Choose Destiny

Choose Destiny
Nico dan Rahasianya


__ADS_3

"Siapa namamu?" tanya gadis itu kepadaku.


Aku menoleh kearahnya yang berada di sampingku.


Cantik sekali dia. Batinku terpesona.


"Namaku Nicholas Louis, namamu?" tanyaku balik.


"Namaku Michelle Berlyn." jawabnya dengan senyumannya yang indah.


Saat itu aku benar-benar tak mengerti, bagaimana seorang bidadari bisa ada disini?


Sejak pertemuan pertamaku dengannya di bangku SMP, kami menjadi sahabat.


Lama aku berteman dengannya, aku mulai mengetahui semua sifat-sifatnya. Entah sifatnya yang sangat manja, menyebalkan, periang, dan banyak lagi.


Namun, jika bersamanya. Aku selalu teringat seorang gadis yang pernah ada di masa laluku. Aku tak tahu bagaimana keadaannya sekarang, karena kami sudah kehilangan komunikasi sejak lama.


••••••••••••••••••••


Cup


Aku seketika terdiam. Gadis didepanku itu malah tersenyum senang. Tunggu, apakah aku baru kehilangan first kiss ku?


"Ada apa dengan wajahmu?" tanya gadis yang baru menciumku, yaitu Michelle.


"Kenapa kamu melakukannya?" tanyaku yang masih shock.


"Apa tidak boleh? Apa itu ciuman pertamamu?" godanya.


Ya ampun, gadis ini benar-benar memancing emosiku. Apa baginya ini sudah sesuatu yang biasa?


"Iya ini ciuman pertamaku, dan kamu mengambilnya begitu saja." jawabku ketus.


"Ayolah, itu hanya hal yang biasa saja. Kita juga bisa sering melakukannya." ujarnya yang membuatku mengerutkan keningku.


Aku tak terlalu paham dengan jalan pikiran Michelle. Tapi, aku juga tak paham dengan pikiranku yang malah ingin terus melakukan ciuman itu.


•••••••••••••••••••••••••••


"Nic, antarkan ini ke rumah Om Andre." suruh ayah kepadaku.


Aku hanya mengangguk paham dan segera pergi menggunakan motorku.


Dalam pikiranku, apa aku akan bertemu dengan dia?


Namun, apa dia masih mengingatku? Kurasa tidak.


Ting tong.. Ting tong..


"Emm.. cari siapa ya?" tanya gadis yang baru membukakan pintunya tersebut.


Awalnya aku terkejut, karena ternyata yang membuka pintunya adalah dia.


"Ini rumah om Andre kan?" tanyaku yang berusaha untuk fokus pada pekerjaanku.


"Eh, iya."


"Ini pesenan rotinya." ucapku sambil menyerahkan kresek isi roti yang dari tadi kubawa.


"Eh? sebanyak ini?" tanyanya tak percaya.


"Iya. Ya sudah saya pergi dulu ya." pamit ku.


"Eh? Uangnya kan belum saya kasih."


"Udah dibayar kok."


"Oo.. Ya udah, makasih ya."


Aku segera pergi menggunakan motorku menjauhi rumahnya. Aku sangat-sangat merindukannya, tapi kenapa aku tak bisa melihat dirinya yang dulu? Kemanakah gadis kecil yang selalu menanti kedatanganku itu?


•••••••••••••••••••••


4 Agustus 2013


Aku sedang menonton TV waktu itu, lalu ayah datang dan memberiku kabar bahwa ia mengajakku makan malam bersama dengan keluarga Om Andre.

__ADS_1


"Persiapkan dirimu, putraku yang tampan." ujar ayah sebelum pergi.


Aku menjadi gugup, bagaimana aku bisa menghadapi gadis itu? Apa aku sanggup menahan debaran jantungku di dekatnya?


Akhirnya malam itu aku dan ayah pergi ke restoran yang sudah dipesan oleh Om Andre. Aku yang masih gugup, memutuskan untuk ke toilet lebih dulu. Aku berusaha untuk mengatur jantungku.


Lalu, aku pergi menemui ayahku yang sudah duduk bersama Om Andre dan putrinya.


Ayahku menyuruhku untuk segera duduk di kursi sebelah putri Om Andre itu. Aku tak terlalu banyak bicara, karena aku sedang berusaha untuk mengatur detakan jantungku agar tak terdengar oleh gadis di sebelahku ini.


Acara makan malam selesai, dan Om Andre malah menyuruhku mengajak putrinya jalan-jalan berdua.


Ia memulai percakapan lebih dulu, tapi aku malah menanggapinya agak dingin. Maafkan aku.


Karena aku merasa hawa malam semakin dingin, akhirnya aku mengajaknya untuk masuk kembali menemui ayah kami.


Om Andre memutuskan untuk pulang, setelah mendengar bahwa putrinya itu sudah capek. Malam itu aku agak sedih, karena aku menyadari bahwa dia tak mengingatku.


••••••••••••••••••••••••


20 Mei 2014


Drrtt.. Drrtt...


"Halo?" sapaku.


"Halo, Nic. Ini Om Andre." ujar suara itu di telepon.


"Oh ya, Om. Kenapa telepon saya ya?" tanyaku yang tak mengerti.


"Om mau nyuruh kamu buat antar jemput Nana ke sekolah. Kamu bisa, kan?"


Aku bingung harus menjawab apa, tapi tidak mungkin aku menolak permintaan dari Om Andre. Akhirnya ku setujui saja.


Esoknya, aku mulai mengantar jemput Nana. Meski, hanya seperti ini. Tetapi, aku senang bisa kembali bersama dengannya.


•••••••••••••••••••


Semakin lama, perasaan yang pernah ku timbun dulu mulai kembali lagi. Aku mencintainya kembali, meski aku sadar bahwa ia sudah memiliki perasaan untuk yang lain.


Apa tidak ada sedikit saja ruang untukku masuk?


Sebelum aku pergi jauh darinya, akhirnya aku memutuskan untuk mengungkapkan perasaanku kepadanya. Aku tahu, bahwa ia tak mungkin membalas perasaan ini. Tapi, aku hanya berpikir untuk jujur saja. Daripada aku menyesal, karena tak pernah memberitahunya tentang perasaanku.


••••••••••••••••••••••••


Drrtt.. Drrtt....


Kenapa Mama tiba-tiba menelepon ku?


"Halo, Nic." sapa Mama lebih dulu.


"Hmm.." aku hanya membalas dengan deheman saja.


Dalam hati aku senang ia menelepon ku, itu artinya dia masih ingat padaku.


"Mama kangen." ucap suara itu ditelepon.


Aku juga kangen. Jawabku dalam hati.


"Emmm... Kamu kapan mau main ke rumah Mama? Gak pingin ketemu sama adik kamu?"


Seketika aku sadar, bahwa sekarang posisiku sudah tergantikan oleh seseorang.


"Aku lagi banyak kerjaan." jawabku.


"Iya ya. Putra Mama yang satu ini pasti sangat sibuk kerja. Mama do'ain semoga pekerjaan kamu selalu dilancarkan ya." doa Mama untuk seorang putra sepertiku.


Aku langsung mematikan teleponnya. Aku tak sanggup menahan kesedihanku ini. Aku sangat merindukan Mama, aku rindu Mama yang selalu ada di sisiku, Mama yang hanya memperhatikanku dan Ayah saja.


Kenapa sih, Mama harus ninggalin Ayah dan menikahi pria lain? Bahkan sampai memberikanku adik, yang sama sekali tak kuinginkan.


••••••••••••••••••••••


"Apa?! Ayah berniat menjodohkanku dengan Nana?!" teriakku yang terkejut dengan pernyataannya.


Ayah menatapku dengan bingung.

__ADS_1


"Bukankah kamu pernah bilang ingin menikah dengan Nana waktu kecil." ucap ayah santai.


"Itukan hanya perkataanku saat kecil, yah. Kenapa ayah malah menganggapnya serius?!" balas ku yang masih kesal.


"Kamu menyukainya, bukan? Lalu apa salahnya, jika kamu menikah dengannya?"


"Ayah tahu?" tanyaku tak percaya.


"Tentu saja. Kamu tidak bisa mengelabui ayahmu ini." jawabnya sambil tersenyum sinis.


Benar, tidak mungkin ia tak mengetahuiku dengan baik. Tapi, bukan perasaanku yang sedang kupikirkan. Namun, perasaan Nana yang sedang kupikirkan. Apa dia mau menikah denganku?


••••••••••••••••••••••••••


28 November 2017


Aku kembali datang ke rumah sakit sakit untuk menemani Nana. Kudengar dari Om Andre bahwa Nana sudah bangun. Apa dia masih ingat dengan ucapanku waktu itu?


"Pagi, Na." sapaku yang baru masuk.


"Eh, emm.. pagi."


"Gimana keadaan kamu? Udah mendingan?" tanyaku basa-basi.


"Iya. Besok udah boleh pulang katanya."


"Ooo... emm.. aku bawain buah - buahan buat kamu."


"Makasih ya, Nic."


Aku senang dia sudah sehat kembali. Tidak bisakah gadis ini menjadi jodohku?


"Emm... gimana pekerjaan kamu?" tanyanya.


"Baik - baik aja. Kuliah kamu?"


"Ya gitu deh, banyak tugas."


"Sebentar lagi kamu lulus ya."


"Iya nih. Tapi, masih bingung mau ngelamar kerja dimana nantinya."


Kami kembali diam.


"Emm.. Na, kamu masih inget ucapan aku waktu sebelum aku pindah?" tanyanya.


"Ucapan kamu yang mana?"


Apa dia sudah lupa? Batinku.


"Emm.. gak jadi. Kamu pasti udah lupa."


"Besok kamu gak usah kesini lagi." ucapnya yang membuatku sedikit sedih.


"Kenapa?" tanyaku bingung.


"Aku udah baikan kok."


"Aku suka kamu. Kamu masih ingat kata - kata itu bukan?" tanyaku.


"Nic, jangan meminta yang lebih padaku. Aku hanya menganggap mu sebagai temanku saja."


"Kita akan di jodohkan dan kita akan menikah, Na."


"Aku gak bisa. Kamu bukan orang yang aku cintai, Nic."


"Cinta datang karena terbiasa, Na."


"Dan cinta itu tidak bisa dipaksakan, Nic." ucapnya dengan nada membentak.


Entah apa yang tiba-tiba datang dan merasukiku. Sampai aku malah nekat menciumnya dengan paksa.


Plak...


Ia menampar pipiku.


"Itu menjijikan, Nic." ucapnya sambil mengusap bibirnya dengan punggung tangannya.

__ADS_1


Aku langsung keluar dan pergi meninggalkannya. Aku sedih karena aku begitu tak diinginkan olehmu.


__ADS_2