Choose Destiny

Choose Destiny
Kembali Bersama


__ADS_3

"Na." panggil Nico yang baru bangun.


Aku yang tadinya sudah memikirkan yang macam - macam langsung lega.


"Kamu daritadi aku bangunin, kok gak bangun - bangun sih. Aku takut tahu." ucapku sedih.


Entah kenapa, air mataku turun. Nico yang melihat nya langsung panik. Ia segera memelukku.


"Maaf ya, Na." ucapnya sambil mengelus rambutku.


"Aku gak mau kamu pergi kayak bunda. Aku gak mau." ucapku terisak.


"Aku gak bakal pergi kemana - mana kok. Aku bakal tetep disini buat jaga kamu." ucapnya sambil sesekali menciumi puncak kepalaku.


Sekitar 5 menit, aku kembali tenang. Aku pun mengajak Nico untuk sarapan dibawah.


"Kok lama banget turunnya?" tanya ayah.


"Nico sulit dibangunin ya?" goda om Dean.


"Enggak kok, siapa bilang?" tanya Nico kesal.


"Udah yuk, kita sarapan." ajak ayah.


Aku dan Nico segera duduk di kursi.


"Ngomong - ngomong, tante tadi sudah pulang, yah?" tanyaku kepada ayah.


"Iya." jawab ayah.


"Emang bener kalau dia psikiater ku dulu?" tanyaku lagi.


"Diam dan habiskan sarapan mu." suruh ayah.


Lalu, ayah pergi meninggalkan meja makan. Dan diikuti om Dean dibelakangnya.


Apa ucapanku salah? Perasaan, aku hanya bertanya saja. Batinku kebingungan.


"Memangnya siapa psikiater yang kamu maksud?" tanya Nico.


"Aku gak tahu namanya." ucapku.


Nico hanya menatapku bingung. Lalu, segera melanjutkan makannya.


••••••••••••••••••••••••••


"Na." panggil om Dean.


Aku menoleh kearah om Dean yang sedang duduk di sofa.


"Ada apa, om?" tanyaku.


"Kok kamu masih manggil om sih, aku kan ayah mu juga sekarang." rajuknya.


"Iya, yah. Ada apa?" tanyaku lagi.


"Psikiater tadi namanya Sandra Reth, ia bekerja di xxxx. Kamu bisa menemuinya jika kamu ingin tahu tentang masa lalu mu." ucap om Dean.


Masa laluku? Batinku.


"Kenapa ayah memberitahuku?" tanyaku ke om Dean.


"Karena kamu penasaran bukan? Tapi, sekali kamu membukanya. Kamu tidak akan bisa melupakannya lagi." ucap om Dean.


Aku tidak mengerti maksudnya. Apa itu berhubungan dengan masa kecil yang tak kuingat?


Om Dean beranjak dari duduknya. Lalu, ia menghampiriku.


"Berpikirlah dulu, sebelum bertindak." bisiknya ditelingaku.


Ia berlalu meninggalkanku yang masih berusaha mencerna semua perkataannya.


••••••••••••••••••••••••••••


15 Oktober 2018


"Nih." ucap Nico sambil memberikan tiket bioskop kepadaku.


Inikan tiket film yang mau ku tonton waktu itu. Batinku.


"Kamu mau ngajak aku nonton?" tanyaku.


"Iya."

__ADS_1


"Hanya kita berdua?" tanyaku lagi.


"Iya."


"Ok." balas ku.


"Jangan buat aku kecewa lagi." sambung ku memperingatinya.


Ia hanya mengangguk dan tersenyum. Apa aku memberinya harapan? Mungkin iya. Hanya sekali saja, setelah itu tidak akan ada kesempatan lagi.


••••••••••••••••••••••••


18 Oktober 2018


"Kamu suka filmnya?" tanya Nico.


"Iya." ucapku yang masih terbawa alur cerita filmnya.


"Mau es krim?" tanya Nico.


"Mau."


"Tunggu disitu ya. Aku mau beliin dulu." ucap Nico sambil menunjuk bangku kosong dipinggir taman.


Aku segera duduk dan menunggu Nico. Jujur saja, hari ini ia memperlakukanku begitu istimewa. Apa aku bisa menerimanya kembali? Apa dia tidak akan menyakitiku seperti waktu itu?


"Ini, Na." ucapnya sambil memberikan es krim rasa stoberi kepadaku.


"Makasih." ucapku sambil tersenyum.


"Kamu senang buat hari ini?" tanya Nico.


"Lumayan."


"Kalau begitu, maukah kamu pulang kembali ke rumah kita?" tanyanya.


"Apa kamu akan berusaha menjadi suami yang baik?" tanyaku balik.


"Iya. Aku akan memperbaiki semuanya seperti awal."


"Bisakah aku percaya dengan ucapanmu?" tanyaku.


"Iya, Na. Percayalah."


Tiba - tiba, ia pun langsung memelukku erat.


"Makasih." ucapnya lirih.


Aku tidak yakin, kamu akan berakhir untukku.


•••••••••••••••••••••••


20 Oktober 2018


"Aku pamit dulu ya, yah." ucapku sambil memeluk ayah.


"Hati - hati ya." balasnya.


"Pamit dulu ya, yah." ucap Nico kepada ayahku.


"Hati - hati ya ngendarain mobilnya, Nic." ucap ayah memperingati.


Nico membalasnya dengan anggukan.


"Bye, yah. Kalau udah sampai, pasti ku kabari." ucapku.


"Iya, Na." balasnya.


Lalu, aku segera masuk ke mobil. Dan Nico pun mengendarai mobilnya menjauh dari rumah ayah.


Sekitar 2 jam lebih, kami sampai ke rumah.


"Biar aku bawa barang - barangnya, kamu langsung masuk aja." ucap Nico.


Aku hanya mengangguk saja. Dan segera masuk kedalam rumah.


Entah kenapa, kenangan waktu itu pun terlintas kembali di kepalaku.


"Na, kamu kenapa?" tanya Nico.


Aku langsung tersadar dari lamunanku.


"Eh? Enggak kenapa - kenapa kok." jawabku.

__ADS_1


"Na, emm... kita tidur sekamar lagi ya. Kamu mau?" tanya Nico.


"Mau. Lagian kan kita juga udah jadi suami istri. Masa pisah kamar." jawabku.


"Iya sih."


Aku pun tersenyum kearahnya.


"Sekalian nyicil buat anak gimana?" tanyanya.


"Kamu mau?" tanyaku tak yakin.


"Maulah, kalau anak dari kamu." jawabnya.


Aku salah tingkah mendengar ucapannya itu.


"Jadi, kita jalani program kehamilannya dengan baik ya. Biar cepet punya anaknya." ucapnya.


"Siap." balas ku.


Tapi, kayaknya kita akan sulit untuk mempunyainya. Maaf ya, Nic. Ucapku dalam hati.


••••••••••••••••••••••••


24 Oktober 2018


"Aku berangkat kerja dulu ya." ucap Nico.


"Hati - hati ya, Nic." balas ku.


"Kiss nya?" tanya Nico sambil memajukan bibirnya.


Aku langsung mencium bibirnya. Wajahku pasti sudah sangat merah sekarang.


"Makasih, istriku yang cantik. Aku pergi dulu ya." pamitnya.


Aku melambaikan tanganku. Dan mobil Nico pun mulai menjauh dari rumah.


Ddrrtt.. Ddrrtt...


Nomer siapa ini? Batinku.


"Halo?" sapaku.


Tut.. Tut...


Dimatikan? Apa orang iseng? Atau salah telepon kali ya? Batinku bingung.


Aku tidak ingin terlalu memikirkan telepon tadi. Dan lebih memilih untuk masak makan siang untuk Nico.


Ddrrtt.. Ddrrtt..


Haduh, kenapa ada yang telepon lagi sih? Nomernya beda dari yg terakhir telepon, tapi aku juga gak tahu nomer siapa ini?


"Halo?" sapaku.


"Hai, Bri. Ini aku Michelle." ucap Michelle ditelepon.


Apa ini nomer barunya? Tapi, setelah kuingat - ingat. Bukannya nomer ini yang pernah menghubungiku waktu itu, yang bilang aku pengkhianat?


"Jadi, ini nomer mu?" tanyaku.


"Kamu inget?" tanyanya balik.


"Iya. Kamu yang pernah hubungin aku waktu dulu kan?"


"Benar. Ingatan kamu luar biasa ya, Bri." puji nya.


"Ngapain kamu telepon?" tanyaku malas.


"Aku cuma mau nanya kabar kamu aja. Tapi, kayaknya kamu baik - baik aja deh." ucapnya.


Maunya apa sih nih cewek? Mending aku tutup aja kali teleponnya?


"Jangan pernah hubungin aku lagi. Dan pergi jauh - jauh dari rumah tanggaku, aku gak akan pernah ngelepasin Nico buat kamu." ucapku.


"Kamu masih mau maafin Nico? Setelah yang dia lakuin? Hebat kamu, Bri."


Aku merasa dejavu dengan ucapannya. Ucapan yang pernah kuterima juga dari seseorang.


"Sambungan terakhir untukmu. Good bye." ucapku.


Setelah itu, aku langsung memutuskan sambungan teleponnya. Dan segera memblokir dan menghapusnya.

__ADS_1


Pengkhianat? Aku bahkan gak pernah merasa mengkhianatinya. Hanya karena pria, pertemenan kita hancur.


__ADS_2