
..._____________________...
...[Nilai]...
...[Yuki Yuna : 100]...
...[Yuu Hinamura : 100]...
...[Reina Akiara : 100]...
...[Mayumi Keina : 100]...
...[Aru Hisagi : 90]...
...[Harumi Sakura : 88]...
...[Hoshiko Rini : 88]...
...[Shina Haru : 80]...
...[Hanzo Yakuri : 78]...
...[Sirius Crownel : 74]...
...[Anna Bell : 70]...
...[Shinjiki Anbu : 20]...
..._____________________...
'Fufu~ seperti yang diharapkan dari Amura, ia bisa mendapatkan nilai sempurna' pikirku dengan bangga.
Amura memang orang yang sempurna mulai dari wajah sampai otak yang dia miliki, karena itu dia sangat populer dikalangan murid perempuan.
Yah~ walaupun ia tidak mempedulikan itu sih, ia bahkan tidak memiliki kekasih apalagi istri di ingatannya.
'Yah~ aku akan berbaik hati untuk menjadi kekasih atau bahkan istrimu loh' pikirku dengan sombong.
Kini aku memandang Amura yang tempat duduknya tidak jauh dariku.
Kini aku melihat wajahnya dan tersenyum padanya sambil melamun.
Ia menyadari tatapanku dan menoleh kearahku.
"Eh...." aku langsung sadar dari lamunanku dan langsung mengalihkan pandangan ku terhadapnya.
'A-Apa yang kupikirkan... menjadi kekasih Amura....' kini wajahku memanas dan aku fokus ke layar transparan yang ada didepanku.
Da-daripada itu lebih baik aku fokus ke nilai nilai murid yang lain.
Wajahku masih memanas tapi aku mencoba fokus kelayar transparan yang ada didepanku ini.
'Reina juga mendapat nilai sempurna yah ' pikirku sambil tersenyum.
Reina adalah orang yang jenius dan berbakat, entah itu dari kemampuan bertarung atau bahkan hal akademis lainnya.
Aku dan Reina selalu bersaing untuk mendapatkan rangking pertama di SMP dulu, tapi hasil akhirnya tidak ada yang menang karena kami berdua selalu mendapatkan nilai sempurna.
Yah, aku sudah tau sih ia pasti akan lulus test disekolah ini.
Tapi sebenarnya Reina tidak pernah ada di ingatan Yuu karena ia sendiri tidak pernah mendaftar di sekolah ini.
'Mayumi Keina? ' pikirku dengan heran.
Entah kenapa aku merasa familiar dengan Nama ini..... Keina.... Kei?...
Sudahlah mungkin saja aku akan mengingat nya... Dan juga ia mendapat nilai sempurna, dengan ini ada 4 orang yang mendapat nilai sempurna.
'Hisagi dapat 90 yah '
'Harumi dapat 88 dan Crownel-san.... bukankah ini sangat sedikit'
'Ia bahkan dibawah kkm'
'Yah, masih mending dari pada dapat 20' pikirku.
Tapi jangan salah sangka dengan orang bernilai 20 ini, diingatan Yuu ia adalah sesorang yang hebat... walaupun rada mesum.
Kini wanita berambut pirang yang duduk di meja guru itu mengucapkan sebuah kalimat.
"Ho~ ternyata ada 4 orang yang mendapatkan nilai sempurna" ucapnya sambil menyeringai.
"Baiklah ini sudah cukup, kalian bisa pulang" lanjutnya.
Kini ia berdiri dan pergi dari ruangan ini dan sebelum pergi ia berkata.
"Selamat datang di Neraka, para calon Slayer" ucapnya sambil mengintimidasi kami.
Kini ia pergi dari kelas ini tanpa memedulikan kami.
"Jadi langsung pulang nih?" Tanya Crownel.
"Sepertinya begitu" jawab Hisagi.
Amura kini berdiri dan berjalan keluar Ruangan.
'Paling tidak pamit napa' pikirku saat melihat tingkahnya.
Kini aku juga berdiri dan mengajak Reina untuk pulang.
"Reina, ayo pulang" ucapku ke Reina yang duduk disampingku.
"Baiklah Yuki" ia menjawab ucapanku dengan senyuman dan berdiri dari tempat duduknya.
"Aku pergi dulu yah Hisagi-kun, Crownel-san, Rumi-chan" ucapku sambil berpamitan ke mereka.
"Baiklah" balas Hisagi dan Crownel.
Kini Reina memandang Harumi dan Berpamitan dengannya.
"Aku duluan yah, Rumi" ucap Reina.
"Iya, sampai jumpa besok, kalian berdua " balas Harumi sambil tersenyum.
Kini aku dan Reina meniggalkan ruangan itu dan berjalan menuju pintu keluar.
Beberapa saat berlalu dan kini kami telah keluar dari gedung utama itu.
Disepanjang perjalanan Reina mengandeng tangan ku dengan erat.
Aku tidak mempedulikan hal tersebut karena itu adalah hal biasa yang selalu kami lakukan bahkan dari SMP.
*Grukk...
Aku mendengar suara perut keroncongan dari arah sampingku.
"Reina, apa kau lapar?" tanyaku.
"Sedikit" jawabnya dengan wajah memerah.
"Fufu, kalau begitu ingin makan dirumahku" lanjutku.
"Baiklah kalau begitu" lanjutnya dengan wajah yang masih memerah.
Aku tersenyum dan lanjut berjalan menuju kerumahku.
Reina sangat sering mengunjungi rumahku dan bahkan ia menginap dirumahku 1-3× Seminggu.
Mama atau Papa tidak mempedulikan hal tersebut dan malah menyambutnya dengan hangat dan menyuruhnya tinggal di rumah kami sesukanya.
Walaupun mereka tidak mempermasalahkan itu tapi berbeda denganku yang mempermasalahkannya.
Ia memiliki keluarga dan keluarganya pasti khawatir dengan keadaannya, karena itulah aku menyuruhnya untuk pulang saat menjelang malam dan menginap sekali-sekali saja.
Kami telah keluar dari kawasan sekolah dan memasuki kawasan Kota.
Keadaan kota saat ini tidak terlalu ramai karena sudah sore hampir menjelang malam, tepatnya jam 05:20.
Kami berjalan melewati toilet umum dan melihat ada 2 Pria yang keluar dari ruangan yang berbeda.
"Oy, lihatlah mereka berdua" teriak seorang Pria.
"Ada apa memangnya" ucap Pria kedua.
"Mereka berdua bukankah sangat cantik" balas Pria itu.
"Mana?" balas pria kedua.
"Uwah, benar sekali.. mereka sangat cantik"
"Apalagi mereka bedua saling bergandengan tangan" lanjutnya.
"Entah kenapa aku merasa panas dibagian selangkanganku" lanjut Pria kedua itu.
"Bro udah gak tahan lagi nih, gw mau ke toilet" lanjutnya.
"Oi tunggu gw ikut" balas Pria itu yang mengikuti pria kedua.
Kini mereka lari terbirit-birit ke arah toilet.
Aku memandang dua Pria tadi dengan tatapan aneh.
"Reina kenapa mereka lari terbirit-birit ke toilet?" tanyaku ke Reina.
Reina mengeluarkan hawa membunuh yang sangat pekat ke arah toilet itu dengan tatapan gelap dan ekspresi dingin.
Tapi ekspresi itu langsung lenyap seakan-akan tidak pernah dikeluarkan.
"Tidak, itu bukan apa-apa.. tidak usah kau pedulikan juga masalah ini Yuki" jawabnya sambil tersenyum lembut kearahku.
"Um? baiklah kalau begitu" balas ku sambil terheran.
'Sebenarnya mereka mau melakukan apa? ' pikirku dengan heran.
'Apa kubunuh saja kedua sampah itu' pikir Reina dengan ekspresi menyeramkan.
'Risa, apakah kau tau mereka sedang melakukan apa? ' tanyaku kepada Risa.
...[Um.. Entahlah aku juga tidak tau]...
...[Tapi sepertinya mereka akan melakukan hal aneh]...
'Hal aneh? sudahlah aku juga tidak terlalu memperdulikan hal itu'
Kini aku menarik perlahan tangan Reina dan kami kembali berjalan menuju rumahku.
Diperjalanan seperti biasa kami sangat menarik perhatian sekitar.
__ADS_1
Setelah beberapa saat yang berlalu, kami telah keluar area perkotaan dan masuk ke wilayah pertanian.
Saat memasuki wilayah pertanian, kami disuguhkan pemandangan matahari terbenam yang sangat indah.
"Yuki lihatlah itu" ucap Reina sambil menunjuk ke arah matahari terbenam.
"Indah sekali.. walaupun aku sudah melihat pemandangan ini berkali-kali tapi tetap saja masih sangat indah" lanjutnya sambil tersenyum kearahku.
Dari pada melihat Matahari terbenam itu aku lebih terpana saat melihat senyuman Reina yang diarahkan kepadaku.
Aku membalas senyuman hangat miliknya dengan senyuman lembut milikku.
"Ah...." kini wajah Reina memerah saat melihat wajahku dan kini ia menarik tanganku perlahan untuk melanjutkan perjalanan.
"Ara~ bukankah Reina saat ini sangat imut" ucapku sambil membisikan kata-kata itu di telinganya.
Kini wajahnya semakin memerah dan ia melepas genggaman tanganku dan berlari menjauh.
"Reina, nanti jatuh loh" ucapku yang kini mengejarnya.
"Itu tidak akan pernah terjadi" balasnya sambil melihatku.
"Fokus ke jalanan jangan malah fokus kearahku" lanjut ku dengan khawatir.
"Tenang saja aku ti-"
"REINA AWAS" teriakku.
Reina belum sempat mengucapkan kata-kata dan langsung ku potong dengan sebuah teriakan.
"Ada Apa kenapa kau berteria-"
*Suwing..
*Plak...
*Byurr...
Kini ia terpeleset dan terjatuh ke sebuah sungai yang cukup dalam airnya.
"Bukankah sudah kubilang untuk melihat jalan" ucapku sambil mengeluarkan ekspresi datar.
"....." ia cuma diam sambil mengeluarkan ekspresi datar.
Aku mengulurkan tanganku untuk membantunya, dan ia berdiri sambil memegang tanganku.
Bajunya kini basah dan memperlihatkan pakaian dalam yang ia miliki.
"Eh..."
Kini ia menarik tanganku dan itu membuatku tercebur juga.
*Byurr... 🗿
"Tunggu, apa yang kau lakukan Reina" teriakku dengan kesal.
"Hehe, bukankah ini mengingatkan kenangan lama kita" balasnya sambil tersenyum riang.
"Sebut saja ini pembalasan untuk yang dulu" lanjutnya.
"(*´﹃`*) masa...lalu... "
"Oy jangan malah tidur"
Reina berteriak kencang dan itu membuat gendang telinga ku pecah... canda.
"Kya... a-ada apa?!!! " teriakku dengan waspada.
"Jangan malah tidur, ini disungai loh" lanjutnya sambil memegang tanganku.
"Habisnya... ini... nikmat(*´﹃`*)"
Kini tubuhku mulai melemas dan terasa arus sungai yang mengalir melewati tubuhku dan itu rasanya nikmat.
"Oyyyy"
"Hah~ yasudahlah"
Kini Reina mengangkatku dari sungai itu dan menggendong ku menuju kerumah.
...-( End Yuki Pov )-...
...-( Pov Reina )-...
Aku menggendong Yuki dipunggung ku dan berjalan kearah rumahnya dengan keadaan basah kuyup.
Beberapa saat berlalu dan kini kami sampai di rumah Yuki.
...(Kira kira gitu lah rumah Yuki, dan abaikan latar belakangnya)...
Kini aku berjalan kerumahnya dan memencet tombol bel rumah itu.
*TengTong....
*TongTeng....
"Siapa yah...." ucap Saki dan ia langsung terdiam saat melihat kami.
"Um... Reina-chan, apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Saki.
"Yah~ banyak sekali hal yang terjadi" jawabku.
"Ah, kalau begitu masuklah, pasti dingin kan diluar" lanjutnya yang kini membuka pintu rumah itu lebar lebar.
"Zzzzzz...."
"Baiklah" jawabku sambil tersenyum.
"Zzzz..."
Kini aku memasuki rumah itu.
"Bagaimana kalau kalian mandi dulu, pasti tidak nyaman memakai baju basah itu" ucap Saki.
"Iya sangat amat tidak nyaman memakai baju ini" lanjut ku sambil melihat bajuku yang basah dengan wajah memerah.
"Ara~ dan sepertinya kamu tidak membawa baju ganti, bagaikan kalau kamu pakai baju Yuki" lanjutnya sambil tersenyum.
"Eh, ah... baiklah" jawabku sambil tersenyum.
Kini aku menuju kekamar mandi diantar oleh Saki-san.
"Rei-chan, apakah Yuki tidak berat?" tanya Saki.
"Hm~ tidak terlalu sih.. bisa dibilang ringan" jawabku.
"Apakah ingin ku gantikan?" lanjutnya.
"Tidak perlu, aku masih bisa menahannya kok"
"Oh iya, paman ada dimana? dari tadi aku tidak melihat nya" tanyaku sambil melihat sekitar
"Ah~ dia ada dikamarnya, sedang mengerjakan tugas" jawabnya sambil tersenyum.
"Hm~"
"Kalau begitu kamu ke kamar mandi duluan yah, aku akan mengambil kan baju untuk kalian berdua" lanjutnya.
"Baiklah"
Kini Saki pergi mennaikki tangga menuju lantai dua.
Aku berjalan ke arah kamar mandi sambil menggendong Yuki.
Kini aku telah sampai didepan kamar mandi lebih tepatnya diruang ganti.
Aku menurunkan Yuki dari gendongan ku dan membangunkan nya.
"Yuki... Yuki~..."
"Tidak bangun-bangun yah?"
"Muhehe.. Yuki~"
"Kalau tidak bangun kumakan loh nanti"
Aku mengigit pipi Yuki dan serentak ia langsung bangun.
"Kya~"
*Nyam-nyam..
"Owh, Uki Ah Aung"
(Oh, Yuki sudah bangun)
"Aku sudah bangun jadi lepaskan gigitanmu" ucapnya sambil mendorong wajahku.
"Aiah... Muah, Baiklah"
Kini aku melepaskan gigitanku di pipi Yuki dan berbicara kepada nya.
Yuki menggosok bagian pipi yang ku gigit tadi.
"Jadi, ada apa? " tanyanya sambil menyentuh pipi miliknya.
"Mandilah, nanti kau demam loh kalau memakai pakaian basah seperti itu"
"Pakaian basah?"
Kini Yuki memandang tubuhnya dan melihat baju yang ia kenakan.
"Lah, kenapa bisa begini.. bukannya tadi kita pulang dari sekolah?" ucapnya sambil memegang pakaian miliknya.
"Ah~ sudahlah, aku ingin mandi terlebih dahulu.. dan juga bukannya bajumu basah juga? " tanya Yuki sambil memandangi tubuhku.
Aku serentak menutupi bagian tubuhku yang memalukan untuk dilihat.
"Yuki, kau mesum" ucapku dengan wajah memerah.
"Terseralah, aku masuk dulu" jawabnya dengan acuh tak acuh.
Kini ia membuka pintu dan masuk ke kamar mandi.
__ADS_1
"Yuki, bajumu belum kau lepas" ucapku¹.
Kini ia membuka pintu dan mendorong ku keluar.
"Yuki, mau mandi bersama?" tanyaku².
"Tidak akan dan tidak pernah" jawabnya dengan kesal.
"Kalau begitu aku boleh mengintip?" tanyaku³.
"Kukatakan dengan serius kalau kau mengintip ku akan ku bekukan kau" ucapnya sambil memandang ku dengan dingin.
"Hm~ kalau begitu, aku akan mandi dengan air bekasmu" ucapku⁴.
"Menjijikan" kini ia menatapku dengan lebih dingin lagi.
"Guhk~ aku ditolak terus-terusan" ucapku sambil mengeluarkan air mata buaya.
"Yuki.. menatap ku dengan begitu dingin hwa~" teriakku sambil menangis.
"Eh.. Re-Reina tunggu dulu, jangan menangis..."
"Hwaaaa~"
"B-baiklah.... kau boleh mengintip ku.. oke"
"Hwaa~"
"Baiklah-baiklah, kau boleh.... mandi denganku" ucapnya dengan wajah memerah.
"Fufu~" ucapku dengan tangisan yang telah berhenti total.
"Ugh... aku kena lagi" ucapnya sambil menundukkan kepala.
"Kenapa sih kau selalu menolakku untuk mandi bersama? " tanyaku dengan ekspresi serius.
"Um~, sejujurnya aku tidak masalah kalau kita mandi bersama tapi tatapan matamu itu sangat mengangguku" jawabnya sambil memikirkan sesuatu.
"Eh~.... jadi tidak masalah toh, dan juga apa yang kau maksud tatapan mata?"
"Hah~, sudahlah lebih baik kita mandi sekarang" ucapnya sambil menghela nafas.
"Baiklah" ucapku sambil tersenyum.
Lupakan saja apa yang tadi ia katakan yang penting saat ini aku bisa mandi bersama nya.
Kami pun mandi bersama tanpa ada hal aneh yang terjadi.
Selesai mandi kami berganti baju dengan baju yang telah disiapkan Saki-san dan menuju ke ruang makan.
Kami memakan makanan yang disiapkan oleh Saki-san bersama sekeluarga dan walaupun masakan Saki-san tidak seenak masakan Yuki tapi tetap saja masakan buatan nya sangat enak.
Beberapa waktu berlalu setelah selsai makan kami berbincang-bincang mengenai hal yang terjadi di Akademi dan aku memutuskan untuk menginap karena males pulang.
Aku dan Yuki memutuskan untuk tidur terlebih dahulu karena besok masih ada kegiatan, dan berjalan ke arah kamar.
"Yuki aku ingin tidur denganmu" ucapku kepada Yuki yang sedang menaiki tangga.
Yah aku tau ini pasti ditolak sih.
"Baiklah" jawabnya sambil tersenyum kepadaku.
"Eh.... Ehhhh~!!!!!"
"Mustahil kamu pasti bukan Yuki, siapa kamu" ucapku sambil waspada.
"Jadi mau gak nih?" lanjutnya.
"Yah walaupun kau bukan Yuki, aku akan tetap tidur bersama mu" ucapku sambil membusungkan dadaku.
Yuki tidak mempedulikan itu dan dirinya meninggalkan ku sendiri di tangga...
"Oy, tungguuu~" teriakku yang kini aku berlari kearahnya.
Kami tidur dikasur yang sama dan aku memeluk Yuki... anehnya ia tidak menolak dan malah memelukku kembali.
beberapa jam setelah semua orang tidur.
'Are... dimana ini? bukankah aku tertidur bersama Yuki tadi? ' pikirku
Sejauh mataku memandang yang kulihat cuma Kegelapan tak berujung.
'Mimpi ini lagi....'
Aku menoleh kebelakang dan melihat siluet wanita berwarna putih pekat yang sedang duduk Disingahsana yang ia miliki.
"Kau lagi, terakhir kalinya aku memimpikanmu aku langsung bangun dan tidak mengingat apa-apa tentangmu"
"Dan bodohnya disemua mimpiku saat bertemu denganmu kau selalu saja diam dan tak berbicara apa-apa sama sekali"
"Siapa sebenarnya kau? dan kenapa aku selalu melupakanmu saat bangun?"
...[.....]...
"Jadi kau mau diam lagi, seperti kemarin?"
"Hah~ membuang waktu saja"
...[Reina Akiara]...
"!!!!"
"Jadi kau bisa bicara, dan juga siapa kau?"
...[Aku... entahlah]...
...[Kau akan tau sendiri siapa aku saat kau menghadapi masa depan dan masa lalu milikmu]...
"Apa maksudmu? masa depan dan masa lalu?"
...[Kau bisa menyebutku sesuka hatimu]...
...[Entah itu Dewa, Tuhan, Pembawa bencana, Iblis, Malaikat, Manusia]...
"Baiklah mahluk putih, sekarang ada dimana aku?"
...[Mahluk Putih?]...
...[Terserah]...
...[Saat ini kau berada di *****]...
"Apa?"
...[Sepertinya kau masih belum bisa mendengar nya]...
...[Ketahuilah sendiri dimana ini]...
...[Waktuku tidak lama lagi]...
...[Jadi akan kukatakan permohonan ku]...
...[Setelah kau bangun kau masih akan mengingat diriku dan tidak akan melupakan hal yang kukatakan]...
...[Lindungi lah Al...tidak lindungi lah Yuki Yuna dan bantulah dia dalam menyelesaikan masalah yang ia miliki]...
...[Itu saja yang bisa kukatakan]...
...[Mendekatlah]...
Tubuhku bergerak sendiri mendekati Mahluk Putih itu dan ia menyentuh dadaku.
...[Kuberikan pecahan pedang ini sebaga oleh-oleh]...
Sebuah cahaya berwarna ungu gelap masuk kedalam belahan dadaku.
...[Kukirim kau kembali, dan kumohon kabulkan keinginan ku tadi]...
"Tanpa kau minta pun aku akan melindungi Yuki dengan segenap nyawaku"
Kini pandanganku memudar dan aku terbangun dari tidurku.
Aku melihat sekitar dan melihat Yuki masih tertidur disampingku.
"Yuki... akhirnya aku bisa melihatmu lagi"
Kini aku mengelus kepala Yuki.
"Umm....Zzzzzz"
"Aku sangat merindukanmu dan juga sangat mencintaimu adikku" ucapku dengan tersenyum lembut sambil mengelus kepala Yuki.
"Eh... kenapa aku mengelus kepala Yuki?"
"Um~, aneh entah kenapa aku merasa bahwa aku melupakan sesuatu? tapi apa yah?"
"Dan juga Mahluk Putih itu kenapa ia bisa ada dimimpiku?"
"Ya sudahlah lebih baik aku mengikuti permintaan miliknya"
Kembali ke Kehampaan tak berujung tadi terdapat gadis berwujud Putih total yang sedang bahagia tapi juga sedih.
...[Ahahah, jadi cuma bisa bertahan 15 detik saja yah]...
...[Tidak masalah asalkan aku bisa menemuinya lagi]...
...[Dan juga lindungi Al...Yuki Yuna]...
...[Jangan biarkan takdir yang ia miliki jadi seperti yang terakhir kali]...
...[Berjuanglah diriku sendiri....Tidak Reina, aku ingin kau melindungi nya]...
Ruangan dengan kehampaan tak berujung tadi tiba tiba hancur dan wanita dengan siluet Putih tadi perlahan ikut lenyap mengikuti kehancuran ruang itu.
...[Pedang itu kuberikan padamu, walaupun dari awal pedang itu adalah milikmu]...
Kini ruang itu hancur dan lenyap secara total keberadaan nya dari segala konsep yang ada.
......................
(Sebenarnya chapter ini gw bikin lebih brutal dan dipenuhi adegan Yuri yah walaupun cuma Mimpi)
(Tapi yah ditolak ******, gak boleh diupload dah pegel nulis ampe 2300 sekian kata malah ditolak)
(Dah lah, sampai ketemu lagi di next chapter kalau ada yang baca sih 🗿)
(Like gaiss pliss dijamin lejat dan bergiji🥺🥺🥺🥺)
__ADS_1