Choose Destiny

Choose Destiny
Akankah kita kembali?


__ADS_3

17 tahun kemudian....


7 Januari 2036


Krek...


Suara pintu rumah yang kubuka.


Akhirnya setelah sekian lama, aku kembali ke rumah ayah.


Rumahnya sangat berdebu. Lebih baik aku segera membersihkannya. Batinku.


3 jam lebih, akhirnya rumah sudah bersih seperti dulu. Aku segera merebahkan diriku ke sofa.


Ayah dan bunda, bagaimana keadaan kalian? Apa disana ayah juga bertemu Steven kembali? Jika iya, sampaikan salamku kepadanya.


Drrtt.. Drrtt...


Aduh, siapa sih yang telepon. Batinku kesal.


Aku langsung mengecek HP ku.


Kenapa dokter ini menghubungiku lagi sih? Aku kan sudah bilang tidak mau melanjutkan pengobatannya.


Ku matikan saja deh.


"Disisa waktu ini, habiskan waktumu bersama orang yang kamu cintai."


Ucapan itu masih terngiang jelas dipikiranku.


Siapa yang mau menemani wanita tua penyakitan sepertiku? Sekalipun ia mencintaiku, pasti dia tidak akan mau juga melakukannya.


Aku hanya akan menjadi beban saja baginya.


••••••••••••••••••••••••••••


8 Januari 2036


Sekarang aku sedang menuju ke supermarket dekat rumahku.


Eh? Tunggu deh, kenapa supermarket nya jadi toko roti? Apa supermarket nya sudah tutup dan digantikan toko roti?


Sudahlah, aku cari supermarket lain aja. Aku pun menyalakan mesin mobilku. Namun, aku tidak jadi pergi karena melihat sosok yang sangat kukenal barusan keluar dari toko tersebut.


Benarkah itu dia?


Aku buru - buru turun dari mobil dan menghampiri pria tersebut.


"Nico." panggil ku yang sudah ada dibelakangnya.


Ia menoleh kearahku.


Degup jantung berdentak kencang.


Pikiranku lantas mengingat masa lalu yang pernah menghantuiku.


"Brianna?"


"Ya."


Aku yang sangat merindukannya langsung memeluknya erat.


Aku sungguh merindukan pria ini. Sangat - sangat merindukannya.


"Bri."


Aku melepaskan pelukannya dan menatapnya lekat. Meski, sudah berumur tetapi ia masih terlihat tampan seperti dulu.


"Emmm.. Gimana kalau kita bicara di dalam?" tawarnya.


Aku mengangguk sambil tersenyum. Perasaanku benar - benar bahagia sekarang.


"Duduklah dulu, aku mau ke toilet sebentar." ujarnya.


"Ya." balas ku.


Setelah beberapa menit, akhirnya ia kembali.


"Apa ini toko rotimu?" tanyaku memulai pembicaraan.


"Ya."


"Aku tidak menyangka kita akan bertemu kembali." ucapku senang.


Ia hanya tersenyum tipis mendengar perkataanku.


"Ngomong - ngomong, bagaimana kabarmu sekarang?" tanyaku lagi.


"Seperti yang kamu lihat sekarang."

__ADS_1


Apa dia tidak senang dengan kehadiranku? Aku benar - benar tidak tahu diri ya.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Nico.


"Baik."


Bohong, keadaanku sedang tidak baik. 


"Lalu, bagaimana kabar om dan Steven?"


"Steven dan ayah sudah pergi jauh meninggalkanku. Yang kutahu, mereka pasti baik - baik saja sekarang dan nantinya."


"Mereka sudah pergi?"


"Ya."


Tiba - tiba, suasana menjadi hening.


"Emm.. Bagaimana kabar om Dean?" tanyaku.


"Ayah udah pergi juga. Ia pergi beberapa bulan yang lalu."


Aku kaget mendengarnya. Pasti, ayah sudah bertemu kembali dengan om diatas sana.


"Apa kamu sudah menikah lagi?" tanyaku.


"Tidak. Setelah bercerai denganmu, aku memutuskan untuk tidak menikah lagi."


Apa ada celah untukku masuk kembali? Jika, iya aku akan memanfaatkannya dengan baik.


"Nic, apa kamu masih ada rasa untukku?"


"Ya. Karena itulah aku tidak bisa membuka hati untuk yang lain."


Haruskah aku, memintanya untuk kembali? Ada kesempatan didepan mataku. Dan aku jelas tidak akan membuangnya dengan percuma.


"Maukah kamu kembali untukku?" tanyaku dengan tatapan memohon.


"Aku tidak bisa. Maafkan aku."


Aku hanya tersenyum kecut dengan jawabannya. Pupus sudah harapanku. Ia sudah menolakku sekarang.


"Aku harus segera pulang sekarang." ucapku.


"Kamu masih tinggal di rumah ayahmu?"


"Ya."


"Nic, aku mencintaimu. Meski kamu selalu ragu denganku."


Aku segera berlari keluar dan masuk ke mobil.


Apa aku sudah gila sekarang? Berharap dia terbujuk dengan ucapanku itu? Miris sekali pikiranku.


•••••••••••••••••••••••••••


10 Januari 2036


Aduh, lelahnya setelah olahraga. Istirahat dulu sambil nonton TV, enak kayaknya.


Aku segera duduk di sofa dan menyetel TV.


Ting tong.. Ting tong...


Duh, siapa sih yang dateng?


Aku membuka pintunya dengan malas.


"Eh? Nico?"


"Hai, Bri. Ini untukmu." ucap Nico sambil memberikan buket bunga yang ia bawa kepadaku.


Aku menatapnya dengan aneh. Apa maksudnya?


"Bolehkah aku masuk terlebih dahulu?" pintanya.


Aku pun mempersilakan nya.


"Mau minum?" tawarku.


"Enggak usah. Aku gak haus."


Aku lalu duduk di sofa sebelahnya. Suasana kembali menjadi canggung.


"Emm... Apa maksud kedatanganmu kesini?" tanyaku to the point.


"Apa tawaran untukku kembali masih berlaku?"


Deg...

__ADS_1


Kenapa ia menanyakan itu?


"Tentu." jawabku.


"Jika, begitu ayo kita kembali. Meski, aku masih ragu. Tapi, aku akan berusaha."


Tanpa kusadari ada sebuah jawaban yang sudah lama kuinginkan, akhirnya keluar dari mulutnya.


"Ya, Nic. Aku juga akan berusaha untukmu."


"Tapi, kita menjalaninya tanpa ada ikatan pernikahan."


"Tidak masalah, asalkan kita bisa bersama."


Karena dari awal, kembali bersamamu sudahlah anugerah untukku. Aku tidak berharap yang lebih darimu.


•••••••••••••••••••••••••••


2 Februari 2036


"Nih, buahnya." ucap Nico sambil memberikan buah yang sudah ia kupas kulitnya.


"Makasih." balas ku sambil tersenyum lebar.


"Kamu gak ke toko roti?" tanyaku sambil mengunyah apel.


"Enggak, aku nyuruh pegawai aja buat jaga dengan baik."


"Ooo.."


Aku lanjut memakan buah - buahan nya.


"Ngomong - ngomong ya, obat apa sih yang ada di laci kamar kamu?" tanya Nico penasaran.


Deg..


Gawat, aku lupa ngunci lacinya kemarin.


"Eh? Emm.. Itu obat sakit kepala."


"Kamu sakit kepala?"


"Iya, kadang aja sih." jawabku bohong.


Maaf, Nic. Aku belum siap nyeritain yang sebenarnya.


"Jangan konsumsi obat mulu, Na. Gak baik."


"Iya. Itu cuma kadang aja kok."


Apa Nico gak baca keterangan obatnya? Masa sih, dia sekarang juga sedang berbohong kepadaku?


••••••••••••••••••••••••


1 Agustus 2036


"Na, berapa hari yang tersisa untukmu?"


Aku yang tadi sedang asik melahap makananku, langsung tersedak mendengar pertanyaannya.


Uhuk...


"Ya ampun, pelan - pelan makannya." ucap Nico sambil menepuk punggungku.


"Maksud kamu apa tadi? Hari apa?" tanyaku tak mengerti.


"Aku tahu penyakitmu. Dan itu sudah kronis bukan?"


Benar dugaanku, kamu membacanya waktu itu.


"Ya. Maaf aku menyembunyikan nya selama ini." ucapku bersalah.


"Aku tahu, kamu takut aku tidak bisa menerimanya bukan?"


"Ya, aku takut. Aku sudah berusaha untuk sembuh, tapi dokter bilang itu sangat kecil kemungkinannya."


"Lalu, tinggal berapa hari yang tersisa?"


"Aku tidak tahu, dokter bilang sekitar 1 - 2 tahun lagi. Tapi, aku tidak percaya. Steven saja yang diperkirakan sisa waktunya 2 - 3 tahun saja, malah pergi dalam waktu beberapa bulan saja."


"Seharusnya kita tidak bertemu lagi. Kamu selalu membawa kesedihan untukku."


Hatiku sangat pedih mendengarnya. Bukan ini yang ku mau. Aku tidak pernah ingin membuatnya sedih.


Tapi, aku bisa apa?


"Nic, aku minta maaf. Kumohon jangan tinggalkan aku lagi, hanya kamu yang kupunya sekarang."


Aku tak tahu, apa yang akan ia pilih? Meninggalkanku lagi? Atau bertahan?

__ADS_1


__ADS_2