
Hari Minggu ini aku pergi ke rumah sakit yang diberitahu kak Dika. Aku segera ke kamar yang dibilang oleh suster.
"Emmm.... selamat pagi." ucapku.
Kedua orang yang sedang berbaring di kasur itu cukup terkejut mendengar suaraku. Kurasa keluarganya sedang tidak disini. Mereka benar - benar cukup menyedihkan, banyak perban ditubuhnya. Selang dan alat bantu pernafasan pun masih terpasang.
Aku pun mendekat ke arah mereka. Kuletakkan bingkisan yang kubawa di meja.
Aku rasa mereka belum bisa bicara normal akibat alat bantu pernafasan nya.
"Emmmm... kak, apa yang ngelakuin semua ini pacar aku?" tanyaku.
Dalam hati, aku berharap mereka menggelengkan kepalanya. Tapi, kulihat salah satu dari mereka menganggukan kepalanya pelan.
"Pacarmu yang melakukannya." ucap kakak yang berada di kasur kiri dengan suara sangat pelan.
"Dia tidak mungkin melakukannya."
"Tapi itulah kenyataannya, dia melakukan semua ini pada kami." ucapnya masih dengan suara sangat pelan.
Aku masih tidak percaya. Steven yang kukenal tidak mungkin melakukannya bukan?
"Apa kau kesini bersama Dika?" tanyanya.
"Tidak. Aku datang sendiri."
"Kenapa Dika belum berkunjung selama beberapa hari ini? Biasanya dia selalu mengunjungi kami." ucapnya dengan suara yang masih sangat pelan.
Kemana kak Dika? Apa dia baik - baik saja?
Aku tidak banyak mengobrol dengannya. Aku langsung keluar dari rumah sakit dan pulang.
••••••••••••••••••••••••
2 Februari 2016
Sekarang aku sedang mengerjakan skripsi ku yang menumpuk banyak.
ddrrtt... ddrrtttt...
"Halo Stev."
"Keluar yuk, aku udah di depan rumahmu nih."
Tanpa basa - basi aku langsung beranjak dari meja belajar ku dan keluar kamar.
"Steven, ngapain sih jam segini dateng?"
"Loh, kamu lupa hari ini hari jadian kita."
Aku ingat, tapi aku sedang tidak ingin bertemu denganmu. Aku masih kepikiran dengan kak Dika dan temannya. Batinku.
"Aku lupa." jawabku singkat.
Kulihat ekspresi nya berubah, dia sepertinya tidak suka dengan jawabanku.
"Emm... aku mau ngajak jalan nih."
"Aku lagi banyak tugas, Stev. Aku gak bisa pergi."
Dia langsung menatapku tajam. Kami pasti akan bertengkar sebentar lagi.
"Aku juga banyak tugas, tapi aku malah ngeluangin waktu buat dateng kesini. Kamu pikir dong perasaan aku gimana?" ucapnya dengan nada marah.
Dia pun berbalik untuk pergi. Tapi, aku langsung menahannya dengan memegang lengan kirinya.
"Stev, aku minta maaf. Jangan pergi."
Aku tidak suka melihatnya marah seperti ini. Dia menatapku kembali.
"Bukannya kamu tadi gak suka aku kesini." ucapnya dengan nada masih marah.
"Gak kok. Maaf ya, Stev."
Aku segera memeluknya. Ia membalas pelukanku erat.
"Maafin aku juga ya." ucapnya lembut di telingaku.
Setelah itu aku melepaskan pelukannya. Dan menyuruhnya masuk.
"Kamu mau minum, Stev?"
"Enggak usah. Ayah kamu belum pulang jam segini?"
"Belum."
__ADS_1
Aku pun duduk disampingnya.
"Kamu gak ngerjain tugas?"
"Emm... kita gak jadi ngerayain?"
"Kapan - kapan aja. Yang penting kamu selesaikan tugasmu dulu."
"Emmm.... ya udah deh. Bentar ya, aku ambil tugasku dulu."
Aku pun masuk kamar untuk mengambil tugas - tugas ku. Dan kembali lagi ke ruang tamu.
"Semuannya belum selesai?" tanya Steven.
"Udah ada yang sebagian."
"Ooo...."
"Emmm.... Stev, apa kamu pernah ngelakuin sesuatu yang buruk di belakang ku?"
"Maksudnya?"
"Emmm... Apa kamu yang buat temen - temen kak Dika masuk rumah sakit?"
"Oh, kamu udah tahu."
Aku merasa dejavu dengan reaksinya.
"Stev, kenapa kamu ngelakuin itu sih?"
"Buat kamu lah pastinya. Biar mereka gak bisa ganggu kamu."
"Tapi itu kan salah."
"Terus aku harus gimana? Aku cuma mau Ngelindungin kamu aja."
"Stev, tolong minta maaf ke mereka. Dan jangan pernah ngelakuin ini lagi."
"Hmmm..."
Dia hanya menjawabku seperti itu? Batinku kesal.
"Stev, dengerin aku ngomong. Dan jangan ancam kak Dika lagi. Aku sama dia cuma salah paham aja."
Apa maksudnya? Tanyaku dalam hati.
"Kamu gak ngelakuin sesuatu yang buruk kan?"
"Enggak kok. Cuma beresin aja sedikit." Jawabnya dengan senyum tipis di bibirnya.
"Stev, kamu apain kak Dika?"
"Kamu gak perlu tahu. Dia gapapa kok."
Aku bingung, di satu sisi aku benar - benar marah kenapa Steven melakukan ini semua? Tapi di lain sisi, aku hanya bisa diam untuk semua tindakannya ini.
Steven beranjak dari duduknya.
Bruk...
"Steven."
Aku segera menghampirinya yang jatuh pingsan. Aku begitu panik dan langsung menelepon ambulance.
•••••••••••••••••••••••••••
Sekarang aku sedang di rumah sakit. Menunggu Steven yang sedang diperiksa. Dokter pun keluar.
"Dok, gimana keadaan pacar saya?" tanyaku.
"Dia hanya kelelahan saja. Emm... saya permisi dulu." jawabnya.
Entahlah, perasaanku mengatakan ada yang aneh.
Aku segera masuk ke tempat Steven. Kulihat dia sedang duduk di kasur sambil menatap lantai.
"Udah baikan?" tanyaku.
"Ya. Dokter bilang apa tadi?"
"Katanya kamu cuma kecapean."
Dia hanya diam.
"Emmm...kamu butuh minum?"
__ADS_1
"Enggak. Aku mau pulang."
"Tapi, kamu masih butuh istirahat."
"Aku gak suka disini. Aku bakal istirahat di rumah ku sendiri."
Dia tidak suka di rumah sakit ya. Batinku.
"Emmm... aku bakal minta izin dokter dulu."
Aku pun keluar. Sekitar 10 menit, aku kembali.
"Gimana?" tanyanya.
"Kata dokter, kamu belum boleh pulang."
"Aku gak mau disini. Aku akan pulang saja sendiri."
Dia bergegas melepaskan infusnya. Aku segera mencegahnya.
"Stev, aku mohon kamu istirahat dulu disini semalem aja. Aku bakal nemenin kamu kok."
Dia menatapku. Lalu tiba - tiba ia membaringkan dirinya kembali di kasur.
"Jangan pergi." ucapnya sambil memegang tanganku.
"Iya."
Akhirnya aku menemaninya semalaman.
•••••••••••••••••••
ddrrtttt... drrttt...
Aku terbangun dari tidurku. Dan langsung mengecek HP ku.
"Halo?"
"Na, kamu dimana?" tanya ayah ditelepon.
"Eh, ayah. Emmm... Nana lagi di rumah sakit nemenin Steven semalem."
"Loh, kamu kok gak bilang ayah dulu. Ayah panik nyariin kamu tahu."
"Maaf, yah. Nana beneran lupa."
Setelah obrolan panjang lebar dengan ayah. Aku kembali masuk ke tempat Steven. Kulihat dia masih tertidur pulas.
Wajahnya terlihat pucat. Apa benar dia hanya kecapean?
Ku elus kepalanya lembut.
"Good morning." ucapnya dengan suara khas bangun tidur.
"Good morning too." balas ku sambil mencium dahi nya.
"Lagi dong."
"Gak ah."
Aku segera mengambil air putih dan memberikannya ke Steven.
"Nih, minum dulu."
Ia langsung mengambil dan meminumnya.
"Hari ini aku boleh pulang?" tanya Steven.
"Emmm... kalau kamu udah sehat."
"Aku udah sehat kok."
"Wajahmu masih pucat, Stev."
"Tapi, aku udah ngerasa baikan kok."
Aku memilih diam dan mengelus kepalanya lembut. Aku benar - benar sedih, jika dia sakit seperti ini.
"Peluk dong." pinta Steven.
Aku pun memeluknya.
"Aku sayang kamu, Stev." bisikku ditelinganya.
Dia langsung mengeratkan pelukannya.
__ADS_1