
...-Bismilah gak ditolak!!!-...
Beberapa saat berlalu dan akhirnya Yuki serta Amura kini kembali ke rumah dan disambut oleh Benjamin.
"Selamat datang yuki..." ucap Benjamin.
"....." Yuki cuma diam saat mendengar sambutan Benjamin.
"Yu-Yuki....." lanjut Benjamin dengan resah.
"...."
"Yuki...."
"..."
"..."
"..."
Yuki diam seribu kata dan ia mengabaikan Benjamin.
"Amura kamu duduk saja dulu diruang tamu, aku akan mengambilkan perban untuk menutup lukamu" ucap Yuki kepada Amura.
"Baiklah, ingin ku antar?" balas Amura.
"Tidak apa-apa, aku bisa sendiri" lanjut Yuki dengan senyuman tipis.
Yuki menuju ke dapur untuk mengambil sebuah perban sedangkan Amura duduk di ruang tamu sambil dipelototi oleh Benjamin.
"Anu~....." ucap Amura dengan canggung.
"Ada apa" jawab Benjamin dengan sinis.
"Tolong jangan tatap saya dengan tatapan ingin membunuh seperti itu...."
"He~, memangnya ini salah siapa? Siapa yah, yang mencium anakku didepan mataku sendiri dengan mesum"
"Itu.........saya tidak bisa berkomentar...."
"Hah~......kalian sampai-sampai bisa berciuman seperti itu, memangnya sedekat apa hubungan kalian? dan juga ini pertama kalinya Yuki marah kepadaku....."
"Itu.....kami cuma teman"
'Aku tidak bisa bilang bahwa diriku ditolak dan cuma diangap teman saja.....'
"Ha? apakah memang benar begitu?...."
Benjamin semakin curiga kepada Amura karena perkataannya yang ragu-ragu tersebut.
"Saya tidak berbohong....."
"Hah~, baiklah.....asalkan ia bisa tersenyum seperti itu aku juga akan merasa bahagia...." lanjut Benjamin sambil menatap Yuki yang sedang mengambil sesuatu di laci dapur.
"....."
"Ah, dan juga kemana kakak Yuki? aku tidak melihatnya sama sekali...." tanya Amura.
"Saki, saki sedang pergi ke supermarket untuk membeli bahan makanan..." jawab Benjamin.
"Begitu yah, apakah ia tidak khawatir kepada Yuki?"
"Tidak, ia malah berkata bahwa Yuki akan baik-baik saja karena bersamamu"
"Eh, kenapa ia tau bahwa Yuki sedang bersama Saya?"
"Reina yang memberitahunya, dan juga Reina ikut Saki untuk membeli bahan masakan"
"Kiara juga sering kemari?"
"Hampir setiap hari ia berkunjung kesini"
"Begitu yah...."
"Lukamu itu..."
"Luka?"
"Maafkan aku, karena memberikan luka yang cukup mengerikan kepadamu"
"Ah, tidak apa-apa, lagipula karena luka ini juga saya bisa mendapatkan ciuman pertama Yuki"
"Kutarik kata kataku, seharusnya aku membunuhmu tadi"
"Saya mohon jangan lakukan itu....."
Kini Yuki mendekati mereka saat ia telah mengambil perban dan juga beberapa obat lainnya.
"Ini perban nya, Amura..." ucap Yuki.
"Ah, tolong ikatkan yah...." balas Amura.
Kini Amura membuka baju compang-camping yah ia kenakan dan terlihat tubuh kekar Amura.
*Brush...
Seketika wajah imut Yuki memerah dan Amura menyeringai melihat itu.
"Tolong oleskan salep itu kepungungku..."
"Ba-baiklah....."
Yuki mengambil salep yang ia ambil tadi dan Mengoleskan ke punggung Amura.
'Ja-jadi seperti ini yah punggung pria.....sangat keras dan lebar....' pikir Yuki.
"...." Benjamin benar-benar terdiam karena ia takut di omeli oleh Yuki.
"Sudah semua Amura...." ucap Yuki.
"Depan juga, aku minta tolong kepadamu...." ucapa Amura dan kini ia mengubah posisinya jadi berhadapan dengan Yuki.
"Dadaku tolong diolesi juga...."
"Ba-baiklah...."
Yuki menyentuh dada Amura dan ia mengoleskan salep tersebut dengan perlahan.
Wajah Yuki seketika memerah karena ditatap oleh Amura tepat didepannya sendiri.
"A-Amura, bisa tolong jangan tatap aku dengan tatapan seperti itu...." ucap Yuki dengan wajah merona.
"Hm? terus aku harus menatap kemana?"
"Um.....keatas?"
"Baiklah..."
Amura kini menatap keatas dengan ekspresi datar karena kecewa.
Beberapa saat berlalu dan akhirnya Yuki telah selesai mengoleskan salep ke seluruh bagian dada Amura.
"Yosh, sudah selesai, tinggal perban nya saja...." ucap Yuki.
"Aku sudah boleh menatapmu?"
"Ah, silahkan..."
Kini Amura menatap Yuki dengan tatapan cerah dan ia tersenyum lembut kearahnya.
"Apa-apaan senyuman itu" ucap Yuki.
"Bisa kau tebak?"
"Tidak, aku tidak tau dan tidak ingin tau, daripada itu aku akan memasang perbannya saat ini"
"Oke"
Yuki melilit perban ketubuh Amura dengan cepat sedangkan Amura cuma diam dengan ekspresi kaku.
"Baiklah, sudah selesai" ucap Yuki.
'Udah, gitu doang?...' pikir Amura dengan kecewa.
"Ada apa dengan ekspresi mu itu Amura? apa lukamu masih sakit?" tanya Yuki.
"Tidak, bukan apa-apa"
'Kukira kau akan meraba tubuhku saat mengikatkan perban....' pikir Amura dengan kecewa.
"Ayah, tolong pinjamkan Amura baju anda" pinta Yuki.
".....Baiklah...." balas Benjamin dan kini ia menuju kekamar nya.
Beberapa saat berlalu dan akhirnya Benjamin kembali ke lantai bawah dan memberikan baju kepada Amura.
Amura memakai baju tersebut dan menunggu Saki untuk kembali, dan beberapa saat berlalu, Saki serta Reina kini telah kembali.
__ADS_1
"Kami pulang...." ucap Saki.
"Permisi..." ucap Reina.
"Selamat datang..." jawab Yuki.
Saki beserta Reina kini memasuki rumah sambil membawa barang belanjaan.
"Eh, ada Amura toh..." lanjut Saki saat melihat Amura.
"Selamat malam..." balas Amura dengan tenang.
"Kenapa Amura ada disini?" tanya Reina.
"Oy, jangan bilang kau melupakan ku!!!!" teriak Yuki.
"Ah benar juga, aku meniggalkan Yuki bersama Amura yah...." lanjut Reina.
"Jadi kau benar-benar melupakan ku yah...." lanjut Yuki dengan kecewa.
"Tidak-tidak-tidak, aku cuma becanda.....maafkan aku Amura, aku malah meninggalkan Yuki bersamamu..."
"Tidak, tidak apa-apa dan jujur saja aku malah berterima kasih kepadamu........walaupun aku dihajar habis-habisan sih...."
"Dihajar?" tanya Saki dengan bingung.
Mereka mendekati Amura dan terkejut karena keadaan Amura.
"Kenapa tubuhmu penuh perban begitu Amura!!!!" panik Reina.
"Tidak, ini bukan apa-apa aku hanya Dihajar oleh Ayah yang Cemburu kepada Teman anaknya saja"
Saki yang mengerti perkataan Amura langsung menatap Benjamin dengan tatapan dingin.
'Apa yang kamu lakukan Benjamin sayang........' pikir Saki dengan senyuman dingin.
'.......Hah~, aku terus yang kena.....' pikir Benjamin.
Beberapa saat berlalu dan kini Yuki mandi disaat yang lainnya masih melakukan percakapan dan kegiatannya masing-masing.
Saki saat ini tengah mencuci sayuran serta daging di dapur sedangkan Amura, Benjamin dan Reina yang cuma numpang makan cuma bisa menunggu diruang tamu.
"......"
"...."
"..."
'Cangung!!!!' pikir Reina.
"Kau...."
"..." Amura menoleh kearah Benjamin dan ia menatap Benjamin.
"Sampai kapan kau ingin berada disini"
"Sampai Yuki mengusir saya"
'Beneran dah, apa harus kubunuh saja bocah ini?' pikir Benjamin dengan tatapan gelap.
'Aku yakin, ia pasti berfikir untuk membunuhku....' pikir Amura dengan tenang.
"....."
"...."
"..."
Suasana kembali menjadi canggung, tapi perasaan canggung itu cuma terasa bagi Reina saja.
'Yuki!!!!! kumohon cepatlah kemari!!!!' teriak Reina dalam hati.
"Hachuu...." Yuki yang tengah berendam air hangat seketika bersin karena suatu alasan.
"Are, apa aku demam yah?" ucapnya.
"Yasudahlah, lebih baik aku sudahi saja" lanjutnya.
"Um.....beneran? aku harus memanggil Mama untuk membantuku?...."
Kini Yuki menelepon Saki dan Saki membantu Yuki mulai dari beranjak dari bak mandi sampai ganti baju.
Setelah itu Yuki menuju ke dapur bersama Saki dan akhirnya mereka memasak masakan untuk mereka semua.
Beberapa menit kemudian......
Akhirnya mereka berdua selesai memasak dan mereka menyajikan masakan mereka kepada para manusia numpang makan yang ada diruang tamu yang kini tengah duduk di meja makan.
"Sate ayam dengan bumbu kacang sepesial ciptaanku, dan juga beberapa salad" balas Yuki dengan senyuman lembut.
"He~, aku baru tau ada makanan seperti ini" lanjut Amura.
Kini mereka memakan masakan Yuki dan akhirnya tersadar karena rasa dari masakan itu.
"Enak!!!!" ucap Reina dengan ekspresi kaget.
"Rasa ini....." ucap Benjamin dan kini ia tersenyum lembut.
'Enak, kalau aku menjadikan Yuki sabagai istriku ia pasti akan membuatkan ku masakan enak setiap hari!!!!!' pikir Amura karena hal tersebut adalah hal yang ia incar pertama kali dalam mencari pasangan.
Amura tidak mempedulikan tampilan seseorang untuk kadidat istri yang ia miliki dimasa depan.
Dan sejujurnya saja Amura lebih memilih Wanita yang bisa memasak daripada Wanita cantik.
Tapi di depannya saat ini ada keberadaan yang sangat sempurna dan melengkapi semua tipe wanita idaman Amura.
'Aku harus menaklukkan hati miliknya.....' lanjut Amura.
Kini mereka memakan masakan Yuki dengan lahap dan beberapa saat berlalu akhirnya mereka selesai makan.
"Terima kasih atas makanan nya...." ucap mereka semua.
Amura dan Reina memutuskan untuk mencuci piring karena mereka sadar bahwa mereka cuma numpang makan gratis saja.
Akhirnya setelah selesai mencuci piring Amura berniat untuk pulang dan kepulangan nya dia antar oleh Yuki.
Yuki mengantar Amura cuma sampai pintu depan saja dan Amura memutuskan untuk berpamitan dan langsung pulang begitu saja.
Sesampainya dirumah....
"Aku pulang..." ucap Amura.
"Em? ah, selamat datang kak, apakah kakak sudah makan, dan juga kenapa kakak pulang lama sekali!!!!!" teriak Amu.
"Maaf, aku sudah makan dirumah Yuki"
"Ah~, jadi begitu yah, Fufufu"
"Kakak seharian ini bersama kak Yuna yah, humuhumu...."
Amura memtusukan untuk menemani Amu makan makanan yang dibuat oleh Amu dan setelah itu ia langsung menuju ke kamarnya.
Amura membuka baju yang ia miliki dan melihat cermin yang ada di kamarnya tersebut sambil menyeringai.
"Benar-Benar parah yah, tapi aku senang karena Yuki peduli kepadaku" ucap Amura dengan tatapan Gelap.
Sebenarnya Amura bisa sembuh sendiri tanpa bantuan potion yang diberikan Yuki, tapi Amura sendiri memiliki sebuah rencana untuk menciptakan skenario seperti tadi.
Mulai dari Yuki yang mencium Amura sampai dengan Yuki yang peduli kepada Amura, semua itu telah ia rencanakan.
Amura kini menyentuh bibir miliknya dan berkata.
"Sensasi bibir yang lembut itu, aku ingin merasakan nya lagi...."
"Tidak untuk sekarang, aku akan menahan hasrat yang kumiliki agar tidak dibenci olehnya"
"Dan kalau dirinya sendiri mengizinkan hal tersebut kenapa juga aku harus menolak?"
"Aku akan senang hati untuk melakukan segala hal yang ia inginkan, tidak peduli apapun itu"
...[ Regenerasi Aktif ]...
Amura kini melepas perban yang mengikat tubuhnya dan terlihat tubuhnya yang mulus tanpa luka sama sekali seolah olah luka tadi hanyalah hiasan saja.
"Aku tidak sabar untuk bertemu denganmu lagi Yuki" ucapnya sambil menyimpan Perban yang ia lepas tadi.
Setelah menyimpan perban tersebut di laci miliknya ia memutuskan untuk tidur.
'Semoga hari besok bisa lebih indah daripada saat ini' pikir Amura dan kini ia menutup mata, Amura pun perlahan tertidur.
...[ Memasuki Mimpi Gluttony ]...
"Hm....."
__ADS_1
Amura sedikit membuka mata yang ia miliki dan ia merasakan ada seseorang yang menyentuh bagian bawah miliknya.
"Amu? ada apa?" tanya Amura dengan mata yang masih tertutup.
Celana Amura perlahan di lepas dan Amura serentak langsung bangun.
"Tunggu, apa yang kau lakukan Amu......Amu?"
Amura melihat sesosok gadis yang yang memiliki paras yang sangat cantik sedang memegang Pedang Excalibur Amura.
"Yuki...." lanjut Amura dengan ekspresi terkejut.
Penampilan Yuki benar-benar menggoda Amura karena Yuki saat ini telanjang total dan hal tersebut membuat Amura merasa panas.
"Selamat Pagi Amura" ucap Yuki.
Yuki memegang pedang Amura yang sedang mengeras itu dan ia menjilat pedang tersebut.
"Tunggu, apa yang kau lakukan" teriak Amura dengan panik.
"Srup...cup..."
Yuki mencium, menjilat, menghisap pedang Amura dan akhirnya ia mencium ujung pedang tersebut.
"Muah....ciuman kedua yang kumiliki telah diambil oleh benda milikmu, Amura-kun" ucap Yuki dengan ekspresi mesum.
'Aku tidak bisa menahan nya lagi....' pikir Amura.
"Amura, aku akan mencoba untuk melakukan hal tersebut dengan mulutku..."
Kini Yuki memasukan pedang besar, tebal, serta keras tersebut kemulut kecil yang ia miliki.
"Mwah.....Um...Srup...Ah....Haaa.....Um..."
Yuki menjilat ujung pedang itu dari dalam mulutnya dan akhirnya Amura sudah tidak tahan lagi.
"Yuki!!!!" ucap Amura dan kini ia menarik kepala Yuki untuk memasukannya lebih dalam lagi.
"Ugh!!!!!...." Yuki serentak mengeluarkan air mata karena merasakan tenggorokan yang ia miliki di tembus oleh Benda besar itu.
'Sesak!!! aku tidak bisa bernafas!!!' pikir Yuki dengan panik.
Bola mata Yuki seketika naik keatas dan ia mengeluarkan ekspresi mesum.
Yuki mencoba untuk mendorong Amura tapi hal tersebut tidak berpengaruh apapun, sedangkan Amura mengerakkan Benda miliknya dengan kasar dimulut Yuki.
"Hnpp....Ugh....." rintih Yuki.
'Sakit....Sesak....Aku tidak bisa bernafas......' pikir Yuki.
'Aku akan keluar' pikir Amura dan kini ia memuncratkan susu yang ia miliki di dalam tenggorokan Yuki.
'Panas!!!!! tenggorokan ku panas!!!' pikir Yuki dengan tangisan diwajahnya.
Amura perlahan mengeluarkan benda miliknya dari mulut Yuki.
"Ugh....Uhuk..Uhukkk....Ugh....Uhukk....Hah~...Hah~......Hah~......"
Yuki tidak perlu menelan susu tersebut karena susu tersebut telah keluar dari tenggorokan dan bisa langsung mengalir ke lambung miliknya.
Sedangkan saat ini ia batuk dan bernafas panjang karena akhirnya bisa bernafas.
Tubuh Yuki terbaring lemas dan Amura membuka paha Yuki dan memperlihatkan Gua merah muda yang sangat basah.
Amura mencium bagian tersebut sedangkan Yuki cuma bisa mendesah lemas karena lelah.
Amura tidak berfokus kepada lubang bagian atas saja tapi ia berniat meneruskan hal yang ingin ia lakukan kemarin.
"Tu-Tunggu apa yang kamu lakukan Amura!!!!" teriak Yuki dengan kesal.
"Lubang itu.....bukan tempat untuk melakukan hal tersebut....." lanjutnya dengan kesal.
Amura tidak mempedulikan hal tersebut dan menjilat lubang kedua Yuki.
"Kyaaa~....Amura, berhenti.....j-jangan menjilatnya....jangan menjilat lubang kotor itu!!!!" teriak Yuki dengan wajah memerah.
Amura mengabaikan hal tersebut dan kini ia memasukan jari miliknya kedalam lubang tersebut.
'Apa ini....perasaan apa ini.......nikmat?.....tidak....mana mungkin ini nikmat!!!!' pikir Yuki.
Amura yang telah selesai melakukan hal tadi langsung mengubah posisi Yuki dalam pose Dog Style.
Amura mengesekkan pedang miliknya di area lubang tersebut dan langsung memasukan pedangnya tanpa aba-aba.
Perlahan pedang tersebut memasuki goa kedua tersebut, dan perlahan goa tersebut membuka dan menerima pedang Amura secara perlahan.
"Sakit!!!!!" teriak Yuki dengan ekspresi kesakitan.
"Amura berhenti!!!!! ini sakit!!!!!" teriak Yuki dengan air mata yah membasahi pipinya.
Pedang Amura memasuki lubang itu terus menerus, berbeda dengan lubang satunya yang memiliki ujung, lubang ini dominan tidak memiliki ujung dan pedang Amura bisa masuk lebih dalam.
"Aghhhh!!!!!" teriak Yuki.
Tidak ada rasa nikmat, adanya rasa sakit yang luar biasa menusuk perut Yuki dan hal tersebut membuat Yuki menangis keras.
Pedang Amura akhirnya tertelan semua oleh lubang tersebut dan ia memutuskan untuk mengerakkan pedang miliknya.
"Kumohon berhenti...." ucap Yuki dengan ekspresi lemas.
"Kyaaa~....." teriak Yuki saat ia merasakan benda keras tersebut ditarik dari dalam.
'Ini nikmat?.....' pikir Yuki.
Sensasi yang ia rasakan melebihi sensasi saat melakukan hal tersebut secara biasa dan akhirnya ia menikmati hal tersebut.
Amura yang merasakan sensasi nikmat dari kesempitan lubang tersebut akhirnya memutuskan untuk melakukannya terus menerus.
6 jam kemudian.....
Yuki menjadi kecanduan dan akhirnya ia tidak bisa berhenti dan melakukan hal tersebut di lubang yang sama terus menerus.
Yuki sudah tidak merasakan rasa sakit lagi dan ia lebih merasakan rasa nikmat yang berlebihan sampai-sampai rasa nikmat tersebut membuatnya jadi menggila.
17 jam kemudian.....
Mereka masih menggunakan lubang yang sama tapi saat ini Yuki mengeluarkan ekspresi mesum yang sangat amat mesum.
Tubuh Yuki dalam posisi ***** ***** lemas yang mana bagian perut Yuki menyentuh kasur sedangkan pinggul miliknya di angkat Amura dan ia merangkul bantal di wajahnya untuk menutupi ekspresi mesum tersebut.
"Ugh...." rintih Amura dan kini ia keluar kembali.
Amura akhirnya memutuskan untuk menarik keluar pedang miliknya yang masih berdiri dan terlihat lubang ia terbuka lebar menyesuaikan ukuran pedang Amura.
Susu kental berwarna putih mengalir keluar dari lubang tersebut seperti sebuah air terjun yang sangat deras dan akhirnya Amura tersadar.
"Sepertinya aku terlalu berlebihan yah...." ucap Amura.
...[ Mimpi Gluttony telah berakhir, karena perwujudan skill Gluttony tidak bisa lagi untuk mmelanjutkan hal tersebut ]...
Amura membuka mata yang ia miliki dan melihat Amu yang tidur sambil memeluknya.
'Mimpi yah.....' pikir Amura.
'Walaupun itu mimpi.......tapi jujur saja aku terlalu berlebihan.....'
'Hah~...........tapi, mimpi itu sangat indah....'
Amura lega karena perasaan tersebut dan akhirnya ia memutuskan untuk tidur kembali karena masih ngantuk.
Sedangkan di sebuah kamar yang terlihat seperti kamar yang digunakan Amura tadi terlihat gadis yang terpapar lemah.
"Amu...ra....sialan.....aku tidak bisa bergerak sama sekali"
"Tubuhku mati rasa disetiap bagiannya.....dan juga.....apa yang kami lakukan tadi!!!!"
"Aku adalah perwujudan dari skill Gluttony!!!!"
"Dari sekian banyak iblis yang ku layani, keinginan mereka saat aku memberikan mimpi ini adalah balas dendam, kekuasaan, harta dan lain-lain!!!"
"Tapi pria ini!!!! ia adalah satu-satunya orang yang memiliki pemikiran kotor seperti itu!!!!"
"Bahkan aku harus memberikan keperawananan dari setiap tempat di tubuhku ini kepadanya, mulai dari cimuman pertamaku sampai keperawanan bagian itu....."
Wanita itu mengomel dengan ekspresi kesal sekaligus bahagia karena hal yang ndak manuk akal tersebut.
"Tapi......aku tidak sabar menunggu malam berikutnya....." ucap Yuki? dengan senyuman lembut.
......................
...( Sedikit info ) ...
...Gw ngambil refrensi buat chapter ini dari novel A Returnee Classmate, Number One On The List Of People I Want To Kill, Became My Wife. ...
...Referensi yang gw ambil adalah untuk hal mesum yang gw tulis tadi, karena jujur aja gw bener-bener gak berpengalaman dalam hal tersebut🗿, yah jelas lah anjir kalau gw berpengalaman bahaya juga!!!!...
...Bagi yang penasaran ini gw nge refrensiinya dari chapter berapa jawabannya Volume1 Chapter 5-6. ...
__ADS_1
...Dah gitu aja, kalau gw ketahuan kakak gw langsung digampar dah pasti!!!!...
...-Thx cuy dah baca-...