
"Tidak. Ini tidak benar." ucapku sambil menatapnya.
"Aku tahu kamu gak mencintai Nico. Lalu, apa salahnya kita balikan?" tanya Steven.
"Dia suamiku. Aku tidak akan selingkuh di belakangnya."
"Kamu bisa cerai dengannya. Dan kita bisa menikah dan hidup bahagia bersama." ucap Steven.
Plak..
Aku menamparnya. Aku benar - benar tidak tahan dengan ucapannya.
"Dulu kamu yang mengakhiri semuanya, Stev. Dan sekarang kamu ingin memulainya kembali? Apa kamu sudah tidak waras?"
"Aku minta maaf, Bri. Kumohon izinkan aku kembali kepadamu." ucap Steven memohon.
"Semua sudah berakhir. Tidak ada lagi harapan untuk kita." ucapku.
"Tapi, kamu tidak mencintai Nico. Untuk apa kamu mempertahankan nya?" tanya Steven.
"Aku mencintainya. Kau puas?!" jawabku.
Aku segera berlalu meninggalkan nya.
Ini menyakitkan. Karena aku mencintai kedua pria bodoh itu.
••••••••••••••••••••••••••
17 November 2018
"Besok kamu pulang saja, Na." ucap ayah yang habis meminum obatnya.
"Kenapa, yah? Apa ayah tidak suka dengan kehadiranku?" tanyaku sedih.
"Enggaklah, Na. Masa ayah gak suka kamu disini. Cuma ayah khawatir aja, kalau kamu terlalu lama disini. Si Nico gak dapet perhatian kamu. Kan sekarang dia suami kamu, dan pastinya lebih butuh perhatian." jawab ayah.
Benar juga sih, kata ayah. Tapi, mau gimana lagi? Ayah kan juga lagi butuh perhatianku. Batinku.
"Tenang aja, yah. Nana pasti tetep bakal perhatiin si Nico. Mending sekarang ayah istirahat aja dulu." ucapku.
Ayah hanya mengangguk dan berbaring lagi di kasurnya.
Ting tong.... Ting tong....
Siapa yang datang pagi - pagi gini? Batinku heran.
"Hai, Bri." sapa Steven setelah pintunya terbuka.
Mau apa lagi ia kesini?
"Kenapa kamu kesini?" tanyaku ketus.
Tiba - tiba ia memberiku sebuket bunga. Aku langsung menatapnya bingung.
Apa dia sedang menyogokku?
"Buat kamu." ucap Steven.
"Kamu gak perlu ngelakuin ini. Semuanya sudah berakhir, kamu harus menerimanya." ucapku sambil mengembalikan buket bunga tersebut.
"Aku gak akan nyerah buat kamu. Dan aku yakin, kita akan berakhir bersama nantinya." ucap Steven dengan penuh keyakinan.
"Bermimpilah, Stev." balas ku.
Lalu, pintunya segera kututup.
Lebih baik seperti ini. Ucapku dalam hati.
••••••••••••••••••••••••••
Aku barusan selesai menyuapin ayah makan. Dan sekarang aku sedang bersantai sambil menonton TV.
Acara apa ya yang seru?
Drrrttt... Drrrttt..
Aku pun segera mengangkat telepon dari Nico.
"Halo, Na." sapaku Nico duluan.
__ADS_1
"Halo. Kenapa nih telepon?" tanyaku.
"Gak boleh ya? Ya udah deh, aku matiin." ucap Nico sok imut.
Aku tertawa dalam hati, karena mendengar ucapannya.
"Gaklah, Nic. Masa aku gak suka suami aku telepon gini." ucapku.
"Na, malem ini kita lanjut buat anak yuk." pinta Nico.
"Hah? Gimana caranya sih, Nic? Kan kita lagi beda tempat."
"Nanti kamu bakal tahu deh caranya." ucap Nico yang membuatku penasaran.
"Apaan sih? Beritahu caranya sekarang dong."
"Nanti aja. Ya udah, aku mau lanjut beresin kerjaan ya. Bye, istriku."
"Bye. I love you." ucapku.
"Em.. I love you too. balasnya yang terkesan agak aneh.
Ia pun memutuskan teleponnya.
Ngomong - ngomong, apa Steven sudah pergi dari sini? Tidak mungkin juga ia masih menunggu di depan rumah.
Karena aku mengantuk, aku memutuskan untuk tidur siang.
••••••••••••••••••••••••
"Nih, yah. Obatnya." ucapku sambil memberikan obat tablet kepada ayah.
Ayah segera meminumnya dan kembali berbaring di kasur.
"Aku tinggal dulu ya, yah. Selamat malam." ucapku sebelum keluar kamar.
Lalu, aku menuju dapur untuk mencuci piring - piring kotor bekas tadi pagi sampai malam.
Brak...
Aku kaget mendengar suara tersebut.
Bukankah itu berasal dari depan rumah? Apa aku harus mengeceknya?
Buagh..
Ya ampun, suara itu semakin menjadi - jadi. Tapi, itu terdengar seperti suara orang sedang berkelahi.
Akhirnya, setelah mengumpulkan semua nyaliku. Aku pun memberanikan diri untuk keluar.
"Nico." teriakku yang baru saja membuka pintu.
Ia yang tersadar namanya dipanggil segera menghentikan pukulannya.
Aku ketakutan melihat Steven yang sudah babak belur akibat pukulan dari Nico.
"Stev." panggilku pelan.
Aku menghampiri Steven yang sudah kehilangan tenaga untuk berdiri.
"Nic, bukankah kamu sudah kelewatan? Seharusnya kamu tidak memukulnya seperti ini!" bentakku.
"Ia yang sudah membuatku emosi lebih dulu." ucap Nico membela diri.
"Tapi, kamu harusnya menahannya." balas ku.
"Ini salahku. Bukan salah Nico. Aku hanya tidak tahu, jika perkataanku dapat membuatnya emosi." ucap Steven yang berusaha berdiri.
"Kamu pintar sekali berbicara." balas Nico sinis.
Nico segera pergi menuju mobilnya yang berada diluar pagar.
"Nic." panggilku.
Aku langsung menyusulnya. Dan menghentikannya untuk pergi.
"Kamu mau kemana?" tanyaku kepada Nico.
"Aku mau pergi. Kamu urus tuh cowok yang kamu bela tadi." jawabnya ketus.
__ADS_1
"Nic, jangan pergi." ucapku memohon.
"Jika kamu gak mau aku pergi. Kamu usir dia dari sini." ucap Nico sambil menunjuk Steven yang sedang menatap kami berdua.
"Ok, aku bakal usir Steven. Tapi, kamu harus meminta maaf kepadanya dulu." pintaku.
"Aku gak mau minta maaf. Dia yang salah." ucap Nico tak terima.
"Iya, aku yang salah. Jadi, aku minta maaf. Sekarang selesai bukan masalahnya? Aku pergi dulu." pamit Steven.
Ia akan pergi dengan kondisinya yang seperti ini? Tidak, aku harus mencegahnya.
"Jangan." ucap Nico sambil menahan tanganku.
Steven pun pergi dengan mobilnya. Dan aku tidak bisa mencegahnya.
"Kenapa kamu mencegahku?" tanyaku kepada Nico.
"Karena, aku tidak suka kamu menghampirinya. Biarkan dia segera pergi."
"Setidaknya, kita harus mengobati lukanya terlebih dahulu, Nic." ucapku kesal.
Aku masuk kembali ke rumah, meninggalkan Nico yang masih berada diluar.
Jujur saja, aku sangat kepikiran dengan kondisi Steven tadi. Apa dia baik - baik saja?
•••••••••••••••••••••••••••
18 November 2018
"Kemarin ayah dengar suara ribut diluar, apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya ayah.
Aku langsung menatap kearah Nico dan mengisyaratkannya untuk tetap diam.
"Enggak ada apa - apa kok, yah. Mungkin itu perasaan ayah aja." jawabku sambil meletakkan roti bakar kepiring ayah.
"Eh, mungkin kali ya." balas ayah.
"Kemarin kamu dateng jam berapa, Nic?" tanya ayah.
"Sekitar jam 8 lebih." jawabnya.
"Berarti kamu ngambil cuti ya?" tanya ayah lagi.
"Iya, yah." jawab Nico.
Aku hanya mendengarkan percakapan mereka berdua. Karena aku sedang memikirkan hal lain.
Gimana keadaan Steven sekarang? Aku masih khawatir dengannya.
"Na, kamu kok ngelamun." ucap ayah.
"Eh? Enggak kok, yah. Nana cuma lagi mikirin sesuatu."
"Ooo.." balas ayah.
Selesai sarapan, aku segera membereskan rumah. Aku harap pekerjaan ini cepat selesai dan aku bisa pergi menjenguk Steven.
Tiba - tiba, aku merasakan Nico memelukku dari belakang.
"Nic." panggilku.
"Aku mau kamu." ucapnya.
"Maksudmu?" tanyaku tak mengerti.
Ia pun membisikan sebuah kalimat ke telingaku dan aku jadi mengerti maksudnya.
"Nanti malam saja." ucapku.
"Aku maunya sekarang. Kemarin juga kita gak jadi melakukannya."
Aku melepaskan tangannya dari pinggang ku. Dan berbalik menatapnya.
"Malam saja, Nic. Aku sedang ingin fokus membersihkan rumah." ucapku.
Kulihat raut wajahnya menjadi berubah. Apakah ia marah?
Tiba - tiba, ia menghampiriku dan membisikkan sesuatu.
__ADS_1
"Kamu akan menemuinya setelah ini bukan?"
Aku langsung menjauhkan telingaku darinya. Dia tahu?