Choose Destiny

Choose Destiny
Kecapean


__ADS_3

Ting tong... ting tong...


"Bri." panggil Meira.


Aku langsung memeluk Meira.


"Kamu kenapa?" tanyanya sambil masih mengelus rambutku.


Aku masih menangis dalam pelukannya.


Sekitar 2 jam, akhirnya aku berhenti menangis.


"Nih." ucap Meira sambil menyodorkan tisu.


Aku pun langsung mengelap air mataku.


"Ada masalah apa sih sampai kamu nangis gini?" tanyanya tidak mengerti.


"Ayah aku nyuruh aku putus sama Steven."


"Ya ampun, aku pikir masalah yang serius."


"Mei, ini tuh serius."


"Bukannya kamu tinggal putus aja, mungkin ayahmu akan menjodohkan mu dengan seseorang."


"Mei, perasaan itu bukan mainan. Dan lagi aku gak mungkin putus sama Steven."


"Jelasin alasan kamu gak bakal putus sama Steven? Kamu terlalu mencintai nya?"


"Mungkin.Tapi, ada alasan yang lain. Emm.. kami sudah pernah menghabiskan malam bersama."


Meira langsung terkejut mendengarnya.


"Kamu sudah melakukan dengan dia?"


"Iya. Dan kamu tahukan jika suamiku orang lain, apa mereka masih mau menerima ku?"


"Mungkin saja jika suami mu mau menerima mu apa adanya. Tapi, bagaimana bisa sih?"


"Itu terjadi begitu saja. Hanya kesalahan di waktu itu."


"Bri, ikuti saja kata hatimu. Aku yakin itu pasti yang terbaik."


Aku hanya bisa menganggukkan kepalaku dan tersenyum tipis.


Setelah mengobrol dengan Meira, perasaan ku menjadi agak lega. Meira pun pulang karena sudah terlalu malam.


••••••••••••••••••••••


23 Juni 2017


"Yah, aku gak bakal putus dengan Steven." ucapku pada ayah yang sedang fokus dengan laptopnya.


"Na, sekarang kamu udah berani ngelawan ayah ya."


"Nana gak pernah ngelawan ayah. Tapi, Apa alasannya aku harus putus sama Steven? Ayah kan tahu sendiri seberapa aku sayang dia."


"Na, sebenernya ayah juga gak mau kayak gini. Tapi, ayah udah membuat perjanjian dengan om Dean untuk menjodohkan mu dengan Nico."


"Kenapa, yah?"


"Ada alasan yang tidak perlu kamu ketahui. Dan Nico juga bisa menjaga mu dengan baik melebihi Steven."


"Lalu? Nico bisa menjagaku tanpa menjadi suamiku bukan?"


"Na, ayah cuma mau kamu turuti keinginan ayah ini."


"Jika begitu ayah bilang saja alasannya. Ayah kan tahu Nana bukan tipikal yang akan menuruti sesuatu tanpa sebab." Ucapku dengan nada agak membentak.


"Ayah gak bisa bilang sekarang."


"Jika begitu, jangan harap Nana bakal turuti keinginan ayah!" ucapku dengan nada membentak.


Aku segera masuk ke kamar. Menangis, itulah yang bisa kulakukan untuk menenangkan rasa kesal ku.


••••••••••••••••••••


13 Agustus 2017


Aku sudah memasuki semester terakhir sekarang. Dan tentu saja akan lebih banyak tugas yang mendatangi ku. Sayangnya aku tidak sekelas lagi dengan Meira.


drrrttt... drrrttt...


"Halo?"


"Bri, ini aku Rachel." ucap Rachel ditelepon.


Kenapa juga aku mengangkat telepon nya? Aku benar - benar menyesal jadinya.


"Kamu ganti nomer HP lagi?" tanyaku.


"Iya. Karena aku tahu kamu udah blokir semua nomorku."

__ADS_1


"Oh."


"Bri, apa kamu baca pesan yang selalu ku kirim?"


"Mungkin." jawabku malas.


"Lalu kenapa kamu gak membalasnya?"


"Emm.. aku malas aja. Lagian pesanmu pasti bohong."


"Enggak, Bri. Semua yang aku kirim itu beneran bahkan fotonya pun asli."


"Aku capek dengerin kebohongan kamu lagi, hel. Udah ya, aku mau kelas dulu. Bye."


Aku langsung memutuskan teleponnya. Dan segera memblokir nomor nya.


••••••••••••••••••••••••


Ting tong.... ting tong...


"Steven."


"Emm... aku boleh masuk?" tanyanya.


"Eh, iya."


Ia masuk dan langsung duduk di sofa. Untung saja ayah belum pulang kerja.


"Mau minum?" tawar ku.


"Enggak usah."


Aku pun segera duduk di sofa sebelahnya.


"Emm.. aku berhasil ngelamar kerja di salah satu perusahaan di sini."


"Beneran? Bagus dong."


"Makasih."


"Jadi, kita bisa sering ketemu lagi."


Ia hanya mengangguk. Ada apa sih dengan dirinya?


"Ada masalah?" tanyaku.


"Emm... enggak ada kok. Aku boleh meluk kamu?"


Ia langsung memelukku dengan erat. Kami pun berpelukan cukup lama.


"Emm... aku pulang dulu ya."


"Eh, udah mau pulang aja."


"Iya. Aku lagi gak enak badan, jadi mau cepet istirahat aja di rumah."


"Kamu sakit lagi?"


"Iya. Tapi, gapapa kok. Paling minum obat aja udah sembuh lagi."


Sebenernya dia sakit apa sih?


"Emm.. kamu mau istirahat dulu aja disini?"


"Enggak usah. Ayah kamu gak bakal suka."


Apa maksud nya?


"Aku pamit ya, Bri. Bye."


"Eh, iya. Hati - hati."


Lalu, ia pergi dengan mobilnya.


•••••••••••••••••••••••


25 November 2017


"Bri, kamu belum tidur juga?" tanya ayah.


"Eh, ayah. Emm.. kerjaanku masih belum selesai." ucapku sambil mengaduk - aduk kopi yang kubuat.


"Ini udah jam 1 dini hari, Bri. Mending kamu istirahat dulu."


"Nanggung, yah." ucapku, lalu segera kembali ke kamar.


Kring.. kring...


Aku terbangun akibat suara alarm. Perasaan aku baru tidur sebentar, tapi kenapa sudah berbunyi sih?


Aku segera mandi dan bergegas untuk ke kampus.


"Loh? Kamu udah bangun?" tanya ayah.

__ADS_1


"Iya." jawabku singkat.


"Sarapan dulu yuk." ajaknya.


"Nanti aja, yah. Keburu telat."


Ketika aku akan melangkah untuk keluar, tiba - tiba pandangan ku kabur dan aku terjatuh.


"Bri."


Suara terakhir yang kudengar sebelum akhirnya aku tidak sadar.


••••••••••••••••••••••


Aku terbangun disebuah kasur. Kulihat sekelilingku, ternyata aku sudah berada di rumah sakit.


Aku pun segera bergerak untuk bangun.


"Bri. Kamu udah sadar." ucap ayahku.


Ayahku tiba - tiba langsung keluar dan memanggil dokter untuk memeriksaku.


"Keadaannya sudah membaik, pak. Jangan biarkan dia kecapean lagi."


"Terimakasih ya, dok."


Dokter pun pergi. Tiba - tiba ayah langsung memelukku. Aku bingung kenapa ayah memelukku seperti ini?


"Ayah kenapa sih?" tanyaku.


Ayah melepaskan pelukannya. Dan menatapku.


"Kamu udah bikin ayah panik, Bri."


"Emm... maaf, yah. Sekarang udah jam berapa?"


"Sekarang udah jam 5 sore. Dan kamu udah pingsan selama 2 hari."


Aku terkejut. Selama itukah aku pingsan?


"Ayah yang menjaga ku?" tanyaku.


"Ayah menjaga mu ketika sudah pulang kerja."


"Lalu, siapa yang menjagaku saat ayah lagi kerja?"


"Nico."


"Eh? Bukannya dia harusnya kerja juga?"


"Dia izin cuti ke bosnya."


"Emmm.. berarti besok dia akan kembali menemaniku?"


"Iya."


"Oh, emmm....yah, dimana HP ku?"


"HP mu sudah rusak."


"Loh, kok bisa?"


"Kamu menjatuhkannya saat pingsan."


Aku baru ingat jika saat itu aku membawa HP ku di tangan. Lalu, bagaimana cara ku untuk menghubungi Steven?


"Beliin yang baru dong, yah." pintaku.


"Nanti aja, kalau kamu udah keluar dari rumah sakit."


Aku hanya bisa diam.


"Kuliahku gimana?"


"Ayah sudah minta izin ke dosen mu. Dan tugas - tugas yang mau kamu kumpulkan waktu itu, sudah ayah berikan."


"Eh, emm... makasih."


Ayah hanya mengangguk saja. Ia mulai menyuapin ku makanan yang sudah selesai dia siapkan.


"Enak?" tanyanya.


"Enggak. Rasanya hambar." jawabku sambil tersenyum.


Ayah ikut mencicipinya.


"Mau makan yang lain aja?" tawarnya.


"Enggak. Aku bakal habisin kok."


"Kamu kuat sama rasanya yang hambar?"


Aku hanya mengangguk dan ayah pun kembali menyuapin ku.

__ADS_1


__ADS_2