
Kembali ke sisi Amura, Amura saat ini terngaceng eh maksudnya tercengang karena pemandangan yang ia lihat.
Satu ekor kucing berwarna putih sedang dielus oleh 3 gadis cantik dan hal tersebut membuatnya sedikit kesal karena diabaikan.
'Hah~......aku benar-benar diabaikan, memangnya apa imutnya kucing ini? aku benar-benar tidak mengerti pemikiran seorang wanita' pikir Amura dengan ekspresi datar.
Amura cuma memutuskan untuk melihat dan akhirnya Kucing putih tersebut dipangku oleh Yuki dan dielus olehnya.
Yuki tersenyum lembut dan Yuki juga mengelus tubuh kucing itu dengan ekspresi bahagia.
"...."
Ekspresi datar Amura seketika berubah menjadi ekspresi terkejut karena hal tersebut, dan dalam sekejap juga ekspresi yang ia miliki menjadi gelap.
'Aku tidak menyukai pemandangan ini, aku ingin Yuki tersenyum seperti itu cuma kepadaku saja.......'
Amura mengingat saat ia berada di hutan bersama Yuki dan hal tersebut membuatnya mengingat hal buruk.
'Ia bisa tersenyum seperti ini tapi..........kenapa ia bisa memiliki hasrat membunuh yang sekuat itu?......'
Amura masih tetap terkejut dengan hasrat membunuh yang dikeluarkan oleh Yuki saat di hutan dulu.
Ia benar-benar berfikir, kenapa gadis polos seperti Yuki bisa mengeluarkan hasrat membunuh sekuat itu seakan-akan Yuki pernah membunuh banyak orang.
'.....'
'Tidak, tidak, tidak......seseorang yang memiliki hasrat membunuh sebesar itu bukan berarti pernah membunuh......'
'Benar kan?........yah, lebih baik tidak usah kupikirkan lagipula diriku juga tidak pantas memikirkan hal tersebut....'
Amura melamun karena pemikirannya sendiri dan hal tersebut membuat Yuki, Reina, Keina kebingungan.
'Kenapa Amura terlihat serius seperti itu?....' pikir Yuki.
Minimal peka ancrit!!!!.
'A-Aku lupa bahwa ada Amura disini......apa ia marah karena kami abaikan?.....' pikir Reina.
Benar, seperti yang diharapkan dari Reina tapi bukan itu masalah nya.
'Jangan-jangan Amura juga ingin mengelus White?.......ya-yah khusus untuk Amura aku akan mengizinkannya mengelus White sesuka hatinya.....' pikir Keina dengan wajah yang sedikit merona.
Ndak tawu mau komentar apa🗿.
Kini mereka semua terhanyut kedalam pemikiran mereka masing-masing......
Hal tersebut membuat suasana hening sementara dan akhirnya Yuki mengawali perkataan di keheningan itu.
"Amura, ada apa? kenapa kamu terlihat serius begitu?...." tanya Yuki.
"....."
Amura masih diam dan ia mengabaikan Yuki, hal tersebut membuat Yuki kesal.
"Amura....."
"...."
"Grrr~....."
Ekspresi Yuki menjadi kesal karena diabaikan oleh Amura.
"Amura-kun!!!!!...." teriak Yuki dengan wajah merah merona.
"Eh...ah, ada apa Yuki?..." tanya Amura yang kini telah sadar dari lamunan yang ia miliki.
'Keceplosan.....' pikir Amura karena ia memanggil Yuki dengan nama depannya sedangkan Yuki mengabaikan hal tersebut.
"Kenapa kamu melamun dengan ekspresi serius seperti itu?..."
"Melamun?.......memangnya aku melamun yah?...."
"Jadi kamu mengabaikanku....." tanya Yuki dengan ekspresi dingin.
Amura yang merasakan perasaan berbahaya pun akhirnya berkata dengan gagap.
"Eh ti-tidak, A-Aku tadi memang melamun....." ucapnya dengan ekspresi tertekan.
Yuki akhirnya memutuskan untuk lebih tenang dan ia bertanya kepada Amura.
"Begitu yah, kalau boleh tau kamu melamun apa sampai-sampai bermuka serius seperti tadi?...."
'Aku harus menjawab apa......' pikir Amura dengan perasaan bingung.
Walaupun Amura bingung tapi ekspresi yang ia miliki tidak berubah sama sekali.
"Aku cuma sedikit melamun tentang hal yang kemarin kutemui"
"Hal yang kemarin kamu temui?...."
"Ada pilar es didalam hutan yang menjulang ke atas sampai 300 meter tinggi nya"
"Oh begi......"
'Ja-jangan-Jangan karena tingkah ku......' pikir Yuki dengan gugup.
"Pilar es?..." tanya Reina dengan ekspresi bingung.
"Aku melihat sebuah hal yang menjulang ke langit saat mengelilingi hutan dan saat ku dekati aku melihat sebuah pilar es..."
"Pilar es itu entah kenapa seperti tidak bisa meleleh dan saat aku menyerangnya terasa sengatan listrik mengalir melalui katana ku...."
"Apa-apaan itu, apakah ulah monster?..." lanjut Reina.
"Sepertinya begitu...." jawab Amura.
"Da-dari pada membahas itu lihat ini" ucap Keina sambil memperlihatkan sebuah gambar di hpnya.
Terlihat pemandangan hutan yang telah beku karena suatu hal dan hal tersebut lagi-lagi membuat Yuki tertekan.
'Aku harus hati-hati untuk menggunakan skill yang kumiliki.....' pikir Yuki.
"Hutan yang beku? memangnya apa spesialnya itu?..." tanya Reina dengan ekspresi bingung.
"Hutan ini berada di kota ini, dan kau sendiri tau kan bahwa saat ini bukanlah musim dingin tapi bagaimana bisa hutan beku seperti ini?....." lanjut Keina.
"Oh begi-Tunggu di kota ini?...."
Amura yang tadinya seperti tidak peduli langsung terkejut saat mendengar penjelasan Keina.
Kini mereka semua berfikir secara serius, mau bagaimana pun mereka semua adalah orang jenius yang bisa mendapatkan nilai sempurna di ujian.
Disaat semua orang serius, Yuki merasa tertekan karena atmosfer tersebut dan akhirnya ia berkata.
"M-Mungkin itu cuma serangan Iblis atau Monster, dan juga sepertinya hal yang diceritakan Amura berhubungan dengan hal ini....."
"Kalau benar begitu hal tersebut pasti akan menjadi ancaman, mau bagaimana pun dampak serangan seperti itu hanya bisa dilancarkan oleh monster Rank A" ucap Keina dengan ekspresi serius.
Reina yang mendengar hal tersebut cuma bisa mengeluarkan ekspresi serius.
Sedangkan Yuki dan Amura cuma mengeluarkan ekspresi datar.
Mau bagaimana pun mereka berdua pernah melawan monster Rank A, walaupun monster yang dilawan Amura kehilangan 50% kekuatan nya.
Tapi hal tersebut tidak memungkiri fakta bahwa Amura telah membunuh monster Rank A.
Dan walaupun monster yang dilawan Yuki masih belum serius sama sekali tapi juga tidak bisa dipungkiri bahwa Yuki pernah berhadapan dengan monster Rank A.
"Keberadaan Monster Rank A diperkirakan bisa menghancurkan Gunung kecil dalam sekali serangan dan cuma membutuhkan beberapa menit untuk menghancurkan sebuah kota...." ucap Reina dengan ekspresi serius.
Amura dan yang lain akhirnya memutuskan untuk kembali ke kelas dan akhirnya pelajaran kedua dimulai.
"Karena kita telah praktek maka saat ini kita akan membahas sebuah materi" ucap Benjamin sambil melihat buku.
"Seperti yang kalian tahu, monster memiliki tingkatan dari E-SS"
Monster E-C memiliki kekuatan yang hebat tapi tidak terlalu hebat, dimulai dari lebih kuat dari manusia sampai bisa menghancurkan bangunan kecil.
Monster B memiliki tingkatkan kekuatan yang kurang lebihnya di titik maksimal mereka bisa menghancurkan bangunan besar atau bahkan kota kecil.
Monster A memiliki kekuatan yang dasyat dan mereka bisa menghancurkan sebuah kota besar dalam beberapa jam atau bahkan menit.
Monster Rank A Terkuat yang pernah muncul adalah Black Dragon, Black Dragon bisa menghancurkan sebuah gunung besar cuma dengan hembusan nafasnya dan ia juga pernah mengobrak abrik Negara-negara Di Asia.
Monster Rank S, Monster yang bisa menghancurkan sebuah Benua.
Cuma itu saja hal yang bisa diungkapkan, dan keberadaan yang memiliki Rank S cuma Raja Iblis Thanatos saja.
Rank SS, keberadaan yang bisa menghancurkan sebuah planet dengan kekuatannya.
Tapi monster Rank SS tidak pernah ditemukan didunia, walaupun begitu para manusia yakin bahwa monster dengan tingkat itu ada di dalam alam semesta ini.
"Monster terkuat di tingkat A adalah Black Dragon"
"Black Dragon pernah muncul di Jepang, Korea, China dan Indonesia"
"Black Dragon menyerang ke 4 negara di Asia tersebut dan akhirnya para Slayer terkuat di seluruh Dunia memutuskan untuk mengalahkan nya"
"Tapi walaupun begitu Black Dragon terlalu kuat dan membuat banyak korban berjatuhan"
"Black Dragon tidaklah dikalahkan atau bahkan dibunuh"
__ADS_1
"Tapi ia menghilang dan kembali ke neraka atas kemauan nya sendiri"
"Dan untuk Thanatos....kalian pasti tau sekuat apa Iblis itu"
"Iblis yang membawa kehancuran kepada manusia dan pemimpin terkuat dari bangsa iblis"
"Disaat para manusia telah kehilangan harapan mereka, Tiba-tiba muncul sesuatu yang disebut sebagai [ Sistem ]"
"Tidak ada yang tau sistem muncul karena apa"
"Tapi banyak orang yang berspekulasi bahwa Sistem diciptakan oleh Dewa"
"Sistem sendiri memiliki kegunaan yang hebat"
"Dengan Sistem manusia bisa menjadi lebih kuat cuma dengan cara naik level"
"Untuk perbandingan kekuatan, Pikirkan saja ada orang kurus yang memiliki sistem melawan Orang berotot tebal yang tidak memiliki sistem"
Pertarungan Antara Orang kurus dengan level 5 melawan Orang Berotot tebal hasil dari latihan seumur hidupnya.
Banyak yang berfikir bahwa Orang berotot pasti akan menang tapi malah sebaliknya.
Orang berotot itu menjadi samsak dari Orang kurus itu dan Orang kurus itu akhirnya menang dengan mudah.
Konsep dari Sistem adalah Kompleks, dengan Sistem seorang Pengocok juga akan bisa menjadi Superman karena peningkatan level.
"Kira-kira begitu lah materi yang kusampaikan, apa ada pertanyaan?"
"Saat ingin bertanya..." ucap seseorang gadis berambut hitam kuncir dua.
...( Seperti Biasa )...
Gadis itu memiliki rambut berwarna hitam dengan kuncir dua dan ada sedikit warna biru muda di rambutnya.
Gadis itu memiliki paras yang cantik serta imut dan suara yang lembut juga.
Gadis itu adalah Hoshiko Rini, Rini bertanya kepada Benjamin tentang suatu hal.
"Apakah ada cara meningkatkan level selain dengan cara membunuh Monster?" tanya Rini.
"Pertanyaan yang bagus tapi juga bodoh" jawab Benjamin.
"Banyak sekali penelitian yang mencoba berbagai hal untuk naik level"
"Mulai dari memakan bagian tubuh monster, Memakan Core monster, atau bahkan membunuh manusia dan banyak lagi"
"Tapi semua hal tersebut tidak ada yang membuktikan kebenaran nya, semua itu gagal dan akhirnya ditemukan kesimpulan bahwa Mutlak Satu-satunya cara untuk naik level adalah dengan membunuh monster"
"Terima kasih karena telah menjelaskan nya..." lanjut Rini.
"Baiklah, selanjutnya?..."
"Saya..." Kini Berdiri seorang gadis lainnya.
...( Pinterest )...
Gadis itu memiliki rambut berwarna hitam pendek dan ia juga memiliki wajah yang cantik, Gadis itu adalah Shina Haru.
"Apakah anda kuat?" tanya Shina Haru kepada Benjamin dengan ekspresi penasaran.
"Bisa dibilang begitu" jawab Benjamin dengan singkat karena malas menjawab.
"Kalau begitu tingkatan anda di Rank apa" lanjut Shina dengan ekspresi dingin.
"Apa kau penasaran?..." tanya Benjamin.
"Iya..."
'Yah sedikit saja boleh lah...' pikir Benjamin.
Benjamin kini menutup mata yang ia miliki dan para murid di kelas S bingung.
Bahkan Akane, Saki dan Yuki yang tadinya tenang juga ikut bingung.
'Bukankah Papa itu memiliki Rank S yah?....' pikir Yuki.
'Apa yang ia lakukan?...' pikir Akane dengan heran.
'Benar juga, aku tidak pernah mengetahui seberapa kuatnya Papa............Benjamin maksudnya' pikir Saki dengan ekspresi bingung Seakan-akan ada ingatan yang hilang di kepalanya.
...[ Intimidasi ]...
Benjamin membuka matanya dan terlihat Aura hitam gelap keluar dari tubuhnya.
Tidak ada ledakan, tidak ada getaran, tidak ada juga sebuah tekanan.
Tapi ditelinga mereka semua terdengar sebuah ledakan Aura yang membuat tubuh mereka semua bergetar.
Bahkan Amu dan Amura yang merupakan siswa terkuat ikut tertekan oleh Aura Benjamin.
'A-Aku tidak bisa bergerak....' pikir Amura dengan keringat dingin diwajahnya.
'Papa, ternyata ia sekuat ini.....' pikir Saki dengan menahan tekanan tersebut.
'Pa-Papa.....' pikir Yuki dengan ekspresi tertekan.
Saki yang melihat Yuki serentak memeluk Yuki dengan erat.
'A-Apa apaan tekanan ini!!!!' pikir Yoru dengan ekspresi ketakutan.
'A-aku takut?.....bukankah aku Rank A.....' pikir Akane dengan ekspresi tertekan.
Semua yang ada dikelas itu seketika berkeringat dingin dan bahkan Shina yang tadinya berdiri kini terjatuh dan ia mengeluarkan ekspresi ketakutan.
...[ Intimidasi Mati ]...
*Whus...
Dalam seketika Aura tersebut lenyap dan akhirnya mereka bisa bernafas lega.
Keringat dingin bercucuran dari wajah mereka karena Aura yang dimiliki Benjamin.
'Apa aku berlebihan? padahal itu tingkatan ke 1 dari 3 tingkatan....' pikir Benjamin dengan heran.
Walaupun Benjamin tidak menyadari nya, ia sebenarnya sekuat Slayer Peringkat Pertama.
Dan bisa dibilang Mereka tadi sedang merasakan Aura dari keberadaan yang setara dengan Rank 1.
"Apa sudah cukup?" ucap Benjamin dengan ekspresi bersalah karena melihat keadaan Saki dan Yuki.
"......." Mereka semua terdiam karena Aura intimidasi yang dikeluarkan Benjamin tadi.
'Ia benar-benar kuat....' pikir Amura dengan ragu serta keringat dingin mengalir dari pipinya.
'Sepertinya aku benar-benar berlebihan.....' pikir Benjamin.
Kini Akhirnya Benjamin memulai kembali pelajarannya dan ia menjelaskan tentang Monster, Slayer dan juga Pelajaran biasa.
Beberapa saat berlalu dan kini akhirnya jam siang telah tiba.
Mereka semua memutuskan untuk ke kantin dan Amura serta Yuki entah kenapa bisa berdua sendirian di tengah taman bunga.
''Kenapa ini bisa terjadi....'' pikir Mereka berdua.
Sedikit Flashback....
Selesai makan dikantin Yuki diajak Reina ke suatu tempat.
"Yuki ayo ke taman!!!" ajak Reina.
"Taman? ngapain?...." balas Yuki dengan ekspresi bingung.
"Cari angin"
"...."
"Baiklah, lagipula kita juga nganggur karena jam istirahat" lanjut Yuki.
Kini Akhirnya mereka berdua menuju ke taman sekolah.
Akhirnya mereka memutuskan untuk menuju ke tengah lapangan.
Mereka melihat bunga yang indah dan berbagai hewan yang Acumalaka....
Terlihat sebuah ular yang sangat panjang melilit sebuah tanaman yang ada di sana yang membuat tanaman itu terlihat Acumalaka....
Yuki dan Reina menatap datar ular itu dan akhirnya Reina memegang ular itu dan melemparnya entah kenapa.
*Wing.....
Kini Mereka menatap datar kembali taman itu dan akhirnya mereka berkata dengan ekspresi datar.
"Benar-benar merusak pemandangan..." ucap mereka berdua.
*Kyaaa.....
Tiba-tiba terdengar sebuah teriakan imut dari arah Reina melempar Ular tadi.
__ADS_1
Tatapan mereka berdua menjadi gelap dan akhirnya Yuki berkata.
"Pa-pasti aku salah dengar kan...."
"Bu-bu-bukan........Aku juga mendengar hal itu....." ucap Reina.
Seketika Reina berlari ke arah yang ia lempar tadi dan Yuki mengikuti Reina dari belakang.
Terlihat Reina yang tengah meminta maaf kepada seorang guru wanita yang disamping nya ada seorang Pria.
Pria itu adalah Amura yang telah membantu Guru tersebut karena ular tadi.
Singkatnya Reina kena Marah dan diseret pergi ke ruang Bimbingan Konseling.
"Amura-kun, aku titip Yuki kepadamu!!!!" teriak Reina sambil diseret pergi.
Dan begitulah alasan kenapa hal manuk akal ini terjadi.
".....Mau keliling?" tanya Amura kepada Yuki.
"Baiklah" jawab Yuki dengan singkat.
Kini Amura mendorong kursi roda Yuki dan ia berbincang dengan Yuki.
Mereka berbincang cukup lama dan akhirnya mereka telah mengelilingi sekolah sambil melihat pemandangan sekolah.
Yuki serta Amura benar-benar menarik perhatian seakan-akan mereka adalah Malaikat yang hidup diantara manusia.
Dan setelah lama berkeliling siapa sangka mereka menemukan sebuah Bangunan kosong.
"Sekolah ini benar-benar besar yah" ucap Amura dengan ekspresi datar.
"Benar" jawab Yuki dengan ekspresi datar juga.
'Sebesar apa coba sekolah ini, bahkan saat kami berkeliling selalu saja menemukan tempat aneh'
'Seakan-akan sekolah ini merupakan sebuah kota....'
Yuki cuma memikirkan hal-hal aneh yang ada disekolah itu.
"Ingin mengeceknya?" tanya Amura.
"Hm~.....Baiklah!!!"
Kini Akhirnya mereka menuju ke bangunan tua tersebut dan Amura bersiap-siap untuk melindungi Yuki entah apapun yang terjadi.
Mereka berdua memasuki bangunan itu, didalam bangunan tersebut terdapat banyak sekali rak yang didalamnya terdapat banyak buku-buku tua.
"Perpustakaan? kenapa ada perpustakaan terbengkalai yang jauh dari sekolah?" ucap Yuki dengan heran.
Mereka kini melihat-lihat dan membuka buku itu satu persatu.
"Tidak ada yang aneh, ini semua hanya buku pelajaran...." lanjut Yuki.
Amura mengikuti kemauan Yuki dan ia mendorong kursi roda Yuki dengan perlahan.
Yuki membaca Buku tersebut satu persatu dan ia sedikit bingung dengan salah satu buku.
...[ Item Didapatkan ]...
...[ Buku (???) ]...
'Item?....' pikir Yuki dengan ekspresi bingung saat melihat buku ditangannya.
Yuki memutuskan untuk menyimpan buku tersebut di inventory yang ia miliki dan mereka menjelajahi tempat itu.
Akhirnya lantai satu telah mereka jelajahi dan kini mereka naik ke lantai dua.
Mereka menaiki tangga kayu yang lapuk dimakan usia serta rayap.
*Crack...
"Sudah kuduga" ucap Yuki dengan ekspresi datar.
*Brak...
Kini mereka terjatuh dari tangga dan akhirnya Amura memeluk Yuki dan ia melompat ke lantai dua.
Kursi roda Yuki terjatuh tapi tidak hancur atau kenapa napa.
"Apa kau tidak apa-apa Yuki?..." tanya Amura sambil memeluk Yuki.
'Aku menyebut namanya....' pikir Amura.
"..."
Wajah Yuki seketika memerah karena pelukan Amura dan ia mencoba melawan.
"Jangan banyak bergerak, nanti kau jatuh lagi" lanjut Amura.
"..."
Yuki kembali lagi tidak berkata apa-apa karena ia malu dengan keadaan mereka saat ini.
"A-Amura.....i-ini sesak" ucap Yuki.
"Ah, maaf aku tidak menyadari nya..."
Kini Amura mengendong Yuki layaknya seorang putri dan ia berjalan menuju ke rak buku di lantai dua.
"A-A-Amura.....a-aku, aku akan menggunakan kursi roda ku sendiri saja..."
"Tidak, lebih baik seperti ini saja..."
".....Ba-baiklah...." balas Yuki dengan wajah merah merona.
Tatapan Amura menjadi gelap dan ia berfikir.
'Teruslah bergantung kepadaku Yuki, aku ingin kau selalu bergantung kepadaku...' pikir Amura dengan tatapan gelap.
Walaupun Tatapan Amura gelap tapi ia tersenyum lembut kepada Yuki yang ada dipelukan nya.
Yuki melanjutkan membaca buku di lantai dua sambil digendong Amura.
Wajah Amura sedikit memerah saat ia melihat wajah Yuki dengan lebih dekat.
Ia menatap wajah Yuki terus menerus dan kini ia menatap bibir merah muda Yuki.
'Bibir itu.....aku ingin memilikinya......tidak akan kubiarkan orang lain memiliki bibir itu, tidak bukan cuma bibir saja'
'Tubuhmu juga akan menjadi milikku berserta hati yang kau miliki....'
Amura tersenyum dengan ekspresi gelap dan pikiran negatif.
Amura benar-benar terobsesi dengan Yuki dan ia tidak rela Yuki dimiliki oleh Pria lain.
Amura tidak menyadari bahwa dirinya telah berubah secara total.
Ia benar-benar menjadi sesosok yang rakus akan kasih sayang Yuki karena pengaruh Gluttony.
'Aku ingin menciumnya....'
Kini Amura mendekatkan wajahnya kepada wajah Yuki, Yuki yang menyadari hal tersebut bertanya kepada Amura dengan bingung.
"Hm? ada apa Amura?..." tanya Yuki.
Amura menghentikan pergerakan wajahnya dan ia terdiam.
"..."
'...'
'Apa yang kupikirkan......'
'Aku akan melakukan hal tersebut kalau telah diizinkan oleh Yuki.....'
"Tidak, bukan apa-apa silahkan dilanjutkan saja" ucap Amura sambil tersenyum tipis.
"Baiklah..."
Kini Yuki melanjutkan untuk mengecek buku yang ada di sana satu persatu dan beberapa saat berlalu.
Yuki melihat sebuah buku yang mana sampulnya dilapisi oleh sebuah besi hitam.
Yuki yang penasaran akhirnya membuka buku tersebut dan terlihat isi buku itu.
"Kosong?...." ucap Yuki dengan ekspresi bingung.
Yuki membalik lembar buku itu satu persatu dan akhirnya buku itu bersinar dan mereka berdua mendapatkan pemberitahuan.
...[ Segala kehidupan dalam jarak 3 meter dari buku akan dipindahkan ]...
"Eh" ucap Mereka berdua.
Cahaya terang muncul dari buku itu dan membuat mata mereka berdua silau.
*Clink.....
Tubuh mereka seketika menghilang dan akhirnya mereka berpindah ke suatu tempat.
......................
__ADS_1
...( Thx Cuy dah baca, jan lupa Like )...