bisa memanggil saya Amura" jawab Amura.


"Kembali ke pertanyaan ku, jelaskan apa yang terjadi kepada Yuki sampai-sampai keadaan nya jadi seperti ini" ucap Benjamin.


"......"


"Kami disuruh memburu monster di hutan untuk mendapatkan poin"


"Dalam perjalanan kesana, kami dibantu oleh Slayer rank B"


"Slayer itu menjebak kami dan membuat para monster menyerang kami"


"Yuki menggunakan skill miliknya untuk membunuh para monster itu"


Amura menjelaskan kejadian dan juga hal yang menimpa mereka.


"Ja-jadi, Alasan kenapa area hutan itu membeku karena Yuki?" ucap Reina dengan ekspresi terkejut.


"Dan juga semua monster yang ada disana itu dibunuh Yuki" lanjut Reina.


"Untuk alasan kenapa Hutannya bisa beku adalah karena Yuki tapi...." balas Amura.


"Yang membunuh para monster sampai menggunung itu adalah...aku" lanjutnya.


"Jadi kau membiarkan Yuki menggunakan skill miliknya, padahal kau bisa mengalahkan mereka sendirian" ucap Benjamin dengan aura membunuh dan tatapan dingin.


"Itu...." balas Amura.


"Yah, itu adalah salah saya karena ragu-ragu" lanjut Amura dengan ekspresi menyesal.


Benjamin marah besar tapi kemarahan itu mereda saat Yuki menyentuh telapak tangan Benjamin.


Yuki menatap Benjamin dengan tatapan memohon.


'Ini bukan kesalahan Amura-kun...' pikir Yuki.


Yuki menatap mata Benjamin dengan tatapan memohon untuk tidak marah kepada Amura.


"Kau ingin aku memaafkan bocah ini?" ucap Benjamin.


Yuki menganggukkan kepala untuk menjawab itu.


".....Baiklah" lanjutnya.


Kini Yuki menatap wajah Amura dan ia tersenyum lembut kepadanya.


"!!!!"


Amura cuma bisa terkejut karena senyuman Yuki dan perasaan Amura kini menjadi lebih baik.


Yuki menatap Amura seakan-akan ingin Amura mendekati nya.


"Kau ingin aku mendekati mu?" tanya Amura.


"...."


Yuki menganggukkan kepala untuk membalas pertanyaan Amura.


Kini Amura berjalan mendekati Yuki dan berdiri di samping Kasur Yuki.


"Ada apa?" tanya Amura.


"...."


'Menunduklah sebentar...' pikir Yuki.

__ADS_1


"Kau ingin aku menunduk?" lanjut Amura.


'Eh, bisa ngerti? kok bisa...' pikir Yuki dengan bingung.


"...." Yuki mengangguk untuk menanggapi pertanyaan Amura.


Kini Amura menundukkan kepalanya dan berkata.


"Apa kau ingin aku meminta maaf?"


"...." Yuki menggelengkan kepala.


"Bukan? terus apa?"


Kini Yuki menggerakkan tangan miliknya dan menyentuh kepala Amura.


"??!!!"


Amura sedikit kaget dengan apa yang dilakukan Yuki.


Yuki mengelus kepala Amura dengan lembut dan tersenyum manis.


Wajah Amura sedikit memerah karena hal yang dilakukan Yuki.


"E-eh?!!!" Reina yang melihat itu cuma bisa terkejut akan hal yang terjadi.


Bukan cuma Reina bahkan Saki dan Benjamin yang melihat hal itu saja terkejut.


"Ah..." ucap Yuki.


Yuki sadar bahwa ada orang lain yang melihat mereka dan wajah Yuki langsung memerah.


Yuki menghentikan elusan rambut itu dan menutup wajah miliknya untuk menyembunyikan ekspresi miliknya.


'Ada apa dengan diriku....kenapa aku melakukan hal yang memalukan seperti itu...' pikir Yuki sambil menutupi wajahnya yang memerah.


"A-anu~, hubungan kalian itu seperti apa yah" tanya Saki.


"Cuma teman..." jawab Amura dengan ekspresi biasa yang ia miliki.


Walaupun Amura telah mengubah ekspresi miliknya tapi hati milik Amura kini terasa hangat karena perlakukan Yuki.


"Ho~, cuma teman yah" ucap Saki sambil memandang Yuki.


Ekspresi Yuki semakin memerah saat ditatap oleh Saki.


"....." Reina cuma bisa bengong saat melihat tingkah laku mereka.


Benjamin yang melihat hal itu langsung mengeluarkan aura membunuh yang diarahkan ke Amura.


"....." Amura sedikit tertekan oleh Aura yang dikeluarkan Benjamin dan keringat dingin membasahi tubuhnya.


'Sumpah dah, apakah aku akan mati?' pikir Amura dengan pasrah.


Beberapa saat berlalu...


Benjamin dan Saki dijelaskan oleh dokter tentang bagaimana keadaan Yuki.


Setelah mereka tau keadaannya mereka langsung membeli kursi roda dengan harga termahal serta terbagus untuk digunakan Yuki.


Pada malam harinya Yuki dibawah pulang oleh Benjamin dengan mobil miliknya.


Yuki diberikan berbagai obat yang diciptakan Saki dengan kualitas paling baik yang pernah ada.


Keadaan Yuki semakin membaik tapi tidak sebaik seperti waktu ia tidak menggunakan kekuatan miliknya.


Hubungan Yuki dan Iris pun berkembang dan Yuki tidak terlalu formal lagi kepada Iris tapi ia tetap menghormati Iris sebagai penyelamatan nya.


Tanpa disangka 2 hari telah berlalu, Yuki kini bisa menggerakkan tangan miliknya dengan normal serta Suara Yuki kini telah kembali seperti semula.


Walaupun begitu keadaan kaki Yuki tidak membaik sama sekali dan ia masih menggunakan kursi roda untuk berjalan.


Pagi Hari, Dirumah Yuki...


Yuki terbangun dari tidurnya dalam keadaan lemas.


"Hoam~....."


Yuki menguap seakan-akan keadaannya tidak menjadi masalah baginya.


"Pagi Iris..." sapa Yuki kepada Iris...


...< Pagi Yuki >...


"Ah...Aku bisa berbicara lagi...dan tanganku bisa digerakkan juga"


"...."


"Aku sudah bisa berbicara dan menggerakkan tanganku dengan normal, tapi...."


Yuki kini melihat kaki miliknya.


"Kakiku masih belum bisa digerakkan...."


"Iris, apakah kau tau berapa lama lagi kakiku bisa pulih?"


...< Hm~, mungkin sekitar 6 bulan lebih lagi? >...


"Waktunya mepet sekali yah..."


"6 bulan lagi akan terjadi invasi para iblis, dan seharusnya aku melatih diriku agar lebih kuat..."


"Tapi kakiku malah tidak bisa digunakan..."


...< Ma~Ma~, jangan terlalu dipikirkan >...


...< Kau bisa menjadi lebih kuat tanpa harus membunuh monster kok >...


"Eh, bagaimana caranya?"


...< Apa kau lupa aku telah mengambil alih sistem yang kau miliki >...


...< Jadi saat ini aku bisa memberimu Quest dan juga Poin ataupun Item sebagai hadiah >...


"Aku juga tau itu, tapi apakah aku bisa terbiasa dengan kaki yang tidak digerakkan selama 6 bulan?"


"Walaupun aku bisa menjadi kuat dengan skill yang kumiliki, tapi gerakan yang bisa ku keluarkan akan terbatas"


...< Kalau itu jangan khawatir >...


...< Kau bisa menggunakan dimensi yang kumiliki untuk latihan >...


"Dimensi? jangan bilang... dunia dengan kegelapan yang dulu? "


...< Bukan kegelapan tapi Kehampaan >...


"Bukannya sama yah?"


...< Beda, walaupun konsepnya sama tapi jelas beda >...


"Um, baiklah"


"Jadi kenapa saya harus latihan disana?"


...< Di dimensi yang kumiliki kau bisa bejalan dengan bebas, dan waktu di dimensi ku juga terhenti >...


"Ah, begitu yah... sekaligus bisa menjadi rehabilitasi untuk kakiku, supaya aku tidak lupa caranya berjalan..."


...< Fufufu, begitu lah >...


Yuki kini tersenyum lembut dan berkata.


"Terima kasih Iris, aku menyayangimu"


...< Ugh, senyuman itu... >...


...< Kau mengunakan senyuman itu untuk memeras ku yah dasar licik >...


"Memeras? aku serius kok, aku berterimakasih kepadamu..."


...< Ba-baiklah...dan juga kuterima, Terima kasihmu... >...


...< Ingat, Aku tidak akan memberimu apapun walaupun kau tersenyum seperti itu kepadaku >...


"Hm?... Baiklah, lagipula saya sudah sangat bahagia karena sudah anda selamat kan..."


"Kalau begitu aku akan makan dulu..."


"Um~..."


...< Ada apa Yuki? >...


"Tidak... tidak ada apa-apa..."


...< Hm? >...


Yuki mengambil ponsel miliknya dan menelepon Saki.


*Dug...


*Dug...


*Dug...


*Brakk...


Terdengar suara orang lari dan tiba-tiba pintu terbuka dengan keras.


"Yuki kau sudah bagun..." tanya Saki yang telah memasuki kamar Yuki sambil membawa spatula.


"Mama..." ucap Yuki dengan ekspresi kaget.


*Clank...


Spatula ditangan Saki langsung terjatuh saat Saki mendengar suara Yuki.


"Yuki....Yuki..." ucap Saki dengan mata berkaca-kaca.


"Yuki....Sudah....bisa... bicara... hiks...."


"Ah, Ma-Mama..ja-jangan menangis" ucap Yuki.


"Hwaaa~, Yukiiii~..."


Kini Saki melompat kearah Yuki dan memeluk Yuki dengan lembut.


Yuki terkejut akan pelukan Saki dan ia membalas kembali pelukan Saki.


'Hangat....Aku suka perasaan ini...' pikir Yuki.


*Grukk...


Perut Yuki berbunyi dan seketika wajah Yuki memerah.


"Ara-ara, Apakah Yuki lapar?"


"Hm...." Yuki membalasnya dengan anggukan disertai wajah memerah.


"Yosh, sudah Mama buatkan makanan kesukaan Yuki... jadi ayo kita kebawah" ucap Saki.


"Anu...Mama, aku masih belum bisa berjalan" lanjut Yuki.


".....Begitu yah, tidak apa-apa asalkan Yuki sudah baikkan"


"Mama akan membantu Yuki untuk naik ke kursi roda yah..." lanjut Saki dengan senyuman lembut diwajahnya.


Yuki tersenyum hangat dan menyetujui itu.


Yuki dibantu Saki untuk menempatkan tubuhnya di atas kursi roda, dan mereka menuju ke lantai satu.


Kursi roda Yuki merupakan item yang dikembangkan sebuah perusahaan dengan menggunakan bagian tubuh monster.


Jadi karena itu kursi roda yang dinaiki Yuki bisa tahan guncangan atau bahkan serangan.


Sesampainya di ruang makan, Yuki melihat ayahnya sedang menunggu di meja makan.


"Selamat Pagi....Papa" ucap Yuki dengan senyuman diwajahnya.


"....." Benjamin terkejut karena Yuki bisa berbicara dan ia pun membalas sapaan Yuki.


"Pagi, Yuki" balas Benjamin dengan senyuman tipis.


"Keadaan mu sudah lebih baik?" lanjutnya.


"Iya, keadaan tubuh saya sudah lebih baik kan dari pada kemarin" jawab Yuki.


"Tapi..... sepertinya kaki saya masih belum baikkan"


".....Begitu yah" lanjut Benjamin dengan tatapan khawatir.


"Tidak apa-apa kok.... lagipula ini efek samping dari skill yang saya gunakan" balas Yuki.


"Sudahi percakapan nya, bukankah kau lapar Yuki" ucap Saki.


"Ah, baiklah....Mama" lanjut Yuki.


Kini Yuki diarahkan ke meja makan dan melihat makanan yang ada didepannya.



Yah, Ramen... Ramen adalah makan favorit Yuki saat ia masih hidup, karena Ramen adalah makanan pertama Yuki yang bisa ia rasakan.


Bukan cuma Yuki, Risa juga menyukai Ramen, entah kenapa ia merasa seperti itu padahal ia belum pernah memakan Ramen.


"Uwah...Ramen" ucap Yuki dengan mata bersinar-bersinar.


"Walaupun tidak seenak buatanmu, tapi Ramen ini kubuat dengan segenap hati" ucap Saki sambil tersenyum hangat.


"Apakah saya boleh memakannya?" tanya Yuki.


"Hm? langsung kau makan juga boleh kok" jawab Saki.


"Selamat Makan..." ucap Yuki.


Kini Yuki memakan Ramen itu dan merasakan rasa yang luar biasa merangsang lidahnya.

__ADS_1


"Enak...." lanjut Yuki dengan ekspresi puas.


"Syukurlah, sepertinya rasanya cocok di lidahmu" ucap Saki.


Kini mereka semua memakan ramennya masing-masing, dan saat Ramen Yuki telah habis Yuki diajak bicara oleh Iris.


...< Yuki, tanyakan Kakakmu kepada orang tuamu >...


'Hm? Tiba-tiba?'


...< Sudahlah, lakukan saja >...


'Kalau begitu apa yang harus kuucapkan?'


...< Ugh....jadi aku harus menyebut mereka Mama dan Papa >...


'Hm?'


...< Hah~ >...


...< Ikuti Perkataanku >...


...< Mama, Papa apakah aku punya Kakak >...


'Baiklah...'


"Anu..."


"Hm? ada apa Yuki?" balas Saki.


Benjamin cuma menatap Yuki dan menyimak perkataan nya.


"Apakah saya punya Kakak?"


Saki dan Benjamin melebarkan mata mereka saat mendengar perkataan Yuki.


"Yuki....Apakah ingatanmu telah kembali?" ucap Saki dengan khawatir.


...< Ikuti perkataan mulai dari sekarang >...


"Ingatan....apa yang Mama maksud?"


...< Ingatan?Apa yang mama maksud? >...


...< Woyy, jangan dijawab sendiri >...


...< Ikuti perkataan ku >...


'Ah, baiklah-baiklah' pikir Yuki.


"Eh, kalau begitu kenapa kau bertanya begitu" lanjut Saki.


...< Entah kenapa aku bermimpi tentang seorang gadis dengan warna rambut seperti punya Papa >...


"Entah kenapa, Saya bermimpi tentang seorang gadis yang mirip dengan Papa"


"...."


"...."


Saki dan Benjamin terdiam karena perkataan Yuki.


"Apakah sudah saatnya?" ucap Benjamin.


"Iya....sepertinya kita tidak bisa menutupinya lagi" jawab Saki.


"Hm?..." Yuki cuma memiringkan kepala karena bingung dengan percakapan mereka.


"Yuki....Kau sebenarnya punya kakak..." ucap Saki dengan ekspresi khawatir.


"Ka...Kak?" balas Yuki dengan ekspresi terkejut.


'Yuki punya kakak? tapi kenapa ia tidak pernah membahasnya?...'


"Pasti kau tidak mengingatnya, ingatanmu hilang saat kakakmu....mati..." lanjut Saki dengan berat hati.


"Ma....ti...."


Ekspresi Yuki langsung berubah... ekspresi yang ia miliki tidak bisa digambarkan dengan kata-kata, entah dia itu marah, sedih, bingung, atau apapun itu.


Begitu juga dengan ekspresi Saki, wajah Saki menjadi pucat seakan-akan ia mengingat trauma yang ia miliki.


Benjamin memeluk Saki dan menenangkan nya.


"Maaf Yuki, akan ku jelas kan lebih lanjut..." ucap Benjamin.


"Kau memiliki kakak yang umurnya 3 tahun lebih tua dari mu"


"Tapi saat ulang tahunmu yang kelima...."


"Kakakmu mati karena kecelakaan dan itu membuatmu syok, ingatan yang kau miliki menjadi hilang karena saking syoknya dirimu"


Benjamin menjelaskan kepada Yuki dengan tidak terlalu jelas, walaupun begitu hal tersebut membuat Yuki terdiam.


"Jadi....Begitu yah...." jawab Yuki dengan tatapan kosong.


"Maaf...saya mengingat kan kalian sebuah kenangan buruk..." lanjut Yuki.


"Tidak apa-apa....lagipula ini adalah hal yang seharusnya terjadi" ucap Benjamin.


"Kami yakin ingatanmu perlahan pasti akan kembali..." lanjutnya.


'Maaf Yuki, Ayah berbohong....Mana mungkin Ayah berkata bahwa Kakakmu dibawa oleh Iblis demi menyelamatkan mu...'


'Ayah tidak ingin kenangan buruk itu kembali ke ingatan mu...'


".....Kalau begitu....siapa nama kakak saya?..." tanya Yuki.


"....." Benjamin terdiam karena perasaan sedih menyelimuti hatinya.


"....Risa Yuna..." jawab Benjamin.


Mata Yuki langsung melebar saat mendengar perkataan Benjamin.


"Ri-sa?...."


'Namaku.... apakah Yuki mengingat nama kakaknya? dan kenapa nama ini sama seperti nama yang diberikan Yuki kepada ku?'


'Pada saat Yuki memberikan ku nama ini aku juga terkejut karena suatu hal....Tapi apa Yah? Hal apa itu? Kenapa aku dulu merasa terkejut saat mendengar nama ini....'


'Aku bingung....'


...< Hah, Mereka Berbohong yah >...


...< Mau bagaimana pun, Ingatan milik Yuki tersegel >...


...< Ingatan Risa juga... >...


Ucap Iris yang mana ucapan itu tidak bisa didengar oleh Yuki.


'Kenapa Yuki menamai ku Risa? apakah itu cuma kebetulan? yah pasti semua ini hanya kebetulan...'


'Mana mungkin Yuki menamai ku karena hal tersebut kan?....'


"....."


Yuki cuma terdiam saat mendengar fakta tersebut.


"Maafkan aku telah merahasiakan hal ini darimu..." ucap Benjamin.


"....Tidak, lagipula ini juga demi kebaikan Saya..." balas Yuki dengan senyuman canggung.


Kini ruangan itu jadi canggung.


Risa memikirkan tentang nama itu dan ia mulai bingung akan hal tersebut.


Benjamin merasa bersalah karena telah membohongi Yuki.


Dan Saki mengingat anak pertama yang ia miliki, hal itu membuat hatinya sangat sakit...


Kini perlahan mereka kembali membaik dan memutuskan untuk melanjutkan kegiatan yang mereka miliki.


Saki memutuskan untuk mandi bersama Yuki karena Yuki masih belum bisa berjalan dengan normal.


Sedangkan Benjamin pergi keluar rumah untuk melakukan sesuatu.


Benjamin keluar rumah dan menuju kesuatu tempat....


Terlihat sebuah tempat dengan banyak sekali kuburan dan Benjamin berdiri di depan salah satu kuburan.


Nisan dikuburkan itu tertulis nama "Risa Yuna"


"Ini hanyalah kuburan kosong...." ucap Benjamin sambil memandang kuburan itu.


"Walaupun Yuki mengingat kembali ingatan itu, paling tidak ia sudah tidak bisa membalaskan dendam Kakaknya...."


"Bagaimana iblis yang telah membawa Risa telah kubunuh, tapi.....Risa kau ada dimana..." ucap Benjamin dengan sedih.


"Sistem, apakah Risa masih hidup?" lanjutnya.


...[ Maaf Master....Keadaan Anak anda tidak bisa saya ketahui... ]...


...[ Maafkan Saya, waktu anda bertanya seperti itu saya selalu saja tidak bisa menjawab hal itu... ]...


...[ Tapi paling tidak saya bisa mengatakan bahwa Anak anda masih hidup... ]...


"....."


"Apakah ada skill yang bisa mengetahui keberadaan seseorang?"


...[ .... ]...


...[ Maaf, skill seperti itu hanya berada di elemen Cahaya ]...


"Hah....Tidak peduli sebanyak apa Poin yang ku kumpulan, aku tidak akan pernah bisa menghidupkan orang yang telah Mati"


...[ Skill seperti itu ada di shop tapi... ]....


"Cuma bisa digunakan sekali dan harus ada mayat dari orang yang ingin dihidupkan.... jelas itu mustahil"


"Aku pernah menemui Slayer rank S peringkat ke 2 didunia, yang memiliki atribut cahaya untuk mencari Risa... tapi...."


"Ia yang disebut Malaikat Cahaya saja tidak bisa menemukan jejak Risa dimanapun..."


"......Aku menyesal karena tidak menjadi lebih kuat sebelum kejadian itu..."


"Yang ku bisa cuma berdoa... maafkan Ayahmu ini karena tidak bisa menyelamatkan mu..."


"Ayah menyayangimu Risa...." ucap Benjamin dengan tatapan penuh penyesalan.


...


..


.


Terlihat sebuah kastil yang sangat besar tapi juga sangat mengerikan.


Banyak iblis yang berada diluar kastil itu dan didalam kastil itu, tepatnya di sebuah ruangan terdapat seorang Wanita dengan rambut berwarna hitam keunguan disertai bola mata berwarna ungu.


Wanita itu memiliki paras yang sangat cantik dan anggun, walaupun begitu aura negatif yang dimiliki wanita itu sangatlah kuat.


Wanita itu duduk di sebuah singgahsana dengan struktur penuh tulang, entah itu tulang manusia, iblis dan monster.


"kadidat yang memegang skill Gluttony telah dibunuh" ucap Wanita itu dengan nada dingin.


"Dulu Wrath dan sekarang Gluttony"


"Anehnya saat mereka terbunuh, skill mereka tidak kembali untuk memilih iblis lain sebagai kadidat...."


"Sebenarnya apa yang telah terjadi?...." tanyanya dengan tatapan dingin.


"Apakah aku harus menginvasi Bumi saat ini juga?.... Tidak....entah kenapa aku merasa bahwa saat ini adalah saat yang tidak tepat"


"Sistem"


...[ Iya Master ]...


"Yah... dengan bantuan sistem aku pasti bisa membunuh semua manusia yang ada didunia"


"Aku hanya perlu bersabar"


...[ .... ]...


......................


...-Author Info-...


...7 Deadly Sins/7 Dosa Besar...


...Tujuh Dosa besar adalah julukan dari 7 Komandan pasukan Iblis....


...7 Dosa Besar dijelaskan atau disebutkan mulai dari :...


...Pride [ Kesombongan ]...


...Greed [ Keserakahan ]...


...Wrath [ Kemurkaan ]...


...Envy [ Iri Hati ]...


...Lust [ Nafsu ]...


...Gluttony [ Kerakusan ]...


...Sloth [ Kemalasan ]...


...Dan sifat dari para iblis yang memiliki skill itu akan sama....


...Kalau iblis itu punya Skill Pride maka ia akan sombong dan begitu juga yang lainnya....


...Skill Seri 7 dosa besar memilih kadidatnya sendiri dan skill itu cuma ada satu didunia....


......................

__ADS_1


...( Thx cuy dah baca )...


...( Jan Lupa Like 🗿 )...


__ADS_2