
28 November 2017
"Ayah berangkat kerja dulu ya."
"Iya, yah."
Aku kembali berbaring di kasur rumah sakit. Lalu, kudengar pintu kamarku terbuka.
"Pagi, Na." sapa Nico.
"Eh, emm.. pagi."
"Gimana keadaan kamu? Udah mendingan?" tanyanya.
"Iya. Besok udah boleh pulang katanya."
"Ooo... emm.. aku bawain buah - buahan buat kamu."
"Makasih ya, Nic."
Sudah lama kami tidak bertemu, jadi rasanya sedikit canggung.
"Emm... gimana pekerjaan kamu?" tanyaku.
"Baik - baik aja. Kuliah kamu?"
"Ya gitu deh, banyak tugas."
"Sebentar lagi kamu lulus ya."
"Iya nih. Tapi, masih bingung mau ngelamar kerja dimana nantinya."
Kami kembali diam.
"Emm.. Na, kamu masih inget ucapan aku waktu sebelum aku pindah?" tanyanya.
"Ucapan kamu yang mana?"
Aku pura - pura tidak tahu saja.
"Emm.. gak jadi. Kamu pasti udah lupa."
Maaf ya, Nic.
"Besok kamu gak usah kesini lagi." ucapku.
"Kenapa?" tanyanya bingung.
"Aku udah baikan kok."
"Aku suka kamu. Kamu masih ingat kata - kata itu bukan?" tanyanya.
"Nic, jangan meminta yang lebih padaku. Aku hanya menganggap mu sebagai temanku saja."
"Kita akan di jodohkan dan kita akan menikah, Na."
"Aku gak bisa. Kamu bukan orang yang aku cintai, Nic."
"Cinta datang karena terbiasa, Na."
"Dan cinta itu tidak bisa dipaksakan, Nic." ucapku dengan nada membentak.
Lalu, tiba - tiba Nico mencium bibir ku. Aku yang terkejut langsung berusaha melepaskan nya.
Plak...
"Itu menjijikan, Nic." ucapku sambil mengusap bibir ku dengan punggung tanganku.
Tiba - tiba Nico keluar dari kamarku.
Dia pasti marah. Dan dia tidak akan menemuiku lagi.
••••••••••••••••••••••
15 Desember 2017
Sekarang aku sedang berada di kantin.
"Hei, Bri." sapa Meira.
"Eh, Mei."
"Gimana ujiannya bisa?" tanyanya.
"Jangan tanya deh. Kamu pasti tahukan jawabanku."
"Kita hampir lulus. Dan kita tetap tidak bisa menjawab soal ujian dengan benar."
"Mau gimana lagi? Dosennya memberi soal yang sangat sulit."
"Iya nih. Liburan nanti mau kemana?" tanyanya.
"Gak tahu. Belum ada rencana."
"Mau jalan - jalan berdua gak?" tawarnya.
"Pas liburan?"
"Iya."
"Boleh tuh. Mau kemana emangnya?"
"Shopping."
__ADS_1
"Sudah kuduga." ucapku.
Ia hanya cengengesan.
Kami pun membicarakan banyak hal.
"Bri, udah jam 2 nih. Pulang yuk." ajak Meira.
"Eh, udah siang banget ya. Ya udah, mau aku anter sekalian?"
"Enggak usah. Aku pesen taxi aja."
Aku menganggukan kepala. Setelah itu aku segera ke parkiran untuk mengambil mobilku.
•••••••••••••••••••••••••••
1 Januari 2018
Ting tong.. ting tong...
Aku keluar kamar untuk membuka pintu.
"Eh, om Dean."
"Pagi, Nana." sapanya.
"Emm.. pagi om."
Aku sedikit canggung, karena ada Nico di sebelah om Dean.
Apa dia masih ingat kejadian di rumah sakit waktu itu?
Setalah aku menyuruh mereka masuk, aku langsung memanggil ayah.
"Eh, kok dateng pagi - pagi gini?" tanya ayah.
"Ndre, aku dateng buat membicarakan perjodohan anak kita."
Aku pun terkejut mendengarnya.
"Maksud om?" tanyaku.
"Bukannya kamu udah tahu, Na? Kamu belum memberitahu nya, ndre?"
"Eh, aku sudah memberitahu nya dari lama."
"Nana gak mau dijodohin. Ini gak boleh terjadi!" ucapku dengan marah.
Aku masuk ke kamar dan langsung menguncinya.
Tok tok..
"Na, buka pintunya." ucap ayahku di luar kamar.
••••••••••••••••••••••••
20 Januari 2018
Sejak kejadian beberapa minggu yang lalu. Hubungan ku dan ayah merenggang.
Dia tidak mau sarapan bersamaku dan tidak mau mengajakku berbicara lagi.
Aku cuek saja dengan sikapnya itu.
ddrrtt.. ddrrtt...
"Kamu udah di depan rumah?" tanyaku pada Steven di telepon.
"Udah."
"Ok, tunggu aku diluar ya."
Aku memutuskan sambungan telepon nya dan segera keluar rumah.
"Morning." sapanya
"Morning too."
Ia menyalakan mesin mobilnya dan berangkat mengantarku ke kampus.
"Belajar yang rajin ya." ucapnya.
"Siap deh."
Aku keluar dari mobil. Dan ia pun segera pergi.
Hubunganku dan Steven pun tetap berjalan lancar. Meski, aku belum membicarakan tentang perjodohan ku kepadanya.
•••••••••••••••••••••••••
"Bri." panggil ayah.
Tumben sekali ayah memanggilku dengan Bri?
"Emm.. kenapa, yah?"
"Kemarilah."
Aku menghampiri ayah yang sedang duduk di sofa.
"Kamu mau tahukan alasan ayah menjodohkan mu dengan Nico."
"Emm.. ya."
__ADS_1
"Om Dean itu bukan seperti yang kamu kira."
"Maksud ayah?"
"Mungkin di depanmu dia terlihat baik, tapi di belakangmu dia gak sebaik itu."
Aku masih mencerna perkataan ayah.
"Ayah pernah meminjam uang darinya untuk suatu hal. Tetapi, dia malah membuat perjanjian bodoh untuk menikahkan mu dengan putranya."
"Benarkah?"
"Ya, ada sesuatu yang terjadi dulu. Tapi, ayah tidak bisa mengatakannya."
"Jadi, om Dean sudah membuat perjanjian itu sejak aku kecil?" tanyaku.
"Ya. Ayah sudah mencoba bicara dengannya. Tapi, dia tidak memperdulikan perkataan ayah."
"Lalu? Apa gak ada cara yang lainnya?"
"Tidak ada. Maafkan, ayah ya."
Aku bingung dengan semua kenyataan ini. Jadi, itu alasan ayah tidak bisa membatalkan perjodohan ku.
"Ayah mohon sama Nana. Menikahlah dengan Nico."
"Nico bisa saja sama seperti ayahnya, yah."
"Tidak. Ayah tahu dia berbeda. Dan dia juga memiliki perasaan lebih untukmu."
"Nana mencintai Steven, yah. Ayah pun sudah mengetahui seberapa besar rasa cinta ku kepadanya."
"Ayah minta maaf, Na."
"Ternyata, apa yang ibu pernah bilang ke Nana dulu itu benar. Ayah terlalu egois."
Aku segera beranjak dari duduk ku dan pergi masuk kamar. Aku pun menangis.
••••••••••••••••••••••••
23 April 2018
"Pagi, sayangku." sapa Steven
"Pagi."
"Berangkat sekarang?"
"Iya."
Ia mengantarku ke kampus.
"Bri, sampai kapan kita akan menjalani hubungan kita ini?"
"Maksudmu?" tanyaku yang masih fokus menatap HP ku.
"Kamu sudah dijodohkan oleh orang lain bukan?"
Aku menghentikan aktivitas ku dan langsung menatap ke arahnya.
"Emm.. apa maksudnya, Stev?"
Ia menepikan mobilnya di pinggir jalan.
"Turun dulu yuk."
Aku turun dari mobil.
"Kenapa kamu nyuruh turun?" tanyaku.
"Biar lebih enak bicaranya."
"Stev, sebenernya apa maksud kamu?"
"Kenapa kamu suka bohong sih? Kamu jelas - jelas paham semua ucapan ku tadi."
"Kapan kamu tahu?"
"Udah lama sih. Ayahmu yang menghampiriku di rumah dan membicarakan semuanya."
"Kamu tahu, lalu kenapa kamu gak pernah bilang?"
"Kita balik pertanyaannya. Kenapa kamu juga gak pernah bilang?"
"Aku belum siap, Stev."
"Oh, jadi kamu siap memberitahuku ketika kamu sudah menikah?"
"Stev, aku cuma gak mau kita pisah."
"Lalu, kamu mau aku jadi selingkuhan kamu gitu?" ucapnya dengan nada sedikit menekan.
"Enggak lah, Stev."
"Aku udah gak mencintaimu lagi, Bri." ucapnya.
"Apa?" tanyaku kebingungan.
"Kita akhiri saja hubungan ini."
Pria itu pun meninggalkanku sendiri. Apakah ia benar-benar sudah tidak mencintaiku lagi?Tetapi, Kenapa?
Flashback off
__ADS_1
Kulihat mobilnya sudah menjauhiku. Semuanya berakhir.