
Ting tong.... ting tong...
"Eh, Steven."
"Kamu kok udah pulang duluan sih. Tadi aku kan udah bilang kalau aku bakal jemput kamu." ucap Steven kesal.
"Eh, sorry. Tadi tiba - tiba aku gak enak badan, jadi langsung pulang. Maaf, aku lupa ngabarin."
"Kamu sakit?"
"Emm.. enggak kok, cuma kecapean aja."
Steven pun langsung memelukku.
"Jangan sakit, aku gak suka." Bisiknya ditelingaku.
"Iya, Stev." balas ku sambil menepuk punggungnya.
Aku suka berada dalam dekapannya. Benar - benar hangat dan nyaman.
••••••••••••••••••••••
Hari ini aku akan pergi makan malam dengan Steven, seperti yang sudah direncana kan untuk merayakan anniversary kami yang kedua. Dan sekarang aku sedang bersiap - siap, sedangkan Steven menungguku.
"Yuk berangkat." ucapku.
"Udah selesai?"
"Udah."
Aku langsung menggandeng tangannya. Kami segera menuju ke restoran yang sudah kami pesan jauh sebelumnya. Setelah selesai makan malam, kami pergi ke tempat anniversary pertama kami.
"Tempat first kiss kita." ucapku sambil tersenyum ke arah Steven.
"Kamu masih inget aja."
"Karena itu momen yang paling romantis dalam hidupku."
"Benarkah?"
"Iya."
Dia pun hanya tersenyum menatapku.
Dia tiba - tiba memegang tangan kananku. Kurasakan dia memasangkan sesuatu di jari manis ku.
"Stev. Ini cincin?"
"Iya buat kamu."
Dia langsung memelukku erat.
"Cincin itu bukti bahwa aku serius sama kamu." bisiknya lembut ditelingaku.
Aku terharu mendengar ucapannya. Aku langsung membalas pelukan nya dengan erat.
Aku menangis didalam dekapannya.
•••••••••••••••••••
"Kuliah yang rajin ya." ucap Steven.
"Siap deh." jawabku sambil tersenyum kepadanya.
"Ya udah cepet masuk sana sebelum dosennya dateng."
"Iya. Bye."
Aku pergi meninggalkan Steven, dan segera menuju ke kelas. Tetapi langkahku terhenti, ketika kedua teman kak Dika menghadang jalanku.
"Emmm... ada apa ya?" tanyaku.
"Ikut kita."
Mereka berdua langsung menarik kedua tanganku. Aku berusaha untuk melepaskannya.
"Ngapain kalian megang tangan cewek gue?" tanya Steven.
"Siapa lo?"
"Gue pacarnya!" bentak Steven sambil melepaskan tanganku dari mereka.
Buagh...
Steven memukul mereka berdua. Kulihat banyak anak langsung mengerumuni kami.
"Stev, cukup." ucapku panik.
Bugh.. bugh...
__ADS_1
"Steven cukup!" bentak ku.
Steven langsung berhenti.
"Sampai kalian berani ganggu pacar gue lagi, gue gak akan segan - segan habisi kalian!"
Steven pun menarikku pergi.
"Kamu gapapa?" tanyanya.
Aku langsung memeluk nya. Dia membalasnya dengan menepuk punggungku.
"Aku ada disini, Bri. Kamu gak usah takut lagi." bisiknya lirih.
Aku langsung menatapnya.
"Makasih udah nyelamatin aku. Aku bener - bener takut kalau mereka bakal ngelakuin sesuatu yang buruk ke aku tadi."
"Iya sayang. Kalau mereka macem - macem lagi, bilang ke aku ya. Aku bakal bener - bener habisin mereka."
Dia pun mengusap air mataku. Aku memeluk nya kembali.
••••••••••••••••••
"Mau masuk dulu, Stev?" tanyaku.
"Emm... enggak. Aku mau langsung pulang aja, tiba - tiba kepala ku pusing."
"Kepala kamu pusing kayak dulu lagi?"
"Iya. Tapi gapapa kok, aku cuma perlu minum obat aja."
"Kamu mau istirahat aja dulu disini? Aku bisa beliin obat buat kamu."
"Eh, enggak usah. Aku gak mau ngerepotin kamu. Bye sayangku."
Dia mencium kening ku, lalu segera masuk ke mobilnya.
••••••••••••••••••
25 April 2015
Sudah bulan April sekarang, waktu benar - benar cepat berlalu. Setelah kejadian beberapa bulan lalu kak Dika dan kedua temannya sudah tidak pernah menunjukkan batang hidungnya lagi di kampus. Dan Nico sudah masuk kembali.
"Bri. Udah ngumpulin skripsi belum?" tanya Meira.
"Belum nih."
"Aduh, aku kemarin begadang nyari sumbernya kagak ketemu - ketemu. Pingin nangis tahu." ucapnya kesal.
Meira langsung memelukku. Dan akhirnya kami pun berpelukan.
"Ehem." deheman Nico.
Aku segera melepaskan pelukanku, kala mendengar suara itu.
"Eh, Nic. Kamu bukannya gak ada jadwal ya hari ini?" tanyaku.
"Emm... aku disuruh om buat nitip pesenan rotinya ke kamu."
"Hah? Ayah nyuruh kamu ngirim pesenan di kampus?"
"Eh, iya. Emm.. kamu masih ada kelas?"
"Enggak ada. Ini mau pulang, tapi masih ngobrol dulu sama Meira."
"Mau aku anter?"
"Eh, aku bawa mobil sendiri. Maaf ya."
"Oo... ya udah, aku anter sampai parkiran."
"Emm.. ya udah deh. Mei, aku pulang dulu ya." ucapku kepada Meira yang daritadi hanya diam disampingku.
"Ok, aku juga mau cepetan pulang. Bye." balasnya.
Nico mengantarku sampai parkiran.
•••••••••••••••••••••
Sekarang aku sedang mengerjakan skripsiku.
ddrrtttt.. dddrrtt...
Aku pun mengecek HP ku. Ternyata yang menghubungi ku adalah Rachel, tapi aku tidak mengangkatnya. Aku sudah memutuskan hubungan dengannya, aku tidak menganggap dia sahabatku lagi.
Hari saat aku datang ke kampus Steven untuk merayakan anniversary ke dua kami. Aku melihat Rachel berciuman dengan Steven. Kalian pasti tau kan perasaanku, melihat sahabat yang kupercaya malah menikungku dari belakang.
Tiba - tiba aku mendengar bunyi mobil ayah. Aku segera keluar dari kamar.
"Ayah udah pulang."
__ADS_1
Aku memeluk ayahku.
"Putri ayah kangen ya."
"Iya. O iya, roti pesenan ayah ada di meja dapur."
"Roti pesenan ayah? Ayah perasaan gak pesan roti deh."
"Eh? Bukannya ayah nyuruh Nico ke kampus buat nganter roti?"
"Enggak kok. Eh? Hmmm... kamu pasti tahu apa maksudnya. Udah ah, ayah mau masuk kamar dulu."
Aku masih bingung? Apa maksud Nico?
••••••••••••••••••
26 Juli 2015
Ting.... tong...
"Stev?"
"Halo sayangku. Kaget ya liat aku."
"Katanya kamu gak jadi pulang?."
"Iya sih. Tapi aku kangen sama kamu."
"Dasar."
Aku langsung memeluk nya.
"Kamu mau jalan - jalan ke mall?" tanyanya.
"Mau. Aku siap - siap dulu."
Dia menungguku. Setelah itu aku pun keluar dari kamar.
"Yuk berangkat." ucapku.
"Ok."
Kami masuk mobil dan berangkat ke mall.
"Kamu gak pernah ketemuan lagi sama Rachel ya?" tanyanya.
"Aku udah gak sahabatan lagi sama dia." jawabku ketus.
"Hah? Kenapa?"
"Menurutmu kenapa? Kamu tahu, aku pernah ngelihat dia ciuman sama pacar orang."
"Pacar siapa?"
Kenapa dia tidak peka banget sih?
"Aku ngelihat dia ciuman sama kamu." ucapku kesal.
"Ooo... kamu udah tahu ya. Kapan?"
Aku terkejut dengan responnya.
Dia tidak merasa bersalah?
"Kamu emang sengaja selingkuh dibelakang aku?"
"Aku gak selingkuh kok. Aku cuman beri apa yang temen kamu mau aja."
Apa maksud nya? Batinku kebingungan.
"Maksud kamu apa sih?"
"Temen kamu yang minta aku cium dia. Ya udah deh, aku beri aja. Dibanding dia berusaha deketin aku terus."
"Dia deketin kamu?"
"Iya. Dia pernah nembak aku pas di SMA, perasaan jelas - jelas dia udah tahu aku punya pacar. Apalagi pacarku itu sahabatnya sendiri."
Aku bingung sekarang. Siapa yang berbohong sih? Steven? Rachel?
"Dia pernah bilang kalau dia pernah ngelihat kamu ngerokok bareng kak Karin di halaman belakang sekolah waktu jam pelajaran. Itu bener?"
"Aku gak pernah ngerokok sama Karin. Dan lagian Karin gak ngerokok juga."
"Emm... jadi, maksud nya selama ini Rachel bohong sama aku?"
"Mungkin."
Aku benar - benar tidak menyangka dengan semua ini. Rachel yang kuanggap sahabat, malah membohongiku selama ini.
"Bri. Udah sampai nih. Gak turun? tanyanya.
__ADS_1
"Eh, iya."
Aku pun turun dari mobil. Dengan pikiran yang masih kacau balau.