Choose Destiny

Choose Destiny
Ego


__ADS_3

10 September 2018


Ting tong... ting tong....


Aku segera membukakan pintunya.


"Selamat malam, Bri." ucap Michelle dengan senyuman manisnya.


Kenapa dia datang malam - malam begini?


"Emm... kamu ngapain kesini?" tanyaku tanpa basa - basi.


"Aku mau ketemu Nico."


"Maaf ya, ini udah malem. Lebih baik kamu pulang aja."


"Tapi, dia yang nyuruh aku dateng."


Ngapain Nico nyuruh dia kesini malem - malem? Pasti ada sesuatu. Batinku curiga.


"Udah kamu pulang aja, dia juga udah tidur kok."


Ia menatapku kesal. Aku pun membalasnya dengan senyuman.


"Kumohon panggilkan Nico." ucapnya memohon.


"Aku gak mau bangunin Nico. Dia kan butuh istirahat." jawabku yang memancing emosinya.


"Baiklah, aku nyerah. Aku pulang dulu ya, Bri." ucapnya sambil tersenyum.


"Loh? Michelle?" panggil Nico.


Ia menghampiri Michelle yang akan segera pergi.


"Kamu mau kemana? Kenapa gak hubungin aku dulu, kalau udah sampai?" tanya Nico.


"Aku lupa, Nic. Aku daritadi udah nyuruh Brianna buat manggil kamu. Tapi, dia gak mau." ucapnya sambil menatap kearahku.


"Kenapa kamu gak mau manggil aku sih, Na? Kan kasian Michelle."


"Emangnya harus ya, buat aku manggil kamu?" tanyaku malas.


Aku yang sudah kesal. Langsung pergi meninggalkan kedua orang tersebut.


••••••••••••••••••••••••••


16 September 2018


"Hari ini aku mau pergi nganter Michelle belanja. Gak masalah kan?" tanya Nico kepadaku.


Aku yang tadi sedang asik menonton TV langsung menoleh kearahnya.


"Nic, kamu itu suamiku atau suami Michelle sih?" tanyaku kesal.


"Tentu saja, aku suamimu."


"Lalu, kenapa kamu lebih perhatian kepada Michelle dibanding aku?"


"Karena kamu juga gak pernah perhatian kepadaku." jawabnya.


"Jadi, Michelle lebih perhatian kepada kamu?" tanyaku lagi.


"Iya." jawabnya singkat.


"Kalau begitu, menikahlah dengannya." ucapku kesal.


Aku segera meninggalkannya dan masuk ke kamar.


••••••••••••••••••••••••••••


17 September 2018


Ting tong... ting tong....


"Hai. Bri." sapa Michelle kepadaku.

__ADS_1


Seharusnya, aku tidak membuka pintunya tadi. Batinku menyesal.


"Nico belum pulang." ucapku malas.


"Aku kesini gak buat nyari Nico kok. Aku cuma mau ngaterin ini buat kamu." ucapnya sambil memberikan tupperware warna ungu kepadaku.


"Apa ini?"


"Aku baru belajar memasak, jadi aku mau kamu mencoba masakan pertamaku ini."


Aku hanya menatapnya kesal.


Bagaimana jika rasanya tidak enak?


"Sebenernya, aku belajar masak. Gara - gara Nico yang menyuruhku." sambungnya dengan tersipu malu.


Aku pun menatapnya sinis.


"Lalu, kenapa kamu gak suruh Nico yang coba aja?"


"Emm.. aku mau kamu dulu yang nyoba. Sebagai temanku yang baik, tolong dukung aku buat dapetin Nico ya." ucapnya dengan senyuman dibibirnya.


Aku yang mendengar ucapannya, langsung kesal.


Gadis ini benar - benar sudah gila ya? Apa dia mau, jadi perusak rumah tangga orang ?


"Kamu udah gila ya?! Dia itu suami aku sekarang. Gak seharusnya, kamu mau ngerebut dia dariku." ucapku marah.


"Loh? Bukannya, waktu itu aku boleh maju buat dapetin Nico ya? Kan kamu sendiri yang bilang?" tanyanya santai.


"Itu dulu, bukan sekarang." balas ku kesal.


Ia mendekat kearahku.


"Orang tuaku bilang, bahwa aku harus dapetin semua yang aku mau. Meskipun, harus mengkhianati yang lain." bisiknya lirih ditelingaku.


"Udah deh. Dibanding kamu marah terus ke aku. Lebih baik, aku pergi aja. Jangan lupa dicoba masakanku." ucapnya sambil melambaikan tangannya.


Setelah ia pergi, aku langsung pergi membuang tupperware berisi makanan itu.


20 September 2018


"Kamu habis darimana?" tanyaku kepada Nico.


"Aku habis dari rumah Michelle."


"Sampai malem gini?" tanyaku menginterogasi.


"Kamu kenapa sih? Terserah aku dong, mau pulang jam berapa aja." ucapnya ketus.


"Ini udah jam 12 malem. Dan kamu baru pulang dari rumah cewek. Tolong pikirin perasaan istri kamu dong." ucapku membentak.


"Kamu sendiri gak pernah mikirin perasaan aku. Jadi, kenapa aku harus repot - repot memikirkan perasaan kamu?" tanyanya dengan senyum sinis.


Aku yang sedih dengan ucapannya langsung pergi meninggalkannya.


Dia benar - benar jahat. Aku menyesal menikah dengannya.


•••••••••••••••••••••••••


21 September 2018


"Nih, titipan dari mama mu. Aku lupa memberikannya waktu itu." ucapku sambil menyerahkan kotak warna biru itu ke Nico.


Ia pun menatapku tajam dan mengambil kotak itu dengan kasar.


"Kamu mau kemana?" tanyaku kepada Nico yang hendak keluar rumah.


Ku lihat ia menginjak - injak kotak itu, lalu membuangnya ditempat sampah.


"Apa yang kamu lakukan?! Bagaimana bisa kamu membuang pemberian dari mama mu?!" ucapku membentak nya.


"Kamu seharusnya tidak usah mencampuri urusanku terus, Na." ucapnya balas membentak.


"Kamu benar. Aku selalu menyesal, mencampuri urusanmu." ucapku disertai senyum getir diakhir.

__ADS_1


Aku mengambil kotak itu dari tempat sampah. Dan segera masuk ke rumah.


"Apa yang kamu lakukan?" ucapnya sambil memegang lengan kiriku.


"Apa lagi?!" ucapku membentak nya.


"Kenapa kamu mengambil kotak itu?! Cepat buang kembali!" suruhnya dengan membentak.


"Aku tidak akan membuangnya. Dan lepaskan tanganku." ucapku kesal.


Ia melepaskan tanganku kasar. Dan pergi dari rumah.


Nico akhirnya jarang pulang ke rumah, setelah kejadian ini. Entah, pergi kemana dia. Aku sudah lelah, untuk memikirkan nya.


••••••••••••••••••••••••


27 September 2018


dddrrtt.. dddrrtt...


"Halo, Mei." sapaku ditelepon.


"Halo, Bri. Gimana kabarnya?" tanya Meira.


"Emm... aku lagi gak baik nih." ucapku


"Loh? Kamu lagi ada masalah, Bri?


"Iya. Aku lagi bertengkar dengan Nico."


"Kenapa?"


Lalu, aku mulai menceritakan semua yang sudah terjadi. Mulai dari perihal cincin, Michelle, dan mama Nico. Meira pun mendengarkanku dengan baik.


"Lalu, aku harus gimana sekarang?" tanyaku sedih.


"Aku rasa, kamu harus lebih memberikan perhatian kepada Nico. Dan coba memulai semuanya kembali seperti awal."


"Tapi, itu sulit."


"Itu memang sulit, kalau kamu gak pernah mencobanya. Beri dia lebih perhatian, sebagai seorang istri. Jangan sampai Michelle merusak rumah tanggamu ini. Kamu udah pernah kehilangan Steven kan, jangan sampai kamu kehilangan Nico juga."


"Makasih ya, Mei. Aku agak lega setelah menceritakan semuanya, dan akan aku coba saranmu."


"Semangat ya, Bri. Emm... ngomong - ngomong, apa kamu udah mulai menyukai Nico?"


"Entahlah. Aku gak tahu. Terkadang pikiranku masih tentang Steven."


"Lupakan Steven. Pikirkan yang ada didepan matamu sekarang."


"Iya, Mei."


•••••••••••••••••••••••••••••


28 September 2018


Ting tong.... ting tong....


Aku segera membuka pintu. Ternyata, itu Nico. Tumben dia pulang ?


Ia langsung masuk tanpa menatap kearahku.


"Nic." panggil ku sambil memegang tangannya.


Ia menatap kearahku.


"Maafin aku buat semua keegoisan aku selama ini. Kita mulai semua dari awal lagi ya." ucapku memohon.


"Aku bakal jadi istri yang baik buat kamu." sambung ku lagi.


Tiba - tiba, ia langsung memelukku. Aku pun membalasnya dengan erat.


"Maafin aku juga." bisiknya ditelingaku.


Aku melepaskan pelukannya dan menatap wajahnya lekat.

__ADS_1


Apa yang akan terjadi setelah ini ?


__ADS_2