
Beberapa saat berlalu dan kini aku duduk dipangkuan Papa..... Kamu Nanya, kok bisa aku dipangku Papa, Aku Kasih Tau Yah.
Simpelnya aku dapat quest dari sistem untuk minta dipangku Papa... yah sesimpel itu sih.
Hadiahnya juga lumayan, 2500 Poin.
...[Poin 0>2500]...
'Muhehehe, untung banyak cuy' batinku.
"Yuki manja sekali yah karena ingin dipangku Papa.... Mama jadi iri" ucap mama dengan ekspresi kecewa.
"Eh, tapi kan Mama sudah duduk sangat dekat dengan Papa" jawabku dengan ekspresi bingung.
Mama saat ini duduk di samping Papa, yang mana dia ada disofa yang juga diduduki Papa.
"Hm...." ucapnya sambil membusungkan pipi.
'Eh....ehhhh...jangan jangan ngambek' pikirku yang terheran heran.
"Mama ngambek?" tanyaku dengan sedikit memiringkan kepala.
"Tidak kok aku tidak ngambek" ucapnya sambil bertingkah tsundere.
"Apakah kau ingin ku pangku" ucap Papa yang mana perkataan itu membuatku terheran heran.
"Eh.. Ti-tidak, siapa juga yang mau kau pangku" ucap Mama dengan wajah memerah.
"Jadi kau tidak mau ku pangku" ucap Papa dengan ekspresi dingin dan tatapan tajam.
"Bu-bukan berarti aku tidak mau" balas Mama dengan ekspresi yang lebih memerah karena malu.
'Jangan-jangan Mama suka ditatap seperti itu'
Aku cuma bisa tercengang melihat percakapan mereka...... Jadi yang Tsundere siapa....
Kalau dilihat seperti ini bukankah Mama yang memiliki sifat tsundere. sedangkan ayah memiliki sifat kuudere.
"Kalau begitu mau?" tanya Papa dengan sorotan mata tajam dan suara berat yang dia miliki.
'Ugh.... Cakep banget...' batinku
Hatiku terkena pesona yang dia miliki.
Suaranya itu loh buset, berdamage banget.
Seketika wajah Mama luar biasa memerah dan telinganya pun ikut memerah.
Bagaimana tidak, Mama dirayu oleh Papa tepat di samping telinganya dengan suara yang seperti itu.
Kini Papa tersenyum tipis dan berkata.
"Tapi tidak untuk sekarang yah, saat ini aku ingin memangku Yuki"
"Bagaimana kalau nanti malam saat Yuki tidur" ucap Papa sambil membisikan kata kata itu ke telinga Mama.
Yang mana hal itu membuat wajah Mama memerah lagi..... 'berapa banyak tingkatan wajah memerah yang Mama miliki' batinku dengan terheran-heran.
Setelah mendengar percakapan itu, yang bisa kulakukan cuma satu. aku tercengang melihat pasangan ini dan bisu seribu kata.
Yah..... mereka adalah pasangan yang sangat romantis.
Andai saja aku masih Yuki yang dulu. Yang mana ingatanku masih polos, pasti aku tidak mengerti apa yang mereka bicarakan... tapi saat ini aku memiliki ingatan Yuu.
.... Yah walaupun dia bahkan belum pernah satu kali pun mencium seorang wanita. Apalagi berhubungan dengannya.
Tapi walaupun begitu, tetap saja aku mengerti apa yang mereka katakan.
Aku pun memikirkan Mama dan Papa melakukan hal-hal yang ada di buku Por*o itu. um...... aku tidak mengerti apa yang menarik dari melakukan hal tersebut.
Apakah melakukan hal tersebut nikmat?.
Yah.... entahlah aku tidak tau.
Alasannya karena Yuu dimasa depan tidak pernah mengunakan Batang keadilan yang dia miliki untuk melakukan sesuatu.
Dipikir-pikir aku cuma sedikit mengingat Yuu yang ada disaat ini, apakah Yuu gemuk?, kurus?, tinggi?, pendek?, tampan?, jelek?....
Aku tidak tau, karena aku tidak terlalu mengingat bentuk fisik ku pada saat kecil atau bahkan saat aku berumur 20 tahun lebih.
Yang kuingat adalah saat dimana aku mencapai level 68, yang mana tubuhku penuh luka karena melawan salah satu dari "7 Dosa Besar".
Saat mengingat masa depan, aku mengenang sesosok guru yang telah membantuku bertahan sampai akhir.
'Guru bagaimana kabarmu saat ini?' batinku.
__ADS_1
'Dan juga entah kenapa aku merasa Ayah dan Guru sangat mirip'
...[Master, Apa yang sedang anda pikirkan]...
'Tidak, aku cuma sedikit melamun tentang ingatan Yuu dimasa depan'
"Yuki" ucap Papa.
"Eh.. Haik" balasku yang sedikit kaget.
"Kenapa kamu diam saja dari tadi, apakah tubuhmu tidak enak?" tanya Papa.
"Eh, tidak aku hanya sedikit melamun saja"
"Melamun, melamun apa?" tanya Papa.
Um... melamun apa ya? mana mungkin aku bilang kalau sedang melamun memikirkan masa depan yang kumiliki.
"Aku melamun tentang cerita yang ada dibuku" jawabku
"Buku Cerita?"
"Iya, ibu memberikanku buku cerita dan aku masih kepikiran tentang cerita yang ada dibuku itu"
"Memangnya cerita tentang apa itu"
"Gadis penyelamat yang membantu pahlawan untuk mengalahkan raja iblis" jawabku.
"Hm, memangnya ada apa di cerita itu yang membuat Yuki melamun" tanya Papa.
"Em.. mungkin tentang akhir yang dimana Gadis itu malah menjadi Raja iblis dan dia dibunuh oleh sang pahlawan"
"Eh.... aku tidak tau kalau buku itu memiliki cerita yang gelap seperti itu" jawab Mama yang kaget.
"Aku menemukan buku itu disamping pintu kamar Yuki, jadi aku mengira kalau itu adalah buku yang Yuki miliki" ucap Mama dengan ekspresi heran.
"Jangan bilang.... PELAYAN ITU" ucap Mama dengan ekspresi mengerikan, mata biru cerah yang ia miliki kini jadi biru gelap dan entah kenapa hawa ruangan ini jadi lebih dingin.
Ah..... aku lupa dengan pelayan itu.
"Um... Mama marah?"
"Ya, sangat marah" ucapnya sambil mengeluarkan tatapan tanpa emosi.
'Serammm..... sangat mengerikan,Mama saat marah sangat menyeramkan' teriakku dalam hati.
"Dan juga siapa dia?" tanya Papa.
"Um.... aku mempekerjakan pelayan untuk menjaga Yuki saat aku sibuk" jawab Mama.
"Jangan bilang karena tugas yang ku berikan" ucap Papa.
"Em... Iya"
"Kalau begitu kenapa kau tidak menolak saja tugas yang kuberikan, aku tidak apa apa mengerjakan semua sendirian" ucap Papa dengan ekspresi khawatir kepada Mama.
"Maafkan aku..... aku tau kau menanggung beban yang berat, karena itu aku ingin membantumu sedikit-sedikit" jawab Mama dengan ekspresi sedih.
"Kenapa kau meminta maaf, ini semua salahku"
"Bahkan saat Yuki sakit aku tidak bisa menjenguknya..... aku sudah gagal sebagai Ayah dan seorang Suami" ucap Papa dengan ekspresi gelap.
Perkataan itu membuat Mama dan Aku terkejut, dan air mata mulai mengalir dari mata Mama.
"Kau.... selalu saja.... seperti... itu, entah itu dimasa lalu atau sekarang..." ucap Mama sambil menangis.
"Kenapa kau menanggung semua beban yang kau miliki sendirian... padahal kau memiliki aku untuk membantumu" ucapnya sambil mengelap air mata.
Kini Papa berdiri dan memeluk Mama dengan erat.
"Saat kau melahirkan Yuki.... aku sangat ketakutan, aku takut kehilangan anakku untuk kedua kalinya.... karena itulah, aku ingin jadi lebih kuat untuk melindungi dirimu dan Yuki. Karena itu aku memutuskan untuk menjadi Slayer"
"Jadi, jangan merasa bersalah" ucap Papa sambil menyeka air mata Mama dan memeluknya dengan lebih erat.
Papa adalah seorang Slayer? kenapa aku baru tau, dimasa depan tidak ada pemberitahuan tentang Papa yang merupakan seorang Slayer.
Aku pun memutuskan untuk berdiri dan memeluk Mama sambil menenangkanya.
"Mama, jangan nangis lagi, Yuki tidak suka kalau Mama menangis"
"Yuki....." ucapnya dengan lirih.
"Mama seperti anak kecil kalau menangis, dasar cengeng" ucapku sambil tersenyum jahil.
"Hwaa..... Yuki menyebutku cengeng" Kini ia menangis lebih kencang lagi sambil jongkok dan menutupi wajahnya.
__ADS_1
"Eh... E-Ettto... E-Etto... Yosh-yosh" ucapku sambil menepuk lembut kepala Mama.
"Hwaa.... Yuki... sangat baik sini mama cium" ucapnya sambil mengelap ingus dan air matanya.
Ugh... aku ingin menolak tawaran itu, bagaimana pun aku tidak suka dicium, apalagi oleh Mama.
Aku takut akan menjadi mainan saat Mama menciumku, ugh... aku punya kenangan buruk saat Mama menciumku, ia pasti akan mencium kening dan pipiku terus terusan.
"Tidak mau..." ucap Mama dengan ekspresi memohon.
'Ugh... sistem minimal beri aku Quest untuk menerima ciuman itu' batinku.
...[Itu masalah anda]...
...[Dan bukan urusan saya]...
...[Hmph]...
'Ha, kenapa juga kau ini'
'jangan bilang kau juga ngambek'
...[Tidak, aku hanya sedikit iri saja]...
'Iri kenapa coba'
...[Anda tidak akan tau]...
'Hah.... lama lama lelah juga aku'
"Baiklah, tapi jangan lama lama" ucapku sambil tersenyum kepada Mama.
"Kyaa.... Yuki..cup..cup..cup.. "
Kini ia mencium pipiku berkali kali dengan sangat brutal.
"Tu-Tunggu Mama, berhenti" ucapku sambil mencoba menahan ciumannya.
Ia tidak mendengarkanku dan terus terusan menciumku.
"Saki bukankah itu sudah cukup" ucap Papa sambil menggendongku.
"Fufufu.... sekarang energiku telah terisi" ucap Mama dengan senyuman cerah sambil membusungkan dadanya.
Sedangkan aku cuma bisa terdiam karena dicium sangat brutal untuk pertama kalinya.
'Ugh... Yuki saja tidak pernah diperlakukan seperti ini'
"Dan juga Papa jangan pernah ngomong seperti itu, walaupun Papa jarang pulang kerumah, tapi Papa adalah Papaku dan Papa adalah Ayah terbaik diseluruh dunia" ucapku dengan bangga.
Yah, itu adalah fakta... dibandingkan ayah Yuu, Papa lebih baik daripada itu.
Setelah mendengar perkataan ku kini Papa memelukku lebih erat di gendongannya.
"Yuki sangat hebat yah saat menenangkan seseorang" ucap Papa serta diiringi anggukan Mama.
Setelah selesai menenangkan Mama kamipun memutuskan untuk makan malam, dan setelah selesai makan malam.
Kini aku,Mama dan Papa sedang berada dikamar Mama untuk tidur, Papa ada di sebelah Kanan dan Mama ada disebelah Kiri.
Kasur dikamar Mama memang sangat besar, jadi cukup untuk ditempati 3 orang.
Kini pun kami tidur bersama.
......................
Beberapa hari pun berlalu.
Kamu Nanya, Kamu Bertanya-tanya, kabar pelayan itu bagaimana. Aku Kasih Tau Yah.
Pelayan itu ternyata ada di Bar, dan Mama entah melakukan apa kepada pelayan itu.
Pelayan yang tidak ku kenali nama atau wajahnya itu dipecat dan sedikit diberi pelajaran oleh Mama.
Yah simpelnya begitu..... sistem apa kau tau alasan kenapa pelayan itu tidak diceritakan dengan jelas.
...[Author nya males ngetik]...
Lah, kalau gitu kan mending direvisi dan dihilangin aja pelayan nya.
...[Author nya males ngerevisi]...
...........GG banget authornya.
......................
__ADS_1
(Author: Mungkin chapter selanjutnya bakalan gw jadiin time skip 10 tahun, karena gw kagak ingin terlalu membuang waktu)