Choose Destiny

Choose Destiny
Pertengkaran


__ADS_3

"Masuk yuk, Na." ajak ayah, setelah melepaskan pelukannya.


Apa ayah tidak sadar, jika ada Nico di sampingku?


"Em.. Nic, yuk masuk." ajakku.


Ia menurut dan menyusulku masuk ke dalam rumah.


Aku terkejut melihat rumahku yang biasanya rapi, malah menjadi seperti kapal pecah. Banyak barang berserakan dimana - mana, dan juga piring - piring kotor yang belum dicuci.


"Maaf ya, berantakan rumahnya." ucap ayah malu.


Aku melirik ayah dengan tatapan sedih. Dia benar - benar kacau balau.


"Emm... biar Nana bersihin ya, yah." ucapku.


"Eh? Enggak usah, Na." ucap ayah.


Aku tetap bersikeras untuk membersihkan rumah ini.


Dulu sebelum menikah, aku juga sudah sering membersihkan rumah sendiri. Karena ayah tidak pernah mau menyewa pembantu di rumah. Entah, apa sebabnya?


Sekitar 2 jam lebih, dengan bantuan Nico dan ayah. Rumah kembali rapi dan bersih seperti dulu.


"Ini, minumannya." ucapku sambil menaruh nampan berisi 3 gelas es lemon.


"Makasih ya, Nana sama Nico udah bantu ayah bersihin rumah." ucap ayah.


Aku hanya mengangguk - angguk, sambil tersenyum.


"Gimana rumah tangga nya? Ayah udah pingin punya cucu nih."


Aku yang tadinya sedang meminum es lemon ku, langsung tersedak.


Uhuk.. uhuk..


"Kamu gapapa, Na?" tanya ayah khawatir.


Nico yang duduk di sampingku pun, langsung menepuk - nepuk punggungku.


"Kamu lain kali, minumnya pelan - pelan, Na." ucap ayah memperingati.


Aku kan tadi kaget, karena ucapan ayah tahu. Batinku kesal.


"Kita masih belum mikir buat bikin anak, yah." ucapku.


"Loh? Kenapa? Bukannya, punya anak itu bagus ya? Rumah kalian kan, jadi lebih berwarna."


Alasan macam apa itu? Kan belum tentu semua orang berpikir seperti itu.


"Kita masih mau mikir dulu, om." ucap Nico.


"Loh? Kok kamu masih manggil om sih, sekarang kan saya juga ayah kamu."


"Emm... maaf, yah." ucap Nico.


Aku merasa aneh, mendengar Nico memanggil ayahku dengan sebutan ayah juga.


"Yah, jangan lupa ya. Buat cukur kumis sama potong rambut nya." ucapku mengingatkan.


"Siap, Nana." ucap ayah.


•••••••••••••••••••••••


2 September 2018


Ting tong..... ting tong......


Aku segera bergegas membuka pintu.


"Eh, tante?" tanyaku.


Kulihat wajah perempuan di depanku ini sedikit kebingungan.

__ADS_1


"Tante, bukannya mamanya Nico?" tanyaku kembali.


"Eh? Iya, kamu inget?" Tanyanya tak yakin.


"Enggak, tapi aku pernah lihat foto tante di HP nya Nico." jawabku.


"Ooo..."


"Ya udah, masuk dulu yuk." ajakku.


Ia masuk dan duduk di sofa. Aku segera ke dapur untuk menyiapkan minuman.


"Ini, minumannya. Silakan." ucapku sopan.


"Makasih ya."


Ia mengambil gelas berisi teh tersebut, lalu meminum nya.


"Emm... jadi, kamu yang menikah dengan Nico, Na?" tanyanya.


"Iya, tan."


"Jangan panggil tante dong, kan kamu putriku juga sekarang." ucapnya.


"Iya, ma."


"Maaf ya, waktu itu gak bisa dateng ke pernikahan kalian. Habisnya, Nico juga ngasih undangan nya mendadak banget."


"Gapapa kok, ma. Gimana kabarnya?"


Perasaan ini pertama kalinya, aku bertemu dengan ibunya Nico. Tapi, entah kenapa? Aku merasa sudah sangat akrab dengannya.


"Baik - baik aja. Emm.. apa Nico pernah cerita tentang mama ke kamu?"


"Iya. Makanya, Nana tahu."


"Oh, tante pikir ingatan kamu udah kembali."


"Maksud, mama apa ya?" tanyaku bingung.


"Bukan apa - apa kok. Emm... Nico masih kerja ya?"


"Iya. Tapi, seharusnya bentar lagi pulang kok. Mama tunggu aja ya."


"Enggak usah deh. Mama cuma mau nganter ini buat, Nico. Jangan lupa kamu kasih ke dia ya!" ucapnya sambil memberikan sebuah kotak berwarna biru.


Aku tidak tahu, apa yang ada didalamnya?


"Iya, ma. Beneran mama gak mau nunggu, Nico pulang?"


"Iya. Dia juga pasti gak suka ngelihat mamanya di sini." ucapnya sedih.


Aku menatapnya dengan rasa kasihan.


Ting tong... Ting tong...


Aku segera membukakan pintu. Ternyata, itu Nico. Ia sudah pulang.


"Hai." sambut ku.


"Mobil siapa didepan?" tanyanya bingung.


"Itu mobil mama kamu. Masuk yuk." ajakku sambil menggandeng tangannya.


"Eh? Nico."


Kulihat ekspresi Nico langsung berubah, menjadi tidak enak.


"Ngapain mama kesini?!" ucap Nico tidak suka.


"Kenapa sih, Nic? Kan gak masalah, kalau mama kamu main kesini." ucapku memberitahu.


Ia langsung menatapku tajam.

__ADS_1


"Emm.. maaf ya, Nic. Mama ganggu kamu ya? Mama kesini cuma mau ngucapin selamat aja buat pernikahan kamu."


"Mama jangan pernah kesini lagi. Mama tahukan kalau Nico gak suka ngelihat mama!" bentak Nico.


Aku marah dengan perkataan Nico yang menyakitkan itu.


"Nic, gak seharusnya kamu ngomong gitu. Dia kan mama kamu, udah gak waras ya kamu!" ucapku membentak.


"Yang gak waras itu kamu. Ngapain kamu bolehin dia masuk kesini!" ucapnya membentak ku balik.


Mama pun bergegas keluar dari rumah. Aku yang melihat hal itu, langsung segera mengejarnya.


"Ma, tolong jangan pergi." ucapku memohon.


Kulihat matanya berkaca - kaca. Pasti dia sangat sedih dengan perkataan Nico tadi.


"Makasih ya, Na. Kamu udah ngebela mama. Sekarang mama, mau pulang dulu. Jangan lupa titipan nya ya!" ucapnya mengingatkan.


Aku hanya mengangguk. Dan ia pun pergi masuk ke mobilnya.


Setelah mobil itu menjauh dari rumah. Aku masuk kembali ke dalam rumah.


"Kenapa sih kamu?" tanyaku kepada Nico yang sedang duduk di sofa.


Ia tidak menjawab ucapanku. Dan langsung pergi masuk ke kamarnya.


Ada apa sih dengannya?


••••••••••••••••••••••••


9 September 2018


Sudah seminggu, hubunganku dan Nico merenggang. Ia tidak mau berbicara denganku, bahkan sampai tidak mau melihat wajahku. Padahal, aku sudah berkali - kali meminta maaf padanya.


Apa yang harus kulakukan sekarang? Batinku bingung.


Ting tong.... ting tong.....


Aku segera bergegas membuka pintu. Apa Nico sudah pulang jam segini?


"Hai." sapa perempuan didepanku.


Kenapa dia yang datang kesini? Buat apa juga? Batinku penasaran.


"Emm... ngapain kesini?" tanyaku ketus.


"Aku mau mengantarkan ini." ucapnya sambil menyerahkan tas berisi jas hitam.


"Dia meninggalkannya dirumahku kemarin." sambungnya sambil tersenyum tipis.


Aku menatap kearahnya dengan kesal. Pagi - pagi, emosiku sudah terpancing saja.


"Terima kasih, Michelle. Lain kali, jangan pernah bertamu lagi ya. Kalau gak ada keperluan penting." ucapku sambil tersenyum.


"Kata - katamu menyakitkan tahu. Ya udah, aku pergi dulu ya. Bye." ucapnya sambil melambaikan tangannya.


Aku hanya menatapnya dengan sinis.


Lebih baik aku buang saja jas ini. Batinku kesal.


Jadi, itu sebabnya Nico pulang malam kemarin? Dia pergi ke rumah Michelle. Buat apa juga?


•••••••••••••••••••••••


"Nih, jasmu yang ketinggalan di rumah orang." ucapku sambil melemparkan jas itu ke arahnya.


"Bisakah kamu lebih sopan terhadap suamimu." ucapnya kesal, karena menerima lemparan jas itu.


Dia membalas perkataanku. Batinku senang.


"Emm... maaf. Aku hanya tidak sengaja." ucapku tak bersalah.


Ia yang kesal, malah langsung pergi meninggalkanku.

__ADS_1


__ADS_2