
Kami sedang makan malam bersama sekarang.
"Makanlah yang banyak." ucap nenek sambil menaruh banyak makanan di piring ku.
"Terimakasih, nek." balas ku.
Aku segera memakan makananku.
"Enak?" tanya nenek.
"Enak kok, nek." jawabku.
Tiba - tiba dia langsung menambahkan makanan lagi di piring ku yang bisa dibilang masih penuh.
"Nek, Brianna gak makan sebanyak itu." ucap Steven.
"Benarkah? Dia terlihat sangat kurus, jadi nenek ingin memberinya banyak makanan." balas nenek.
Aku hanya bisa diam mendengar ucapan nenek Steven.
Selesai makan malam, Steven mengajakku ikut dengannya.
"Mau kemana sih?" tanyaku.
"Udah ikut aja." jawabnya.
Kami sampai di sebuah pohon besar yang di atasnya terdapat rumah pohon. Ia menyuruhku menaiki tangganya. Aku langsung naik dengan hati - hati. Setelah sampai di rumah pohon, kulihat Steven masih baru menaiki tangganya.
Sambil menunggu Steven, aku melihat pemandangan yang disajikan di rumah pohon tersebut. Benar - benar indah.
"Kamu suka pemandangannya?" tanyanya.
"Eh, emm.. iya." jawabku.
"Aku membangun rumah pohon ini sendiri waktu kecil." ucapnya.
"Benarkah?" tanyaku tidak yakin.
"Iya." jawabnya.
Anak kecil bisa membuat rumah pohon seperti ini benar - benar luar biasa.
Tiba - tiba kurasakan kepala Steven berada di bahuku.
"Seberapa suka kamu padaku?" tanya nya.
"Emm... seluas dunia ini." jawabku.
"Cuma segitu?" tanyanya.
"Gak tahu, yang penting besar banget perasaan aku ke kamu."
Dia pun tersenyum menatap ke arahku.
"Jangan ada yang lain selain aku di hati kamu." ucapnya
Aku tidak terlalu mengerti maksudnya. Lalu, ia mencium bibirku. Kami pun berciuman cukup panas dibanding sebelumnya.
"Pulang yuk." ucapnya setelah ciuman itu.
Akhirnya kami segera kembali ke rumah nenek Steven.
"Met malem. Mimpi yang indah ya." ucapnya lalu mencium dahiku dan masuk ke kamarnya.
Aku yang masih terbayang ciuman tadi, langsung segera masuk ke kamar.
••••••••••••••••••••••••
Pagi ini, nenek Steven mengajakku ke kebunnya.
"Emm... kebun nenek sangat luas ya." ucapku.
"Gak juga kok."
Lalu, nenek menyuruhku membantunya.
Sekitar 4 jam lebih, akhirnya aku bisa beristirahat. Dari tadi nenek Steven menyuruh - nyuruh ku melakukan ini dan itu.
"Nih." ucap Steven sambil memberiku air putih.
"Baru selesai belanjanya?" tanyaku.
"Iya."
Ia pergi menghampiri neneknya yang masih di kebun. Ternyata ia sedang menggantikan neneknya. Nenek pun akhirnya istirahat di sampingku.
"Apa kamu benar - benar mencintai cucuku?" tanya nenek kepadaku.
"Tentu, nek."
"Kalau begitu, jangan pernah meninggalkan nya."
__ADS_1
Aku hanya menganggukan kepala saja.
Lalu Steven datang. Neneknya langsung berdiri dan mengambil handuk yang ada di meja. Ia mengelap keringat Steven.
"Nek, aku bisa mengelap nya sendiri." ucap Steven sambil menahan tangan neneknya.
Nenek akhirnya memberikan handuk itu kepadanya.
"Nenek akan membuat minuman dulu untuk kalian."
Ia segera masuk ke rumah nya.
Lalu Steven memberikan handuk itu ke tanganku. Aku langsung menatapnya dengan ekspresi bingung.
"Lanjutin yang nenek lakuin tadi."
Aku yang akhirnya mengerti maksudnya. Segera mengelap keringatnya.
"Makasih." ucapnya.
Aku hanya tersenyum. Lalu, nenek datang sambil membawa minuman untuk kami.
••••••••••••••••••••••
ddrrrtt.. drrtt...
"Halo, yah." sapaku.
"Gimana liburannya?" tanyanya.
"Seru, yah. Ayah masih di kantor?"
"Enggak, ayah lagi bareng Nico di restoran."
"Emm.. Nico pulang?"
"Iya, barusan hari ini. Sudah ya, Na. Ayah mau lanjut ngobrol sama Nico."
"Iya, yah."
Ayah langsung memutuskan sambungan telepon nya.
Dan aku kembali menatap langit malam di jendala kamar.
Tiba - tiba aku mendengar suara keributan di lantai bawah. Aku segera keluar dari kamar.
Ketika aku sampai di lantai bawah, tiba - tiba Steven langsung berlalu menaiki tangga. Aku hanya menatapnya dengan bingung, lalu menengok kearah nenek Steven yang sedang duduk di sofa sambil memegangi kepalanya.
"Emm... apa ada sesuatu yang terjadi?" tanyaku kepada nenek.
"Tidak ada."
Aku hanya bisa diam, lalu segera kembali ke kamarku diatas.
••••••••••••••••••••••••
1 Januari 2017
Hari ini aku sudah kembali pulang ke rumah. Aku yang lelah segera masuk ke kamar tanpa menyapa ayah yang sedang duduk di sofa.
"Na." panggil ayah.
Ayah memanggilku tepat saat aku hampir memasuki kamar.
"Iya?"
"Kesini sebentar, ayah mau bicara."
"Aku mau istirahat, yah. Aku capek."
Aku tidak menghampiri nya dan malah langsung masuk kamar.
Biarkan saja ia marah, aku tidak peduli.
•••••••••••••••••••••
15 April 2017
"Yah, Nana berangkat kuliah dulu ya."
"Iya. Hati - hati."
Sejak kejadian waktu itu, ayah menjadi bersikap cuek padaku. Entahlah, mungkin dia kesal karena waktu itu aku tidak menghampiri nya. Memangnya dia mau membicarakan apa ya waktu itu?
"Bri." panggil Meira.
"Tumben udah dateng."
"Gapapa lagi pingin dateng lebih cepet dari biasanya."
Aku hanya mengangguk paham dengan maksudnya.
__ADS_1
"Nanti mau ngerjain tugas bareng di rumahku gak?" tanyaku pada Meira
"Emm... kayaknya gak bisa deh. Aku harus buru - buru pulang nanti."
"Oh, ya udah deh."
Sudah biasa aku mendengar alasannya ini. Apa orang tua nya melarangnya sampai seperti ini?
••••••••••••••••••••••••
20 Mei 2017
Hari ini aku menghadiri wisuda Steven.
"Happy graduation, Steven!" ucapku, lalu aku memeluknya.
"Makasih ya, udah dateng." bisiknya.
Karena acaranya sudah selesai, jadi kami bisa pulang sekarang.
"Emm... kamu gak mau foto - foto dulu sama temen - temen kamu yang lain?" tanyaku.
"Enggak. Kita langsung pulang yuk."
Apa dia tidak memiliki teman? Sudahlah, itu tidak mungkin.
Ia menggandeng tanganku. Dan pergi menuju mobilnya.
"Kamu bakal ngelamar kerja dimana?" tanyaku.
"Enggak tahu. Belum kepikiran."
Dejavu, itulah yang kurasakan sekarang.
"Mau ngerayain anniversary ke 4 kita gak?" tanyanya.
"Boleh tuh. Kita makan malem aja yuk."
Kami memang belum merayakannya, karena kami sedang sibuk saat itu.
Akhirnya, kami makan malam bersama di restoran.
"Kamu bakal langsung pulang?" tanyanya.
"Pinginnya sih gitu, tapi kayaknya udah kemaleman."
"Ya udah nginep aja."
"Gapapa nih?"
"Gapapa lah. Masih banyak kamar kosong kok di rumahku."
Aku menganggukan kepala saja.
Selesai makan malam, kami segera pulang.
Aku pun pergi masuk ke kamar yang sudah disiapkan Steven.
Tetapi, malam itu adalah sebuah kesalahan bagiku.
••••••••••••••••••
20 Juni 2017
Aku sekarang sedang makan malam bersama ayah.
"Na." panggil ayah.
"Iya, yah."
"Emm.. ayah mau kamu putusin pacar kamu."
"Maksud ayah?"
"Akhiri hubungan kamu sama Steven. Ayah beri kamu waktu 1 minggu."
Ayah langsung pergi meninggalkan ku.
Aku bingung, kenapa ayah menyuruhku untuk putus dengan Steven? Dan bagaimana bisa aku memutuskan Steven setelah yang sudah terjadi malam itu?
••••••••••••••••••••
"Halo?" tanya Meira ditelepon.
"Mei, bisa ke rumahku sekarang gak?" ucapku dengan menahan tangisanku
"Kumohon." ucap ku lagi.
"Tunggu ya, Bri."
Ia memutuskan telepon nya. Dan aku langsung mengeluarkan air mataku.
__ADS_1