
Suasana ruang tamu itu sangat lah hening dan juga mencekam, tidak ada yang berbicara atau bahkan memulai percakapan.
Yuki saat ini telah duduk di kursi roda yang baru dan menyimak mereka berdua.
"...."
"..."
"..."
Benjamin yang tidak tahan dengan suasana itu langsung membuka percakapan dengan nada kesal.
"Jadi, bisa kalian jelaskan kenapa Yuki pulang lama....." ucap Benjamin dengan mata tertutup dan senyuman dingin.
"....." Yuki yang mendengar hal tersebut cuma bisa membisu sedangkan Amura benar-benar tidak bisa diandalkan sama sekali.
'Benar kan yang ku tebak!!! aku pasti dimarahi....' pikir Yuki dengan panik.
Disaat Yuki panik Amura menatap Yuki yang sedang panik dengan senyuman.
'Yuki yang sedang panik sangat imut...' pikir Amura dengan senyuman tipis.
"Oy bocah!!!" ucap Benjamin kearah Amura.
"Hm? saya?..." tanya Amura.
"Siapa lagi?"
"Kenapa anda memanggil saya?"
"Aku ingin bertanya kepada mu, kenapa kau bisa pulang bersama Yuki dan juga kemana Yuki saat pulang sekolah"
"Ah begitu yah, saya bisa bersama Yuki karena dari awal saya telah bersama Yuki"
"Ha...." Yuki dan Benjamin serentak bingung dengan perkataan Amura.
Yuki bingung dengan perkataan Amura sedangkan Benjamin terkejut karena Amura memanggil Yuki dengan nama depannya.
"Kau, seberapa dekat hubungan mu dengan Yuki" tanya Benjamin dengan tatapan dingin.
"Penasaran?" lanjut Amura dengan tengil.
"...." Wajah Benjamin seketika menjadi suram dan ia benar-benar Kesal kepada Amura.
Yuki yang tidak tahan dengan tatapan Benjamin serentak berkata kepada Amura.
"A-Amura, sudahi saja candaan mu......a-aku tidak yakin Pa.....Ayah akan bisa menahan emosinya lebih lama....." ucap Yuki dengan gagap.
"Baiklah" balas Amura dengan senyuman lembut.
'Ekspresi gugupnya juga imut' pikir Amura.
"Amura kan?...." tanya Benjamin dengan dingin.
"Iya, ada apa yah?...." balas Amura dengan bingung.
"Aku tanya serius, untuk alasan apa kau mendekati Yuki"
"....." Amura terdiam tapi ekspresi yang ia miliki kini menjadi lebih serius.
"Saya sendiri tidak tau......"
"Apa maksudmu..."
"Ini adalah pertama kalinya saya merasakan perasaan seperti ini....."
"Saya tidak pernah tertarik kepada seseorang dan saya lebih tertarik untuk menyendiri"
"Tapi, Yuki.... ia membuat saya tertarik kepadanya...... untuk pertama kalinya saya tertarik kepada seseorang, dan orang itu adalah Yuki"
"Karena itulah, saya perlahan mendekati dirinya dan mencoba untuk berteman dengannya...."
"Amura...." ucap Yuki dengan perasaan resah.
'....Maafkan aku......aku bukanlah Yuki......aku hanyalah sebatas penganti darinya......' pikir Yuki...........pikir Risa dengan resah.
Amura menjawab pertanyaan Benjamin dengan segenap hati yang ia miliki.
"Jadi kau cuma mengincar tubuhnya saja" lanjut Benjamin.
"Eh......." Amura yang mendengar hal tersebut cuma bisa heran 'Kenapa kok bisa kepikiran begitu.....' pikirnya dengan panik.
"Amura ingin melakukan hal yang menyenangkan bersama ku?" tanya Benjamin dengan senyuman licik.
*Glup....
'Aku berani bersumpah.......hal itu pasti tidak menyenangkan....' pikir Amura dengan keringat dingin diwajahnya.
"Me-melakukan apa yah....."
"Sparing, bukan dengan skill tapi dalam hal bela diri, dan kalau kau bisa mengalahkan ku.....aku akan mengizinkan mu berteman dengan Yuki"
"Kalau saya kalah?....."
Ekspresi Benjamin menjadi serius dalam sekejap dan ia berkata dengan nada dingin.
"Jauhi Yuki dan jangan pernah dekati dirinya lagi"
"...." Amura terdiam tapi Ekspresi Amura menjadi dingin dan ia serentak berkata.
"Saya akan memenangkanya dan saya tidak akan kalah"
*Smrik...
Benjamin yang mendengar hal tersebut cuma bisa menyeringai.
"Ikuti aku" ucap Benjamin.
"Tunggu Pa-Ayah, kenapa tiba-tiba sekali ingin sparing dengan Amura!!!" teriak Yuki.
"Ini urusan Pria, jangan terlalu bingung Yuki" balas Benjamin dengan senyuman.
"Eh, tapi....." lanjut Yuki dengan ragu.
Amura menepuk punggung Yuki dan ia berkata.
"Aku pasti akan menang"
"......Baiklah"
Amura mengikuti Benjamin dari belakang dan mereka pergi menuju ke suatu tempat didalam hutan.
Terdapat sebuah lahan kosong yang sangat luas dan Yuki melihat mereka dari jauh.
Amura beserta Benjamin berdiri ditengah tengah lahan kosong tersebut.
"Apakah ada peraturan?" tanya Amura.
"Tidak boleh menggunakan Skill"
"Baiklah....." lanjut Amura.
Amura kini memasang pasang kuda-kuda dalam sebuah aliran pencak silat.
"Hm~, beladiri apa itu?" tanya Benjamin.
"Pencak Silat....." balas Amura dengan acuh.
"Hah~, terserah lah...." lanjut Benjamin dengan acuh.
Benjamin juga mengeluarkan kuda-kuda yang ia miliki, kuda-kuda Benjamin terlihat seperti kuda yang dipakai Amura.
"Anda meniruku....."
"Begitulah aku malas mencari kuda-kuda lain...."
Keheningan memasuki telinga mereka dan cuma terdengar hembusan angin yang menabrak tubuh mereka.
Jarak antara mereka berdua cuma sebatas 6 meter dan Amura benar-benar serius dengan apa yang akan ia lakukan.
*Whuss....
Tubuh mereka berdua menghilang dan mereka muncul ditengah antara posisi mereka tadi.
*Bugh...
Amura memukul Benjamin dengan tujuan mengincar ulu hati tapi di tahan oleh Benjamin dan malah sebaliknya Amura dipukul di ulu hati oleh Benjamin.
"Ugh!!!!...." rintih Amura.
"Taekwondo, Dwi Chagi" Benjamin memutar tubuh yang ia miliki dan mendorong kaki kanan yang ia miliki ke ulu hati Amura.
*Bugh....
"Aghh!!!!...." teriak Amura dengan mengeluarkan darah dari mulutnya.
Amura terpental 9 meter kebelakang dan ia terjatuh ditanah.
"Uhuk, Uhuk....."
'Apa apaan itu? serangan apa itu......aku tidak bisa melihatnya....' pikir Amura.
"Cuma segini saja? menyedihkan...."
Benjamin memprovokasi Amura dengan seringai licik.
"Tch....."
Amura berdiri dan ia mengganti kuda-kuda yang ia miliki, pasang yang ia pakai masih tetap dari sebuah aliran pencak silat.
Tapi terjadi perbedaan yang signifikan dari pasang yang ia miliki.
'Kalau dengan cara biasa aku tidak akan bisa menang...'
'Kalau memang begini......aku akan menggunakan semua jenis bela diri yang kupelajari....' pikir Amura.
"Huft......"
"...." Hening tidak terdengar apapun di telinga Amura.
Amura yang merasakan kelima indra yang ia miliki tidak berfungsi pun memutuskan untuk menutup mata.
'Suara......lampaui kecepatan suara......'
*.....
Tidak terdengar suara apapun, tubuh Amura lenyap dan ia melangkah melebihi kecepatan suara.
Kecepatan yang dimiliki Amura kini setara dengan 560 m/detik, ia tiba-tiba muncul didepan Benjamin dan akhirnya menyerang kepala Benjamin.
*Bugh....
*Whuss....
Suara dari pergerakan Amura akhirnya terdengar disaat ia mencapai jangkauan Benjamin.
Walaupun begitu pukulan Amura ditahan oleh Benjamin dengan tangan kosong.
__ADS_1
"Mustah-..."
*Bugh....
"Agh!!!...."
Sekali lagi, Amura dipukul tepat di ulu hati yang ia miliki.
'Aku benar-benar membatasi kekuatan yang kumiliki, semoga saja kau tidak mati bocah' pikir Benjamin.
Benjamin sebenarnya benar-benar menahan serangan yang ia miliki agar tidak membunuh Amura dalam sekali pukul.
"Eh..." ucap Benjamin dengan kaget.
Amura menarik tangan Benjamin dan ia membanting Benjamin kebelakang.
'Aikido yah....' pikir Benjamin.
Tapi sebelum Benjamin menyentuh lantai ia melesat ke belakang Amura dan ia membanting Amura dengan teknik yang sama.
*Brak....
Tanah yang dihantam oleh Amura retak dalam radius 15 meter lebih dan Amura tidak terkena dampak apapun dari serangan itu.
Amura merangkul tangan Benjamin dalam posisi terletang, Amura tidak melakukan hal tersebut karena iseng tapi ia berniat untuk mengunci Benjamin.
'Jiujitsu?...' pikir Benjamin.
'Keras!!!!!' pikir Amura dengan kesal, Amura berniat untuk mematahkan tulang tangan Benjamin tapi hal tersebut gagal.
"Eh...." ucap Amura.
Amura saat ini diangkat Benjamin dan dalam sekejap ia dibanting ke bawah.
*Dommm.....
Ledakan yang sangat kuat membuat tanah disana retak dalam radius 230 meter dan membuat gempa kecil di daerah hutan.
Yuki yang melihat mereka bertarung dari jauh juga terkena dampak dari gempa itu.
...[ HP : 67.000/130.000 ]...
Amura bangun dan ia menyerang Benjamin dengan berbagai teknik dari bermacam-macam seni bela diri.
Mulai dari Muay Thai, Kyokushin Karate, Silat, Taekwondo, Boxing, Krav Maga, MMA, Wrestling, Brazilian Jiu-Jitsu, CQC, Sistema, Aikido, Gulat, Sumo, Judo, Capoeira, Kempo, Kungfu, Jeet kun do, dan banyak lagi.
Pertarungan mereka bukan sebatas pertarungan biasa lagi, mereka saat ini tengah menyerang satu sama lain dalam kecepatan 2 kali lipat dari suara.
Walaupun begitu Amura tidak bisa melukai Benjamin sekali saja, dan serangan yang ia lancarkan selalu saja di counter oleh Benjamin.
Tubuh Amura penuh bekas lebam dan banyak darah yang mengalir dari mulutnya.
"Amura!!!!!" teriak Yuki dengan panik.
Yuki mendekati mereka dan akhirnya ia menghampiri Amura yang pingsan sambil berdiri itu.
"Yuki......kau benar-benar menarik perhatian anakku...." ucap Benjamin saat melihat Yuki yang mendekat dan ia menatap Amura kembali.
Benjamin menatap dingin tubuh Amura dan ia bersiap memukul dada Amura dengan teknik pukulan 1 Inch.
"Paling tidak aku akan menghancurkan tukang rusuk yang kau miliki" lanjut Benjamin dengan nada dingin.
Benjamin membuka tangan yang ia miliki di dada Amura dan dalam sekejap posisi tangan yang dimiliki Benjamin menjadi mengepal.
*Bugh....
*Crackk....
Tulang rusuk yang ada dibagian dada Amura hancur dan Amura terpental sampai ratusan meter jaraknya dan ia menabrak sebuah tebing.
*Dommm....
"...."
Tatapan Yuki menjadi gelap saat ia melihat hal tersebut dan ia mendekati Amura dengan ekspresi resah.
"...." Benjamin yang melihat hal tersebut cuma bisa terdiam.
Yuki mendekati Amura dan ia melihat Amura yang tengah pingsan di timpah oleh tumpukan Batu.
"Amura!!!!!"
Yuki menggunakan skill yang ia miliki dan memindahkan batu yang menindih tubuh Amura.
Tatapan Yuki menjadi gelap dan ia mencoba untuk berdiri dari kursi roda miliki nya.
*Brak...
Yuki terjatuh dari kursi roda miliknya dan akhirnya ia benar-benar merasa tidak berguna.
"Yuki!!!!!" teriak Benjamin dan ia berlari mendekati Yuki.
"Berhenti!!!!!! jangan mendekat!!!!!" teriak Yuki kepada Benjamin.
"Yu-......" Benjamin menghentikan langkah kakinya dan akhirnya terdiam di tengah jalan.
"Amura-Amura-Yuu-Yuu....."
Yuki merangkak mendekati Amura dan ia mendekati Amura, Yuki duduk disamping Amura dan ia benar-benar panik karena keadaan Amura.
Tubuh Amura penuh luka dimana-mana dan hal tersebut membuat Yuki panik.
Mulut Amura penuh dengan darah bahkan hidung yang dimiliki Amura juga mengeluarkan darah.
"Amura......"
'Aku tidak peduli apapun, asalkan Amura bisa selamat......Amura lah yang telah menyelamatkan Yuki, aku tidak ingin kehilangan sesosok yang sangat berharga seperti dirinya.....'
...[ Anda telah membeli Hp Potion( B++ ) ]...
...[ Poin Anda berkurang 500.000 P ]...
...[ Poin : 1.536.000 ]...
Yuki membuka tutup dari Potion tersebut dan akhirnya ia akan meminumkan potion itu ke Amura.
"Ini......" ucap Yuki dengan lirih.
"Kalau aku meminumkan ini secara langsung, Amura pasti tidak akan menelannya....."
Wajah Yuki seketika memerah dan ia memikirkan solusi lain untuk menyelamatkan Amura.
"Ini bukan saatnya untuk ragu!!!!"
Yuki meminum Potion yang ia bawa dan ia mendekatkan bibir miliknya ke bibir Amura.
*Cup....
Bibir Amura serta Yuki menyatu dan Yuki meminumkan Potion tersebut kepada Amura.
*Glup...
*Glup...
Pemandangan diantara mereka berdua kini benar-benar indah, matahari sore yang akan tengelam menyinari momen berciuman meraka.
"....." Benjamin yang melihat anaknya sedang menciun seorang pria, membuat dirinya menjadi kehilangan semangat untuk hidup.
Yuki meneruskan ciuman tersebut dengan cukup lama, tapi yang tidak ia sadari Amura telah Bangun dan Amura berinisiatif untuk memainkan lidah Yuki.
"Hmm....Ah...Mph......." desah Yuki.
Amura memainkan lidah miliknya dengan kasar dan membuat Yuki merasa aneh.
Wajah Yuki memerah dan ia menatap mata Amura.
"Hmp...Haa....Hmm....Hahh...Haahhh....Mhphhh...."
Yuki yang telah menghentikan ciuman itu langsung di cium kembali oleh Amura.
Ciuman intens mereka bertahan lama dan Benjamin yang melihat hal tersebut langsung darah tinggi dan ia mendekati mereka berdua.
"Uhuk...Uhukkk....Ber-henti Amu...ra....Hmp~....." ucap Yuki dengan lemas.
Amura meneruskan ciuman itu dan akhirnya Amura sadar bahwa ia akan dibunuh oleh Benjamin kalau melakukan hal tersebut lebih lama lagi.
Amura menghentikan ciuman mereka dan terlihat jembatan saliva yang menghubungkan kedua bibir mereka.
"Fuha~.....Ha~.....Ha~....." Yuki mengeluarkan nafas berat dengan lemas dan wajah yang memerah.
"Amu...ra....apa....yang kamu lakukan....." tanya Yuki.
"Maaf, aku kelepasan....tubuhku masih belum terlalu baikkan jadi aku menyerap semua potion yang masih ada di mulutmu...." jawab Amura dengan kebohongan.
Amura sebenarnya telah menyerap semua potion itu dari awal tapi ia ingin mencium Yuki lebih lama lagi dan akhirnya ia memeras habis air liur Yuki.
"Ap-....." ucap Benjamin.
"Ayah kembali kerumah duluan saja!!!" potong Yuki dengan nada kesal kepada Benjamin.
"Ta-...."
"Tidak ada tapi-tapian!!! ayah kembali saja dulu!!!!"
"...."
"Baiklah...."
Benjamin menjauhi mereka dengan rasa bersalah karena telah melakukan hal tersebut.
'Ia pasti marah kan......mau bagaimana pun aku melukai pacarnya dan membuatnya babak belur seperti itu.....'
Benjamin kini menghilang dari pandangan mereka dengan perasaan berat.
"Amura......kenapa kamu berjuang sekeras itu....." tanya Yuki dengan lirih.
"...."
"Aku melakukannya untukmu...." balas Amura dengan singkat.
"Kenapa kamu melakukanya untukku......"
"Entahlah.....aku sendiri tidak tau......sebenarnya perasaan yang kumiliki ini saja aku tidak tau perasaan apa itu....."
".....Apa cuma karena perasaan yang tidak bisa kamu ketahui tersebut......kamu sampai-sampai mengorbankan nyawamu demi perasaan itu....."
"Yuki.........Aku menyukaimu...."
"Eh......"
"Perasaan yang kumiliki ini adalah perasaan yang disebut sebagai cinta..."
"Aku mencintaimu, karena itulah aku berjuang sejauh ini......"
"Alasan kenapa aku sampai babak belur seperti ini adalah karena memperjuangkan perasaan yang disebut sebagai cinta itu...."
"...."
__ADS_1
'Hatiku hangat......perasaan apa ini?.....ini berbeda dengan perasaan yang kumiliki saat bersama Papa dan Mama....' pikir Yuki.........pikir Risa dengan heran.
'Dan juga......ungkapan perasaan itu.......aku.......aku.......aku ingin menerimanya.......aku ingin belajar tentang sesuatu yang disebut sebagai cinta itu......'
'Tapi.......'
“Benar sekali Risa, perasaan itu ditunjukkan kepada Yuki dan bukan kepadamu”
Risa melihat bayangan dirinya yang tengah menghasut dirinya.
“Kau sangat jahat Risa, kau mencuri posisi Yuki dan saat ini bahkan kau berfikir untuk mengambil seseorang yang mencintai nya juga? ”
'Aku......'
“Apa kau berfikir ia mencintaimu? ia mencintai Yuki bukan mencintaimu, jadi jangan terlalu berharap... ”
'Aku..........'
“Bagaimana kalau ia tau bahwa dirimu ternyata bukanlah Yuki dan apa yang akan terjadi selanjutnya? ”
'Itu......'
“Benar, ia akan membencimu, ia akan menjauhi mu, ia akan memusuhi mu, ia juga akan membunuhmu karena telah membunuh Yuki ”
'......'
'Aku tidak ingin itu terjadi.......'
'Aku tidak ingin ia benci.....'
“Benar Risa, kau harus mengingatnya, kau adalah pengganti Yuki, kau hanyalah Pengganti ”
'Aku.....Pengganti......'
*Smirk....
Gadis yang memghasut Risa itu menyeringai dan ia mendekati Risa, gadis itu menempelkan pipinya ke pipi Risa dan ia membisikkan sesuatu ke Risa.
“Luapakanlah perasaan ini ”
'......Begitu yah.......'
Tubuh Gadis itu lenyap dan akhirnya Risa tersadar kembali.
"Yuki, aku mencintaimu...."
"...."
"Maafkan aku Amura......"
"...." Amura terdiam saat mendengar hal tersebut.
"Kenapa?...." tanya Amura.
"Aku.....diriku.....tidaklah mencintaimu..."
'Aku mencintaimu.....'
".....Begitu yah, tapi aku tidak akan menyerah" lanjut Amura.
"Ah~, begitu yah......baiklah untuk awalnya bagaimana kalau mulai dari berteman dulu?" lanjut Risa.
'Aku ingin menjadi kekasihmu.....'
"Bukankah kita telah berteman?..."
"Ah iya juga, eheheh....."
'Aku ingin memelukmu.....aku ingin menciummu......aku ingin menyatakan perasaan ku yang sebenarnya kepadamu......'
'Tapi....... maafkan aku Amura........aku takut perasaan cinta ini akan membuatku menyesalinya.......'
'Aku takut dirimu membenciku saat mengetahui keberadaannya.......'
'Aku tidak ingin dirimu membenciku........jadi......sebelum perasaan ini semakin menguat, aku akan memendamnya dalam hati kosong ku ini......'
"Baiklah, lebih baik. kita kembali dulu....." lanjut Yuki........
"Baiklah, bisa berdiri?..." tanya Amura.
"Kamu benar-benar kejam yah!!!!" balas Yuki.
"Ahaha, sepertinya aku sedikit patah hati karena ditolak...."
Amura mengendong Yuki dan menempatkan nya kembali ke kursi roda tersebut.
Amura mendorong kursi roda Yuki dan menuju kembali ke rumah miliknya.
Terlihat pemandangan matahari terbenam dan Yuki pun berfikir.
'Akan kupendam perasaan ini jauh-jauh didalam hatiku bersamaan dengan terbenam nya matahari dilangit ini.....'
'Perasaan ini adalah hal tabu yang kumiliki......perasaan yang tidak seharusnya kumiliki.....diriku cuma peniru sekaligus pengganti......perasaan ini seharusnya milik Yuki.....dan bukan milikku.....'
"Indah bukan? matahari terbenam itu..." tanya Amura.
"Iya, sangat indah....." balas Yuki.
"Setiap matahari terbenam adalah kesempatan untuk menyetel ulang sebuah perasaan..." lanjut Yuki dengan senyuman tipis.
"Hm?...."
"Tidak, jangan terlalu dipikirkan.....aku cuma ngomong sendiri....."
'Langit menjadi gelap dan akhirnya matahari pun lenyap beserta perasaan yang membawa kehangatan dihatiku ini......'
'Wahai dunia......maafkan aku karena telah mencemari dunia ini dengan keberadaan seperti diriku ini.....'
'Aku berjanji.......aku.......aku akan berusaha untuk tidak memunculkan perasaan itu kembali.......'
'Perasaan yang membuatku mencintai diriku serta Pria yang membuatku memiliki perasaan ini......'
'Aku akan menghapusnya........'
'Semua perasaan yang membuatku bahagia......'
*Tes...
'Are.....aku menangis?....kenapa?.....kenapa aku menangis?....'
"Hiks.....Hiks....."
"Yuki ada apa?...."
"Ti-tidak....ma-mataku cuma kemasukan pasir saja....."
"Ja-jangan khawatir......"
Amura menghentikan gerakannya dan ia duduk didepan Yuki.
"Ada apa? kenapa menangis seperti ini?..." tanya Amura dengan lembah lembut sambil mengelap air mata Yuki dengan jarinya.
"...."
'Kumohon......jangan peduli kepadaku.....'
"Apa karena luka yang tadi? maafkan aku....."
'Kumohon.....jangan peduli kepadaku......jangan anggap keberadaan ku....'
"Ah.....jangan bilang karena ci-ciuman tadi?......."
"Ka-kalau memang benar begitu......aku minta maaf..."
"Kumohon....." ucap Yuki.
"Hm?.....kumohon apa?...." tanya Amura.
"Kumohon......tidak lupakan saja....aku cuma ngomong sendiri....." lanjut Yuki dengan senyuman tipis.
"....."
Amura mengengam tangan Yuki dan ia berkata dengan lembut.
"Kau boleh menceritakan masalah mu kepadaku....."
"Jangan menanggung semua beban itu sendiri....."
"...."
'Perasaan ini.......kembali lagi........'
Yuki kini tersenyum lembut dan ia menatap Amura dengan tatapan cerah.
"Lihat, aku tidak kenapa-kenapa kan...."
"Ah.....sepertinya begitu....baiklah aku lanjut dorong yah"
"Baiklah...."
Amura berdiri dan ia kembali mendorong kursi roda Yuki.
'Aku tidak bisa menyangkalnya......perasaan ini tidak akan pernah bisa ku bendung.....'
'Perasaan yang disebut sebagai cinta ini.......'
'Walaupun begitu, aku tidak akan pernah mengungkapkan perasaan ini kepadamu karena......'
'Tidak......bukan apa-apa......aku akan bersembunyi dibalik topeng yang kuciptakan ini......karena mau bagaimana pun diriku sangat hebat untuk berakting.....'
'Mengeluarkan senyuman palsu seperti ini sangat mudah untuk menyembunyikan perasaan ku.......'
"Amura....."
"Hm? ada apa?"
"Ingin makan masakan ku?"
"Apakah boleh?"
"Fufufu, kalau kamu mau akan ku buatkan kok...."
"Baiklah, aku akan ikut makan denganmu...."
Yuki kembali tersenyum seakan akan perasaan yang ia miliki tadi cuma sebatas angin yang berhembus melewati tubuhnya.
“Paling tidak, Biarkan diriku mencintaimu walaupun perasaan ini cuma sebatas hembusan angin semata, aku tidak membutuhkan balasan dari perasaan ini, akulah yang akan menanggung perasaan ini didalam hati kosong ku yang paling dalam sendirian ”
Yuki......Risa, memikirkan hal tersebut didalam hatinya dengan perasaan tegar sekaligus sedih.
......................
...( Sedikit info, Kata-kata alai terakhir itu gw bikin sendiri🗿 ) ...
...( Dan juga ini salah satu alasan kenapa gw ganti mcnya biar lebih emosional gitu loh.... ) ...
...( Thx cuy, dah baca..... ) ...
__ADS_1