
7 Maret 2019
"Ini obatnya." ucapku sambil memberikan obat itu kepada Steven.
"Aku tidak mau meminumnya." balas Steven lemah.
"Stev, ayolah." bujuk ku.
Ia menatap kearahku dengan tatapan sedih. Akhirnya, ia mengambil obatnya dan langsung meminumnya.
"Istirahatlah." ucapku.
"Tetaplah disini." pinta Steven lemah.
"Baiklah."
Aku berbaring di sampingnya.
"Bri, apa kamu masih ingat tempat awal first kiss kita?"
"Tentu saja aku masih ingat." jawabku sambil tersenyum menatapnya.
"Apa kamu mau kesana kembali bersamaku?" tanya Steven.
"Ya. Tentu aku mau."
Ia tersenyum senang menatapku.
"Besok setelah pulang dari rumah sakit, kita kesana ya." pinta Steven.
"Iya, Stev."
Steven tiba - tiba memelukku erat. Ia pun tertidur dalam pelukannya.
•••••••••••••••••••••••
8 Maret 2019
"Aku tidak ingin kemo lagi." ucap Steven sedih setelah mendengar perkataan dokter tersebut.
"Stev." panggil ku pelan.
"Kemo yang pertama saja sudah sesakit itu, apalagi yang kedua seperti kata dokter itu. Aku sudah lelah, Bri." ucap Steven sedih.
"Stev, sakitnya hanya sebentar kok."
"Kamu tidak merasakannya. Lebih baik aku menyerah saja, lagipula jika sembuh pun kemungkinannya kecil untukku."
Perasaanku sedih mendengarnya. Aku tahu ini sangat sulit untuknya. Namun, harus bagaimana lagi?
"Stev, jangan bicara seperti itu." ucapku terisak.
"Bri, jangan menangis."
Steven mendekapku dalam pelukannya, ia mengelus rambutku pelan.
"Maafkan ucapanku." ucap Steven.
Flashback on....
"Dok, apakah Steven bisa sembuh dengan kemo ini?" tanyaku.
"Kemungkinannya sangat kecil. Karena sel kankernya sudah menyebar sangat cepat. Kemo ini dilakukan hanya untuk memperlambatnya saja." jawab dokter tersebut.
Jadi, sudah tidak harapan lagi ya? Apa sekarang aku harus siap untuk menerima semuanya?
Flashback off....
"Stev, kita jadi ke tempat yang kita bicarakan kemarin?" tanyaku pada Steven yang masih memelukku.
Ia melepas pelukannya dan menatapku.
"Jadi, ayo segera kesana." ajaknya sambil tersenyum.
••••••••••••••••••••••••
Sekitar 30 menit, kami sampai ke tempat itu. Tempat awal ciuman pertama kami.
"Masih sama, cuma aku yang beda." ucap Steven.
"Kamu tetap sama kok. Bahkan perasaanku untukmu tetap sama seperti dulu."
"Makasih ya, Bri. Kamu udah nerima aku apa adanya."
Aku hanya membalasnya dengan senyuman. Lalu, Steven menyadarkan kepalanya dibahuku dan menutup matanya.
"Kamu lelah?" tanyaku.
"Agak."
"Tidurlah sebentar."
"Ya."
__ADS_1
Kurasa Steven sudah tertidur.
Jika, Steven pergi nanti. Akankah aku bisa menerimanya? Ucapan ini selalu terngiang di pikiranku.
"Bri." panggil Steven yang masih menutup matanya.
"Ada apa, Stev?"
"Maaf jika nantinya aku takkan menikahimu."
"Aku tidak ingin kamu menjadi janda untuk kedua kalinya." sambungnya.
Aku berusaha untuk tetap tenang mendengarnya.
"Bri, kenapa kamu diam saja?"
"Emm... Gapapa."
"Bri, aku bakal jalanin kemo kedua ini. Seperti yang kamu mau."
"Jika kamu tidak ingin, kamu tidak perlu melakukannya."
"Aku ingin."
Tes... Tes...
Air mata yang sudah kutahan, akhirnya turun juga. Aku membekap mulutku agar tak menimbulkan suara.
"Aku mencintaimu, Brianna Maurell. Dan akan selalu begitu."
••••••••••••••••••••••••••••
1 April 2019
"Ayo makan dulu, Stev."
"Aku tidak mau. Aku ingin tidur saja."
Sudah beberapa hari semenjak kemo kedua dilakukannya, ia menjadi tidak nafsu makan. Steven selalu mengeluh jika kepalanya sangat sakit. Aku juga sangat bingung mengatasinya.
"Stev, kumohon makan dulu. Kamu akan tambah sakit jika terus begini."
Steven yang sudah pasrah, akhirnya bangun dari tidurnya.
Ia mulai memakan makanannya.
"Selamat pagi." sapa ayah yang baru datang.
"Ayah kesini lagi, bagaimana kerjaan ayah?" tanyaku.
"Makasih, yah."
Ayah pergi menghampiri Steven yang sedang makan.
"Makanlah yang banyak, Stev." ucap ayah menyuruh.
"Ya, om."
Karena ada ayah yang menemani Steven, aku memutuskan untuk pergi membersihkan rumah.
•••••••••••••••••••••••••
"Ayah pulang dulu ya, kamu jaga Steven baik - baik." ucap ayah.
"Iya, yah. Makasih udah kesini."
"Na, ayah minta maaf kalau dulu ayah minta kamu putus darinya."
Ayah masih mengingatnya? Kupikir ayah sudah melupakannya.
"Gapapa kok, yah."
Ayah lalu memelukku. Ia mengelus rambutku dengan pelan.
"Buat dia bahagia, Na." bisiknya pelan.
Ayah melepaskan pelukannya. Dan segera pergi.
••••••••••••••••••••••
5 Juni 2019
Aku menatap Steven yang terbaring lemah di kasur rumah sakit. Ia barusan selesai menjalani kemo ketiganya.
"Bri." panggilnya lirih.
"Ada apa, Stev? Kamu butuh sesuatu?" tanyaku.
"Tolong ambilkan air."
Aku segera menuangkan air ke gelas untuknya.
"Ini." ucapku sambil memberikannya.
__ADS_1
Ia bangun dari kasurnya perlahan dengan bantuanku.
Lalu, ia meminum airnya sampai habis.
"Ada yang kamu butuhkan lagi?" tanyaku.
Ia hanya menggelengkan kepalanya pelan. Dan berbaring kembali di kasurnya.
"Kepalamu masih sakit?" tanyaku.
"Ya." jawabnya pelan.
"Apa perlu aku panggilkan dokter?"
"Tidak. Aku hanya butuh istirahat saja."
Aku kembali diam.
"Bri, jika kamu lelah menungguku. Kamu bisa pulang saja ke rumah." ucap Steven.
"Enggak kok. Aku bakal tetap disini menemanimu."
"Makasih ya, Bri."
Lalu, ia kembali terlelap dalam tidurnya.
•••••••••••••••••••••••••
12 Juni 2019
"Kamu yakin akan pergi ke rumah nenek? Bukannya efek samping kemonya masih terasa?" tanyaku khawatir.
"Enggak kok. Efeknya udah hilang." ucapnya sambil tersenyum.
Perasaan, kamu masih merasakannya bukan? Apa kamu akan kuat menahannya dariku?
Setelah selesai menaruh koper di bagasi mobil. Aku segera membantu Steven untuk masuk ke mobil.
"Udah siap?" tanyaku.
"Ya."
Aku langsung mengendarai mobilnya. Selama diperjalanan Steven hanya menatap kosong kearah luar.
Entah kenapa, aku memiliki firasat buruk hari ini.
Setelah memakan waktu kurang lebih 2 jam, kami pun sampai ke rumah nenek.
"Aku yang akan membawa kopernya, kamu masuklah dulu." ucapku kepada Steven.
Steven mengikuti ucapanku. Ia langsung masuk kedalam rumah neneknya. Rumah yang mungkin sangat ia rindukan.
"Sudah lama ya." ucapnya pelan, namun masih bisa kudengar.
Selesai membawa semua koper kedalam rumah. Aku langsung duduk di sofa untuk mengistirahatkan tubuhku.
"Kamu capek ya?" tanya Steven.
"Gak kok. Kamu udah laper?"
"Belum. Aku mau ke halaman belakang dulu, kamu disini aja ya." ucapnya.
Aku hanya menganggukan kepala saja.
Aku mengamati setiap tempat dirumah ini.
Masih sama seperti dulu. Batinku.
••••••••••••••••••••••••
"Bri." panggil Steven sambil mengguncang tubuhku pelan.
Aku yang tadi masih dialam mimpi, langsung tersadar. Hal yang pertama ku lihat adalah jam, dan sekarang masih pukul 11 malam.
Kenapa Steven membangunkanku?
"Ada apa, Stev? Apa kepalamu sakit lagi?" tanyaku.
"Enggak kok, aku cuma mau ngajak kamu ke rumah pohon."
"Sekarang?"
"Iya."
"Ini udah malem, Stev. Mending besok pagi aja." ucapku yang masih mengantuk.
"Ayolah, Bri."
Aku yang tidak ingin membuatnya sedih, akhirnya mengiyakan saja ajakannya.
Aku segera mengambil jaket dan keluar menyusul Steven.
"Malam ini akan jadi malam yang indah." ucapnya sambil menatapku dengan tatapan yang sulit kumengerti.
__ADS_1
Dalam hatiku, aku merasa ada sesuatu yang tidak beres nantinya. Kumohon jangan sekarang. Aku belum siap melepaskannya.