
-Pov Saki Yunna(Ibu yuki)
Yuki tidur dipangkuan ku dan kini dia terlihat sangat imut saat tidur.
"Anakku sudah tumbuh besar yah" ucapku sambil tersenyum dan senyuman itu memudar saat aku mengingat masa lalu.
Yuki terlahir dengan tubuh yang lemah karena penyakit yang tidak diketahui, apalagi saat yuki lahir dunia dilanda bencana karena iblis dan monster.
Iblis dan monster adalah keberadaan yang seharusnya tidak ada didunia, tapi 5 tahun yang lalu terjadi sesuatu yang disebut retakan dimensi yang mana retakan itu mengeluarkan mahluk mahluk mistis seperti monster, naga, dan iblis.
Retakan itu muncul di setiap benua, dan monster yang ada di retakan itu memporak porandakan dunia.
Tapi manusia tidak membiarkan hal itu terjadi, manusia mencoba melawan dengan menggunakan senjata api dan bahkan senjata nuklir.
Tapi hal tersebut tidak terlalu berpengaruh kepada para monster. Beberapa jam berlalu dan setelah itu semua manusia yang masih hidup mendapatkan sesuatu yang disebut "sistem".
Dengan bantuan Sistem para manusia bisa mengurangi dampak yang ditimbulkan para mahluk mistis itu, dan para mahluk mistis itu memutuskan untuk kembali ke retakan dimensi.
Tapi ada juga iblis yang masih ada di bumi dan iblis itu bersembunyi di suatu tempat, untuk menangani iblis yang masih ada dibumi, para manusia memutuskan untuk mendirikan organisasi yang disebut "Slayer".
Para slayer dari setiap benua menumpas para iblis yang bersembunyi dan merendahkan dampak dari serangan iblis.
5 tahun telah berlalu sejak itu dan kini dunia lebih damai, tapi tetap saja para iblis masih ada didunia.
Karena itu di setiap negara mendirikan sekolah untuk mendidik para "Slayer" demi masa depan.
"Aku sangat khawatir dengan Yuki... aku takut kehilangannya " ucapku sambil menangis memeluk Yuki.
"Kumohon, semoga Yuki bisa selamat dari penyakitnya... aku tidak ingin kehilangan anakku lagi"
"Mama, pasti akan melindungi mu, karena itu Kumohon.... tetaplah hidup"
...[.....]...
-End Saki Pov.
-(Yuki Pov)
Setelah beberapa saat setelah aku tidur...
Akupun terbangun dan kini melihat ruangan yang sangat imut, penuh boneka dan memiliki cat dinding berwarna pink, yah itu adalah kamarku.
"Hwaaa" ucapku yang menguap sambil merenggangkan badanku.
Aku pun bangun dari kasur dan kini dalam posisi duduk diatas kasur.
"Hmm... sudah berapa lama aku tertidur" ucapku sambil mengucek mata.
...[Jawab]...
...[Anda telah tertidur selama 5 jam]...
...[Dan sekarang sudah jam 16.30]...
"Owh.. yah bagaimana pun tidur sangat penting untuk kesehatan tubuh apalagi aku saat ini adalah anak anak" ucapku dengan lemas.
"Um... sistem apakah aku boleh tidur lagi"
...[Tidur berlebihan juga tidak baik untuk tubuh]...
"Hah..." menghela nafas
"Jadi saat ini aku harus ngapain"
...[Ngapain?]...
...[Ya bangun lah]...
"Hah, aku kan sudah bangun" ucapku dengan kesal.
...[Bagun dari tempat tidur maksudnya]...
"..... Males"
...[Grrr]...
...[Kenapa aku harus punya majikan yang seperti ini]...
...[Kalau anda tidak bangun, nanti saya sentil loh]...
"Pftt, memangnya situ bisa" ucapku sambil mengejek.
...[💢]...
*Ctakk
Suara Sentilan.
"Itaiiii..." ucapku yang kesakitan karena disentil jidatku.
"Lahh, kok bisa nyentil..." ucapku yang terheran heran.
...[Saya bisa memberikan simulasi rasa sakit...
...kepada Anda]...
...[Seperti tadi contohnya]...
"..... umm, bukankah itu berbahaya" ucapku dengan ketakutan.
...[Yah, itu S-A-N-G-A-T berbahaya]...
...[Apakah anda ingin saya pukul]...
"E-Eto....... Gomenasai"
__ADS_1
...[Hm, lebih baik kalau anda tau]...
...[Sekarang Bangun dan pergi ke lantai bawah]...
"Haiikkk" ucapku dengan nada yang sangat panjang
Aku pun berdiri dari kasur dan membuka pintu kamar.
"Kyaa.... " teriakku yang sedang kaget sampai jatuh ke belakang.
"Ada apa Yuki" teriak Mama dari lantai bawah.
Kini mama berlari ke lantai dua dengan cepat sambil mengeluarkan 2 bola salju dengan Skillnya dan ia kini memasuki kamarku.
"Ada apa Yuki, apakah ada monster dirumah ini" ucap Mama dengan nada khawatir.
Aku yang melihat Mama dengan cepat memeluknya sambil mengeluarkan sedikit air mata.
"M-Mama... ada monster yang mengerikan di depan pintu kamarku" ucapku sambil menangis ketakutan.
"Eh.." ucap Mama
"Monster?...... Jangan-jangan" ucapnya sambil keluar kamar dan menuju monster itu.
"Um...... yuki ini bukan Monster ini lukisan" ucap Mama yang sedikit lega dan menghilangkan 2 bola salju di belakangnya
"Eh... Lukisan?" ucapku yang sedang kebingungan.
Kini aku mengecek monster tadi dan yah...... ini benar-benar lukisan. Lukisan bergambar monster yang sangat menyeramkan.
"Hmm, kenapa dari dulu banyak sekali lukisan aneh di jalan menuju kamarku" ucapku sambil membusungkan pipi.
Kenapa ayah dari dulu suka sekali mengoleksi lukisan lukisan aneh.
Eh... kenapa aku tau kalau ayah yuki mengoleksi lukisan dari dulu.
"Ugh" ucapku yang sedang kesakitan.
"Yuki" ucap Mama dengan khawatir.
Dadaku dan kepalaku sangat sakit... ada apa ini.... ini?, ingatan ku.
"Yuki kamu kenapa, apakah penyakit mu kambuh lagi"
"T-tidak Ma.. kepalaku sedikit sakit saja.. mungkin kalau aku memakan sesuatu, rasa sakit ini akan menghilang" ucapku dengan terbata-bata
"B-baiklah, akan Mama buatkan sesuatu"
Kini Mama menggendongku dan menidurkan ku di atas kasur.
"Tunggu sebentar yah" ucap Mama
"B-baik" ucapku yang kini memejamkan mata dan perlahan tertidur.
...[Memulai proses penyatuan ingatan]...
...[Ingatan Yuki Yunna dan Yuu Hinamura]...
...[Kini telah bersatu]...
...[Menciptakan kepribadian baru dari dua ingatan tersebut]...
...[Selesai]...
...[Terciptalah Eksistensi yang tidak ada dimasa depan]...
...[Yuki Yunna]...
...[Kefeminiman meningkat]...
...[75%>80%]...
......................
"Yuki... bangun sayang, ini Mama sudah buatkan Makanan" ucap seorang wanita dengan lemah lembut.
"Ma-Ma" ucapku dengan mata sedikit terbuka.
Seketika aku menangis karena mengira aku tidak akan pernah bertemu Mama lagi.
Aku pun serentak memeluknya dengan erat dan menangis sekeras kerasnya.
"Yosh-yosh... pasti sakitkan... maafkan Mama karena selalu saja tidak bisa merendahkan rasa sakit itu" ucapnya dengan air mata dimatanya.
"Andai saja rasa sakit itu bisa dibagikan, aku akan menanggung semua rasa sakit itu darimu" lanjutnya sambil memelukku dengan erat.
"Tidak... ini bukan salah Mama... ini salahku karena terus merepotkan Mama"
"Andai saja aku tidak terlahir pasti Mama bisa bahagia" ucapku sambil menangis.
"Jangan bicara seperti itu...."
"Mana mungkin Mama tidak bahagia, Mama sangat bahagia saat melahirkan kamu" teriaknya dengan ekspresi sedih.
Aku yang melihat itu serentak memeluknya lebih erat dan menangis sejadi-jadinya.
"Maafkan aku... Maafkan aku... maafkan aku karena sudah menjadi anak yang nakal"
"Yuki tidak nakal kok, mungkin cuma sedikit nakal saja" balasnya sambil tersenyum tipis.
Kini Mama cuma memelukku dan menenangkan ku.
..... Alasan aku se emosional ini karena ingatan Yuu dan ingatan Yuki bergabung.
Kini semua ingatan yang dimiliki Yuki telah menyatu dengan ingatanku sampai sampai aku bingung siapa aku sebenarnya, Yuki atau Yuu.
__ADS_1
Disisi yuki dia sedih karena tau masa depan dari ingatanku, yang mana diingatan itu dirinya mati dan orang tuanya mengalami rasa kehilangan yang luar biasa.
Karena itulah Yuki menangis.
Setelah sedikit lebih tenang kini pun aku disuapi makanan oleh Mama. Mama memasakan aku Ramen.
Akupun melahap suapan pertama Mama. Dan aku sangat terkejut rasanya enak dan tidak pahit.
"Bagaimana rasanya apakah masih pahit.." tanya Mama dengan ekspresi khawatir.
"Tidak ini sangat enak" ucapku sambil tersenyum.
"Syukurlah" ucap Mama dengan ekspresi lega.
Beberapa saat berlalu dan kini aku sedang mandi bersama Mama karena sudah Sore menjelang Malam.
Saat berendam di bak mandi Mama menanyaiku.
"Nee, Yuki apakah ingin bertemu Papa" tanya Mama.
"Eh, Papa"
"Iya, Papa sangat khawatir dengan yuki pada saat yuki sakit"
"Dan sekarang Papa ingin bertemu dengan Yuki"
Di ingatanku Papa sangat baik kepadaku walaupun mukanya Nyeremin walaupun begitu beliau sangat amat baik kepadaku dan ibuku.
"Iya, aku sangat ingin bertemu dengan Papa"
"Kebetulan sekali, Papa sudah Mama kabari dan sekarang dia dalam perjalanan kemari"
"Eh"
Beberapa saat berlalu dan kini aku di kamar ibu untuk ganti baju dan saat ini ayah sudah ada diruang tamu menunggu kami selesai mengganti pakaian.
Setelah cukup lama mengganti pakaian ibu menggendongku menuju ke lantai bawah.
Dan sesudah sampainya di lantai bawah aku melihat seorang Pria dengan rambut hitam dengan mata berwarna ungu dan berpakaian hitam ala jaman-jaman Kerajaan. Yang sedang duduk di Sofa pinggir jendela yang mana ketampanannya terkena sinar matahari waktu sore.
"Apakah kamu sudah lama menunggu sayang" ucap mama sambil tersenyum cerah.
Sedangkan Papa cuma tersenyum tipis sambil menyipitkan matanya dan berkata.
"Tidak, aku juga baru sampai" ucapnya sambil berdiri dari sofa itu.
'Bohong padahal Papa sudah datang sejak Mama dan aku memasuki kamar untuk ganti baju' batinku.
'Yah alasan aku tau itu karena ada suara mobil yang diparkir di halaman rumah saat aku menganti baju'
'Yah, Papa di ingatan ku memang memiliki sifat Tsundere (Tidak jujur pada perasaannya).yah begitulah'
Kini Papa berjalan ke arahku dan memelukku dan Mama.
"Maafkan aku, karena tidak bisa datang saat Yuki sakit" ucap Papa.
"Tidak apa-apa lagipula Yuki tidak marah kan" tanya Mama.
"Umu, Yuki tidak pernah Marah ke Papa" ucapku dengan senyuman yang sangat-sangat indah.
Sedangkan Papa cuma kaget karena sesuatu... apakah karena aku berkata tidak membencinya.
Yah bagaimana pun Papa adalah orang yang sangat perhatian kepada ibu dan aku.
"Yuki..... kamu tadi memanggilku apa" tanya nya dengan ekspresi.... ekspresi apa itu, Papa tidak mengeluarkan ekspresi apapun.
"Papa?" ucapku sambil memiringkan kepalaku.
Kini ia tersenyum kepadaku.
Aku benar benar tidak mengerti bagaimana perasaan Papa.
Tunggu jangan-jangan.... seketika wajahku memerah.
Aku lupa... aku yang dulu memangil Papa sebagai ayah.
"Apakah Papa tidak suka disebut Papa" tanyaku dengan wajah memerah.
"Tidak, aku sangat suka yuki memanggilku Papa" ucapnya sambil tersenyum tipis dan pipi yang sedikit memerah.
Uwahhh, senyuman itu pasti bikin para wanita ketar ketir... senyuman yang ada wajah dingin Papa, sangatlah indah.
"Syukurlah" ucapku sambil tersenyum.
"Kyaa, anakku imut sekali..." teriak Mama.
"Bukankah begitu sayang" tanya ibu ke Papa.
"Iya" jawabnya dengan senyuman tipis.
"Ehehe" ucap Mama sambil terkeheh.
Em.... Papa dan Mama adalah pasangan yang saling melengkapi. Yang mana Mama seperti matahari dan Papa seperti Bulan.
Kalau dipikir-pikir bukankah Papa dan Yuu sangat mirip.
Diriku dimasa depan adalah orang yang sangat dingin, yang mana dia tidak peduli apapun yang terjadi kepada dunia.
Yang dia pikirkan hanyalah dirinya sendiri.
Aku yakin Papa dimasa lalu juga sama sepertiku yang dimasa depan, dan Mama adalah orang yang telah mencairkan hari dingin milik Papa.
Kalau memang seperti itu, aku juga akan menjadi seseorang yang berharga bagi Yuu dan membuat hati dinginnya itu mencair, Aku berjanji.
__ADS_1
......................