
2 Januari 2019
Sudah memasuki bulan Januari sekarang. Waktu benar - benar cepat berlalu ya.
"Nic." panggilku kepada Nico yang sedang fokus menatap laptopnya.
"Apa?"
"Ada sesuatu yang mau aku omongin." ucapku.
Ia segera menoleh kearahku.
"Apa?" tanyanya lagi.
"Sebenernya ada masalah serius pada rahim ku yang menyebabkan aku akan sulit memiliki anak." ucapku.
Nico terlihat biasa saja mendengarnya.
Apa ia sudah tahu?
"Aku sudah tahu." jawabnya yang seolah - olah mampu membaca pikiranku.
"Bagaimana bisa?"
"Aku tidak sengaja menemukan kertas hasil kesehatanmu itu."
"Kamu gak marah padaku?"
"Tentu saja, tidak. Lagipula, anak itu hadir sebagai rejeki dalam rumah tangga. Jika kita belum dikaruniai, mungkin memang belum rejeki kita. Aku malah lebih tidak suka, jika kamu berbohong kepadaku tentang waktu itu." ucap Nico.
Aku jadi teringat kejadian setelah aku pulang dari tempat tante Sandra. Ayah dan Nico ternyata mengikuti dari belakang. Dan setelahnya ayah memarahiku habis - habisan.
"Maaf, Nic."
"Apa kamu senang dengan ingatan itu?"
"Tidak. Tapi, aku juga menjadi ingat tentang kenangan kita semasa kecil."
"Dan kenangan Steven juga. Apa karena rasa bersalahmu, kamu mau kembali kepadanya?"
"Tentu tidak, Nic."
"Seharusnya kamu berpikir dulu. Karena sekarang ingatan tentang ibu Steven akan selalu menghantuimu."
Nico menutup laptopnya dengan berjalan pergi menuju kamarnya.
Lagi - lagi, ini salahku. Perasaan aku hanya ingin mengetahui masa laluku.
••••••••••••••••••••••••
Drrrrt.. Drrttt..
"Halo, Mei. Tumben telepon?" tanyaku.
Karena sudah lama Meira tidak menghubungiku.
"Aku ada kabar gembira nih." ucapnya.
"Apa?" tanyaku penasaran.
"Aku bakal nikah, Bri." ucap Meira gembira.
"Beneran?" tanyaku memastikan.
"Iya, Bri. Aku seneng banget."
"Selamat ya, Mei. Jangan lupa undang aku." ucapku.
"Maaf, Bri. Kayaknya gak bisa deh, karena pernikahannya dilangsungin secara pribadi dan gak meriah. Bahkan aku gak ngundang orang tuaku."
"Kamu beneran gak bakal ngundang orang tua kamu?"
"Iya." jawabnya ragu.
"Usahain buat undang mereka, Mei. Aku juga gak masalah kok kalau gak diundang. Yang penting pernikahan kamu berjalan lancar ya, Mei."
"Amin. Makasih ya, Bri."
Setelah berbincang sebentar, kami pun memutuskan sambungan teleponnya.
Semuanya sudah bahagia dengan jalannya masing - masing, tetapi kenapa aku masih belum bisa sebahagia mereka?
Drrrrt.. Drrtt...
Apa Meira telepon lagi? Batinku bingung.
Ketika kulihat, ternyata ini adalah nomernya Karin.
__ADS_1
"Halo." sapaku lebih dulu.
"Bri." panggil Karin dengan suara terisak.
"Rin, kamu kenapa?" tanyaku khawatir.
"Dia jahat padaku." ucapnya lagi dengan suara yang masih terisak.
"Siapa? Siapa yang jahat padamu?" tanyaku yang semakin tak mengerti maksudnya.
"Steven. Dia pergi meninggalkanku."
"Maksudmu?"
"Dia pergi entah kemana, Bri. Dan ia juga membatalkan semua rencana pernikahan yang sudah disiapkan." jawabnya yang masih sangat terisak.
"Bagaimana bisa? Lalu, kamu tidak tahu dimana keberadaannya?"
"Tidak. Ia pergi tanpa membawa apa - apa. Ia benar - benar jahat."
Aku merasa kasian dengan Karin. Tentu saja, hatinya sangat sakit sekarang.
Kemana sih kamu, Stev?
••••••••••••••••••••••••••
5 Januari 2019
"Na." panggil Nico.
Aku menoleh kearahnya dengan bingung.
"Ada apa?" tanyaku.
"Aku ada kerjaan diluar kota selama 2 bulan. Jadi, apa kamu baik - baik saja jika kutinggal?" tanyanya.
Apa?! Dia akan pergi selama 2 bulan.
"Kenapa kamu tidak mengajakku juga? Apa kamu benar - benar mau meninggalkan istrimu dirumah sebesar ini sendiri?" tanyaku kesal.
"Aku tidak mungkin mengajakmu, Na. Tolonglah mengerti."
"2 bulan kamu akan pergi. Lalu, siapa yang akan menemaniku disini?"
"Kamu bisa pulang ke rumah ayah."
Apa dia sedang bergurau? Diakan tahu jika hubunganku dengan ayah sedang buruk.
Aku berlalu pergi ke kamarku.
Tes.. Tes..
Kenapa sih air mata ini terus mengalir? Sebenarnya apa yang membuat semua ini menjadi sulit dijalani?
•••••••••••••••••••••••••••
20 Januari 2019
Aku sedang duduk menengok kearah jendela dengan tatapan kosong.
Jres...
Diluar sedang hujan lebat sekarang.
Kapan hujan ini reda? Bagaimana kabar Nico ya? Apa pekerjaannya berjalan lancar?
Drrtt... Drrttt...
Nomer HP siapa ini?
"Halo?"
"Hai, Bri. Ini aku Steven." ucapnya ditelepon.
"Steven?"
Mulutku tidak mampu berkata apa - apa lagi, selain menyebut namanya tadi.
"Bri." panggil Steven.
"Eh? Ya?"
"Aku ada didepan rumahmu sekarang, bisakah kamu membukakan pintunya untukku?"
"Tunggu sebentar. Aku akan segera membukanya."
Aku beranjak dari tempat duduk ku. Dan membukakan pintu.
__ADS_1
"Stev." panggil ku sambil mencari keberadaannya.
Apa dia berbohong? Sudahlah, untuk apa aku berharap padanya.
"Bri." panggil Steven yang berada di luar pagar.
Aku buru - buru membuka pagarnya.
"Stev." panggilku lirih.
Mata kami saling bertemu dan rasa yang pernah ada dulu, mulai kembali lagi ditengah derasnya hujan.
"Aku kangen." ucap Steven.
Ia langsung memelukku. Pelukan yang selama ini kurindukan, bisa ku rasakan kembali hari ini.
Ingin rasanya waktu bisa berhenti.
Ingin rasanya mengingat momen ini seumur hidupku.
Ia melepas pelukannya dan menatapku lekat. Memegang dagu ku, lalu mengecup bibirku yang sudah basah karena air hujan.
Hari itu mungkin adalah hari yang takkan kulupakan. Dimana ia kembali menemuiku, dan memberikan rasa yang selalu kuinginkan kembali.
Akankan aku memilih kembali bersamamu? Akankah kamu juga ingin semuanya kembali seperti awal mula kita saling mengenal?
Stev, berilah aku jawaban untuk semua pertanyaanku.
••••••••••••••••••••••••••••
"Nih, coklat panasnya." ucapku sambil memberikan cangkirnya.
"Makasih." balas Steven.
Ia meminum coklat panas itu pelan - pelan.
"Apa tidak masalah aku meminjam pakaian Nico?" tanya Steven.
"Gapapa."
Keadaan menjadi canggung kembali.
"Kenapa kamu membatalkan pernikahanmu dengan Karin?" tanyaku.
"Aku pergi untuk menetralkan pikiranku. Dan aku membatalkan pernikahannya karena aku sadar, jika itu bukanlah pernikahan yang kuinginkan."
"Maksudmu?"
"Bukan Karin yang kuinginkan sebagai istriku." jawabnya sambil menatapku.
"Lalu? Siapa yang kamu inginkan?"
"Kamu. Kamulah yang kuinginkan."
"Kita tidak mungkin bersatu, Stev. Jalan kita sudah berbeda."
Ia hanya menatapku dengan tatapan yang tak dapat ku artikan.
"Apa sudah ada cinta diantara kamu dengan Nico?" tanyanya.
"Mungkin."
Ia kembali diam dan meminum coklat panasnya.
"Kenapa tidak pernah memberitahuku bahwa kamu sakit kanker?" tanyaku.
"Karin memberitahumu ya?"
"Ya. Dan aku butuh kejelasan darimu."
"Aku tidak tahu bagaimana aku mendapat penyakit ini, tapi yang jelas aku baru mengetahuinya saat SMA."
"Lalu? Kenapa kamu tidak melakukan pengobatan?"
"Jika, aku melakukan pengobatan. Akankah aku bisa sembuh total?"
"Tapi, kita bisa memperlambatnya."
"Dokter bilang umurku sudah tidak panjang lagi. Dan ia menyuruhku untuk menghabiskan waktu bersama orang yang kusayangi sebelum pergi."
"Apa tidak ada harapan untukmu sembuh?" tanyaku sedih.
"Tidak ada. Dokter sudah bilang kemungkinannya kecil."
Steven ku akan segera pergi dari dunia ini? Apa artinya aku takkan pernah bisa melihatnya kembali?
"Bri, aku ingin sekali jika kamu yang menemaniku di akhir hidupku." ucap Steven sambil memegang kedua tanganku.
__ADS_1
"Stev." ucapku lirih.
Aku tidak tahu harus menjawab apa? Dan ingatan masa laluku kembali muncul sekarang.