
"Bri, maaf ya tadi aku tinggal." ucap Steven.
"Eh, gak papa kok. Tadi kamu pergi kemana?"
"Emm... tadi aku di panggil ke ruang guru."
"Oh ya. Kenapa?" tanyaku penasaran.
"Emmm.. gitu deh, gak usah dibahas."
"Iya deh."
"Ya udah, yuk pulang." ajaknya.
"Iya." balas ku.
Steven langsung mengantar ku pulang.
••••••••••••••••••••••••••
25 Mei 2013
Hari ini adalah hari kelulusan Steven dan kami berencana merayakannya dengan makan malam bersama.
Tin.. tin...
"Cepet banget datengnya." ucapku.
"Iya dong." balasnya.
"Happy graduation!" ucapku.
"Thank you."
"Emmm... aku mau ngasih kamu hadiah, tapi kamu tutup mata dulu."
"Oke deh."
Setelah dia tutup mata, aku langsung mencium pipi kirinya.
"Oh, jadi hadiahnya ini ya." ucapnya dengan menggodaku.
Dia tersenyum ke arahku. Ya ampun, aku sangat malu sekarang.
"Emmm.. ya udah cepet jalan gih."
"Iya iya, aku mau hadiah kayak gitu lagi boleh gak?" tanyanya.
"Ih, jangan aneh - aneh deh."
Ya ampun aku benar - benar malu.
Setelah selesai makan malam, Steven mengajakku ke taman sebelum pulang.
"Lihat deh, dilangit banyak bintang." ucapnya.
"Iya. Emm.... Kamu jadinya mau kuliah dimana?"
"Aku bakal kuliah di luar kota."
"Jadi kayak yang kamu rencanain waktu itu."
"Iya." jawabnya singkat.
"Emmm.. sering - sering hubungin aku ya." ucapku.
"Siap deh. Mau pulang sekarang?" tanyanya.
"Iya."
Ia mengantarkanku pulang.
•••••••••••••••••••••••••
15 Juli 2013
Tidak terasa aku sudah kelas 3 sekarang. Dan Steven sudah pergi ke luar kota untuk kuliah. Aku pasti akan sangat merindukannya.
"Bri." panggil Rachel.
"Rachel. Ih, aku kangen banget tahu."
"Aku juga." balasnya.
Sebelum liburan kenaikan kelas, hubunganku dengan Rachel mulai membaik. Dia tidak lagi menjauhiku.
"Gimana liburannya?" tanyaku.
"Ya gitu - gitu aja sih. Eh, udah denger belum kalau kak Karin satu universitas sama kak Steven."
"Eh? Beneran?" tanyaku tidak percaya.
"Kamu belum denger ya?"
"Belum. Kenapa juga kak Karin sih?"
"Sabar ya. Emmm.... Bri, sebenernya aku mau beritahu ini sama kamu."
"Beritahu apa?"
"Kamu inget kan waktu aku jauhin kamu, sebenarnya aku takut sama kak Steven."
"Hah?"
"Waktu itu aku gak sengaja ngelihat kak Steven dan kak Karin lagi ngerokok di halaman belakang sekolah. Karena kak Steven tahu, dia nyuruh aku tutup mulut biar gak bilang ke kamu."
"Emmm.... tunggu deh, Steven lagi sama kak Karin?" tanyaku.
"Iya. Waktu itu masih jam pelajaran, dan aku izin ke toilet. Pas itu aku mau jalan - jalan bentar sebelum masuk kelas, aku malah gak sengaja ngelihat kak Steven sama kak Karin di halaman belakang sekolah."
__ADS_1
"Mereka lagi ngerokok?"
"Iya." jawabnya.
"Tapi kenapa Steven sama kak Karin?"
"Aku juga gak tahu. Dan kak Steven nyuruh aku diem, kalau gak dia bakal ngelakuin sesuatu ke aku. Makanya waktu itu aku jadi takut."
"Emm... jadi karena Steven gak ada, kamu berani bilang ke aku?"
"Iya. Tapi, aku ngerasa ada sesuatu yang kak Steven sembunyiin dari kamu."
"Tentang hubungannya sama kak Karin?"
"Emmm.. itu juga, tapi ada yang lain lagi. Aku juga gak tahu sih."
"Aku juga ngerasa sih, tapi aku gak berani nanya."
"Mungkin ada saatnya dia beritahu ke kamu."
"Iya."
Tapi apa yang dia sembunyikan dariku?
••••••••••••••••••••••••••
drrrrttt... drrrrtttt.....
"Hai Bri. Gimana sekolahnya?" tanya Steven di telepon.
"Emm..... baik - baik aja kok. Gimana kuliahnya?"
"Banyak tugas, capek."
"Yang sabar ya."
"Kangen kamu." ucapnya.
"Aku juga. Em.... Stev?"
"Kenapa?"
"Eh, enggak jadi deh."
"Hmmm... udah makan belum?" tanyanya.
"Udah, ini lagi ngerjain PR."
"Oo... aku ganggu ya?" tanyanya.
"Enggak kok."
"Ya udah deh, aku mau tidur dulu. Besok ada kelas pagi. Bye sayangku." pamitnya.
"Bye. Mimpi indah ya." balas ku.
"Kamu juga ya."
•••••••••••••••••••••••••••
4 Agustus 2013
"Na." panggil ayah.
"Iya yah?"
"Hari ini ayah mau ngajak kamu makan malem bareng temen ayah. Mau gak?"
"Mau yah. Emangnya sama siapa yah?"
"Om Dean sama anaknya."
"Ooo.. ya udah deh Nana mau siapin baju dulu."
"Siap, putri ayah yang cantik."
Aku langsung masuk kamar dan menyiapkan pakaian yang akan kupakai.
Sekarang aku dan ayah sudah sampai ke restoran yang sudah di pesan ayahku. Kami sedang menunggu om Dean dan anaknya.
"Andre." panggil om Dean.
"Dean." panggil ayah balik.
Aku melihat ayahku sedang berpelukan mesra dengan om Dean, aku sedikit aneh melihatnya.
"Eh ini putri kamu? tanya om Dean.
"Iya."
"Nana masih inget sama om?" tanyanya kepadaku.
"Emm... Nana gak inget om."
"Perasaan om dulu sering banget main sama kamu." balasnya.
"Maaf ya om."
"Gapapa."
"Mana anak kamu?" tanya ayah kepada om Dean.
"Nico lagi ke toilet sebentar." jawabnya.
"Ooo... ya udah yuk duduk dulu." ajak ayah.
"Kamu makin cantik ya, na." puji om Dean.
"Makasih om." ucapku.
__ADS_1
Tiba - tiba seorang pria menghampiri meja kami. Aku merasa pernah melihatnya.
"Eh, Nico sudah datang. Duduk sini, nak." suruh om Dean.
"Iya yah." ucapnya.
"Putramu benar - benar tampan ya." puji ayah.
"Ah bisa aja kamu." ucap om Dean.
"Emm.. makasih om pujiannya." balas Nico.
"Oh iya. Na, ini Nico anaknya om Dean." ucap ayah.
"Emm... kamu yang waktu itu nganter roti kan?" tanyaku hati - hati.
"Iya, masih inget ya." jawabnya santai.
"Ooo.. jadi yang kamu bilang cowok ganteng waktu itu, Nico ya." ucap ayah.
"Ih, ayah. Kenapa masih inget segala sih?!" ucapku kesal.
"Yah gimana yah, ayah kan ingatannya sempurna."
Aduh, aku jadi sangat malu sekarang. Apalagi aku mendengar suara tertawa om Dean dan anaknya.
"Nic, kamu masih inget sama Nana kan?" tanya om Dean.
"Emmm.. aku udah lupa yah."
"Ya ampun kalian berdua sama - sama lupa ya. Perasaan dulu kalian sering main bareng, bahkan kalian pernah nangis kalau mau dipisahin." ucap om Dean.
"Masa sih om?" tanyaku tidak percaya.
"Iya, na." jawab om Dean.
"Udah lama yah, gak usah dibahas deh." ucap Nico kesal.
"Ih, Nico kok gitu sih sama ayah." balas om Dean.
"Hmm.." balas Nico.
Sepertinya Nico dingin orangnya. Tapi aku kok lupa ya pernah punya temen kayak dia?
Setelah makan malam selesai. Ayah menyuruhku jalan - jalan sebentar dengan Nico. Kenapa juga aku harus jalan - jalan dengannya?
"Emmm.... umurmu berapa?" tanyaku.
"20 tahun." jawabnya singkat.
"Oo.." balas ku.
Ternyata, dia selisih 2 tahun denganku. Dan sekarang aku bingung harus tanya apalagi padanya.
"Ayo kembali." ajaknya.
"Eh, iya." balas ku.
Kami kembali ke tempat ayah dan om. Kulihat mereka masih berbincang.
"Loh, sudah selesai jalan - jalannya?" tanya ayah.
"Iya yah. Em... Nana capek mau pulang." ucapku.
"Emm.. Dean, kita lanjut bicaranya kapan - kapan lagi ya kalau ada waktu. Aku mau pulang dulu, kasian Nana capek." pamit ayah.
"Oo.. ya udah, ndre. Gapapa, lagian udah malem juga." balas om Dean.
Kami berpamitan dan pulang ke rumah.
"Emm.. Na." panggil ayah.
"Eh? iya yah?"
"Menurut kamu Nico gimana?"
"Emmm...gimana maksudnya?"
"Menurut kamu anaknya baik apa gak?"
"Emm..Nana gak tahu, yang Nana tahu dia dingin."
"Emm.. ya udah, ayah masuk ke kamar dulu."
Kenapa ayah nanya gitu ya?
drrrrtttt.... drrrrtttt....
"Hai Bri." sapa Steven di telepon.
"Hai. Belum tidur?" tanyaku.
"Belum, barusan nyelesain tugas kuliah." jawabnya.
"Semangat ya. Jangan lupa jaga kesehatan." ucapku mengingatkan.
"Siap deh. Kamu belum tidur juga?" tanyanya.
"Barusan pulang makan malem sama ayah."
"Ooo..."
"Stev, akhir pekan nanti kamu pulang gak?"
"Emmm... kayaknya gak bisa deh. Maaf ya."
"Yah. Gapapa deh, semangat ya buat kuliahnya. Love you." ucapku.
"Love you too." balasnya.
__ADS_1
Setelah itu kami memutuskan sambungan telepon nya.