Choose Destiny

Choose Destiny
Ayah yang Sibuk


__ADS_3

1 September 2016


Sekarang aku sedang berada di supermarket untuk belanja mingguan.


"Bri." Panggil Michelle.


"Eh, Michelle."


"Wah, udah lama ya gak ketemu."


"Iya nih. Gimana udah dapet kerjaan?"


"Masih nyari sih. Kamu gimana kuliahnya?"


"Ya gitu deh. Makin banyak tugas."


"Kamu lagi belanja mingguan juga?"


"Iya nih. Kamu juga?"


"Iya. Tapi, ini udah selesai tinggal bayar aja di kasir."


"Ooo...ya udah, aku mau lanjut nyari barang ya."


"Emm... aku tunggu di depan ya." ucapnya.


Aku hanya menganggukan kepala dan segera pergi. Sekitar 1 jam, akhirnya aku sudah selesai berbelanja. Aku pun keluar dari supermarket untuk pulang.


"Eh, udah selesai?" tanyanya.


"Loh? Kamu belum pulang?"


"Belum. Aku kan nunggu kamu."


Dia menungguku sampai 1 jam. Apa dia tidak capek?


"Mau ke cafe situ dulu gak?" tawarnya sambil menunjuk tempat tersebut.


"Emm.. boleh."


Aku membawa masuk belanjaan ku dulu ke mobil, lalu segera menghampiri Michelle yang sudah selesai menaruh belanjaannya juga. Kami pun jalan kaki ke cafe nya.


"Mau pesan apa?" tanyanya.


"Emm... aku mau ice mocchachino aja deh." jawabku.


"Makan?"


"Enggak usah. Aku lagi pingin minum aja." balas ku.


Ia segera memesan. Dan kembali ke meja membawa struk.


"Emm.. bentar ya." ucapku.


Aku pun mengambil dompetku di tas.


"Eh, enggak usah." balasnya.


"Aku gak enak tahu."


"Gapapa kok, Bri."


"Emmm.. makasih ya."


"Sama - sama."


Setelah itu tidak ada obrolan diantara kami. Sampai akhirnya pesenan datang.


"Emm.. Bri. Sebenernya aku ngelamar kerja di perusahan yang sama dengan Nico."


"Oh ya?"


"Iya. Aku gak mau jauh dari dia."


Maksudnya? batinku bingung.


"Kamu gak mau jauh dari dia?"


"Emm... aku suka sama dia."


Sudah kuduga. Tidak mungkin seorang cewek dan seorang cowok bersahabat. Pasti salah satunya bakal ada yang memiliki perasaan lebih.


"Apa dia tahu?" tanyaku.


"Enggak. Aku takut kalau dia tahu, persahabatan kita pasti bakal hancur."


"Memangnya dia gak ada perasaan yang sama denganmu?"


"Dia suka kamu, Bri."


Aku terkejut mendengarnya. Berarti, waktu itu dia berkata jujur tentang perasaanya.


"Emm... gak mungkin lah. Aku sama dia cuma temen kok."

__ADS_1


"Dia pernah cerita sama aku tentang perasaannya. Katanya dia juga udah pernah bilang ke kamu."


"Emm... aku kira dia cuma lagi bercanda aja waktu itu."


"Dia serius. Apa kamu gak ada perasaan sama Nico?"


"Enggak. Kamu tahu sendirikan, aku udah punya pacar."


"Jadi, aku boleh maju untuk perasaanku?"


"Tentu saja. Aku gak masalah kok."


"Makasih ya, Bri."


Entahlah, semua yang keluar dari mulutku tadi hampir berlainan dengan perasaanku.


•••••••••••••••••••••••••


20 September 2016


"Bri, hari ini aku boleh main ke rumahmu gak?" tanya Meira.


"Boleh kok."


"Makasih ya."


Dosen pun datang. Dan kami langsung diam. Sekitar 2 jam, kelas akhirnya selesai juga.


"Yuk, Mei."


Ia pun mengangguk sambil masih mengemasi bukunya di meja.


Setelah itu kami pergi ke parkiran.


"Meira." panggil seseorang kepada Meira.


"Loh? Mama ngapain ke sini?!" tanya Meira dengan nada agak membentak.


Kenapa aku merasa atmosfer nya tidak baik ya?


"Ayo, pulang!" suruh ibu itu.


Ibu itu langsung menarik tangan Meira.


"Mama sakit tahu." ucap Meira sambil mencoba melepaskan tangannya.


Aku bingung. Apa aku harus membantunya? Tapi aku takut dibilang ikut campur.


Kulihat Meira berhasil melepaskan tangan nya. Lalu, ia menghampiriku.


Belum sempat ku balas ucapannya. Ia sudah segera pergi dan masuk ke dalam mobil ibunya. Aku hanya bisa berharap tidak terjadi hal buruk dengannya.


•••••••••••••••••••••


ddrrtt.. ddrrtt...


"Halo Stev."


"Halo sayang. Maaf ya, aku akhir - akhir ini jarang telepon kamu. Lagi banyak tugas."


"Gapapa kok. Aku juga banyak tugas."


"Kangen kamu."


"Aku juga. Emm... Stev, jangan kecapean ya."


"Iya sayang."


Setelah itu aku mengobrol banyak hal dengan Steven. Sampai akhirnya aku mendengar suara mobil ayahku.


"Stev, aku tutup dulu ya teleponnya."


"Ok deh. Bye sayang."


"Bye."


"Love you." ucapnya.


"Love you too." balas ku.


Aku memutuskan sambungan dan segera keluar menghampiri ayahku.


"Tumben pulang jam segini, yah?" tanyaku penasaran.


"Iya. Ayah bentar lagi mau pergi ketemuan sama om Dean."


"Ooo.."


Jelaslah, tidak mungkin ayah pulang tanpa sebab. Dan aku pasti bukanlah sebabnya.


Setelah itu, aku segera masuk ke kamar dan mengecek HP ku. Banyak pesan masuk ke tempatku. Dan aku mendapat pesan lagi darinya.


Kenapa sih dia selalu mengirimi ku pesan? Dia kan tahu aku tidak akan pernah membalasnya. Setelah kubaca, aku pun menghapusnya.

__ADS_1


•••••••••••••••••••••••••••


28 November 2016


"Aku beneran pusing ngerjain ujiannya." ucap Meira sambil memegang kepalanya.


"Sama nih. Untungnya udah selesai semua ujiannya."


"Iya. Emm... mau jalan - jalan gitu buat jernihin otak?"


"Mau."


Kami pergi membeli es krim di minimarket. Aku menatap ke arahnya yang sedang menikmati es krim nya.


"Emm... liburan nanti kamu mau kemana?" tanyaku.


"Gak tahu. Yang penting gak di rumah aja."


Dia belum mau menceritakan masalah nya padaku. Sebenernya kamu kenapa sih, Mei?


"Kamu mau liburan kemana?" tanya Meira balik.


"Katanya Steven mau ngajak aku ke rumah neneknya, tapi gak tahu sih jadi apa enggak."


"Ayah mu gak ngajak liburan kemana gitu?"


"Dia sibuk kerja."


Meira pun diam.


"Bri, pulang yuk."


"Emm.. iya."


Kupikir kami akan jalan - jalan lebih lama. Tapi, sepertinya dia sedang butuh istirahat.


•••••••••••••••••••••••


"Loh? Ayah udah pulang?" tanyaku yang baru sampai di rumah.


"Belum. Ayah cuma lagi ngambil berkas yang ketinggalan."


"Yah, liburan nanti mau pergi ke rumah kakek gak?"


"Maaf ya, Bri. Ayah lagi sibuk - sibuknya, jadi kamu pergi sendiri aja ya."


Jawaban yang selalu ku terima sejak ayah pindah kerja disini. Sibuk - sibuk, itu yang selalu ia bilang.


Aku segera masuk ke kamar dan menangis. Karena lapar, aku pergi ke dapur.


Kulihat ayah sudah tidak ada. Pasti dia sudah ke kantor lagi. Aku mengambil cemilan dan memakannya.


••••••••••••••••••••••••••


26 Desember 2016


"Udah selesai kemas - kemas nya?" tanya Steven.


"Udah nih. Langsung berangkat yuk, keburu malem." ajakku.


Steven hanya menganggukan kepala, lalu membantuku membawa barang - barangku.


Hari ini aku dan Steven akan pergi ke rumah neneknya. Aku sudah izin ke ayah, meski di sertai beberapa perdebatan kecil.


"Berapa jam perjalanannya?" tanyaku ke Steven yang sedang mengemudi.


"Sekitar 2 jam sih kalau dari sini. Kamu tidur aja gapapa kok."


Sepertinya dia tahu kalau aku sedang ngantuk.


"Kalau capek. Aku bisa gantiin kok." tawar ku.


"Siap."


Akhirnya, aku malah tertidur. Dan aku dibangunkan Steven ketika sudah sampai.


"Sorry ya. Aku gak nyangka bakal tidur lama tadi."


"Gapapa kok." ucapnya sambil mengambil barang - barang di bagasi.


Tok... tok..


Seorang nenek langsung membukakan pintu untuk kami.


"Nenek." sapa Steven, lalu menghampiri neneknya dan memeluknya.


Aku hanya bisa tersenyum melihat mereka.


"Nek, aku bawa pacar aku." ucapnya sambil menyuruhku mendekat.


"Ya ampun, jadi ini pacar yang sering kamu ceritain ke nenek."


"Iya."

__ADS_1


Nenek langsung menghampiriku dan memelukku.


__ADS_2