Choose Destiny

Choose Destiny
Steven dan Rahasianya


__ADS_3

4 Februari 2003


"Stev, mama kamu besok bakal pulang. Kamu senang gak?" tanya nenek kepadaku.


"Biasa." jawabku singkat.


"Kok gitu sih jawabannya?" tanya nenek itu lagi.


Aku tak menjawab pertanyaan nenek dan segera masuk ke dalam kamar.


Untuk apa aku senang mama pulang? Batinku.


••••••••••••••••••••••••••••


5 Februari 2003


Aku menatap kosong kearah foto mama.


Kamu memang tak seharusnya pulang.


"Stev, apa kamu tidak ingin mengantarkan jenazah mama mu untuk terakhir kalinya?" tanya nenek dengan pakaian warna hitamnya.


Aku menatap jelas nenekku itu. Kenapa nenek sangat sedih dengan kematian mama?


"Gak, aku tidak ingin kemanapun. Aku hanya ingin di rumah." jawabku sambil melepaskan jas hitam yang sedari tadi kugunakan.


"Apa kamu takkan menyesal dengan keputusanmu ini?" tanya nenek sekali lagi.


"Tidak." jawabku ketus.


Aku segera beranjak masuk kedalam kamar. Aku mengeluarkan semua air mata yang sudah kutahan dari tadi.


Aku menutup mulutku agar tak menimbulkan bunyi tangisan.


"Mama jahat, mama jahat, aku benci mama." gumamku disela - sela tangisan.


Aku tak pernah tahu, bahwa mamaku yang jarang mengunjungiku itu akan pergi secepat ini dariku. Ia berkata akan pulang, tapi itu hanyalah bualannya saja.


Aku tak percaya dengan semua ini.


••••••••••••••••••••••••••••


2 September 2011


"Aku suka kakak." ucap gadis itu sambil memberikanku sebuah coklat.


"Maaf, aku tidak menyukaimu." balas ku.


Ia langsung menatapku dengan raut wajah kecewa. Gadis itu segera berlari meninggalkanku.


Ia bukan tipeku. Ya itulah jawabannya.


15 Juli 2012


Awal aku bertemu dengannya. Gadis yang kucintai itu.


Saat itu ia tak sengaja menumpahkan kuah bakso ke seragam ku.


Ceroboh, itulah hal yang pertama kali kuingat darinya.

__ADS_1


Aku yang kesal, langsung pergi meninggalkannya tanpa membalas ucapannya.


Namun, seminggu kemudian ia menghampiriku lagi yang sedang duduk dibangku taman.


Ia meminta maaf kepadaku, disitulah aku mulai tertarik dengannya.


Jujur saja, ia biasa saja. Tak terlalu cantik dan tak terlalu manis. Tidak ada yang menarik darinya. Tapi, aku tak tahu apa yang membuatku ingin sekali mendekatinya.


Aku memberanikan diri untuk menanyakan namanya itu, saat ia sedang di kantin. Ternyata, namanya adalah Brianna Maurell. Nama yang indah menurutku. Namun, ketika aku melihat temannya itu datang. Aku segera meninggalkannya.


•••••••••••••••••••••••••••••


"Apa aku sudah gila? Untuk apa aku tertarik pada gadis itu? Ia hanya gadis biasa, Stev." gumamku sambil mengusap wajahku kasar.


Kurasa aku harus menjauhinya. Tidak boleh ada yang terjadi diantara aku dan dia.


Itulah yang selalu kupikirkan dulu.


Namun, aku tak berhasil menjauhinya. Apalagi setelah kami kembali bertemu di halaman belakang sekolah, aku malah semakin ingin dekatnya. Meski, hanya melihat dari jauh, aku sudah sangat senang.


Akhirnya setelah sekian lama, aku mendapat kesempatan kembali untuk bisa dekat dengannya. Berbagai cara aku lakukan untuk selalu bisa di dekatnya. Bahkan aku sampai membantunya belajar untuk ujian semester.


Ada rasa yang mulai tumbuh dalam hatiku. Aku pun menyatakan perasaanku ini padanya, namun aku tak langsung mengajaknya pacaran karena aku masih ingin mengenalnya pelan - pelan.


Aku mulai mengajaknya berpacaran setelah kejadian Karin yang hampir menampar Brianna.


Aku hanya tak habis pikir, kenapa Karin berani sekali melakukannya. Aku tahu bahwa ia menyukaiku karena ia sudah berulang kali menyatakan perasaannya tersebut. Namun, aku sama sekali tidak memiliki perasaan apapun kepadanya.


•••••••••••••••••••••••••••


5 April 2013


Aku terbangun dan mendapati Brianna yang sudah berada di UKS bersamaku. Ia sangat mengkhawatirkanku. Dan itulah awal dimana aku tak ingin melepaskannya. Aku benar-benar jatuh terlalu dalam untuknya.


Dan karena Brianna yang selalu memaksaku untuk ke dokter, akhirnya aku pun ke dokter sesuai keinginannya.


Namun, kenapa aku harus mendapatkan kabar bahwa ada sel kanker dalam otak ku?


Dokter bilang ini masih gejala awal dan lebih baik segera diobati. Tapi, bodohnya aku saat itu malah tak mendengarkan perkataan dokter tersebut.


••••••••••••••••••••••••••••


Beberapa minggu ini, hubunganku dan Brianna menjadi renggang karena sikapku.


Kami tak sengaja bertemu di perpustakaan saat itu. Brianna sedang mengembalikan buku. Aku berniat menghampirinya, namun kuurungkan karena aku menyadari ia tak sendiri.


Lalu, saat aku sedang merokok di halaman belakang sekolah, aku kembali bertemu dengannya. Aku merasa de javu dengan keadaan ini, awalnya aku ingin diam saja. Tapi, aku malah menanggapi ucapannya. Setelah selesai mengantarnya ke parkiran dan melihatnya sudah pergi dari kampus. Aku segera masuk ke mobilku dan pergi ke rumah sakit.


Tapi, kenapa Brianna menghubungiku di saat yang tidak tepat? Aku buru - buru mematikan sambungan telepon ketika suster memanggil namaku.


•••••••••••••••••••••••••••••••


"Aku menyukai kakak. Kenapa kakak malah berpacaran dengan yang lain?" tanya gadis itu kepadaku.


Aneh sekali gadis ini. Kenapa juga Brianna berteman dengannya?


"Bukan urusanmu, jika aku pacaran dengan orang lain. Dan kamu jangan macam-macam dengan Brianna ku." ancamku.


Aku segera meninggalkannya. Rencana baca buku di perpustakaan pun gagal gara-gara kedatangannya.

__ADS_1


Dan semenjak itu juga, gadis itu selalu aneh saat di dekatku.


•••••••••••••••••••••••••••••


2 Februari 2014


Saat itu aku sedang kelas pagi, tiba-tiba Brianna menelepon ku.


Ia menanyakan tanggal berapa ini?


Aku ingat bahwa hari ini adalah hari anniversary kami. Tapi, aku sudah memiliki rencana sendiri. Jadi, aku memutuskan untuk membuatnya kesal lebih dulu.


Selesai kelas, aku buru-buru ke tempat Brianna.


Aku langsung meneleponnya ketika sudah sampai di depan rumahnya.


Ia dengan tampang masih mengantuk, akhirnya membukakan pagarnya untukku.


Aku segera mengajaknya ketempat yang sudah ku rencanakan.


Tempat ini adalah tempat yang spesial untukku, karena aku biasanya selalu kesini ketika sedang lelah secara mental.


Dan di tempat ini juga, ciuman pertama kami. Aku bahkan tak pernah bisa melupakannya.


••••••••••••••••••••••••


15 Agustus 2014


"Hai, kak. Kita ketemu lagi." sapa gadis yang sangat kukenal itu.


Kenapa sih, dia harus kuliah disini? Aku sudah sangat lelah menghadapinya.


Ia selalu mengikuti ku dan selalu menyapaku di manapun. Aku bingung, apa dia selalu ada kelas di hari yang sama denganku? Apa ini hanya akal-akalan nya saja?


2 Februari 2015


Aku baru keluar dari kelasku dan langsung disambut oleh gadis aneh yang selalu mengejarku itu.


"Apa yang kamu mau? Aku sudah lelah, karena kamu selalu mengikutiku terus." ujarku kesal.


"Aku mau ciuman darimu." ucapnya sambil menatap wajahku.


Ciuman? Dia meminta itu kepadaku.


"Jika aku memberikannya, apa kamu akan berhenti mengejarku lagi?" tanyaku.


"Ya." jawabnya.


Aku segera menggandeng tangannya dan menuju ke lorong sepi.


Disitu aku menciumnya.


"Stev." panggilnya lirih.


"Diamlah."


Aku benar-benar tak mau melakukan ini. Namun, sudahlah aku tak bisa berpikir lagi. Kuharap ia segera menjauhiku.


Jujur saja, aku sadar bahwa ada orang lain yang melihat kami berciuman.

__ADS_1


__ADS_2