Choose Destiny

Choose Destiny
Akhir Untuk Kita


__ADS_3

1 Maret 2019


Ting tong... Ting tong....


Aku bergegas membuka pintunya.


"Nic." panggil ku.


"Bisakah kamu mempersilakanku masuk lebih dulu?" tanyanya yang kesal.


"Eh? Iya."


Ia masuk kedalam dan merebahkan tubuhnya di sofa.


"Kamu sangat lelah ya? Mau aku pijat?" tawar ku.


"Enggak perlu." ucapnya ketus.


Aku yang pasrah dengan jawabannya, langsung pergi menuju dapur.


"Na." teriak Nico.


"Ada apa?" tanyaku bingung.


"Tolong ambilkan air putih untukku."


"Baiklah, akan ku ambilkan sebentar."


Aku segera menuangkan air dari dispenser ke dalam gelas. Dalam waktu beberapa detik, aku sudah kembali menemui Nico yang masih merebahkan diri di sofa.


"Ini, airnya." ucapku sambil memberikan segelas air putih kepadanya.


Ia langsung bangun dan meminum air tersebut.


"Bagaimana pekerjaanmu? Apa semua berjalan dengan baik?" tanyaku.


"Ya." jawabnya singkat.


Aku mulai canggung bertanya lagi, akibat balasan singkatnya tersebut.


"Nic, kalau tidak ada yang kamu butuhkan lagi. Aku akan kembali ke dapur untuk memasak." ucapku.


"Pergilah." balasnya ketus.


Sabar, sabar, dia hanya sedang lelah. Aku harus memahaminya.


••••••••••••••••••••••


"Na." panggil Nico.


"Ya?"


"Besok aku mau ngajak kamu jalan - jalan, mau?"


"Mau. Udah lama juga kita gak jalan berdua." jawabku senang.


Tiba - tiba Nico memelukku. Aku agak terkejut dengan pelukannya, namun aku membalasnya dengan erat.


"Besok akan jadi hari terindah untuk kita." ucapnya samar - samar ditelingaku.


Entah kenapa, dari ucapannya itu aku menjadi berpikir ada hal yang tidak beres nantinya.


Semoga itu hanya anggapan ku saja.


•••••••••••••••••••••


2 Maret 2019


"Sudah siap, Na?" tanya Nico.


"Sudah. Yuk berangkat."


Nico langsung menggandeng tanganku. Kami akan berjalan kaki menuju taman kota.


Jaraknya tidak cukup jauh dari rumah, mungkin membutuhkan waktu sekitar 20 menit kalau berjalan kaki.


"Kenapa kita tidak menggunakan mobil saja?" tanyaku.


"Aku pingin jalan kaki aja. Jalan kaki kan sehat." jawabnya sambil tersenyum kearahku.

__ADS_1


Selama di perjalanan Nico dan aku berbagi cerita yang lucu yang membuat kami tertawa bersama. Perjalanan yang cukup panjang ini menjadi tidak terasa melelahkan sama sekali.


"Nic, ayo segera cari tempat duduk." ajakku.


"Tunggu. Ayo kita foto dulu disini."


Nico tiba - tiba mengeluarkan HP nya langsung.


"Emm... Foto disini?"


"Iya." ucapnya yang sudah mendekatkan pipinya ke pipiku.


Cekrek.. Cekrek...


Banyak foto yang diambil oleh Nico.


"Emm.. Nic, bisakah kita segera mencari tempat duduk? Aku sudah benar - benar lelah."


"Eh? Iya. Maaf, ayo kita segera mencari tempat duduknya."


Nico memasukkan HP nya ke saku celananya dan segera menggandeng tanganku kembali.


"Akhirnya ketemu juga." ucapku senang ketika melihat tempat duduk kosong dekat pohon.


Aku yang sudah sangat capek berdiri, langsung beranjak duduk untuk mengistirahatkan kakiku.


"Kamu haus?" tanya Nico yang berdiri  didepanku.


"Ya."


"Ya udah, tunggu disini bentar ya."


Nico pergi entah kemana.


Drrrtt.. Drrrtt...


Kenapa Steven menghubungiku disaat seperti ini?


"Halo, Stev."


"Bri." panggil Steven dengan nada lemah.


"Kepalaku sakit, Bri."


"Apa efek samping dari kemonya?" tanyaku lagi.


"Mungkin. Bri, kamu bisa ketempatku sekarang?" tanyanya.


Bagaimana ini? Apa aku harus meninggalkan Nico? Tapi, Nico pasti akan marah.


"Na." panggil Nico yang sudah duduk disampingku.


Aku langsung memutuskan sambungan telepon dari Steven.


"Ada apa dengan wajahmu? Kamu terlihat sangat pucat?" tanya Nico khawatir.


"Eh, enggak kok. Aku gapapa."


"Oh, ya udah. Nih minumnya." ucap Nico sambil memberikan botol aqua untukku.


Aku langsung membuka botol aqua tersebut dan meminumnya.


Tenangkan pikiranmu, Bri. Kamu harus bilang pada Nico yang sejujurnya dan segera ke tempat Steven.


"Ni.." ucapanku terpotong karena tiba - tiba Nico mencium bibirku.


Jantungku berdetak sangat cepat. Aku hanya diam tanpa membalas ciumannya.


"Na, aku mencintaimu. Benar - benar mencintaimu. Namun, aku sadar jika aku bukanlah pria yang kamu inginkan."


Ucapannya mendadak membuatku terdiam. Ada rasa aneh yang tiba - tiba muncul dalam hatiku.


"Jalan - jalan bersamamu hari ini, benar - benar sangat menyenangkan. Aku akan selalu mengingatnya di memori ku."


"Nic."


"Aku menceraikanmu Brianna Maurell."


Deg..

__ADS_1


Jantungku terasa berhenti berdetak. Ucapannya membuatku sangat sakit.


Ia hanya bercanda, bukan? Ia tidak sungguh - sungguh mengatakannya.


Air mataku turun dan membasahi pipiku.


"Katakan ini bohong. Kumohon katakan kamu hanya bercanda, Nic!" bentak ku.


"Aku tidak bercanda, Na. Aku memutuskan untuk menyerah. Sekarang kamu bisa kembali kepada Steven."


"Aku mencintaimu, Nic. Aku mencintaimu, lalu kenapa kamu malah menyakitiku seperti ini!"


"Cintamu hanya setengah untukku. Aku tahu itu, Na."


"Dan aku tahu kalau dari awal kamu sangat ragu dengan rumah tangga ini!"


"Apa yang sebenarnya membuatmu ragu, Nic?!" sambung ku.


"Cintamu yang membuatku ragu. Seharusnya aku sadar, jika cinta itu tidak bisa dipaksa. Namun sifat keras kepalaku malah membuatku tetap menerima pernikahan ini."


"Kumohon, Nic. Jangan ceraikan aku. Aku ingin bertahan denganmu." ucapku terisak.


"Tidak ada jalan lagi untuk kita. Kembalilah ketempat dimana hatimu merindukannya."


Setelah ucapan itu, Nico pergi meninggalkanku.


Tes... Tes...


Rintik hujan tak membuat diriku beranjak dari tempat duduk, juga tak membuatku berhenti mengeluarkan air mataku.


Masa didepan yang ku impikan, perlahan hilang dalam sekejap. Sekarang aku harus memimpikan masa depan lain yang lebih cerah bagiku.


Ting tong... Ting tong...


"Bri."


Aku menatap Steven yang sudah membuka pintunya.


"Kamu kenapa basah gini?" tanya Steven khawatir.


"Stev, mulai sekarang aku akan selalu berada disampingmu. Aku akan menjaga dan merawatmu sampai akhir nanti." ucapku sambil memegang tangannya.


"Bri."


Steven langsung memelukku.


Dan akhirnya, aku kembali kepadamu. Pilihan terakhirku.


••••••••••••••••••••••••


5 Maret 2019


"Aku kecewa padamu Nico. Berani - beraninya kamu menceraikan putriku!" bentak ayah kepada Nico yang sudah tersungkur ke lantai akibat pukulan ayah.


"Ayah kumohon hentikan." ucapku sambil menahan lengan ayah.


Nico hanya diam dan tidak melakukan pembelaan apapun.


"Saya hanya ingin memberikan surat ini kepada Brianna, om." ucap Nico yang berusaha berdiri.


"Aku benar - benar menyesal menikahkanmu dengan putriku. Pernikahan ini hanyalah pembawa sial untuk putriku!"


"Ayah, jaga ucapan ayah. Dan Nico, berikan surat itu. Aku akan segera menanda tanganinya."


Nico memberikan surat itu. Setelah aku menanda tanganinya, semuanya pun berakhir.


"Saya permisi, om." pamit Nico.


"Pergilah. Dan bilang kepada ayahmu, agar jangan pernah menghubungiku lagi!" bentak ayah kembali.


Nico segera pergi dengan mobilnya.


Kamu harus kuat, Na. Kamu harus kuat.


"Na, kamu gapapa?" tanya ayah.


"Gapapa kok, yah. Nana tegar dengan semua yang sudah terjadi."


Ayah langsung memelukku. Aku pun mengeluarkan air mata yang sudah kutahan dari tadi.

__ADS_1


"Jangan menangis. Pria seperti itu, tidak pantas mendapat tangisanmu." ucap ayah yang masih menepuk punggungku pelan.


__ADS_2