Choose Destiny

Choose Destiny
Terungkap (2)


__ADS_3

"Kamu sangat terkejut ya?" ucap Nico sambil tersenyum sinis.


"Temui saja dia, aku gak masalah." sambungnya.


Nico berlalu meninggalkanku.


Kenapa dia bisa tahu yang kupikirkan? Apa sekarang dia sedang marah?


••••••••••••••••••••••


Sekarang aku sudah berada di depan rumah Steven. Dan segera menekan bel rumahnya.


Ting tong.... Ting tong.....


Kenapa lama sekali dibukanya? Apa Steven tidak ada di rumah?


Krek...


"Eh? Brianna." sapa Karin yang baru saja membuka pintunya.


Aduh, ngapain Karin yg buka pintunya sih? Apa dia akan marah - marah kepadaku, karena datang kesini?


"Apa kamu sedang mencari Steven?" tanya Karin.


"Iya." jawabku canggung.


"Ya udah, masuk dulu yuk." ucapnya mempersilakan.


Eh? Kupikir dia akan mengusir ku.


Aku pun masuk dan segera duduk di sofa. Karin segera pergi memanggil Steven.


Setelah beberapa menit, Karin kembali tanpa ada Steven disampingnya.


Apa Steven tidak ingin menemuiku? Batinku sedih.


"Maaf ya, Bri. Steven bilang dia ingin beristirahat. Jadi, dia tidak bisa menemuimu." ucap Karin.


Bukankah, itu hanya alasan saja? Dia jelas - jelas tidak ingin menemuiku.


Sudahlah, lebih baik aku pergi saja dari sini.


"Gitu ya, ya udah deh. Aku pulang dulu. Maaf udah ganggu."


"Eh, jangan pergi dulu. Karena kamu udah jauh - jauh dateng kesini, ada yang ingin aku beritahu padamu."


Aku kan datang jauh - jauh bukan untukmu. Lagipula, apa yang mau diberitahu padaku?


"Apa yang ingin kamu beritahu?" tanyaku to the point.


"Emm... Sebenernya ini tentang Steven."


Steven? Ada apa dengan Steven?


"Steven sakit kanker stadium 3, Bri." ucap Karin.


Aku sangat terkejut mendengarnya.


Apa aku tidak salah dengar? Steven menderita penyakit berbahaya seperti itu?


"Katakan ini hanya omong kosongmu." ucapku dengan agak membentak.


"Jika, ini hanya omong kosong. Untuk apa aku memberitahumu?"


Kenapa dia tidak pernah memberitahuku? Kenapa Steven tidak pernah memberitahuku tentang semua ini? Kenapa? Kenapa?!


"Bri, ada hal lain yang harus kau tahu. Bahwa sebenarnya, Steven tidak pernah berhenti mencintaimu. Setiap jam, setiap menit, bahkan setiap detik ia selalu memikirkanmu. Tidak pernah ada ruang untukku didalam hatinya." ucap Karin sedih.


Jadi, selama ini ia hanya berbohong tentang perasaannya. Dan Karin, hanya pelampiasan?


"Kamu tahu dia tidak memiliki perasaan untukmu, lalu kenapa kamu masih bertahan disampingnya?" tanyaku.

__ADS_1


"Karena dia sudah tidak memiliki siapa - siapa lagi. Neneknya sudah meninggal beberapa bulan yang lalu. Dan kamu juga sudah menikah dengan yang lain. Lantas, siapa yang dapat menemaninya?"


Nenek sudah meninggal? Kenapa semua ini tidak pernah kutahu?


"Bri, kamu masih mencintai Steven?" tanya Karin.


"Kurasa ya."


"Apa kamu ingin kembali kepadanya?" tanya Karin lagi.


"Karin!" bentak Steven yang entah sejak kapan sudah berada di ujung tangga.


"Aku kan sudah menyuruhmu untuk mengusirnya, kenapa kamu malah membiarkannya tetap disini?!"


"Stev, aku hanya mengobrol sebentar dengannya." jawab Karin.


"Cepat suruh dia pergi!" bentak Steven kepada Karin.


Karin mau tidak mau menuruti ucapannya. Aku pun keluar dari rumah Steven dengan pikiran yang entah kemana.


"Maaf ya, Bri. Sepertinya Steven sedang emosional." ucap Karin.


"Gak masalah kok. Aku dari awal sudah tahu, kalau dia tidak ingin bertemu denganku. Dan untuk pertanyaanmu tadi, sepertinya aku tidak bisa kembali kepadanya." ucapku sebelum beranjak pergi dari sana.


••••••••••••••••••••••••


"Bagaimana pertemuanmu dengannya? Berjalan lancar?" tanya Nico sambil menaruh piring bekas makannya ke wastafel.


"Sangat lancar, seperti yang kamu inginkan." jawabku sinis.


Aku pun buru - buru menyelesaikan semua cucian piring yang menumpuk di wastafel.


Aku ingin segera tidur dan melupakan kejadian tadi siang. Batinku.


"Na, apa kamu masih benar - benar mencintai Steven?" tanya Nico yang masih berada disampingku.


"Entahlah. Aku juga tidak mengerti." jawabku.


"Malam ini aku akan tidur dikamar lain. Selamat malam." ucap Nico.


Maaf.


••••••••••••••••••••


20 November 2018


"Kamu mau kemana, Na?" tanya ayah kepadaku.


"Eh? Emm.. Aku mau pergi keluar sebentar." jawabku.


"Kenapa tidak minta Nico untuk mengantar?" tanya ayah sambil menatap Nico yang sedang duduk di kursi sebelahnya.


"Aku bisa pergi sendiri kok. Lagian cuma bentar doang." ucapku.


Nico menatapku dengan penuh curiga. Apa dia berpikir aku akan pergi menemui Steven?


"Sudah ya, yah. Aku pergi dulu." pamit ku.


Aku buru - buru keluar dari rumah. Dan segera mengendarai mobil yang sudah kusiapkan diluar.


Sekitar 35 menit, aku sampai ketempat yang kutuju. Aku segera masuk ke dalam.


"Selamat pagi, Bri. Aku tidak menyangka kamu yang akan membuat janji konsul denganku." ucap tante Sandra.


Aku segera duduk di kursi yang sudah tersedia didepannya.


"Apa yang ingin kamu tanyakan kepadaku?" tanyanya.


"Kamu tahu alasanku datang kesini?" tanyaku balik.


"Sepertinya iya." jawabnya.

__ADS_1


"Aku ingin tahu masa laluku." ucapku memperjelas tujuanku.


"Kamu dulu mencoba untuk melupakannya, dan sekarang kamu malah ingin mengingatnya kembali. Apa kamu yakin dengan pilihanmu ini?"


"Tentu saja." jawabku mantap.


"Baiklah. Ingat, Bri. Ini pilihanmu, jangan menyesal mengingatnya kembali." ucap tante Sandra.


Dan, akhirnya aku menyesal mengingatnya.


•••••••••••••••••••••••••••••


15 Desember 2018


Kring.. Kring...


Bunyi alarm jam weker, membuatku terbangun dari mimpi indahku. Kulihat ternyata sudah pukul 6 pagi.


Kenapa aku bangun sesiang ini sih? Batinku.


Aku segera melangkahkan kakiku menuju kamar mandi. Aku menggosok gigiku lebih dulu, agar nafasku kembali segar. Setelah selesai dengan urusan di kamar mandi, aku pergi menuju dapur. Untuk menyiapkan sarapan.


"Eh? Kamu sudah membuat sarapan sendiri?" tanyaku kepada Nico yang sedang duduk di kursi meja makan sambil mengunyah roti.


"Kamu bangun kesiangan. Jadi, aku memutuskan membuat sarapan sendiri." jawabnya tanpa melihat kearahku.


"Apa sprei di kamarmu perlu diganti?" tanyaku.


"Gak usah. Jika, perlu aku bisa menggantinya sendiri." jawabnya ketus.


Pagi - pagi, suasana hatiku sudah buruk saja. Udahlah, mending aku segera membuat sarapan untukku.


Drrtt.. Drrtt..


"Halo, rin." sapaku kepada Karin ditelepon.


"Hai, Bri. Aku punya kabar baik buat kamu."


"Apaan?"


"Steven udah nerima aku. Dan dia bakal nikahin aku." ucap Karin gembira.


Apa akhirnya dia membuka hatinya? Batinku bertanya - tanya.


"Selamat ya, rin." ucapku.


"Tapi, apa menurutmu dia benar - benar menerimaku? Aku masih ragu - ragu dengannya."


"Jika, dia memang sudah berani untuk berkomitmen lebih denganmu. Kurasa ia sudah serius."


"Semoga ucapanmu benar."


"Jangan khawatir, rin." ucapku menenangkan.


Setelah mengobrol sebentar di telepon. Aku segera melanjutkan pekerjaanku, yaitu membuat sarapan.


"Apa kamu ingin sarapan lagi?" tawar ku kepada Nico.


"Gak." jawabnya singkat.


"Ya udah." balas ku.


Lalu, aku segera menyelesaikan masakanku.


"Selamat makan." ucapku kepada diriku sendiri.


Aku pun melahap sarapan yang sudah kubuat itu.


Tes..


Air mataku turun. Aku segera menghapusnya dengan telapak tangan ku.

__ADS_1


Kenapa disaat seperti ini kamu harus ingat sih, Bri?


Aku langsung berlari menuju kamar mandi dan menangis.


__ADS_2