Choose Destiny

Choose Destiny
Membuka Hati Untuk yang Lain


__ADS_3

Aku pulang dengan perasaan kacau balau. Duniaku seakan runtuh karenanya.


"Na, kamu gak kuliah?" tanya ayah yang ternyata belum berangkat kerja.


Aku pun menengok ke arahnya.


"Semua berakhir seperti yang ayah harapkan." ucapku disertai senyum getir diakhir.


Aku segera masuk kamar dan menguncinya. Aku menangis sejadi - jadinya di dalam kamar.


Bagaimana ini bisa berakhir? Dimana letak kesalahanku?


•••••••••••••••••••••••••


25 April 2018


"Bri. Makan dulu yuk." ucap Meira sambil memberikan semangkok bubur panas.


"Gak." jawabku singkat.


"Bri, kamu udah 2 hari belum makan. Nanti kalau kamu sakit gimana?"


"Biarin." jawabku dengan ekspresi datar.


"Bri, jangan kayak gini. Aku dan ayahmu itu khawatir sama keadaan kamu sekarang."


Air mataku tiba - tiba turun kembali. Aku buru - buru mengusapnya.


"Bri." ucap Meira sedih.


Tiba - tiba Meira memelukku.


"Keluarkan semuanya, sampai kamu lega." bisiknya ditelingaku.


Aku pun menangis sejadi - jadinya di pelukannya.


••••••••••••••••••••••••


27 April 2018


Sekarang perasaanku sudah lebih baik, dan aku akan kembali masuk kuliah.


"Pagi, yah." sapaku kepada ayah yang sedang membaca koran.


"Eh, Nana udah mau kuliah lagi?"


"Iya, yah. Gak baik kalau Nana bolos terus, apalagi bentar lagi udah lulus."


"Itu baru putri ayah." balas ayah sambil mencium puncak kepalaku.


"Emm... ayah bisa nganter Nana ke kampus gak?" tanyaku hati - hati.


"Bisa kok. Yang penting sekarang kamu sarapan dulu."


"Iya, yah." ucapku bersemangat.


Aku memakan sarapanku dengan lahap.


Selesai sarapan, ayah mengantarku ke kampus.


"Nana masuk dulu ya. Bye, ayah." pamit ku, lalu mencium pipinya.


"Belajar yang rajin ya." balas ayah.


Aku hanya tersenyum dan segera keluar dari mobil.


"Hei, Bri." sapa Meira yang sudah ada di depan kelasku.


"Eh? Kamu ada kelas juga?" tanyaku.


"Enggak ada sih. Aku cuma mau nungguin kamu aja."


"Gapapa nih? Kelasku 2 jam loh." ucapku.


"Gapapa kok. Aku bakal nunggu kamu di kantin, sekalian ngemil."


Aku hanya mengangguk dan segera masuk ke kelas.


Sekitar 2 jam, kelasku akhirnya berakhir. Aku segera menuju ke kantin.


"Bri." panggil Meira yang sedang duduk di meja tengah kantin.


Aku menghampiri Miera.


"Sorry lama."


"Enggak kok. Kamu mau makan apa?" tanyanya.


"Aku gak makan. Masih kenyang."


"Emmm... kalau gitu minum aja gimana?"


"Ya udah deh. Aku mau es teh aja." jawabku.


"Ok."


Ia segera pergi memesan es teh. Sekitar 2 menit, ia kembali.


"Nih, Bri." ucapnya sambil menyerahkan segelas es teh kepadaku.


"Makasih. Uangnya mau diganti?" tanyaku.


"Enggak usah." jawabnya.


"Emm... Bri, kamu udah move on dari Steven?" tanya Meira.


"Beri aku waktu, Mei." ucapku sambil menatapnya dengan wajah sendu.

__ADS_1


"Eh? Emm.. iya, Bri. Maaf ya." ucapnya bersalah.


"Gapapa kok."


Setelah itu aku izin pulang padanya, untuk mengerjakan tugas - tugasku.


•••••••••••••••••••••••


10 Mei 2018


drrrtt.. drrrtt..


"Hai, Nic." sapaku ditelepon.


"Hai, Na. Emm.... kamu ada waktu gak besok?"


"Ada. Kenapa emangnya?"


"Aku mau ngajak kamu jalan - jalan." jawabnya.


"Kamu besok pulang kesini?" tanyaku.


"Iya." jawabnya singkat.


"Jam berapa nih kamu jemput nya?"


"Jam 5 sore."


"Ok. Aku tunggu besok."


Kami membicarakan hal lain dan tertawa bersama, akibat candaan yang saling kami lontarkan satu sama lain.


••••••••••••••••••••••••••


"Yah, nanti aku izin pergi keluar bareng Nico ya." ucapku kepada ayah yang sedang memakan sandwich nya.


"Dia pulang?" tanyanya.


"Ya. Dan dia mengajakku jalan - jalan."


"Ooo.. ya sudah. Yang penting pulang nya jangan malem - malem ya." perintah ayah.


Aku hanya mengacungkan jempol ku.


Selesai sarapan, aku segera pergi ke kampus.


•••••••••••••••••••••••••


Sekarang sudah pukul 5, dan aku sedang menunggu Nico di depan pagar.


Tin.. tin..


"Kamu telat 5 menit." ucapku kepadanya.


"Sorry, jalanan macet. Masuk yuk."


Aku pun masuk ke mobilnya.


"Ke mall, lalu makan malam. Ide bagus?" tanyanya balik.


"Diakhiri di taman kota, gimana?" tanyaku balik.


"Ok." balasnya singkat.


Ia mengendarai mobilnya pergi ke mall.


Sesampainya di mall. Kami bersenang - senang.


••••••••••••••••••••••


"Sudah?" tanya Nico kepadaku.


"Ya." jawabku yang masih sibuk mengurus belanjaan.


"Langsung ke restoran?" tanyanya lagi.


"Ya." balas ku singkat.


"Bisa bawanya?" tanyanya.


"Emm.. bisa." jawabku.


Tiba - tiba ia meraih belanjaanku dan membawanya.


"Lain kali, beli barang jangan banyak - banyak." ucapnya.


"Kalau ada kamu kan gak masalah." ucapku santai sambil berjalan mendahului nya.


"Eh, aku yang nyetir boleh gak? tanyaku.


"Bisa?" tanyanya balik.


"Bisalah. Aku yang nyetir, ok." ucapku percaya diri.


Ia hanya mengangguk sambil memasukkan barang belanjaanku ke bagasi mobil.


Sekitar 15 menit, kami sampai ke restoran.


"Kamu masih pingin hidup gak sih?!" tanyanya dengan nada kesal.


"Masihlah." ucapku santai.


Kamu mau tahu kenapa dia marah? Itu karena aku mengendarai mobil nya dengan ngebut.


"Udah yuk, kita turun." ajakku.


"Nanti aku yang bakal nyetir." ucapnya.

__ADS_1


"Siap." balas ku.


Makan malam selesai. Dan kami sudah berada di taman kota sekarang.


"Duduk yuk." ajakku sambil menunjuk sebuah bangku kosong.


Kami duduk di bangku tersebut.


"Kamu senang?" tanyanya.


"Ya." jawabku.


"Buka hatimu untukku." ucapnya.


Aku menatap ke arahnya.


"Akan ku coba." ucapku.


Aku beranjak dari duduk ku.


"Pulang yuk." ajakku.


Tetapi tiba - tiba ia menarikku.


Dan entah bagaimana akhirnya kami berciuman sekarang.



Dan malam itu adalah malam yang sangat panjang untuk kami berdua.


••••••••••••••••••••••••


12 Mei 2018


"Na, semalam kemana kamu?" tanya ayah dengan nada menginterogasi.


"Emm... aku nginep di rumah temen aku." jawabku bohong.


"Bukannya kamu pergi bareng Nico?"


"Eh, emm.. dia gak jadi ngajak aku jalan kemarin. Jadinya aku main ke rumah temenku."


"Ooo...."


"Aku masuk kamar dulu ya." ucapku.


Aku bergegas masuk kamar dan menguncinya.


Pikiranku benar - benar kacau dengan kejadian semalam.


Bagaimana bisa aku dan Nico melakukannya?


•••••••••••••••••••••••••


25 Mei 2018


Hari ini adalah hari kelulusanku.


"Bri." panggil Meira.


"Mei, happy graduation!" ucapku.


"Happy graduation too!" balasnya.


"Gak kerasa ya udah lulus." ucapku sedih.


"Iya nih."


"Orang tua kamu mana, Mei?" tanyaku.


"Mereka gak dateng."


Di hari kelulusan putrinya, kenapa mereka malah gak dateng?


"Nana." panggil ayah.


"Eh, ayah." ucapku senang lalu memeluknya.


"Happy graduation ya." ucap ayah sambil memberikan sebuket bunga untukku.


"Makasih, yah." balas ku terharu.


Aku memeluk ayahku erat.


Dan inilah akhir dari masa kuliahku.



••••••••••••••••••••••••••


16 Juni 2018


"Kamu mau nyari kerja dimana, Na?" tanya ayah.


"Belum tahu, yah." ucapku yang masih sibuk membaca berita di HP ku.


"Emm... Na, kamu udah setuju menikah dengan Nico?"


"Iya. Bukannya itu yang ayah mau juga."


"Ayah senang akhirnya kamu mau, Na."


Aku hanya tersenyum ke arahnya. Meski, dalam hatiku berkata lain.


"Nico ngajak Nana jalan - jalan nanti, boleh yah?" tanyaku.


"Boleh. Tapi, inget jam pulang ya."

__ADS_1


"Siap, yah."


Sebenarnya aku masih canggung untuk bertemu dengan Nico setelah kejadian waktu itu. Tapi, ya sudahlah.


__ADS_2