Choose Destiny

Choose Destiny
Masa Lalu


__ADS_3

4 Februari 2003


Seorang gadis kecil sedang menatap kearah luar jendela dengan tatapan kosong.


"Apa dia akan kesini?" gumam gadis tersebut.


Tok.. Tok...


Gadis itu segera berlari untuk membuka pintu kamarnya.


"Bunda." panggil gadis itu kepada wanita yang sudah berdiri dihadapannya.


Wanita yang dipanggil bunda tersebut, membalas ucapan gadis itu dengan senyuman manis.


"Nana inget gak, besok hari ulang tahun siapa?" tanya bunda sambil merendahkan tubuhnya agar setara dengan gadis tersebut.


"Ayah." jawab gadis itu dengan gembira.


"Kamu masih inget yang udah kita rencanain beberapa hari yang lalu?" tanya bunda itu kembali.


"Masih." jawab gadis itu bersemangat.


"Pinter. Besok kamu jangan lupa bantuin bunda ya! Dan jangan bongkar rencana kita ke ayah kamu. Ngerti!" ucap bunda memperingatkan.


Gadis itu menjawabnya dengan anggukan.


"Bun, apa Nico akan main kesini lagi?" tanya gadis kecil itu.


"Mungkin. Kenapa? Apa Nana sudah kangen sama Nico?" goda bunda.


"Iya, bun." jawabnya malu - malu.


Bunda itu tersenyum mendengar jawaban putrinya tersebut. Ia lalu mengacak - acak rambut putrinya.


Lucu sekali sih ekspresinya tadi. Batin bunda tersebut.


••••••••••••••••••••••••••


5 Februari 2003


"Bun, kapan kita akan ke kantor ayah?" tanya gadis kecil itu.


"Bentar, ya. Bunda, masih belum selesai bikin kue tart nya." jawab bunda.


Gadis itu memasang wajah cemberut dan kembali ke kamarnya.


Semoga hari ini berjalan dengan baik. Batin gadis itu sambil melipat tangannya.


Di lain tempat, sang bunda sedang sibuk mengurus kue tart nya.


Haduh, kenapa hasilnya jadi aneh begini? Batin bunda itu kesal.


Kring.. Kring..


Telepon rumah berbunyi, bunda langsung segera mengangkatnya.


"Halo?" tanya bunda lebih dulu.


"Halo, sayang. Ini aku." jawab suara itu di telepon.


"Eh? Ayah, ngapain telepon?" tanya bunda.


"Loh? Kenapa? Kamu gak seneng, suami kamu telepon?"


"Enggaklah, aku seneng banget." ujar bunda sambil tersenyum tipis.


"Aku kangen kamu nih."


"Aku juga." balas Bunda malu - malu.


Setelah beberapa menit, Bunda selesai berteleponan dengan ayah.


Ia buru - buru ke dapur, untuk melanjutkan kue tart nya.

__ADS_1


Setelah sejam lebih, kue tart yang dibuatnya selesai. Dengan wajah berseri - seri, ia langsung memasukkan kue tersebut ke kotak dengan hati - hati.


"Na!" panggil bunda.


Gadis itu segera keluar dari kamar.


"Kenapa, bun?" tanya gadis itu kebingungan.


"Kue tart bikinan bunda udah selesai. Sekarang kamu cepet siap - siap ya."


Wajah gadis kecil itu langsung gembira, lalu ia segera kembali ke kamarnya untuk bersiap - siap.


Tak lama, gadis kecil itu keluar dari kamarnya dengan dress berwarna pink muda yang sangat cantik.


"Bun, ayo!" ajak gadis itu.


Bunda hanya membalas dengan senyuman kecil. Entah kenapa, sang bunda merasa agak khawatir dengan rencananya. Ia merasa ada sesuatu yang tak beres nantinya.


Namun, ia menampik perasaannya itu.


Setelah selesai menaruh semua barang dan kue tart kedalam mobil. Bunda pun mengendarai mobilnya.


"Apa ayah akan senang dengan kejutan kita?" tanya gadis kecil itu.


"Tentu saja." jawab bunda sambil menengok kearah putrinya itu.


Brak....


Sang bunda langsung terkejut. Dan langsung mengerem mobilnya.


Deg.. Deg..


Gawat, apa aku barusan menabrak seseorang? Batin bunda panik.


"Bun, apa yang terjadi?" tanya gadis itu.


"Kamu tetep di dalam mobil ya, bunda mau periksa dulu." ujar bunda sebelum keluar dari mobilnya.


Gadis kecil itu akhirnya memutuskan turun dari mobil.


Selesai menutup pintu mobil, ia segera berjalan melangkah kedepan.


Namun, ia mendapati bundanya sedang terdiam di depan mayat seorang perempuan yang sudah berdarah - darah.


"Nana." panggil bundanya lirih.


Terlihat wajah bunda juga sangat shock mendapati mayat tersebut. Air mata mulai mengalir turun membasahi wajah sang bunda.


Gadis kecil itu masih terpaku menatap mayat tersebut.


"Bunda, apa ia meninggal?" tanya gadis itu sambil menunjuk mayat tersebut.


Sang bunda langsung menghampiri putrinya dan memeluknya.


Ia mendekap putrinya tersebut, agar tak melihat kembali mayat tadi.


"Lepaskan, bun." pinta gadis itu.


Namun, sang bunda tetap tak melepaskan pelukannya. Gadis itu mulai meronta - ronta dalam pelukan bundanya.


"Lepaskan aku, bunda pembunuh!" teriak gadis kecil yang raut wajahnya sudah memerah.


"Bunda tidak membunuhnya, Na." balas bunda.


"Ahhhh......... Singkirkan mayat itu!" teriak gadis kecil itu sambil meronta - ronta.


Gadis itu tiba - tiba pingsan. Sang bunda akhirnya menggendong putrinya tersebut untuk masuk ke dalam mobil.


Bunda langsung menghubungi seseorang.


Seharusnya, tak seperti ini jadinya. Ucap bunda dalam hati.


•••••••••••••••••••••••••••••

__ADS_1


10 Februari 2003


"Tolong, pinjamkan aku uang." ujar seorang pria muda kepada temannya.


"Apa aku harus membantumu?" tanya temannya angkuh.


"Kumohon, De. Aku harus membebaskan istriku dari penjara." jawab pria itu.


"Aku janji, aku akan mengembalikan uangnya sesegera mungkin." lanjutnya lagi.


Temannya itu nampak menimbang - nimbang perkataan pria tersebut.


"Baiklah, aku akan meminjamkannya. Tapi, dengan syarat jika Nana sudah besar dia harus menikah dengan Nico." ucap temannya itu.


"Apa? Kamu mau menjodohkan Nana dengan Nico?" tanya pria itu.


"Iya, kamu tahu sendirikan seberapa putraku itu menyanjung putrimu. Aku hanya ingin putraku senang saja." jawab temannya yang sibuk mengetuk - etukkan jari telunjuknya ke meja.


"Jika aku menyetujuinya, apa kamu akan segera memberiku uang?" tanya pria itu lagi.


"Tentu saja. Dan kamu juga tidak perlu mengembalikan uang itu, jika menyetujui persyaratannya."


Sudahlah, ini yang paling penting. Aku harus segera membebaskan istriku dari penjara.


•••••••••••••••••••••••••••••


15 Februari 2003


"Apa aku belum boleh bertemu dengannya?" tanya bunda itu sambil menatap kearah kamar rumah sakit.


"Nana masih butuh waktu." jawab pria itu.


"Dimana Sandra? Aku ingin menemuinya." ujar bunda.


"Dia masih ada urusan sepertinya." balas pria itu.


Sang bunda berbalik menatap suaminya lekat.


"Aku sudah bebas dari penjara, tapi kenapa aku belum bebas dari rasa bersalah ini ya?" tanya bunda itu sedih.


"Rasa bersalah ini akan hilang. Kamu hanya perlu berusaha." jawab pria itu menenangkan.


"Wanita yang kutabrak adalah seorang ibu sepertiku. Menurutmu, bagaimana dengan anaknya nanti? Ia pergi meninggalkan anaknya sendiri di dunia ini." ucap bunda dengan mata yang sudah berkaca - kaca.


Pria itu langsung memeluknya. Ia menenangkan istrinya tersebut.


"Kamu gak perlu memikirkannya, cukup pikirkan putri kita." ujar pria itu.


Bunda langsung melepaskan pelukannya.


"Kamu bener - bener egois." ujar bunda dengan tatapan tajam.


Bunda langsung meninggalkan pria itu.


••••••••••••••••••••••••••••••••


20 Maret 2007


"Yuk pulang, Na." ajak ayah kepada gadis kecil yang masih menatap makam bundanya.


"Kita pergi meninggalkan bunda disini sendiri?" tanya gadis itu.


"Iya, Na. Bunda juga udah nyuruh kita buat pulang." jawab ayah.


Gadis itu hanya mengangguk - angguk. Dan bergegas menghampiri ayahnya yang sudah berdiri.


Ayah itu segera menggandeng tangan putrinya tersebut dengan erat.


Mereka pun pergi meninggalkan makam bunda tersebut.


..."Aku tak tenang meninggalkan putriku bersama pria egois seperti itu."...


...~Bunda~...

__ADS_1


__ADS_2