
"Kamu gapapa?" tanya Nico.
"Emm.. makasih udah nolongin aku, Nic. Aku bener - bener takut tadi." jawabku sambil terisak.
Dia tiba - tiba memelukku.Aku langsung membalasnya dengan erat.
"Setelah ini aku anter pulang ya." ajaknya.
"Iya. Emm... aku masih takut kalau ketemu kak Dika lagi." ucapku.
"Tenang aja. Aku bakal ngelindungin kamu."
"Eh, makasih. Emm..ngomong - ngomong, darimana kamu tahu aku di lorong sama kak Dika?"
"Aku gak sengaja lewat aja."
"Ooo... ya udah yuk kita pulang." ajakku.
"Yuk."
Dia langsung menggandeng tanganku dan mengantarku pulang.
••••••••••••••••••••
"Mei. Sorry ya kemarin aku ninggal kamu." ucapku.
"Emm.. gapapa kok. Emang kamu kemarin ada urusan apa sih?"
"Perut aku tiba - tiba sakit banget. Jadi aku langsung pulang aja, maaf lupa ngabarin. Kamu kemarin nunggu ya?"
"Nunggu bentar sih."
"Sorry, Mei."
"Iya gapapa. Bri, anterin aku ke perpustakaan bentar yuk."
"Yuk."
Aku pun pergi mengantar Meira ke perpustakaan. Saat di perjalanan, mataku tidak sengaja menatap ke arah kak Dika yang sedang duduk di bangku koridor. Aku langsung mengalihkan perhatian ke arah lain dan segera berjalan lebih cepat.
"Kamu kenapa jalan cepet banget sih, Bri?" tanya Meira bingung.
"Eh, emmm... gapapa kok."
Tiba - tiba aku merasa tanganku ditarik oleh seseorang dari belakang. Aku menoleh ke belakang. Kenapa juga kak Dika yang menarik tanganku?
"Kak Dika ngapain megang tangan, Bri?" tanya Meira
"Eh, aku mau ngajak Brianna ngomong berdua bentar." jawabnya.
Tidak, aku tidak mau bicara dengannya.
"Emmm.... kak, aku lagi mau nganterin Meira. Kita ngomongnya lain kali aja." ucapku.
"Eh gapapa kok, Bri. Aku ke perpustakaan sendiri aja." balas Meira.
Tidak, kenapa Meira bicara gitu sih? Kak Dika pasti akan membunuh ku sekarang. Kulihat kak Dika tersenyum licik ke arahku.
"Ya udah, Bri. Yuk ikut aku." ajaknya.
Dia langsung menarikku menjauh dari Meira. Aku berusaha untuk melepaskan tanganku darinya.
"Kak, lepasin!" bentak ku kepadanya.
Dia langsung melepas tanganku kasar.
"Kamu beruntung kemarin." bisiknya di telingaku.
"Kenapa kakak berniat bunuh aku sih? Emangnya aku salah apa?"
"Salah kamu itu nolak aku."
"Aku nolak kakak, karena aku udah punya pacar."
"Ooo.. jadi kalau kamu gak punya pacar, kamu gak bakal nolak aku?"
"Emm.. aku gak tahu." jawabku sambil terisak.
Bugh.. bugh...
Aku terkejut melihat Nico sedang memukul kak Dika sekarang.
"Nic." panggil ku.
"Berani ya lo deketin dia lagi. Belum puas gue pukul kemarin hah!" teriak Nico.
"Emang lo siapa dia hah?" tanya kak Dika.
__ADS_1
"Gue pacarnya, puas!" bentak Nico.
"Ooo jadi elo pacarnya."
Kenapa Nico berbohong ?
"Iya. Dan ini balasan gue untuk elo yang udah berani deketin cewek gue."
Buagh...
Setelah pukulan keras itu, kak Dika langsung pingsan.
"Nic. Gimana nih?" tanyaku takut.
Aku benar - benar takut jika kak Dika melaporkan tindakan ini.
"Udah yuk kita tinggal." ajaknya.
"Nanti kalau di mati gimana? Kita bakal dimasukkin penjara nanti."
"Dia cuma pingsan. Udah kita harus cepet pergi dari sini."
Lalu, Nico menggandeng tanganku.
"Kamu gak usah ikut kelas ya, kita langsung pulang aja." ajak Nico.
"Emmm.. iya, ya udah aku ambil tasku dulu."
"Iya."
Aku segera masuk ke kelas untuk mengambil tasku.
"Loh? Bri mau kemana?" tanya Meira.
"Emmm.. aku lagi gak enak badan, Mei. Aku titip absen ya."
"Ooo.. emmm.. ya udah. Cepet sembuh."
Aku pun keluar kelas. Dan segera menghampiri Nico. Ia pun segera mengantarku pulang.
"Emm.. makasih ya udah di anter."
"Iya."
"Bri." panggil Steven.
"Eh? Stev, kamu kok disini?"
"Aku daritadi udah telepon kamu, tapi gak kamu angkat. Jadi aku langsung kerumah kamu."
"Oo.. maaf, daritadi aku gak lihat HP."
"Emm.. ya udah, Bri. Aku pergi dulu." ucap Nico.
"Eh, emm.. iya. Hati - hati ya." balas ku.
Nico hanya membalas dengan senyuman, lalu segera pergi dengan mobilnya.
"Siapa dia, Bri?" tanya Steven.
"Eh, dia anak teman ayahku. Emm.. ya udah yuk masuk."
"Kamu gak lagi selingkuh kan?" tanyanya menginterogasi.
Apa maksudnya? Apa dia sedang membicarakan dirinya sendiri ?
"Jangan nuduh yang aneh - aneh. Ya udah kamu disini dulu, aku mau ganti baju di kamar."
Dia hanya mengangguk, lalu aku segera ke kamar untuk ganti baju.
"Nih, aku bawain minum."
"Emm... Bri, mata kamu kok bengkak?"
"Eh, emmm... kayaknya aku kurang tidur deh."
"Bukan karena kamu habis nangis?"
"Emm.. enggak kok."
"Kamu gak lagi ada masalah?"
"Enggak kok."
Iya, aku lagi banyak masalah. Dan salah satu masalahku adalah kamu, Stev.
"O iya, aku bakal disini selama seminggu." ucapnya.
"Kamu gak kuliah?"
__ADS_1
"Enggak, lagi libur."
"Ooo...."
"Kamu mau kita ngerayain anniversary ke dua kita dimana?"
"Kan udah lewat, Stev."
"Gapapa."
"Makan malem, terus ketempat yang anniversary pertama gimana?"
"Ok deh. Kita perginya besok Sabtu ya."
"Iya."
"Bri." panggilnya.
Tiba - tiba dia mencium bibirku. Lalu memelukku.
"Aku bener - bener kangen sama kamu." bisiknya.
"Aku juga." bisik ku.
••••••••••••••••••
Hari ini aku diantar Steven ke kampus.
"Pulangnya aku tunggu di depan gerbang." ucapnya.
"Iya. Aku masuk dulu ya."
Aku pun segera membuka pintu mobil, tapi Steven menahan tanganku.
"Kenapa, Stev?" tanyaku.
"Kiss?"
"Disini?"
"Iya."
Kami pun berciuman di mobil. Setelah selesai, aku langsung keluar dari mobil.
"Bri." panggil Meira.
"Kenapa, Mei?"
"Udah denger belum kalau kak Dika masuk rumah sakit? Katanya pelakunya di skors lo."
Aku terkejut dengan ucapan Meira. Apa Nico di skors? Tidak ini tidak benar, ini salahku. Aku langsung menelepon Nico.
"Halo?"
"Nic, kamu dimana sekarang?" tanyaku.
"Aku lagi di toko roti. Emangnya kenapa?"
"Kamu di skors?"
"Oh, kamu udah denger."
"Nic, ini bukan salah kamu. Tunggu aku di toko roti, aku bakal kesana sekarang."
"Eh? Kamu kan ad.."
Aku langsung memutuskan sambungan. Aku segera pergi ke toko rotinya naik taxi. Aku tidak peduli meninggalkan kelas ku sekarang, aku hanya ingin bertemu dengan Nico.
"Nic." panggil ku.
"Kamu udah dateng. Gimana kelasmu?"
"Gimana mereka bisa tahu kamu yang mukul? Apa kak Dika yang melaporkan mu?" tanyaku sambil terisak.
"Bukan. Setelah aku nganter kamu kemarin, aku balik lagi ke kampus. Dan ya aku pergi membawa Dika ke rumah sakit, dan melaporkan bahwa aku yang memukulnya."
"Ini kan bukan salah kamu, Nic. Ini salah aku, seharusnya aku yang di skors."
"Kamu gak salah apa - apa. Aku yang udah mukul dia sampai pingsan."
"Maafin aku."
"Kenapa kamu nangis sih? Kamu gak salah apa - apa, Na."
"Gara - gara urusanku sama kak Dika, kamu malah terlibat."
"Gapapa, Bri. Kamu ingetkan, om udah nitip kamu sama aku. Jadi urusan kamu urusanku juga."
Kenapa ucapan seperti ini malah keluar dari mulutmu? Kenapa bukan Steven?
__ADS_1