
1 Februari 2015
"Yah, besok aku mau ke kampusnya Steven." ucapku kepada ayah yang sedang fokus membaca korannya.
"Kamu gak kelas emangnya?"
"Gak ada. Boleh?"
"Emm... boleh tapi kamu harus dianter sama Nico."
"Ih, ayah. Aku bisa pergi kesana sendiri kok."
"Kamu gak boleh pergi kalau gak sama Nico."
"Ih, ya udah. Emangnya Nico besok gak ada kelas?"
"Gak tahu ya."
"Gimana sih? Kalau dia ada kelas, aku berangkat sendiri aja besok."
"Ayah gak ngizinin kamu pergi."
"Loh? Kenapa sih yah?"
"Udah gak usah banyak tanya. Ayah mau tanya dulu sama Nico."
Huh, kenapa sih ayah sekarang suka banget ngelarang aku pergi sendiri? Batinku kesal.
"Nico besok ada kelas malam, tapi dia bisa nganter kamu paginya."
"Ya udah deh."
"Pokoknya, kamu udah harus sampai rumah jam 4 sore."
"Iya, yah. Ya udah, aku masuk kamu dulu."
Aku pergi meninggalkan ayah di meja makan sendiri.
••••••••••••••••••••••
2 Februari 2015
Ting tong... ting tong...
"Eh, Nico udah dateng." ucap ayah.
"Pagi om." sapanya.
"Ya udah yah. Aku pergi dulu." ucapku.
"Hati - hati ya. Inget jam 4 sore kamu udah harus ada di rumah."
"Iya yah."
"Pergi dulu ya om."
"Iya, Nico. Hati - hati ya."
Aku segera masuk ke mobil Nico. Selama perjalanan tidak ada perbincangan antar kami berdua.
"Kita ke kampus xxxx kan?" tanya Nico.
"Iya."
"Kamu mau ketemu siapa disana?"
"Emm.. pacar aku."
"Ooo.. kamu udah punya pacar."
"Iya. Emm... cuacanya mendung ya, perasaan masih pagi."
"Iya."
Setelah itu kami diam kembali. Sekitar 3 jam, kami sampai ke kampus Steven.
"Aku bakal nunggu di depan gerbang aja." ucapnya.
"Emm.. ya udah aku keluar dulu ya."
Dia hanya mengaggukkan kepalanya saja. Lalu aku pergi keluar. Dari jadwal yang pernah Steven kirim ke aku, hari ini dia ada kelas jam 9 sampai jam 11. Dan sekarang udah jam 11 lebih 5, berarti dia udah selesai kelasnya. Aku langsung segera ke tempat nya.
Aku pun sampai ke tempatnya, dan aku melihat Steven di depan kelasnya. Dia sedang berbincang dengan seseorang.
Tik.. tik..
Aduh, kok gerimis sih. Aku berniat langsung menghampiri Steven, tapi langkahku terhenti. Ketika aku melihat Steven menggandeng seseorang yang kukenal. Aku mengikutinya secara diam - diam. Mereka menuju ke lorong yang sepi.
__ADS_1
"Stev." panggil gadis itu lirih.
"Diamlah."
Aku benar - benar terkejut melihat kedua orang yang sangat kukenal sedang berciuman mesra. Aku langsung pergi meninggalkan mereka.
Aku tidak menyangka Steven akan melakukan ini semua kepadaku.
"Na. Kamu ngapain duduk sini?" tanya Nico.
Aku menatap ke Nico. Ia sedang memegang payung.
"Kamu nangis?" tanyanya.
Aku hanya diam tanpa menjawab pertanyaan nya.
"Na, ayo kita masuk kemobil dulu. Disini lagi hujan deras, nanti kamu masuk angin."
Entah tanpa sadar, aku berdiri lalu memeluk nya. Kurasakan dia membalas pelukanku.
•••••••••••••••••
"Na, ini coklat panasnya." ucapnya sambil menyerahkan segelas coklat panasnya.
"Makasih, Nic."
Sekarang aku sedang berada di cafe bersama Nico, sambil menunggu hujan reda.
"Emm... sebenarnya kamu kenapa nangis tadi?" tanyanya.
"Emm..aku tadi gak sengaja ngelihat pacar aku ciuman sama cewek lain tadi."
"Hah? Berarti dia selingkuh di belakang kamu?"
"Mungkin."
"Terus gimana sekarang? Kamu bakal putus?"
"Aku terlalu sayang sama dia, Nic. Mungkin aku bakal pura - pura gak lihat kejadian tadi."
"Kamu masih mau bertahan buat dia? Kamu terlalu baik buat dia, Na."
"Aku masih belum bisa ngelepasin dia."
"Terserah kamu, Na. Aku hanya bisa dukung kamu dari belakang."
Aku tidak menyangka bisa berbicara panjang lebar seperti ini dengan Nico.
Setelah hujan reda, kami pun berangkat pulang. Sekitar jam 3 aku sudah sampai rumah.
"Makasih ya, udah nganter aku."
"Sama - sama. Emm.. Na, cowok kayak dia gak pantas kamu pertahanin. Ya udah aku pergi dulu."
Kamu benar Nic, tapi sayangnya aku belum bisa ngelepasin dia.
••••••••••••••••••
dddrrtt.. drrrrtttt...
"Emm.. Hai Stev."
"Happy anniversary, sayangku."
"Emm.. iya."
"Suara kamu kok kayak habis nangis gitu?"
"Eh, enggak kok. Aku lagi flu."
"Ooo.. cepet sembuh ya. Jangan lupa minum obat sama istirahat yang cukup."
"Emm.. iya. Ya udah aku tutup dulu ya teleponnya, mau minum obat dulu."
"Oo ya udah. Bye, sayangku."
"Bye."
Aku langsung memutuskan sambungannya. Air mataku turun kembali, sepertinya sangat sulit melupakan kejadian tadi.
••••••••••••••••••
"Hei Bri." sapa Meira.
"Eh, udah dateng Mei. Tumben cepet biasanya telat."
__ADS_1
"Gapapa lagi mau ngerajin dulu. Udah selesai ngerjain tugasnya pak Romy yang waktu itu belum?"
"Udah dong."
"Lihat ya, Bri."
"Iya deh. Nih."
"Bri." panggil kak Dika.
"Eh? Kak Dika ngapain kesini?"
"Aku mau ngomong bentar sama kamu."
"Emm.... kita ngomong diluar aja ya."
Aku pergi keluar dengan kak Dika.
"Kakak mau ngomong apa?" tanyaku.
"Kamu ngapain ngejauhin aku? Apa gara - gara temen aku yang berantem waktu itu?"
"Enggak kok, kak. Emm.... kalau gak ada yang mau diomongin lagi, aku mau masuk dulu."
"Bri, jangan jauhin aku gini. Aku tuh suka sama kamu."
Aku terkejut dengan ucapannya.
Kenapa juga ucapan Meira akhirnya beneran terjadi ?
"Maaf kak. Aku gak bisa bales rasa suka kakak, aku udah punya pacar."
"Apa? Kamu udah punya pacar?"
"Iya kak. Udah ya aku mau masuk kelas dulu."
"Bri, tolong beri aku kesempatan. Aku mungkin lebih baik dibanding pacar kamu."
Apa - apaan maksudnya? Dia sedang ingin merebutku?
"Kak jangan kayak gini. Aku sama sekali gak ada perasaan sama kakak. Aku minta maaf banget."
Kulihat wajah kak Dika sangat merah sekarang, apa dia marah karena perkataanku?
Dia tiba - tiba langsung pergi meninggalkan ku. Aku segera masuk ke kelas.
"Emm.. Bri. Kak Dika ngomong apaan tadi?" tanya Meira penasaran.
"Bukan hal yang penting kok."
"Ooo..."
dddrrttt... dddrrttt..
Kenapa juga ada yang menghubungi ku sekarang? Aku pun mengecek HP ku, tapi aku tidak mengangkat teleponnya. Aku sedang tidak ingin menjawab telepon darinya.
•••••••••••••••••
"Akhirnya selesai juga kelasnya. Capek denger dosen ngomong kayak lagi dongeng." ucap Meira.
"Dasar."
"Mau ke kantin dulu gak?"
"Oke deh. Tapi bentar ya, aku mau ke toilet dulu."
"Siap deh. Aku tunggu di kantin."
Aku segera pergi ke toilet. Setelah selesai aku pun keluar dari toilet, tapi seseorang memegang tanganku dari belakang.
"Kak Dika? Lepasin tangan aku." ucapku.
"Aku gak mau ngelepasin."
Dia langsung menarikku ke lorong sepi.
"Kak ngapain kita kesini?"
Dia tiba - tiba mengeluarkan cutter dari sakunya. Aku benar - benar takut sekarang.
"Kalau aku gak bisa dapetin kamu, maka yang lain juga gak bisa." bisiknya di telingaku.
"Kak jangan kayak gini."
"Kamu takut? Kalau kamu takut, gak seharusnya kamu tolak aku tadi." bisiknya.
Dia mendekatkan cutter nya ke perutku. Aku menutup mataku, aku sudah pasrah dengan apa yang akan dia lakukan.
__ADS_1
Bruk...
Suara apa itu? Aku pun membuka mataku. Kulihat kak Dika sudah jatuh tersungkur di lantai. Dan tanganku tiba - tiba ditarik oleh seseorang.